
Vanye terlihat gugup ketika menunggu hasil benda pipih di depannya. Beberapa hari ini dia merasa ada keanehan pada tubuhnya, bahkan Vanye sempat shock ketika tahu dirinya telat haid lima hari.
Rasanya sangat senang mengetahui itu, tapi Vanye ingin memastikan terlebih dulu dan jika memang benar-benar positif maka Vanye akan memberitahu semua orang. Tapi, jika hasilnya negatif, maka cukup dia saja yang kecewa.
"Lama banget sih hasilnya!" serunya semakin gugup.
Tak lama kemudian alat tes kehamilan itu pun mulai menunjukkan hasil. Dengan sangat antusias, Vanye mengangkat benda pipih tersebut dan mengecek hasilnya.
"Yah, kok satu sih," lirihnya.
Karena penasaran, Vanye akhirnya mengambil ponsel dan menyalakan lampu senter untuk menerangi alat tes tersebut.
"Kok sepertinya ada dua? Tapi kalau dilihat mata telanjangg nggak keliatan, tapi kalau disenter baru ada. Jadi gimana dong?" tanyanya pada diri sendiri.
Karena takut alat tes itu rusak, Vanye memutuskan mengambil lagi yang baru. Untung saja dia membeli satu box, jadi Vanye bisa jaga-jaga kalau masih ada keraguan.
"Loh, kok nggak ada isinya," keluh Vanye langsung membuangnya ke tong sampah dan mengambil alat tes satunya.
Tak tanggung-tanggung, Vanye membuka lima tespack untuk memastikan dirinya hamil atau tidak. Dengan kecemasan, dia kembali menunggu dan lagi-lagi Vanye dibuat bingung oleh hasilnya.
"Daniel!" teriaknya sangat kencang sampai membuat Daniel berlari masuk ke dalam.
"Ada apa? Kamu baik-baik saja kan, Sayang?" Daniel terlihat panik sambil memeriksa keadaan Vanye.
"Ish, aku baik-baik saja. Cuma ...."
__ADS_1
"Cuma, apa? Cepat katakan, jangan membuatku panik, Sayang!" Daniel terlihat sangat takut terjadi sesuatu pada istrinya, padahal saat masuk Vanye terlihat baik-baik saja bahkan senyum-senyum sendiri.
Tapi, beberapa menit di dalam kamar mandi. Daniel mendengar teriakan sang istri dan raut kekecewaan di wajahnya, seperti ingin menangis serta bingung.
"Coba lihat ini, masa hasilnya beda-beda sih," ucapnya sambil mengerucutkan bibirnya.
Seketika, Daniel melihat ke arah wastafel yang ternyata sudah banyak sekali benda pipih berjejer rapi di sana. "Apa ini?" tanya Daniel.
"Ini tes kehamilan, Daniel!" Vanye terlihat sangat kesal. Entahlah, pokoknya emosi Vanye beberapa hari ini sulit sekali dikontrol.
"Kamu hamil?" tanya Daniel terlihat sangat bahagia.
"Belum tau, coba kamu lihat dulu hasilnya! Disini tertera, kalau garis dua aku hamil, tapi kalau satu nggak hamil. Tapi, lihatlah masa hasilnya ada yang dua ada yang satu. Seperti di permainan," kata Vanye.
Daniel pun mengambil benda-benda pipih itu, dengan teliti dia melihat semua hasil alat tes kehamilan istrinya. Ada rasa bingung juga dalam hatinya, dia ingin bilang hamil tapi iya kalau hamil, jadi Daniel hanya bisa menghela nafas panjang saja sebagai jawaban.
"Kita ke dokter saja, ya? Aku juga bingung dengan hasilnya, jadi lebih pastinya kita ke dokter," putus Daniel daripada mereka tebak-tebak buah manggis.
"Ya sudah ayo!" Dengan perasaan kesal Vanye keluar dari kamar mandi terlebih dulu dan meninggalkan Daniel sendiri yang masih kebingungan dengan sikap Vanye.
"Habis makan apa sih ini anak?" tanyanya sambil geleng-geleng. Sebelum meninggalkan kamar mandi, Daniel menyempatkan diri membersihkan semua bungkus tes kehamilan istrinya dan membuangnya ke tong sampah.
***
Daniel menatap serius layar monitor di atas saat Dokter fokus memeriksa keadaan istrinya. Dia tak paham gambar di atas, tapi Daniel berusaha fokus dan tak mau melewatkan sedikitpun pemeriksaan Vanye.
__ADS_1
"Bagaimana, Dok? Apa memang istri saya hamil atau tidak? Soalnya hasil tes kehamilan tadi ada dua," ucap Daniel pada Dokter Franda.
"Disini belum terlihat ada tanda-tanda kehamilan ya, Pak, Bu. Hanya ada penebalan dinding rahim dan sepertinya ini mau haid sebentar lagi," kata Dokter Franda masih serius menatap layar monitor.
"Tidak ada kista maupun miom, jadi rahim Bu Vanye bersih. Mungkin memang belum waktunya saja, tetap semangat ya, jangan berkecil hati jika belum berhasil," sambungnya terus menyudahi pemeriksaan.
"Terus hasilnya kok bisa garis dua, Dok?" tanya Daniel lagi, sedangkan Vanye sudah badmood tak mau bersuara merasa kecewa dengan hasilnya.
"Semua bisa dari beberapa hal, mulai dari terlalu lama mencelupkan tespek, bisa karena alatnya yang kadaluarsa, wadah kurang bersih dan lain-lain," jelas Dokter.
"Oh, seperti itu." Daniel melirik istrinya yang masih saja diam.
"Kenapa lama sekali ya, Dok? Pernikahan kita bisa dibilang sudah lama, tapi kok belum juga hamil," keluh Vanye akhirnya mau bersuara.
"Ibu tenang saja, masih banyak diluar sana yang lebih lama menanti buah hati. Rileks saja, dibawa happy, saya yakin suatu hari nanti Bu Vanye akan hamil," kata Dokter Franda.
Setelah itu, dokter Franda kembali menjelaskan apa saja yang harus dilakukan Vanye dan serta obat apa saja yang harus Vanye minum. Begitu semua beres, barulah mereka keluar dari ruangan.
"Sabar, mungkin Allah ada rencana lain untuk kita. Jangan cemberut gini, nanti cantiknya hilang," ujar Daniel sambil memeluk erat tubuh istrinya.
"Hmmm." Vanye tak mau banyak bicara sedangkan Daniel juga tak ingin mengganggu Vanye, jadi dia biarkan istrinya menenangkan diri sampai suasana hatinya pulih.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
__ADS_1
Judulnya ISTRI RAHASIA SANG PRESDIR Author DESY PUSPITA jangan lupa ya 😍😍