Suamiku (Calon) Adik Iparku

Suamiku (Calon) Adik Iparku
SCAI - 16. Gaya Ternyaman


__ADS_3

Vanye menatap ragu pada bubur ayam pesanan Daniel. Bukan dia tak suka, tapi Vanye baru kali ini makan di pinggir jalan dan sebelumnya dia tak pernah diizinkan mengkonsumsi atau memakan makanan yang tidak higienis. Jadi, untuk mencobanya Vanye masih sedikit ragu.


"Coba cicipi, ini enak kok Mbak." Daniel menyodorkan sesendok bubur ke arah Vanye.


"Serius ini enak? Awas saja kalau aku keracunan, kamu orang pertama yang akan aku hantui kalau meninggal," balas Vanye membuat Daniel terbahak-bahak


Daniel semakin gemas dengan istrinya. Tetapi Daniel memaklumi itu, apalagi Vanye anak kesayangan keluarga Burrak. Pasti selama istrinya hidup tak pernah merasakan yang namanya jajanan pinggir jalan.


"Aku serius, Mbak. Ini sehat kok, aku sering makan disini. Buktinya aku sampai sekarang masih hidup, berarti aman kan?"


Vanye berfikir sejenak, benar apa kata suaminya. Jika ini beracun, Daniel akan mati dari dulu. Tapi, buktinya Daniel masih hidup dan ada didepannya.


"Baiklah, tapi sedikit saja."


Daniel mengangguk, setelah itu dia menyuapi istrinya. Dengan perlahan Vanye membuka mulutnya dan menyantap bubur ayam itu, awalnya sedikit jijik tapi Vanye berusaha menahan sambil merasakan rasa masakan pedagang kaki lima.


"Bagaimana? Enak nggak, atau kurang apa gitu?" tanya Daniel penasaran.


Namun rasa penasaran Daniel menjadi rasa terkejut, ketika Vanye merebut sendok yang dia pegang. Istrinya bahkan langsung melahap bubur ayam miliknya, tanpa permisi.


"Mbak, itu kan punyaku! Tadi saja di pesenin nggak mau, sekarang malah di ambil," ucap Daniel sedikit mengejek campur kesal.


"He he he, kamu pesan lagi saja. Ini sangat enak, maaf jatahmu ku ambil," kata Vanye terus melahap bubur ayam.


Daniel tak membalas dia lebih memilih memandang istrinya, terlihat sangat lucu bahkan menggemaskan. Namun, ketika dia melihat Vanye makan dengan berantakan tangannya reflek membersihkan sisa-sisa bubur di sudut bibir Vanye.


"Kamu kalau makan seperti anak kecil, belepotan sana-sini Mbak," ujar Daniel sambil membersihkan bibir Vanye.


Mendapat perlakuan seperti ini, tubuh Vanye mendadak kaku. Jantungnya mulai berulah lagi, bahkan lebih kencang dari sebelumnya. "Ah, aku seperti anak kecil ya?" Vanye berusaha menyingkirkan tangan Daniel dan segera mengambil tisu untuk membersihkan mulutnya.


"Maaf," ucap Daniel salah tingkah.


"Nggak apa-apa."


Suasana pun menjadi kaku tidak seperti tadi saat mereka akan mencoba bubur ayam. Sedangkan Daniel merutuki kebodohannya, karena terlalu terbawa suasana dia sampai lancang menyentuh tempat terlarang.


"Nggak apa-apa kok, Dan. Oh ya, kamu kok nggak pesan bubur sih? Masa yang makan hanya aku," balas Vanye mencoba mengalihkan pembicaraan.


Kalau dia tak mengalihkan pembicaraan mereka, yang ada suasana canggung ini akan terus berlanjut sampai nanti.


"Ini mau pesan," balasannya sambil garuk-garuk kepala.


"Bu, buburnya tambah satu sama seperti tadi," ucapnya kepada penjual bubur ayam.

__ADS_1


"Baik, Mas."


Vanye tersenyum lembut, setelah itu dia kembali menyantap makannya. Akan tetapi, di sela-sela sarapannya Vanye merasa rindu pada orang tuanya. Wajahnya berubah murung, nafsu makannya pun juga hilang. Dia begitu merindukan keluarganya saat ini.


"Emm ... Daniel."


"Iya, Mbak? Ada apa?" Daniel begitu lembut bertanya padanya.


"Aku rindu keluargaku. Ayo kita pulang, toh hari minggu kemarin nggak jadi pulang kan karena kamu sibuk," lirih Vanye.


Daniel diam sejenak, memang ucapan Vanye benar. Hari minggu kemarin dia gagal pulang karena terlalu sibuk, sekarang memang masih ada beberapa kegiatan lagi, tapi melihat istrinya sangat merindukan keluarganya maka Daniel tak bisa menolak.


"Sesuai yang kamu mau, setelah selesai makan kita balik rumah untuk ganti baju, setelah itu kita cari oleh-oleh buat mereka. Apa sekarang kamu puas istriku?" balas Daniel.


Vanye tersipu malu mendengar ucapan Daniel, bahkan tatapan hangat suaminya berhasil meluluhkan hatinya sehingga dia ingin membalas Daniel.


"Terima kasih, suamiku," kata Vanye sedikit menggoda.


"Uhuk ... uhuk ... uhuk!" Daniel langsung tersedak ludahnya sendiri, niatnya menggoda istrinya malah dibalas menggoda.


