Suamiku (Calon) Adik Iparku

Suamiku (Calon) Adik Iparku
SCAI - 42. Kenyataan Pahit


__ADS_3

"Sayang, mampir ke rumah Mama yuk. Beberapa minggu ini kita belum nengok mama, pasti dia juga sangat merindukanmu," ucap Vanye setelah selesai menikmati keindahan kota Jakarta, sambil jalan-jalan di salah satu mall terbesar.


"Kamu benar juga, Van. Kalau begitu kita cari oleh-oleh dulu, nggak enak kalau datang dengan tangan kosong," balas Daniel.


Vanye mengiyakan suaminya dan seger mencari tempat oleh-oleh. Setelah beberapa kali berputar-putar mencari bingkisan, mereka memutuskan segera ke rumah Dona.


Sesampainya disana, mereka langsung disambut kaget oleh satpam rumah orang tuanya. Seperti tak menyangka jika dia akan datang, disaat ini.


"Pak Daniel, tumben datang tanpa memberi kabar?" tanya ART rumah Dona.


"Memang kenapa, Bu? Kok sepertinya kalian semua kaget aku datang hari ini, apa jangan-jangan sesuatu yang kalian sembunyikan?" Tebak Daniel langsung mendapat gelengan dari ART.


"Nggak kok, Pak. Sini biar saya bantu bawa barang-barangnya," bu Jumi pun segera mengambil barang-barang yang Daniel bawa.


Sedangkan Vanye, dia merasa ada keganjilan di rumah mertuanya. Seperti ada sesuatu yang membuat semua penjaga terkejut sama kedatangan Daniel dan Vanye yakin semua ada hubungannya dengan suaminya.


Pyarr!


"Ini semua salahmu, Dona! Andaikan waktu itu kamu nggak mementingkan keselamatan Daniel, mungkin Satria tak akan memiliki gangguan kejiwaan!"


Pyarr!


Suara pecahan kaca pun kembali terdengar. Daniel maupun Vanye mendadak tegang mendengar semua, apalagi namanya dibawa-bawa dalam pertengkaran ini.


"Kamu menyalahkanku lagi, Pa? Padahal jelas-jelas yang salah adalah kamu, kenapa selalu memutar balikkan fakta!"


teriakan Dona sangat menggelegar di seluruh ruangan sampai membuat Daniel tak tega dan ingin menghampiri mereka, namun langkahnya langsung di cegah oleh Vanye.


"Jangan masuk dulu, kita dengarkan saja. Kita lihat apa penyebab mereka bertengkar, kalau kita masuk otomatis semua akan diam," kata Vanye.


"Tapi, aku takut mama kenapa-napa Van." Daniel memang sangat mengkhawatirkan Dona.


"Aku paham, tapi ini bukan waktu yang tepat. Coba dengarkan dulu, setelah mendapatkan kepastian baru kita masuk," ucap Vanye tetap melarang Daniel masuk.


Meski terlihat sangat keberatan, tapi Daniel akhirnya mengikuti permintaan Vanye. Dia mengurungkan niatnya untuk masuk dan kembali mendengarkan pertengkaran mereka.

__ADS_1


"Kesalahanku hanya satu, Dona. Hanya memperkosa adikmu dalam keadaan tak sadar, tapi kamu malah semakin memperumit keadaan dengan menerima keberadaan Daniel yang notabene hanya anak haram!"


"Dia bukan anak haram, dia anakmu dengan Aily!"


"Bagiku dia tetap anak haram, aku hanya sekali melakukannya dan dia tiba-tiba hamil, bisa jadi itu bukan anakku! Kenapa kamu nggak pernah mengerti Dona!"


Plakk!


"Jaga mulutmu, Doni! Dia masih gadis waktu kamu perkosa, jangan pernah lupa akan hal itu. Bahkan adikku selalu menyembunyikan rasa sakitnya sendiri, sampai akhirnya dia dikucilkan karena hamil di luar nikah. Biadab sekali kamu, Doni!" tangisan Dona pun terdengar sangat menyayat hati.


Daniel yang mendengar itu semua mendadak diam. Kakinya menjadi lemas, tubuhnya bergetar hebat dan air mata mulai mengalir deras. Dia tak menyangka jika dirinya ini adalah anak haram, bahkan yang lebih menyakitkan dia sama sekali tak diinginkan.


"Jelas, papa selalu membeda-bedakanku dengan kakak, ternyata ini jawabnya? Aku anak haram Van, aku anak yang tak pernah diharapkan mereka," lirih Daniel semakin tak karuan.


Dia jadi ingat kejadian demi kejadian masa lalu. Jelas, kakaknya selalu marah dan membencinya jadi karena dialah orang tuanya sering bertengkar sampai memiliki tempramental buruk, semua trauma Satria berawal darinya.


