
"Ada apa dengan, Vanye?" Dimas menatap bingung ke arah Daniel. Pasalnya, Vanye langsung masuk begitu saja tampan menyapa dirinya.
"Biasa, mau PMS." Canda Daniel.
"Oh, ternyata nggak jauh beda dengan mamanya," gumamnya. "Eh, iya kamu jadi pindah ke rumah sebelah hari ini?" tanya Dimas.
"Jadi dong, Pa. Ini sekalian mau siap-siap," balas Daniel.
Dimas pun mengangguk, setelah perbincangan itu Daniel pamit masuk ke dalam kamar untuk melihat keadaan istrinya. Namun, saat pintu kamar mulai terbuka Daniel sangat terkejut ketika melihat Vanye menangis.
"Ada apa?" Daniel segera memeluk istrinya dengan sayang.
"Benar kata dokter, aku sebentar lagi haid." Suara Vanye terdengar serak khas orang menangis.
"Apanya?" Daniel menjadi panik.
"Aku keluar darah."
Tangisan Vanye pun menggelegar di dalam kamar, dia merasa sangat sedih karena belum bisa memberikan keturunan untuk Daniel. Hatinya sangat terkoyak, takut jika suaminya ini akan berpaling jika dia tak kunjung hamil.
"Aku kira kenapa, Van." Daniel langsung bernafas lega mendengar semua. Dia tatap penuh kelembutan istrinya sambil merapikan beberapa anak rambutnya agar wajah cantik Vanye tak tertutup oleh rambut.
"Kamu nggak sedih? Otomatis kalau aku haid, berarti nggak hamil Daniel!" seru Vanye menjadi naik turun emosinya.
"Dibilang sedih apa nggak jawabnya pasti sedih, tapi jika belum waktunya mau diapain?" Daniel meraih pinggang istrinya agar mereka saling pandang.
"Jika Tuhan belum memberi, maka dipaksa pun tak bisa. Nikmati saja waktu berdua kita, perjalanan kita juga masih panjang," sambung Daniel.
__ADS_1
"Tapi, sampai kapan? Usiaku tak lagi muda, jika sampai tahun depan belum hamil juga —"
"Pasti hamil, yakin sama suamimu ini. Lebih baik sekarang pikiran itu di buang jauh-jauh, rileks dan coba nikmati semua pelan-pelan, Sayang," sangkalnya. Dia tak mau Vanye terlalu pesimis, padahal pernikahan mereka baru jalan setahun.
"Baiklah, aku akan mencoba berpikir positif. Kita pasti bisa memilih momongan, hanya perlu bersabar dan menikmati hidup." Vanye langsung menarik nafas panjang. Dia juga berusaha tersenyum mencoba baik-baik saja meski hatinya masih campur aduk.
"Anak pintar, sekarang siap-siaplah kita akan pindah ke rumah sebelah. Aku harus membantu mama memasukkan barang-barangnya, jadi ku tinggal dulu nggak apa-apa kan?" Daniel sedikit mengecup kening Vanye.
"Iya, pergilah."
***
Tiga minggu telah berlalu, kini kehidupan Daniel dan Vanye terlihat sangat tenang. Tak ada masalah ataupun badai menerjang mereka berdua, masalah kehamilan pun Vanye sudah tak begitu memikirkan.
Baginya semua akan indah pada waktunya dan dia percaya jika suatu hari nanti pasti bisa hamil.
"Kalau tau ada meeting kenapa bangun pagi menyiapkan sarapan, seharusnya bilang biar aku saja yang masak." Terlihat kekecewaan di wajah suaminya.
"Aku seorang istri loh, Daniel. Jadi sewajarnya menyiapkan segala sesuatu keperluan dan kebutuhan suami, jadi jangan merasa bersalah seperti ini," ujar Vanye.
Dia menggenggam lembut jemari-jemari suaminya, dia juga mencium punggung tangan Daniel meski di depannya ada Dona dan Aily.
"Tapi aku nggak mau kamu kecapean, Sayang."
"Aku nggak capek, Daniel." Sangkal Vanye langsung.
"Nggak capek bagaimana? Beberapa hari ini aku lihat wajahmu pucat sekali, bahkan sering mengeluh pusing. Jika memang sakit lebih baik libur." Nada tinggi Daniel pun akhirnya terdengar menggelegar.
__ADS_1
Meski tak terlalu tinggi, tapi semua orang paham jika Daniel saat ini sedang kesal. Vanye sering melupakan kesehatannya, hanya karena urusan kantor dan dia tidak suka itu.
"Daniel!" Vanye pun menekan ucapannya agar suaminya ini sadar jika diteruskan akan terjadi pertengkaran di depan mertuanya.
Untungnya Daniel cepat sadar dan menarik nafas panjang agar tak terbawa emosi. "Maaf, aku terlalu emosi."
"Masalah kantor lebih baik aku yang ambil alih saja, meski belum paham betul aku bisa belajar memahami semua," putus Daniel langsung meninggalkan meja makan.
Melihat suaminya pergi begitu saja, Vanye memutuskan untuk mengikuti Daniel, tapi dengan cepat Dona mencegah menantunya itu pergi.
"Makanlah dulu, biarkan Daniel sendiri. Jangan masukan hati ucapan Daniel, dia hanya khawatir saja denganmu," kata Dona.
Vanye hanya diam, dia juga mengakui kesalahannya. Karena terlalu fokus pada perusahaan, kesehatannya pun tak pernah dihiraukan.
Dari pagi kepalanya sangat pusing sekali, beberapa kali mual sampai muntah, tapi karena Vanye ingat tugas yang diberikan papanya, membuat dia masa bodoh dan yakin semua akan membaik jika minum obat.
"Maaf, Ma." Vanye hanya bisa menundukkan kepalanya.
"Nggak perlu minta maaf, sudah lupakan masalah ini. Sekarang makan, setelah itu bisa pak supir mengantarmu ke kantor."
"Iya."
Hanya itu yang bisa diucapkan. Setelahnya Vanye mencoba memakan sarapannya dengan sangat pelan, rasa mual yang selalu dominan membuatnya harus perlahan menghabiskan semua.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1