"Kamu kenapa, Daniel?" Vanye panik.


"Nggak apa-apa, hanya kaget saja sedikit." Daniel semakin tak karuan.


Meski awalnya terlihat sangat kaku, tapi beberapa menit kemudian suasana mencari kembali, hingga tak terasa makanan mereka sama-sama habis.


Setelah selesai membayar Daniel dan Vanye kembali ke rumah untuk membereskan pakaian mereka. Selesai berkemas, mereka langsung berangkat. Selama di perjalanan Vanye selalu bersenandung, suara merdunya pun terdengar sangat indah di telinga Daniel.


"Mbak, suaramu bagus," ujarnya terus menatap lurus.


"Benarkah? Kata Milan suaraku jelek, bisa merusak gendang telinga," balas Vanye begitu bahagia mendapat pujian dari suaminya.


"Iya benar, suara mbak Vanye sangat bagus bahkan merdu sekali," kata Daniel sekali lagi.


Vanye tersenyum malu, mendengar pujian Daniel lagi. "Apa kamu mau aku bernyanyi setiap hari? Kalau mau aku nggak keberatan, paling cuma satu atau dua lagu saja," sahutnya berbinar-binar.


"Boleh! Itung-itung irit baterai ponsel kalau sedang di rumah," ujar Daniel sedikit bercanda.


Vanye terdiam kesal, seketika bisa bibirnya naik lima meter. Dia merasa dihempaskan begitu saja, padahal Vanye sudah sangat girang mendapat pujian.


"Kamu keterlaluan Daniel! Habis buat aku melayang, sekarang menjatuhkanku begitu saja," protes Vanye semakin cemberut.


Daniel terkekeh melihat wajah cemberut istrinya. Ingin sekali dia mencium bibir sexy itu, tapi Daniel takut Vanye marah dan menjadi benci padanya.

__ADS_1


"Jangan cemberut dong, Sayang. Nanti cantiknya hilang dan jadi jelek," goda Daniel semakin membuat Vanye terkejut.


Bagaimana tidak terkejut jika Daniel mulai berani memanggilnya 'Sayang' padahal dari tadi dia selalu menyebutnya mbak Vanye.


"Coba ulangi lagi, Daniel."


"Apanya?" Daniel pura-pura tak paham, padahal dia tau apa maksud Vanye.


"Tadi kamu bilang aku cantik dan Sayang. Apa aku salah dengar atau ini hanya halusinasi saja?" Vanye semakin gila rasanya.


Daniel pun meminggirkan mobilnya tepi jalan, dia menatap Vanye dengan lembut dan setelah itu mencubit gemas pipi Vanye.


"Aduh! Sakit Daniel, kamu tega banget sih nyubit aku," omel Vanye mengelus bekas cubitan tadi.


"Sakit kan? Berarti ini bukan mimpi atau halusinasi, Sayang. Memang salah jika aku ingin memanggilmu Sayang, masa nggak boleh sih!"


Vanye tercengang, dia benar-benar mendengar suaminya berkata seperti tadi dan ini semua bukan mimpi. Rasanya sangat aneh, tapi Vanye sangat senang.


"Aku ingin semakin dekat denganmu, Sayang. Jadi kuputuskan mulai hari ini aku memanggilmu Sayang, bukan Mbak lagi. Rasanya aneh saja, aku suamimu tapi manggilnya Mbak terus," kata Daniel sambil mengelus lembut pipi Vanye.


"Baiklah, jika itu maumu. Setelah aku pikir-pikir kita memang perlu pendekatan lebih lagi, Daniel. Aku juga sedikit merasa bersalah padamu, kita sudah menikah beberapa minggu tapi aku belum bisa melayani lahir-batin," ucapnya sambil menatap sedih pada Daniel.


"Kenapa merasa bersalah? Aku nggak pernah memaksa kok, jika sudah siap bilang saja nanti akan ku carikan gaya ternyaman agar kamu nggak kesakitan nanti, Sayang." Goda Daniel mencoba mencairkan suasana.


Dia tak mau Vanye kembali sedih, jadi sebisa mungkin Daniel membuat istrinya tak merasa bersalah.


"Apaan sih kamu Daniel! Ih gaya apaan, otakmu mesumm sekali!" seru Vanye sangat malu. Dia memegang pipinya, terasa sangat panas seperti air mendidih.


"Ya, kan itu malam pertama kita. Jadi —"


"Stop! Jangan bahas itu lagi, cepat jalan nanti nggak sampai-sampai!"


Daniel terbahak-bahak, senang sekali rasanya menggoda Vanye. pipinya selalu memerah saat tersipu dan sudah menjadi ciri khasnya. Sebab itulah kenapa Daniel suka sekali menggoda Vanye.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...



Lahir dari rahim yang sama, hari, bulan dan tanggal yang sama. Bahkan wajah mereka pun sangat mirip.


Meskipun begitu, Amman dan Ammar memiliki watak yang jauh berbeda. Amman adalah pria pekerja keras dan penyayang, sementara Ammar adalah sosok pria yang suka menghambur-hamburkan uang tanpa menghiraukan betapa sulitnya bekerja.


Memiliki banyak kesamaan selain watak, ternyata kedua pria kembar itu juga memiliki tipe wanita yang berbeda.

__ADS_1


Keduanya juga tidak terlalu akrab, lalu bagaimana jadinya jika kekasih Amman menikah dengan Ammar dan begitupun sebaliknya?


__ADS_2