
"Sial! Bocor lagi!" seru Tama. Pasalnya baru saja dia mengganti ban, tapi beberapa meter kemudian kembali bocor.
"Pasti ini sengaja, sungguh nggak berkah hidupnya mencari nafkah sambil memasang ranjau seperti ini." Ocehnya sekali lagi.
Untung saja Tama memiliki ban cadangan lebih dari satu, dengan perasaan kesal dia mulai mengganti lagi ban bocor sama ban yang baru. Namun, ketika dia sedang istirahat sejenak matanya tak sengaja melihat seorang wanita cantik tengah berjalan sambil menangis.
Tama merasa penasaran, kenapa malam-malam seperti ini ada wanita menangis sambil berjalan. Apalagi sambil memakai baju putih dan pikirannya mulai tidak-tidak.
"Itu manusia atau hantu ya?" Tama terus menatap wanita itu sampai akhirnya jarak mereka sangat dekat.
"Anakku, dimana anakku?"
Tama mendengar wanita itu menyebutkan nama anak. "Apa anaknya diculik ya?" gumam Tama sangat penasaran.
"Ah, biarin saja, barangkali dia orang gila!" serunya membiarkan wanita tadi berlalu begitu saja.
Tama kembali fokus pada mobilnya, tapi ternyata hati dan otaknya sangat tidak sinkron dengan mulutnya. Hatinya masih sangat penasaran, sampai-sampai dia tak fokus mengerjakan tugasnya.
"Sial! Kenapa aku jadi terbayang-bayang wanita itu terus sih! Oke, karena tak bisa dihilangkan maka aku akan menanyakan keadaannya!" serunya langsung berdiri.
Namun, ketika dia bersiap akan menghampiri wanita tadi. Mata Tama di kejutkan dengan tindakan nekat menyebrang jalan, tanpa melihat kanan-kiri.
"Sial! Dia bisa mati!"
Tama berlari kencang mungkin, dia tak mau sampai terjadi sesuatu pada wanita tadi. Beberapa kali kakinya tersandung, tapi Tama tak perduli, fokusnya sekarang pada seorang wanita gila entah dari mana, tapi hatinya tergerak untuk menolong.
"Tiiinnn!"
"Aahhhh!"
"Awas!"
Tama langsung menarik tangan wanita itu dan langsung memeluknya. Tubuhnya tak bisa seimbang sehingga mereka berdua terpelanting ke pinggir trotoar, punggungnya pun seperti menabrak batu besar sehingga Tama merasakan sakit luar biasa.
"Hiks ..., hiks ..., hiks ...."
Tangisan kecil dari wanita tadi membuat Tama melepaskan pelukannya, dia berusaha melihat kondisinya dan takut ada luka serius.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya terus memeriksa keadaan wanita di depannya ini.
"Jangan, jangan sentuh aku. Lepasin, jangan!"
Tama semakin bingung melihat tingkah wanita di depannya ini. Dia menjadi histeris hebat, saat mata mereka saling menatap.
"Tenanglah, aku bukan orang jahat." Tama berusaha menenangkan wanita itu.
__ADS_1
"Nggak mau lepas, jangan lakukan ini aku mohon, jangan perkosa aku!" teriaknya semakin histeris.
Tama bingung, dia takut. 😱
Takut dikira ingin memperkosa wanita ini sungguhan, padahal dia berniat baik mau membantu dan menanyakan kondisinya.
Banyak sekali orang berkerumun kali ini dan mempertanyakan apa yang sedang terjadi, Tama berusaha menjelaskan segalanya tapi saat dia lengah Wanita tadi lari begitu saja.
"Hey jangan lari, aku bukan orang jahat." Tama mengejarnya, meski bagaimanapun Tama harus membantu wanita itu dan mempertemukan dia dengan keluarganya.
"Nggak mau, tolong ada orang jahat!"
"Bukan, aku bukan orang jahat. Berhentilah, aku tau dimana anakmu saat ini." Entah kenapa mulutnya berbohong seperti itu. Ide itu tiba-tiba keluar begitu saja, barangkali bisa membuat wanita tadi berhenti.
"Anakku?"
Tama benar-benar terkejut saat wanita di depannya ini berhenti mendadak dan memutar tubuhnya begitu saja, untung Tama bisa mengerem, kalau tidak mungkin mereka akan bertabrakan.
"Iya anakmu. Aku tau dimana anakmu, tapi kamu harus ikut denganku dan berhenti mengatakan aku ini orang jahat," jelas Tama. Masa bodohlah, yang penting dia bisa menjinakkan orang ini.
"Tapi sungguh kamu bukan orang jahat?"
