Suamiku (Calon) Adik Iparku

Suamiku (Calon) Adik Iparku
SCAI - 51. Aku Rindu


__ADS_3

"Beraninya kamu berbuat seperti ini pada ibuku!" teriak Daniel sangat keras sehingga otot-otot di lehernya terlihat jelas, wajahnya juga memerah karena terlalu marah.


"Pak, saya ... saya." Meli tak bisa berkata-kata lagi, yang ada dia sangat takut melihat kemarahan Daniel.


"Mulai saat ini kamu dipecat! Dan jangan kira aku akan membiarkanmu begitu saja, sampai jumpa di pengadilan Meli!"


Daniel langsung mencengkram lengan Meli dan menariknya keluar dari rumah makannya, Daniel tak mau mempekerjakan orang yang tak memiliki sopan santun sama sekali.


"Pak, maafkan saya. Tolong jangan pecat saya, Pak!" Meli terus memohon tapi Daniel sudah terlanjur sakit hati.


"Aku bilang pergi kamu, Meli! Jangan pernah nampakkan wajahmu di hadapanku dan tunggu saja surat dari pengadilan, sampai kapanpun aku nggak ikhlas orang lain menindas ibuku."


Setelah itu Daniel langsung masuk ke dalam dan mengumpulkan semua karyawannya, dia ingin memberikan peringatan untuk mereka agar tak bertindak seperti Meli.


"Camkan ini, jika kalian masih ingin bekerja maka jaga sikap kalian. Siapapun tamu dan yang datang ke rumah makan, harus dilayani dengan baik, jika kalian keberatan maka aku persilahkan untuk keluar sekarang juga!" tegas Daniel.


Semua karyawan pun mengiyakan perkataan Daniel, setelah itu mereka kembali ke tempat masing-masing begitu juga Daniel. Dia segera menghampiri mamanya, yang ternyata saat ini dibantu Zac dan Pamukas membersihkan diri.


"Kamu yang tabah Daniel, mengurus orang seperti tante Aily harus extra sabar. Dia masih terbelenggu masa lalu, jadi butuh waktu untuk memulihkannya bahkan sampai bertahun-tahun," kata Zac.


"Dia sama seperti Kakakmu, cuma bedanya tante Aily lebih ke masa kecilnya, sedangkan Kak Satria ke emosi." Zac melanjutkan ucapannya.


"Apa yang harus aku lakukan agar Mama sembuh, Zac?" tanya Daniel terus menatap mamanya, yang saat ini sangat asik memainkan makanannya.


"Psikiater, kamu harus ke situ. Mereka akan melakukan beberapa pengobatan, aku punya beberapa kenalan jika kamu mau," kata Zac.


"Mau, aku mau Zac. Tapi, mungkin melakukan kunjungan setelah proses sidang beres."


Zac menganggukkan kepala, dia langsung memberikan nomor Om nya jika sewaktu-waktu Daniel membutuhkannya.


***


Vanye bernafas lega melihat suaminya sudah pulang. Dengan cepat dia turun dari tangga dan menghampiri Daniel, sehari tak bertemu rasanya sudah sangat rindu sekali.


"Akhirnya kamu pulang, Daniel!" Vanye langsung memeluk suaminya sangat erat dan mencium aroma tubuhnya.


"Kamu pasti merindukanku kan?" Daniel sedikit menggoda istrinya.


"Ish, pakek tanya. Ya jelas lah aku rindu, memang nggak boleh?" Sungut Vanye. Tapi, semua tak berlangsung lama saat kedua bola matanya melihat mertua serta Ramon di belakang Daniel.


"Selamat datang di rumah Vanye, Ma, Ramon. Semoga kalian betah," kata Vanye langsung meninggal Daniel begitu saja sampai membuat suaminya mendengus kesal.


"Ini rumah menantu?" Aily terlihat berbinar melihat guci serta lampu gantung di atas langit-langit rumah Vanye.

__ADS_1


"Iya, Ma. Lebih tepatnya rumah Papa sih." Vanye cengengesan. Tapi tak lama setelah itu, dia dikejutkan tindakan mertuanya yang langsung memeluk guci di sebelah rak sepatu.


"Ini seperti punya Tama, apa Tama ada disini?" tanya Aily.


Vanye kebingungan, dia menatap suaminya karena tak paham. "Maksudnya apa?"


"Tama itu orang yang menolong Mama," balas Daniel.


"Oh ...."


Setelah itu Vanye menjelaskan jika Tama tak ada di rumah ini, terlihat sekali Aily kecewa tapi itu tak berlangsung lama karena Dimas dan Ratih menyambut hangat besannya.


Semua orang digiring ke meja makan berhubung hari sudah malam dan waktunya makan malam, mereka terlihat menikmati hidangan yang dimasak Vanye meski sangat pedas tapi mereka tetap menghargai makanan.


***


Daniel bergerak gelisah di atas ranjang, perutnya terasa sangat sakit dan mulas sekali. Karena semakin tak nyaman, dia memutuskan untuk bangun.


