
Daniel menatap sedih Vanye yang saat ini sedang menangis. Setelah kejadian di pantai, istrinya tak mau melakukan apapun, bahkan makan malamnya tak tersentuh sedikitpun. Dia hanya bisa menangis, merasa dirinya sangat kotor.
Baru kali ini Vanye mendapatkan pelecehan seperti ini, padahal dulu Satria tidak pernah nekad mencium atau memaksakan kehendak. Vanye juga takut, takut jika Daniel merasa jijik padanya karena tidak bisa menjaga diri sendiri.
"Van, sudah ya sedihnya. Lebih baik ikut aku sekarang, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan," ucap Daniel sambil berjongkok di hadapan istrinya.
"Aku nggak ada semangat, Daniel. Aku hanya ingin di kamar saja, rasanya sangat malas untuk keluar." Bohong Vanye. Jujur, dia masih belum bisa melupakan kejadian tadi siang. Untuk melangkah keluar saja Vanye takut, takut jika bertemu Satria lagi.
"Van ... jangan pikirkan masalah tadi dan ingat ini, aku akan selalu ada disampingmu selamanya. Tak peduli seberapa banyak rintangan di depanku, aku akan tetap ada disisimu," ucap Daniel meyakinkan istrinya.
Daniel paham betul apa yang di rasa Vanye, siapapun pasti akan trauma jika mengalami hal seperti tadi. Jadi sebisa mungkin Daniel akan membuat Vanye melupakan semua trauma nya dan terus melangkah ke depan tanpa menoleh kebelakang.
"Daniel, aku sangat malu," ucapnya langsung menangis tersedu-sedu. Sekuat mungkin Vanye menahan, air matanya tak bisa ditahan.
"Aku tak bisa menjaga diri, aku membiarkan Satria menciumku! Aku kotor Daniel, aku ko—"
"Shut! Siapa yang bilang kamu kotor? Bagiku kamu sangat suci, buktinya kamu memberikan kesucianmu padaku. Jangan rendahkan dirimu sendiri karena hal tadi, aku nggak suka." Daniel langsung memeluk istrinya.
Daniel berusaha menenangkan hati Vanye, bahkan dia menjelaskan berkali-kali agar istrinya percaya diri. Daniel tak mau Vanye minder karena kejadian itu, dia mau Vanye nya kembali.
"Sudah ya nangisnya." Daniel menghapus air mata Vanye. "Sekarang ikut aku dan cepat ganti baju, kalau bisa dandan yang cantik," sambungnya berusaha membangkitkan semangat Vanye.
"Kita mau kemana?" tanyanya sesegukan.
"Rahasia. Ayo mumpung belum terlalu malam, nanti juga kamu akan tau saat kita sudah sampai." Ocehnya terus mendorong Vanye agar masuk kamar mandi.
Meski bingung, Vanye tetap mengikuti permintaan Daniel. Dia masuk kedalam kamar mandi dan bersiap-siap berdandan sesuai keinginan suaminya.
Setelah itu Daniel keluar sebentar, dia pergi mengambil baju yang dia beli dengan bantuan mbak-mbak penjaga toko tadi. Dia merasa baju ini sangat cocok untuk Vanye, meski harganya sangat mahal, tapi jika untuk istrinya maka Daniel rela.
"Van, bajunya aku taruh di wastafel. Maaf nggak bisa ikut mandi, kalau aku ikut yang ada makin lama karena olahraga menyenangkan," teriak Daniel dan langsung diiyakan oleh Vanye.
Daniel keluar dari kamar mandi, dia juga bersiap memakai baju senada dengan Vanye. Tak membutuhkan waktu lama juga, istrinya sudah keluar dari kamar mandi.
Daniel sangat terpesona dengan kecantikan Vanye, baju yang dibelikan juga sangat pas di tubuh istrinya, sehingga membuat Vanye semakin terlihat sempurna.
__ADS_1
"Kamu sangat cantik, Sayang." Daniel mendekati Vanye dan memberikan kecupann singkat di bibir Vanye.
Vanye tersipu malu, dia menundukkan wajahnya sambil mencubit kesal Daniel, "kamu selalu gombal, Daniel. Apakah dulu Lifta selalu kamu perhatikan seperti ini?" tanya Vanye membuat Daniel kesal.
"Tidak pernah! Aku hanya melakukan sewajarnya saja saat bersama dia, karena waktu itu kami belum halal. Sekarang aku halalin kamu, jadi seluruh gombalku hanya milik Vanye seorang," balas Daniel tak henti-hentinya mencium bibir istrinya.
Vanye pun kesal mendapat perlakuan seperti itu, dia mendorong suaminya agar berhenti menciumnya. Bukan karena tak suka, tapi lipstiknya jadi hilang karena Daniel selalu menciumnya. Padahal Vanye sudah berdandan sangat cantik, tapi dengan muda Daniel menghapus lipstik di bibirnya.
"Jangan nyosor terus, ahh. Nanti lipstik ku rusak! Padahal aku sudah berdandan sangat sempurna," protes Vanye sambil melihat cermin.