"Aku berani bersumpah, jika ucapanku bohong maka Tuhan akan mengirimkan petir dan menyambar tubuh—"
Tama pun terjingkat mendengar suara Halilintar tadi. Jantungnya berdetak kencang dan merasa dejavu, padahal dia berbohong untuk kebaikan tapi Tuhan langsung menegurnya.
"Kamu bohong, buktinya itu ada geledek."
"Hanya geledek kan? Bukan petir, buktinya aku masih hidup dan berdiri di depanmu." Tama jadi cengengesan. Dia berharap wanita ini tak memperumit keadaan dan dia segera membawanya pergi.
"Baiklah aku percaya, tapi beneran ya kamu tau anakku dimana."
"Iya, aku tau. Ayo aku gandeng, jangan jauh-jauh soalnya banyak kendaraan disini," kata Tama.
Dia pun segera menggandeng tangan wanita itu dan membawanya ke dalam mobil, karena ban nya belum selesai di ganti Tama menyuruhnya menunggu sebentar.
"Oh ya, namamu siapa? Biar enak kalau mau manggil," ucap Tama sambil menyelesaikan tugasnya.
"Aily, namaku Aily. Bagus kan?" Aily terlihat sangat bahagia setelah memberi tahu namanya.
"Iya, sangat bagus dan orangnya juga cantik."
***
Aily berjalan masuk ke dalam rumah Tama, dia terus menatap takjub dan selalu berkata "Wahh, indah." Sehingga membuat Tama selalu tersenyum, melihat tingkah Aily.
__ADS_1
Tingkahnya benar-benar seperti anak kecil, tapi melihat dari postur tubuhnya Aily sudah dewasa namun dia tak tau berapa umur Aily saat ini.
"Kamu suka dengan itu?" tanya Tama ketika melihat Aily terus menatap gucci yang dipajang samping sofa.
"Iya, aku suka. Ini sangat mengkilap dan besar." Aily pun memeluk gucci di depannya penuh kasih sayang.
"Halo, kamu namanya siapa?" Aily mengajak bicara gucci tersebut.
Tama menggeleng, dia mendekati Aily dan memutar tubuhnya sangat lembut. "Aily, ini benda mati. Jadi nggak bisa berbicara, beda dengan aku. Manusia bisa bicara dan diajak ngobrol, tapi tidak dengan gucci," ucapnya memberi sedikit pengertian.
"Jadi nggak bisa bicara?" Aily terlihat sangat serius.
"Nggak, sudah yuk kita masuk. Kamu pasti lapar kan, tadi aku sudah menyuruh bibi membuat makanan barangkali kamu lapar." Tama mengajak Aily ke tempat ruang makan, tapi dia tak mau dan terus menggeleng.
"Mana anakku? Katanya kamu tau dia dimana," lirihnya mulai ingat tujuannya pergi mencari anaknya.
"Anak ya?" Sungguh sekarang Tama kebingungan, dia tak tau harus beralasan seperti apa lagi jika sudah seperti ini.
"Iya anakku, dia sangat tampan dan gagal. Tingginya segini, agak sedikit brewok seperti kamu." Aily menjelaskan sambil membelai lembut pipi Tama.
Seketika tubuh Tama meremang, baru kali ini dia merasakan gerilya aneh ketika Aily membelainya.
"Ehem!" Tama terlihat mengontrol emosinya. Dia usap kasar tengkuknya dan kembali berinteraksi pada Aily.
"Jadi dia sudah dewasa?" Aily mengangguk.
"Bukan anak bayi kan?" Aily menggeleng.
Tama mangut-mangut, dia berusaha memikirkan ide untuk membuat Aily berhenti menanyakan anaknya dulu. Setidaknya sampai besok, agar dia bisa mencari informasi tentang keluarga Aily.
"Jadi gini, anakmu adalah teman baikku. Dia sempat menitipkan pesan, kalau kamu harus bersamaku beberapa hari. Dia ada tugas penting yang membuatnya harus pergi, jadi gimana kamu mau tinggal disini beberapa hari sesuai permintaan anakmu?" tanya Tama. Ada saja idenya untuk mengelabui Aily.
"Benarkah? Tapi kenapa dia nggak pamit?" Aily terlihat sangat sedih.
"Karena dia sangat terburu-buru, kan tadi sudah aku bilang. Jadi gimana, mau atau tidak tinggal bersamaku beberapa hari?"
Lama sekali Aily berpikir, tapi akhirnya dia mengangguk juga dan mengiyakan perkataan Tama.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
Judulnya CINTA DI ATAS PERJANJIAN Author ENIS SUDRAJAT jangan lupa ya 😍😍
__ADS_1