"Masih jam dua belas," lirih Daniel. Matanya melirik Vanye, terlihat masih pulas dalam tidurnya. Tak mau mengganggu tidur lelap sang istri, Daniel perlahan-lahan turun dari atas ranjang dan menuju kamar mandi.


Tapi, tak lama setelah Daniel pergi Vanye merasakan kehilangan. Tangannya mulai bergerak-gerak mencari keberadaan suaminya, merasa yang di cari tak ada di tempat Vanye langsung membuka mata dan terduduk.


"Daniel," panggil Vanye.


"Aku di kamar mandi, Sayang."


Cklek!


"Kamu pasti kaget ya?" Daniel mendekati istrinya.


"Bukan kaget sih, yang bikin nyaman hilang jadi kebangun deh," balas Vanye terus memeluk erat suaminya.


Sekarang dia sangat suka menempel dengan Daniel, aroma tubuhnya seakan-akan menjadi candu bagi Vanye. Jika pekerjaan kantor sangat sulit, hanya aroma Daniel yang bisa memenangkannya.


"Daniel, pengen," ucap Vanye secara gamblang.


"Pengen apa?" Daniel masih belum paham apa maksud istrinya.


"Ish, masa nggak paham sih! Seminggu loh kita nggak ninu ninu, masa kamu nggak pengen. Jangan-jangan ...."


"Jangan ngaco kamu, Sayang. Aku nggak ada melirik wanita lain, hanya memang sedang sibuk saja jadi bawaannya capek," balas Daniel sebelum Vanye melontarkan pendapatnya.


"Terus kenapa diajak masih tanya! Seharusnya kalau istri minta itu paham, bukan malah — ummppptthh ...."

__ADS_1


Tak mau berlarut-larut, Daniel langsung menerjang bibir istrinya. Dia lumatt secara lembut, menyesapp rasa manis dari benda kenyal tak bertulang itu.


Vanye yang awalnya terkejut mulai membalas ciumann suaminya, tangannya dilingkarkan ke leher Daniel dan setelah itu Vanye merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


"Aku sangat ingin menyentuhmu, Van. Sungguh, tapi karena masalah yang membuatku lelah, akhirnya melupakan olahraga kita. Maaf, jika membuatmu merasa terabaikan beberapa hari ini," ucap Daniel lirih.


Setelah itu, Daniel menarik atas baju serta kacamata istrinya sampai menampilkan dua bukit vrindavan. Dia pegang kedua benda itu, setelahnya Daniel menggigit gemas salah satunya.


Vanye tak bisa berkata apapun, dia hanya menikmati perbuatan Daniel, apalagi saat lidahh nya berputar-putar di puncak bukit vrindavan. Terasa sangat geli, tapi mampu membuat Vanye terbang melayang.


Deesahh Vanye semakin kencang sambil menekan kepala Daniel, seakan-akan tak ingin suaminya melepaskan benda tak bertulang itu.


Daniel semakin semangat memainkan kismis yang sangat kenyal. Sesekali dia mengigitnya sampai membuat Vanye meengeraang, merasa modem on Daniel langsung memulai aksinya.


"Van!" serunya ketika tongkat berurat itu masuk sempurna ke dalam gua lembab. Rasanya sangat hangat dan dipijat-pijat.


"Kamu nakal, Van. Jika digigit seperti ini, aku jadi nggak tahan Sayang," bisik Daniel terus beraksi.


Vanye tak menjawab, dia hanya bisa memejamkan mata sambil menikmati adik kecil Daniel yang keluar masuk dengan ritme pelan. Terlalu nikmat, sampai-sampai Vanye terus meeracauu meminta agar Daniel semakin mempercepat gerakannya.


Tak lama kemudian, Daniel meminta Vanye untuk membungkuk dan memposisikan tubuh istrinya agar Daniel bisa menerjang goa vrindavan.


Posisi ini sangat membuat Daniel semakin panass, melihat postur tubuh Vanye yang sangat menawan, di tambah Vokong seksinya semakin membuat Daniel gemas dan ingin menamparnya.


Plakk!


Vanye semakin semangat saat suaminya menampar dan meremass Vokong-nya. Dia juga terus meliuk-liukkan piingullnya agar sang suami merasa tersiksa, hingga beberapa menit kemudian Vanye merasakan akan mencapai surga dunia.


Dia semakin liar, rasanya sudah di ubun-ubun, tapi ketika dia ingin mencapai puncak, tiba-tiba Daniel mencabut cepat adik kecil dan pergi begitu saja ke dalam toilet.


"Tunggu sebentar, perutku sakit!" seru suaminya semakin membuat Vanye pusing tujuh keliling.


"Astaga Daniel, aku mau keluar!" teriak Vanye sangat kencang. Dia tak peduli ucapannya nanti akan terdengar oleh papanya atau tidak, yang jelas Vanye sangat marah gagal mencapai puncak.


...----------------...


Mon maaf banget kata berdobel, rasanya dag dig dug takut di tolak maning 🤣🤣


...----------------...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.

__ADS_1


Judulnya FIONA Author LILI ANTI jangan lupa ya 😍😍



__ADS_2