
Daniel terlihat sangat pucat sekali, baru saja dia mendapat kabar jika mamanya masuk rumah sakit karena mengalami KDRT. Seharian penuh, hidupnya terlunta-lunta di jalan antara Jakarta-Bandung dan Bandung-Jakarta.
Jika tau akan terjadi hal seperti ini, Daniel lebih memilih membawa mamanya ke Bandung. Rasa benci akan papanya pun semakin besar dan Daniel ingin sekali membunuh orang itu, karena tega membuat dua wanita terhebat dalam hidupnya menderita.
"Semua pasti baik-baik saja, Daniel. Yakinlah, mama orang kuat dia pasti bisa melewati semua ini," kata Vanye terus menggenggam erat jemari-jemari suaminya.
"Kenapa semua terjadi secara berturut-turut, Van. Kenapa?" Daniel mulai menangis. Jika yang tersakiti adalah orang tuanya, maka Daniel tak bisa membendung air matanya.
"Itu tandanya Allah sayang kamu, Daniel. Aku pernah mendengar, jika Allah sayang pada hambanya maka dia akan memberikan ujian, sanggupkah kamu menghadapi ini, ingatkan kamu padanya ketika sulit?" ucap Vanye. Meski begini, dia seringkali mendengarkan kajian-kajian di televisi setelah selesai mengikuti acara masak-masak.
Mendengar ucapan istrinya, hatinya sangat tercubit. Memang beberapa hari ini dia sangat jauh sekali dengan sang Pencipta, dia terlalu sibuk dengan pekerjaan sampai-sampai lupa akan segalanya.
"Keluarga bu Dona ...."
Daniel seketika menatap suster dan segera menghampirinya. "Saya, Sus."
"Bapak apanya bu Dona?" tanya Suster.
"Saya anaknya, Sus."
"Oh ... kalau begitu mari masuk Pak, Dokter ingin bicara dengan Bapak mengenai keadaan bu Dona," kata Suster.
Daniel mengangguk dan langsung mengikuti Suster masuk ke dalam. Sejenak langkah kaki Daniel terasa berat setelah melihat kondisi Dona yang saat ini terbaring lemah di atas ranjang pesakitan, perasaan kacau balau ingin segera memeluk erat Dona, tapi Daniel harus berhenti Dokter terlebih dulu.
"Silahkan duduk, Pak," ucap Dokter sangat ramah.
Daniel pun duduk, dia menatap Dokter yang menangani mamanya, "bagaimana kondisi mama, Dok?" Akhirnya dia tak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Dari hasil pemeriksaan, bu Dona harus melakukan operasi. Beberapa tulangnya patah karena benturan keras, jadi kelingkingnya juga retak. Kita juga sudah melakukan visum, agar proses hukum segera berlangsung, " jelas Dokter.
Seketika tangan Daniel mengepal kuat. Sebegitu tega papanya melakukan ini pada mamanya, padahal Daniel selalu melihat kesetiaan di mata Mamanya.
"Lakukan yang terbaik, Dok. Apapun akan saya setujui, jika itu bisa menyembuhkan mama."
🏃♀️🏃♀️🏃♀️
Di penjara ....
__ADS_1
Doni terus berteriak di dalam sel tahanan, dia meminta untuk dibebaskan berkali-kali mulutnya mengeluarkan kata-kata umpatan dan merasa tak terima dengan tuduhan yang dilontarkan polisi.
"Lepaskan aku, ini semua jebakan dan kalian jangan pernah percaya dengan mereka! Lepaskan!" teriak Doni semakin kencang.
"Hoy, bisa diam nggak mulutmu! Kita semua sedang istirahat, jangan buat emosi kita naik!" bentak salah satu napi.
Doni tak menghiraukan protestan mereka, dia terus saja berteriak sampai membuat salah satu polisi datang dan memarahi Doni.
"Kamu ini sudah tahu salah masih nggak mau ngaku, kasusmu sangat besar dan bisa dibilang hukumanmu sangat berat, memperkosa anak di bawah umur sekaligus melakukan kekerasan dalam rumah tangga!" seru Polisi.
"Semua itu fitnah!"
"Diam! Bukti Visum sudah ada di tangan penyidik, jadi kamu tinggal tunggu nasib saja!" Karena tak mau meladeni Doni, dia pun pergi meninggalkan sel.
Sedangkan para narapidana lain, sangat terkejut mendengar ucapan Polisi barusan. Mereka langsung berdiri dan menghampiri Doni. "Mau apa kalian?"
Doni terlihat sangat takut, tubuh mereka sangat besar-besar dan terlihat sangar. "Menurutmu pantaskah seorang cabull hidup di dunia ini?"
