
"Bu, ruang meeting kita sudah siap dan investor yang akan bekerja sama dengan kita juga sudah memasuki ruang meeting."
Mendengar itu Vanye langsung bernafas panjang, ingin sekali dia membatalkan pertemuan kali ini, tapi itu tidak mungkin karena meeting sudah ditunda dua kali, jadi terpaksa Vanye harus hadir.
"Baiklah, sebentar lagi aku akan kesana. Sekalian siapkan teh hangat untukku di ruang meeting," kata Vanye.
"Baik, Bu."
Setelah kepergian sekretarisnya, Vanye bergegas berdiri dari duduknya. Namun ruangannya itu terasa berputar-putar sehingga dia terduduk kembali sambil memejamkan matanya.
"Astaga, kepada kepalaku sangat sakit? Perutku juga mual, rasanya tak bisa ditahan sedikitpun." Suaranya sampai terdengar sangat lirih.
Hoek ....
Vanye segera menutup mulutnya, perutnya terasa di aduk-aduk dia benar-benar tak kuat saat ini. Jadi Vanye memutuskan mengambil ponselnya dan segera menghubungi suaminya.
"Daniel, bisa jemput aku?"
'Suaramu lemah sekali, ada apa?'
"Aku nggak enak badan, bisa jemput aku sekarang?" pinta Vanye tak ingin banyak bicara maupun berdebat.
'Tunggu disitu, sebentar lagi aku datang!'
Vanye mengangguk patuh, dia memilih untuk menajamkan mata. Jika sedikit saja terbuka, maka dunia terasa mau runtuh.
Namun, tanpa Vanye tahu di ruang meeting saat ini tengah terjadi perdebatan antara dua manusia karena Vanye tak kunjung datang. Lelaki itu merasa dipermainkan oleh pemilik perusahaan, sehingga membuang-buang waktunya.
__ADS_1
"Dimana ruangan bosmu! Tunjukkan, aku akan menemuinya sendiri!" teriak Setos — investor yang akan bekerja sama dengan Vanye.
"Maaf, Pak. Sebentar lagi bu Vanye akan datang, silahkan tunggu dulu, beliau sedang tidak enak badan jadi sedikit lambat," jelas Dila.
"Nggak ada alasan apapun! Jika sudah tahu sakit kenapa harus mengadakan pertemuan lagi, sama saja dia menginjak-injak harga diriku!" Setos semakin murka.
Dia memaksa mencari ruangan Vanye, sehingga membuat keributan di kantor. Beberapa kali juga Dila memberikan pengertiannya, security juga berusaha melerai tapi dasarnya Setos orang keras kepala, jadi Dila tidak bisa menahan lelaki itu masuk ke ruangan Vanye.
Brakk!
Terkejut? Vanye sangat terkejut ketika pintu ruangannya terbuka secara paksa, dia bahkan sampai melotot tak menyangka ada seseorang menerobos masuk tanpa ketuk pintu.
"Apa-apaan ini! Sungguh nggak ada sopan santun," marah Vanye, dia ingin berdiri tapi tubuhnya tak kuat berdiri.
"Maaf, Bu. Pak Setos memaksa masuk, dia marah karena Bu Vanye tak kunjung datang ke ruang Meeting," jelas Dila ketakutan.
"Baik, Bu."
Dila pun akhirnya keluar dari ruangan Vanye dan segera menutup pintu. Setelah itu Vanye menatap Setos yang saat ini masih diam berdiri di tempatnya, tanpa bicara apapun.
"Tadi marah-marah minta bertemu, kenapa sekarang justru diam seribu bahasa!" seru Vanye membuat Setos terbangunkan dari lamunannya.
"Oh ... iya, maaf."
Setos segera duduk, dia terus memandang Vanye dan itu membuat Vanye tak nyaman. Dengan cepat dia menjelaskan kerja sama mereka, tapi sayangnya suasana semakin terasa tak enak ketika Satos semakin intens menatap dirinya.
"Maaf ya, yang profesional sedikit! Anda sangat kurang ajar sekali memandang saya dengan tatapan mesumm," tegur Vanye.
__ADS_1
Tak ada jawaban dari teguran nya itu, tapi Satos malah terkekeh mendengar semua perkataan Vanye. "Sekarang aku paham kenapa kamu menunda-nunda pertemuan, semua agar aku datang sendiri dan membicarakan bisnis secara rahasia," kekeh Satos.
"Maksud anda apa? Jangan macam-macam ya, saya bisa melaporkan tindakan anda sebagai pelecehan!"
Seketika rasa pusing Vanye mendadak hilang, merasa dalam bahaya dia segera mengambil telepon dan berniat menghubungi security. Akan tetapi, usahanya kalau cepat dari Satos karena lelaki itu memegang tangannya sangat erat.
"Jangan munafik, Vanye! Aku sangat lama terjun di dunia bisnis, banyak dari mereka menawarkan keuntungan dengan cara kotor seperti mu ini. Karena kamu sudah membangkitkan hasratku, maka kita lakukan saja," ujar Satos tersenyum licik.
Vanye ketakutan, dia berniat meminta tolong tapi Satos seperti sudah paham apa yang akan dia lakukan, jadi dengan cepat lelaki itu merusak telepon kantor Vanye dan segera mengunci pintu ruangan.
Satos sangat senang, apalagi di ruangan ini kedap suara jadi sekuat apapun Vanye berteriak, siapapun tak dapat mendengarnya dari luar.
"Kamu gila!" Dengan tangan gemetar, Vanye mencari ponselnya dia berusaha menelepon Daniel, meski beberapa kali Satos ingin mendekatinya tapi Vanye bisa lolos.
"Ayo angkat Daniel!" teriak Vanye mulai putus asa.
"Jangan takut, Sayang. Kamu pasti merasakan enak nanti," lirih Satos semakin membuat Vanye jijik.
"Pergi! Jangan coba-coba mendekat, atau aku lempar kamu!" seru Vanye sangat ketakutan. Rasa mual dalam dirinya kembali menerjang, sehingga beberapa kali Vanye munta.
"Sial, apa aku semenjijikkan itu!" Satos jadi marah, dia tak mau bermain-main lain bersama Vanye.
Satos sudah sangat bernafsu, sehingga lelaki itu langsung berlari ke arah Vanye dan mendekap kuat Vanye.
"TIDAK!"
__ADS_1