
Satu minggu sudah Daniel berpisah dari istrinya, kini dia sangat merindukan Vanye sehingga dia memutuskan untuk menjemput istrinya diam-diam tanpa mengabarinya dulu.
Ketika dia masuk rumah, hanya mertuanya saja yang dia temui. Sedangkan Vanye tak terlihat batang hidungnya sama sekali. "Vanye mana, Ma?" Daniel terus mencari-cari istrinya.
"Dia di dapur, Nak. Kamu pasti merindukan dia ya?" tanya Ratih sambil terkekeh.
"Sangat, Ma. Kalau begitu aku ke dapur dulu, Ma."
Daniel pun melepaskan jaket jeans yang dipakai dan menaruhnya ke tempat khusus mantel. Setelah itu, dia berjalan ke arah dapur untuk mencari istrinya. Terlihat sangat jelas, Vanye begitu fokus memasak sambil di bantu bu Nano.
"Eh, Pak —"
"Shut, jangan keras-keras," lirih Daniel sambil berbisik. Setelahnya dia menyuruh bu Nano pergi, karena dia ingin sendiri dengan istrinya.
"Bu, tolong ambilkan garam dong," ucap Vanye menyuruh bu Nano.
Daniel tersenyum lembut melihat Vanye seperti ini, terlihat sangat gigih dan bersemangat. Dengan perlahan dia mendekati Vanye sambil memberikan garam pada istrinya.
"Bu, gula mana gula. Cepetan keburu ganti lagi ini videonya!" seru Vanye sangat panik.
Daniel terkekeh, tapi dia juga langsung memberikan tempat gula pada Vanye. "Makasih ya, Bu," ucapnya masih tak menyadari keberadaan Daniel.
"Sama-sama, Bu."
Mendengar sahutan Daniel, Vanye spontan menoleh kebelakang. Betapa terkejutnya dia melihat suaminya berdiri tepat di belakang, sambil tersenyum lembut padanya.
"Daniel, sejak kapan kamu di belakang ku?" Vanye terlihat sangat senang, dia bahkan mematikan kompor langsung dan memeluk suaminya.
"Sejak kamu fokus melihat ponsel itu. Lama-lama aku jadi iri sama ponselmu, Van. Setiap hari, setiap saat kamu pegang. Yang lebih parah, kadang di elus-elus sambil diciumin, Sedangkan aku ...."
Daniel terlihat jealous, dia memang sangat cemburu melihat Vanye terlalu fokus pada ponselnya, padahal dia juga mau diperlakukan seperti ponsel.
Sedangkan Vanye jadi geli mendengar ucapan Daniel, bagaimana bisa suaminya merasa iri pada benda mati. Toh, setiap malam Vanye selalu memuaskan meski melalui ponsel.
"Jadi kamu cemburu dengan benda mati, Sayang?" Vanye bertanya sambil memutar-mutarkan jarinya di atas dada bidang Daniel.
__ADS_1
Daniel langsung mengangguk. "Tunggu aku ralat! Dia bukan benda mati, melainkan benda hidup. Buktinya kamu suka cium-cium itu ponsel, padahal aku hanya dapat ciumann kalau malam saja," rajuknya semakin membuat Vanye gemas.
Tertawa? Ya, Vanye langsung terbahak mendengar keluh kesah suaminya. Sungguh baru kali ini dia melihat seorang cowok, yang posesifnya nggak ketulungan.
"Sayang, aku kan selalu cium kamu saat malam. Apakah masih kurang dan belum puas?" tanya Vanye sedikit manja.
"Tapi itu malam, Sayang. Kalau pagi kamu suka ciuminn itu ponsel, apalagi kalau sudah melihat oppa, oppa, kan aku jadi cemburu," balas Daniel sambil menggigit kecil bibir istrinya. Tak peduli ini tempat mertuanya, Daniel sudah tak peduli.
"Van, ada sesuatu yang ingin aku katakan. Ada dua perihal sih, tapi aku maunya bicara di dalam kamar," kata Daniel selanjutnya.
Anya menatap penasaran, dan ingin tau apa yang akan dibicarakan suaminya ini. "Apa itu?"
"Emm, lebih baik kita ke kamar dulu. Biarkan ini bu Nano saja yang teruskan. Sumpah ini sangat penting," kata Daniel.
Tanpa basa-basi lagi, Daniel langsung menggendong tubuh istrinya dan segera membawanya ke kamar. Setelah sampai kamar, Daniel langsung merebahkan istrinya di atas ranjang dan memeluknya sangat erat.
"Katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan, kenapa malah manja seperti ini? Tumben sekali, padahal dulu aku yang sering di manjain," kata Vanye sambil mengelus lembut puncak kepala Daniel. Perlahan-lahan Vanye menyisir rambut suaminya dan sedikit menepuk-nepuk puncak kepala Daniel.
"Memangnya nggak boleh, aku manja sama kamu Van? Entah kenapa aku pengen banget kamu belai, mungkin efek LDR kemarin," balasannya sambil terkekeh.
"Beneran ini mau di kasih servis? Kalau nggak puas, aku minta terus sampai puas loh," ujar Daniel menanggapi serius ucapan Vanye.
"Serius dong, tapi ada syaratnya."
"Apa?" Daniel semakin serius.
"Katakan dulu yang mau kamu bicarakan tadi, aku masih penasaran tau," jelas Vanye terus menarik gemas hidung suaminya.
"Itu hanya alasanku saja sih biar kamu ikut masuk, kalau nggak gitu pasti milih menyelesaikan masakan daripada buat dedek bayi," balas Daniel semakin liar menjelajahi tubuh Vanye. Sesekali Daniel menggigit gemas dadaa Vanye, sampai meninggalkan bekas kemerahan di sana.
"Dasar mesumm!"
Vanye pun mendorong tubuh suaminya sampai terlentang, setelah itu dia naik ke atas tubuh suaminya dan membuka bajunya sampai menampilkan lekuk tubuhnya.
Bukan hanya baju, dia juga melepaskan pengait kacamatanya sampai menampilkan dua gundukan kenyal seperti jelly itu. Vanye menunduk agar mendekat ke arah Daniel sambil berbisik, "selamat menikmati, Sayang."
__ADS_1
"Dengan senang hati."
***
Vanye merasakan gerilya aneh di area sensitifnya, terasa sangat penuh dan tergelitik. Bukan hanya di bawah, namun dia juga merasakan sedotan kuat di puncak dadanya.
Dengan mata masih mengantuk sekaligus lelah, dia berusaha melihat siapakah gerangan yang mengusik waktu tidurnya. "Emmm, Daniel," Vanye sedikit mendesisss ketika tingkat berurat milik suaminya terus menerjang goa bawah tanahnya.
Perlahan-lahan Vanye ikut menggoyangkan pinggulnya mengimbangi suaminya, setelah itu Daniel menerjang bibir Vanye dan mereka saling melumatt satu sama lain.
Suara erangann di dalam kamar Vanye pun semakin menggelegar, padahal tadi mereka sudah beradu ranjang sampai dua kali dan sekarang Daniel ingin melakukan sekali lagi namun kebablasan sampai sore.
Setelah pergumulann yang sangat sengit, kini mereka berdua saling mengatur pernafasan. Keringat mulai bercucuran dan menjadi bukti betapa panasnya kegiatan mereka tadi.
"Terima kasih, Sayang. Kamu selalu bisa membuatku selalu tegang dan merasa kurang," ucap Daniel terus menciumm puncak kepala Vanye.
"Sama-sama, Sayang. Aku harap kamu selalu mendambakanku, meski nantinya wajah dan tubuhku tak lagi cantik," balas Vanye semakin mempererat pelukannya.
"Meski wajahmu dan bentuk tubuhmu berubah, aku nggak akan pernah berpaling darimu, Van. Hanya kamu, sungguh hanya kamu yang bisa membuat aku tergila-gila," kata Daniel.
Vanye hanya mengangguk saja, ingin sekali dia tidur kembali, tapi karena ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya, terpaksa Vanye harus bangun dan mengiyakan permintaan Ratih untuk segera turun.
"Kakiku lemas," lirih Vanye. Sungguh rasanya seperti tak memiliki tulang, bahkan untuk berdiri saja sangat sulit.
"Kalau seperti itu nggak perlu ikut, biar aku bawa makanannya kesini." Daniel mengacak-acak rambut Vanye.
Karena memang kondisinya belum bisa berjalan, akhirnya Vanye lebih memilih tinggal di kamar sambil menunggu suaminya datang membawa makanan. Saat kepergian Daniel, Vanye sempat mengambil ponselnya dan melihat beberapa laporan kerja miliknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
Judulnya KEKASIHMU MILIKKU Author ANISYAH S jangan lupa ya 😍😍
__ADS_1