"Daniel, jangan pergi berfikir seperti itu. Tenanglah, aku paham perasaanmu, tapi kumohon tetap tegar seperti Daniel yang aku kenal." Vanye langsung memeluk suaminya.


Dia berusaha menyemangati suaminya, tapi bukannya diam, Daniel semakin histeris dan berlari ke dalam dengan keadaan kacau-balau. "Daniel tunggu!" teriak Vanye sampai terdengar oleh kedua orang tua suaminya.


"Apa semua itu benar? Apa aku hanya anak haram, katakan yang sebenarnya, aku mohon!" seru Daniel langsung terduduk di hadapan mereka.


Tenaganya tiba-tiba hilang, nyawanya pun melayang layang entah kemana. Ada rasa tak bisa menerima kenyataan itu, tapi apapun hasilnya Daniel harus tau semua.


"Daniel, sejak kapan kamu —"


"Semua itu benar, Daniel! Awalnya keluargaku sangat harmonis dan aku menjadi anak satu-satunya, tapi semua berubah semenjak kamu hadir!" seruan Dari Satria pun semakin membuat suasana semakin tegang.


"Satria! Mama mohon jangan lakukan ini, Nak." Dona mendekati Satria, tapi lelaki itu segera memberikan isyarat agar Dona berhenti dan membiarkan dia mengungkap kebenaran.


"Semenjak kamu hadir, keluarga bahagiaku hilang, mereka lebih sering bertengkar dan selalu meributkan tentang pelacurr itu!"


"Dia bukan pelacurr!" teriak Dona tapi Satria benar-benar tak peduli akan hal itu. Satria ingin Daniel hancur, hanya dengan cara ini dia bisa menekan kejiwaan Daniel dan Satria tak mau menyia-nyiakan kesempatan.


"Pelacurr yang tiba-tiba bilang hamil anak papa dan memfitnah papa memperkosanya, padahal jelas-jelas papa bukanlah orang seperti itu. Kamu tau Daniel betapa hancur perasaanku waktu itu? Semua orang melupakanku, kasih sayang mama juga berkurang gara-gara kamu!" teriak Satria sambil tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Dia sangat senang melihat Daniel terpuruk, dia ingin sekali adiknya itu hancur sehancur hancurnya. "Sekarang kamu tau kan, kenapa aku dan papa sangat membencimu. Jadi sekarang kamu harus sadar —"


"DIAM!"


Plakk!


Satu tamparan mendarat mulus di pipi Satria dan yang melakukannya ada Dona. "Kau menamparku!"


"Iya aku menamparmu, karena kamu benar-benar keterlaluan Satria! Bagaimanapun dia adikmu meski beda ibu, kalian bersaudara dan kamu harus menerima kenyataan itu Satria! Harus!" tegas Dona tak bisa tinggal diam.


Lama-lama Dona geram pada prilaku Satria yang ternyata sifatnya sebelas dua belas dengan papanya, sangat egois dan tak pernah memikirkan perasaan orang lain.


"Sampai kapanpun aku nggak sudi memilih adik seperti dia! Jika Mama terus memaksa, maka lebih baik aku pergi dan tak akan pernah muncul lagi di hadapan kalian semua!" Ancam Satria.


"Terserah! Silakan jika mau pergi, Mama sudah capek memilih anak sepertimu, pergi mama nggak butuh anak sepertimu --"


Plakk!


"Berani kamu memukul mamaku! Brengsekk!" Daniel tak bisa diam melihat mamanya di tampar Doni, dia langsung bertindak dan memukul Doni berkali-kali.


Masa bodoh dia dibilang anak durhaka, tapi Daniel tak akan membiarkan siapapun melukai mamanya meski nyawa taruhannya.


Pertikaian pun tak dapat dihindari, Daniel maupun Doni tak ada yang mau mengalah sehingga mereka berdua terus beradu sampai akhirnya Vanye pingsan dan membuat Daniel berhenti duel bersama papanya.


Daniel sangat panik melihat Vanye pingsan, dengan perasaan panik Daniel terus membangunkan istrinya tapi sayangnya tak ada respon.


"Daniel, bawa Vanye ke rumah sakit!" seru Dona dan langsung di iyakan oleh Daniel.


Dengan cepat, Daniel menggendong istrinya dan membawanya ke mobil. Dona yang tak mau melihat suami serta anaknya, dia lebih memilih ikut ke rumah sakit menemani Daniel agar anaknya bisa tenang saat berkendara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.


Judulnya KAGET NIKAH Author ALYA LII jangan lupa ya 😍😍

__ADS_1



__ADS_2