Suamiku (Calon) Adik Iparku

Suamiku (Calon) Adik Iparku
SCAI - 57. KEMURKAAN DANIEL


__ADS_3

Daniel kini sudah sampai kantor, dia baru saja masuk basecamp untuk memarkirkan mobilnya. Setelah selesai, Daniel baru menyadari jika istrinya berkali-kali menghubunginya.


Merasa ada yang tidak beres, Daniel segera menghubungi kembali Vanye, akan tetapi panggilannya tak di angkat sekalipun. Firasat tak enak mulai merasuki relung hati Daniel, dengan cepat Daniel turun dari mobil dan bergegas ke ruangan Vanye.


Di dalam lift pun Daniel tak bisa tenang, sambil menunggu sesekali Daniel melakukan panggilan ulang namun hasilnya tetap sama. Ketika dia sudah sampai, barulah dia bertemu dengan Dila.


"Bu Vanye ada?" tanya Daniel.


"Ada didalam bersama investor dari Bali, cuma pintunya dikunci saya dari tadi ingin mengantarkan minum sampai tak jadi," balas Dila.


Deg!


Jantung Daniel mulai tak karuan, pasti di dalam terjadi sesuatu sampai Vanye tak mengangkat panggilannya. Bahkan ini baru kali pertama istrinya mengunci pintu ruangan, tanpa dirinya.


"Ambil kunci cadangan!" seru Daniel.


"Sebentar, Pak!" Dila jadi ikut panik, tapi sayangnya kunci cadangan yang biasanya ada di bagian keamanan tiba-tiba sulit ditemukan.


Daniel tak bisa berdiam diri terus menerus, dia hanya bisa memakai cara kasar. Tanpa memperdulikan cedera yang pernah dia dapatkan, dia memilih mendobrak pintu ruangan Vanye.


Berkali-kali mencoba sampai lengannya terasa sakit, tapi pintu tersebut tetap tertutup sehingga beberapa karyawan membantu Daniel.


Brakk!


"Lepaskan!"


Mata Daniel melotot tajam tatkala melihat istrinya dilecehkan seseorang, api amarah dalam dirinya seketika membara dan ingin membunuh seseorang. Langkah kaki Daniel juga sangat cepat menghampiri mereka, tangannya sangat gatal ingin menguliti seseorang.


"Brengsek!"

__ADS_1


Daniel menjambak rambut Satos penuh tenaga, dia bahkan menarik kuat sampai lelaki di hadapannya itu menjerit kesakitan. Satos melepaskan Vanye dan berusaha lepas dari Daniel, tapi sayangnya amarah suami Vanye sudah membara sehingga tak ada ampun bagi Satos.


"Mati kau, bajingann!" Daniel segera menghajar Satos bertubi-tubi. Dia tak peduli lagi akan hukum Indonesia, yang jelas Daniel ingin membunuh lelaki yang berani melecehkan istrinya.


Sedangkan Dila, segera menghampiri Vanye. Wanita itu menyelimuti tubuh bosnya dengan jas, bahkan Vanye segera memeluk Dila karena takut.


"Dila, aku sangat takut." Vanye semakin erat memeluk Dila.


"Ibu yang tenang, sekarang sudah ada pak Daniel. Semoga orang itu mendapat hukuman seberat-beratnya," balas Dila.


Tak lama setelah itu, beberapa polisi datang menghampiri perusahaan Vanye. Mereka semua menangkap Daniel juga Satos, kabar ini juga sudah didengar oleh Dimas sehingga lelaki itu segera menuju kantor polisi demi mengeluarkan sang menantu.


***


"Saya ucapkan terima kasih karena sudah membantu kami menyelesaikan masalah ini, saya harap pelaku bisa dihukum seberat-beratnya," ucap Dimas.


Padahal Daniel hanya ingin melindungi istrinya, tapi dia tetap kena pasal penganiayaan sehingga harus mengeluarkan beberapa uang demi kebebasan.


"Pasti, dia akan mendapat hukuman setimpal, Pak. Kalau begitu saya pamit undur diri, semoga lain waktu tak ada kejadian seperti ini." Polisi itu segera meninggalkan mereka, sedangkan Daniel masih terlihat tidak senang karena Satos belum mati.


"Harusnya aku bunuh saja, Dia!" serunya sambil membuat Dimas terkejut.


"Jangan sembarangan kamu, ingat Vanye masih membutuhkanmu," tegur Dimas.


Bagaimanapun Dimas tak akan membiarkan anaknya menderita, kebahagiaan Vanye ada pada Daniel, jadi sebisa mungkin mereka harus tetap bersama.


"Keadaan Vanye sekarang bagaimana, Pa? Apa dia baik-baik saja, tadi aku sempat melihatnya sangat shock, apalagi kondisi tubuhnya sangat lemah." Daniel terlihat sangat sedih.


"Dia sekarang ada dirumah, dari tadi selalu menanyakan kabarmu. Lebih baik segera pulang, jangan membuat Vanye menunggu terlalu lama."

__ADS_1


Daniel hanya menganggukkan kepala, setelah itu mereka bergegas masuk ke dalam mobil agar segera sampai rumah. Namun sayangnya jalanan tak berpihak pada mereka, kondisi lalulintas terlalu ramai sehingga macet terjadi di sepanjang jalan.


***


"Ma, kenapa Daniel belum datang juga? Apa papa nggak bisa membebaskan Daniel?"


Pertanyaan Vanye pun membuat Ratih bingung, dia sendiri juga tak tahu bagaimana proses selanjutnya, yang dia dengar dari suaminya hanya semua akan baik-baik saja, untuk bebas atau tidak, Ratih belum tahu.


"Kita tunggu saja ya, Nak. Mama yakin semua pasti baik-baik saja, yang penting sekarang kamu harus berpikir positif," balas Ratih.


Tak lama kemudian, Dona datang membawakan segelas susu hangat. Dia tahu menantunya sangat terpuruk, jadi Dona berinisiatif membuat minuman.


"Minumlah dulu, kamu dari tadi hanya panik tapi tak memperhatikan kondisimu. Dari siang sampai malam, perutmu masih kosong belum terisi apapun," ucap Dona.


"Benar kata Mama mertuamu, bersedih boleh tapi jangan sampai melupakan makan," sahut Ratih.


Vanye menatap sedih, dia tak ada selera makan, tapi karena dipaksa maka mau tak mau minuman itu diterima Vanye. Perlahan-lahan dia minum susu hangat itu, tapi tiba-tiba rasa mual menyerang dirinya lagi.


Hoekk!


Vanye menggelengkan kepalanya sambil menyodorkan segelas susu hangat itu, dia tak mau meminumnya lagi, perut sangat menolak makanan dari kemarin jadi daripada tersiksa Vanye lebih memilih tak memaksakan diri.


"Aku nggak mau minum lagi, perutku mual."


"Ini pasti karena telat makan, sekarang lebih baik kamu istirahat! Masalah Daniel jangan dipikirkan, dia sudah dewasa pasti bisa menjaga diri sendiri!" marah Dinda.


Melihat kedua orang tuanya marah-marah, Vanye merasa takut. Dia akhirnya mengikuti apa kata mereka, meski tak bisa memejamkan mata, tapi dia harus berusaha sampai beberapa menit kemudian Vanye benar-benar berlayar kepulauan impian.


__ADS_1


__ADS_2