Daniel tersenyum senang melihat Vanye sudah kembali ke modem garang, setelah itu dia memeluk istrinya lagi dari belakang dan menggigit gemas leher Vanye sampai meninggal bekas kemerahan.
"Daniel jangan terlalu nafsuann dong!! Ayo kita berangkat, katanya mau kasih surprise. Awas saja kalau bohong, aku pasti marah dan nggak mau bicara lagi sama kamu! Kalau perlu tidur di luar," cetus Vanye semakin membuat Daniel tertawa.
"Galak amat, Buk! Ya sudah ayo kita berangkat, takut semakin malam juga," ajak Daniel.
Vanye hanya mengangguk, mereka berdua pun keluar dari Villa dan langsung pergi. Di perjalanan Vanye juga tak banyak bicara, sedikit banyak nya dia masih merutuki kebodohannya tadi siang.
'Maafkan aku Daniel ....'
Semilir angin pantai menerpa tubuh Vanye, kini dia sudah sampai di tempat yang Daniel pesan. Namun Vanye sedikit bingung karena Daniel memintanya untuk menutup mata.
Dengan perlahan-lahan, Vanye di bantu suaminya berjalan sampai akhirnya langkah kakinya berhenti di suatu tempat, entah dimana yang jelas Vanye mencium aroma semerbak bunga mawar.
"Daniel ini masih jauh kah?" tanya Vanye.
"Sebentar lagi sampai kok, Sayang," balas Daniel.
"Syukurlah, cepat lepas penutupnya aku takut maskara ku luntur, terus bulu mataku copot, kan nggak lucu," omel Vanye semakin tak sabar ingin membuka penutup matanya.
"Walaupun luntur nggak akan menghilangkan kecantikanmu, Sayang. Sudah nurut sama suami, jangan bawel!"
Seketika Vanye mengerucutkan bibirnya, dia sangat kesal saat Daniel berkata seperti tadi. Dengan perasaan dongkol Vanye pun berjalan maju tanpa bantuan menunggu instruksi suaminya.
"Lurus terus ini?" tanya Vanye dengan nada orang marah.
__ADS_1
"Iya."
Daniel membiarkan Vanye jalan sendiri, nanti kalau jatuh pasti minta tolong. Itu batin Daniel sebenarnya, tapi nyatanya dia tak setega itu. Dengan cepat Daniel mengejar Vanye dan kembali menuntun istrinya.
"Kita sudah sampai, Sayang," bisik Daniel sangat lirih.
Sebelum mengizinkan Vanye membuka penutup mata, Daniel segera mengambil sesuatu di dalam sakunya. Setelah itu Daniel berjongkok di hadapan Vanye, sambil menyodorkan kotak perhiasan berisi cincin.
Daniel paham pernikahannya dengan Vanye kemari terkesan mendadak jadi belum mempersiapkan cincin pernikahan, bahkan mahar pernikahannya juga diganti dengan uang dua juta, agar tak menyerupai kakaknya.
"Jadi ini sudah boleh buka atau belum?"
Daniel tak menjawab, tetapi perlahan-lahan Vanye mendengar alunan musik sangat merdu. Vanye penasaran dan tanpa tunggu lama dia langsung membuka kain penutup matanya sampai memperlihatkan pemandangan yang sangat menyentuh hati.
"Daniel, ini semua rencanamu?" tanya Vanye sambil menutup mulutnya. Matanya mulai berkaca-kaca, dia bahkan tak takut maskaranya luntur atau bagaimana.
"Mungkin kejutanku tak seberapa, Van. Tapi yakinlah, aku melakukan semua ini dengan hati yang tulus," ucap Daniel.
"Maukah kamu menua denganku, Van? Kita bangun rumah tangga kita, memiliki anak dan cucu nantinya bersamaku. Apa kamu mau, Vanye?" sambungnya dengan jantung berdebar-debar.
Vanye masih shock. Baru kali ini dia mendapatkan kejutan dari seorang lelaki, seumur hidup hanya papanya yang selalu memberikan kejutan saat dia ultah. Sebab itulah kenapa Vanye masih tak percaya, dengan penglihatannya kali ini.
"Van ...." Daniel menatap lembut Vanye.
"I-ya, iya aku mau Daniel. Aku mau!" serunya sambil menangis.
Daniel sangat bahagia mendengar jawaban Vanye, dia langsung berdiri dan memeluk istrinya. Bertubi-tubi Daniel menciumm bibir Vanye karena sangat bahagia, setelah itu Daniel langsung memasang cincin yang dia beli ke jemari istrinya.
"Kamu adalah bidadari yang diturunkan Tuhan untukku, Van. Sampai kapanpun kamu adalah orang pertama dan terakhir yang singgah di hati ini. Vanye, aku sangat mencintaimu. Sampai kapanpun, kamulah cintaku."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
Judulnya Belenggu Hasrat Tuan Muda Author Trias Wardani jangan lupa ya 😍😍
__ADS_1