Suamiku (Calon) Adik Iparku

Suamiku (Calon) Adik Iparku
SCAI - 38. Ceraikan Vanye


__ADS_3

Hari ini Daniel memutuskan untuk kembali ke Bandung. Karena ada beberapa kerjaan yang masih belum terselesaikan, sebenarnya akan selesai jika Vanye tidak meminta ke Jakarta hari itu juga. Namun, demi menyenangkan hati istrinya maka Daniel menuruti permintaannya.


"Kalian cepat sekali sih pulangnya, padahal Mama masih ingin kalian menginap di sini," kata Ratna sangat sedih.


"Maaf ya, Ma. Kerjaan Daniel banyak sekali di Bandung, jika Vanye mau dia boleh tetap tinggal. Nanti akhir pekan aku jemput," kata Daniel sambil melirik istrinya.


"Serius boleh?" Vanye langsung berbinar.


"Boleh, Sayang. Jika kamu ingin disini beberapa hari atau bulan boleh," balas Daniel sangat lembut.


Vanye mengangguk senang. Karena Daniel mengizinkannya tinggal, jadi dia hanya mengantarkan suaminya sampai depan.


"Kamu hati-hati di jalan, Daniel," ucap Vanye.


Daniel mengangguk, setelah itu dia mencium punggung tangan mertuanya sambil berkata, "aku titip Vanye ya, Ma."


"Kamu tenang saja, Nak. Dia aman bersama Mama."


Rasanya sangat lega mendengar jawaban mertuanya. Karena hari semakin siang dan takut macet, Daniel segera meninggalkan Jakarta.


Saat di perjalanan, dugaan Daniel benar. Suasana kota Jakarta sangat macet sekali, sampai-sampai dia bosan menunggu. Jika dibandingkan, pejalan kaki lebih cepat daripada mobilnya.


"Selalu seperti ini," kesal Daniel.


Sekian jam menunggu kemacetan, akhirnya mobilnya lolos dari kemacetan. Namun, ketika dia memasuki jalan yang bisa dibilang sedikit sepi penduduk, tiba-tiba sebuah mobil menghadangnya dari depan.


"Sial! Siapa sih, ganggu banget!" seru Daniel.

__ADS_1


Dia membunyikan klakson berkali-kali agar mobil di depannya menyingkir, tapi sayangnya usahanya sia-sia dan Daniel lebih memilih turun menghampiri mobil itu.


Tok! tok! tok!


"Maaf, bisa kamu menyingkir? Mobilmu Menghalangi jalanku!" seru Daniel terus mengetuk jendela mobil.


Jika bukan mobil ini selalu menghadang, dia lebih memilih pergi dan tak mau meladeninya. Tapi, karena setiap Daniel ingin menghindar selalu dicegah maka dia harus bertindak tegas.


"Permisi mobil anda menunggu jalan saya!" Daniel terlihat sangat geram. Tak lama setelah itu, pintu mobil pun terbuka sampai menampilkan seorang lelaki yang notabene kakaknya.


"Ck! Ternyata kamu!" Daniel langsung bergegas pergi, dia malas sekali meladeni kakaknya ini.


"Ceraikan Vanye!"


Langkah Daniel pun langsung terhenti mendengar itu. Dia membalikkan badan dan menatap Satria penuh kesinisan. "Atas dasar apa kamu menyuruhku menceraikan Vanye? Dia istriku dan kami saling mencintai," ucap Daniel.


"Kakak lah yang seharusnya jangan pura-pura lupa! Bukannya Kakak sendiri yang membatalkan pernikahannya, kenapa sekarang seperti cacing kepanasan? Apa jangan-jangan sudah tak bisa menemukan mangsa untuk jadi batu loncatan?" tegas Daniel.


Dia tak mau istrinya selalu diklaim punya kakaknya, jelas-jelas semua sudah berlalu tapi sekarang Satria seakan-akan tak rela jika dia lah pemenangnya.


"Itu semua karena aku belum siap menikah, tapi Vanye selalu memaksakan pernikahan!" seru Satria.


"Wanita butuh kepastian, bukan hanya janji! Kalian menjalin hubungan sangat lama, jelas Vanye menuntut kepastian! Sudahlah, terima saja kenyataan ini jika Vanye sudah menjadi istriku!"


Daniel tak mau berdebat lagi, dia ingin segera pergi dari hadapan Satria. Namun, baru saja tangannya memegang pintu mobil Satria mulai bicara lagi dan membuat Daniel semakin menertawakan kakaknya.


"Coba ulangi ucapanmu, Kak. Telingaku sepertinya sedang error," ucap Daniel sambil menatap remeh Satria.

__ADS_1


"Kamu nggak mau melepaskan Vanye, karena harta kan? Aku tau semua Daniel, Dimas pernah berkata siapapun yang menikahi Vanye akan mendapatkan semua warisannya! Pasti karena itu kenapa kamu nggak mau melepaskan Vanye, padahal jika dilihat dari umur dan keserasian sangat rendah!" serunya lagi.


Daniel pun terbahak-bahak, dia tak menyangka kakaknya memiliki pemikiran seperti itu. Disini Daniel semakin yakin, jika kakaknya hanya menginginkan harta bukanlah Vanye.


"Dangkal sekali pemikiranmu, Kak. Aku kasih tau saja ya, Papa memang berniat memberikan seluruh hartanya padaku. Bahkan semua aset-asetnya, tapi aku menolak dengan tegas. Karena yang aku inginkan hanya anaknya, bukan hartanya!" serunya semakin membuat Satria marah.


"Dan satu lagi! Aku bukan kamu yang hanya mengejar dunia karena satu orang, lupakan masa lalumu dan cobalah menerima kenyataan jika wanita yang kamu cintai tak mungkin kamu dapatkan! Dia sudah bahagia dengan pilihannya, berhentilah menjadi bajingann, Kak," jelas Daniel semakin membuat Satria murka.


Dia tak menerima ucapan Daniel, dengan emosi tinggi Satria memukul wajah adiknya sampai tersungkur ke tanah. Mereka akhirnya berkelahi dan membuat pengendara lain berhenti menonton mereka, tak ada yang menolong dan melerai. Mereka semua takut, sampai akhirnya ada seorang anak kecil datang melerai pertengkaran mereka.


"Stop!" Anak itu berusaha menarik baju Satria, tapi yang ada dia kena dorong.


"Jangan beraninya sama anak kecil, lawan aku kalau kamu memang laki-laki!" Daniel melawan Satria, pertengkaran semakin sengit sampai akhirnya anak tadi pergi sebentar dan kembali membawa balok.


"Dasar om jahat!"


Bug!


"Aduh!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.


Judulnya ONE NIGHT STAND IN DUBAI Author LADY MERMAD jangan lupa ya 😍😍


__ADS_1


__ADS_2