Mendengar itu, Doni semakin melangkah mundur mencari tempat persembunyian. Tapi sayangnya, sel sangat sempit sehingga Doni tak bisa melindungi diri dan berakhir bonyok dikeroyok oleh tahanan sel.
"Ampun!"
Rappah terlihat panik saat melihat Aily tak ada di kamarnya. Dengan perasaan berdebar-debar, Rappah keluar mencari keberadaan adiknya itu.
"Aily, kamu di mana?" teriak Rappah terus mencari keberadaan adiknya. Dia bahkan mengerahkan beberapa orang untuk membantunya mencari keberadaan Aily.
"Ramon, apa kamu sudah menemukan Nenek?" tanya Rappah. Nafasnya sangat ngos-ngosan, tapi yang dicari tak kunjung ditemukan.
"Belum, Kakek. Aku sudah mencari sampai jalan raya, tapi Nenek nggak kelihatan sama sekali," balas Ramon ikut panik.
"Mati aku, bisa-bisa Daniel marah besar tau mamanya hilang. Pasti dia mencari Daniel, karena tadi sebelum berangkat Daniel tak pamit pada Aily."
Rappah semakin frustasi, dia sampai terduduk lelah sambil memikirkan dimana adiknya saat ini.
Sedangkan di sisi lain, Aily terus berjalan menyusuri jalan besar. Aily terus menangis mencari Daniel, dia takut anaknya itu pergi jauh dan meninggalkannya. Sebab itu Aily bertekad menjadi anaknya sampai ketemu.
"Anakku dimana?" Aily terus berjalan tanpa tujuan. Kakinya terus melangkah meski batu kerikil menancap dalam ke telapak kakinya.
__ADS_1
"Daniel, anakku ... dimana kamu Nak?"
Aily melihat ada seorang lelaki berdiri membelakangi dia di seberang jalan, Aily yakin itu anaknya sehingga tanpa melihat kanan-kiri dia terus berlari ke tengah-tengah jalan besar.
Tiinn!!
"Aaaahhh!"
Pyarr!!
"Daniel, kamu baik-baik saja?" Vanye sangat panik melihat pecahan gelas itu mengenai kaki Daniel.
"Aku baik-baik saja, tapi pikiranku nggak tenang. Aku merasa ada sesuatu yang terjadi, tapi nggak tau apa," balas Daniel terlihat masih melamun.
Vanye menarik nafas panjang, dia memutuskan untuk memunguti pecahan kaca di bawah. Dia bahkan membersihkan kaki Daniel dan menyuruhnya untuk duduk saja.
"Aku paham perasaanmu, apalagi sekarang mama ada di ruang operasi. Tapi, kamu juga harus memperhatikan keselamatanmu Daniel." Oceg Vanye.
Setelah selesai membersihkan pecahan kaca, dia menuju ke ruang perawat untuk meminta antiseptik dan beberapa perban.
"Aku nggak tau, Van. Tapi rasanya ada yang aneh, seperti terjadi sesuatu. Pikiranku bukan ke mama Dona, tapi malah ke mama Aily." Daniel terus menjelaskan apa yang dia rasakan saat ini.
"Mama Aily bersama Paman juga Ramon, pasti dia baik-baik saja. Namun, jika kamu merasa ada yang nggak beres lebih baik hubungi paman saja," usul Vanye. Dia tak mau ambil pusing, jika memang suaminya merasa khawatir lebih baik langsung menghubungi orang yang bersangkutan.
"Kamu benar, aku lebih baik menelpon paman. Apalagi tadi kita pergi nggak pamit, takutnya mama Aily mencariku."
Vanye mengiyakan ucapan Daniel. Setelah itu suaminya segera mengambil ponselnya dan menghubungi pamannya, akan tetapi berkali-kali panggilan Daniel tak diangkat sehingga membuat suaminya semakin panik.
"Aku yakin, pasti terjadi sesuatu dengan mama Aily!" seru Daniel sangat panik.
"Kamu yang tenang, mungkin paman sedang sibuk dan lupa membawa ponselnya. Berpikir positif saja Daniel, jangan sampai kamu down karena memikirkan semua jadi satu." Meski dia merasa curiga, tapi Vanye tetap yakin jika mertuanya baik-baik saja di sana.
Daniel tak menjawab, tapi tak lama setelah itu dia mendapatkan pesan dari pamannya. Di sana Rappah mengatakan tak bisa mengangkat telepon, karena sedang di berada di luar untuk menyenangkan hati Aily.
Lega sudah hati Daniel, dia pikir mamanya kenapa-napa. Tapi, melihat pesan pamannya membuat dia tenang untuk sementara waktu.
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
__ADS_1
Judulnya RANDITHA Author NIA SUMANIA jangan lupa ya 😍😍