
"Daniel, sebenarnya kita mau kemana?" tanya Vanye terus bertanya.
Dia takut jika suaminya mengendarai mobil dalam kondisi kalau, apalagi matanya terus berlinang air mata.
"Pulang." Hanya itu balasan Daniel.
Vanye tak berani berkata lagi, dia memilih diam sampai akhirnya Daniel semakin cepat melajukan mobilnya. Vanye terlihat sangat takut, apalagi suaminya ini sangat ngawur dalam mengendarai.
"Apa kamu gila, Daniel?" teriak Vanye ketakutan. Tapi, suaminya ini tak ada niatan mengurangi kecepatan laju, yang ada semakin kencang.
"Stop! Aku bilang Stop!"
"Diam!"
Vanye benar-benar terkejut ketika Daniel membentaknya, sungguh baru kali ini suaminya bersikap kasar dan tak terkontrol.
Karena kesal, Vanye langsung membuka pintu mobil dan mengancam Daniel. "Dalam hitungan ketiga kamu nggak mau berhenti, maka aku akan lompat!" serunya membuat Daniel panik.
"Van, jangan main-main!"
"Satu!"
"Vanye!"
"Dua!"
"Oke, aku berhenti tutup dulu pintunya!" Akhirnya Daniel mengalah. Dengan cepat dia meminggirkan mobilnya dan setelah itu Daniel menatap tajam Vanye.
"Nggak lucu, Van!" serunya.
"Kamu yang memulai!" Vanye pun keluar dari mobil.
"Keluar! Biar aku yang menyetir mobilnya," kata Vanye.
Daniel menurut begitu saja, dia membiarkan istrinya memegang kendali mobil daripada nanti Vanye berbuat nekat.
Di perjalanan, mereka tak ada yang saling bicara. Sampai akhirnya mobil mereka melewati tempat pertama kali Daniel bertemu Ramon.
"Ada apa? Sepertinya mencari sesuatu," ujar Vanye merasa suaminya tengah mencari seseorang.
"Nggak ada apa-apa." Bohong Daniel. Dia tak mungkin jujur sedang mencari bocah kecil waktu itu, yang ada dia akan diserbu beberapa pertanyaan kenapa bisa bertemu Ramon.
Meski Vanye tahu suaminya berbohong, tapi dia tak mau memperpanjang masalah. Lebih baik dia fokus menyetir, agar cepat sampai tujuan.
__ADS_1
"Van, stop! Cepat pinggirkan mobilnya, cepat!" seru Daniel terus menggoyang-goyangkan lengannya.
"Kenapa?" Vanye jadi panik.
"Minggir dulu, Van!"
"Iya, sebentar!"
Setelah berhenti, Daniel segera keluar dari mobil dan meninggalkan Vanye begitu saja. Dia berlari sangat cepat menuju taman, matanya tadi sempat melihat Ramon di seret-seret seseorang sehingga membuat hati Daniel teriris melihatnya.
"Sakit, ampun Bang! Aku akan cari uang lebih giat lagi, ampun Bang!"
Telinganya mendengar jerit kesakitan Ramon, setelah memastikan titik suara tersebut Daniel segera berlari secepat mungkin mengikuti sumber suara.
"Lepaskan Ramon!" teriaknya membuat Japar menatap sinis ke arahnya.
"Siapa kamu? Jangan ikut campur urusanku!" seru Japar ingin meninggalkan Daniel, tapi di halangi.
"Bisa minggir nggak!"
"Lepaskan Ramon! Dia masih kecil tapi kamu bertindak kasar padanya," ujar Daniel.
"Bukan urusanmu! Awas!" Japar pun mendorong Daniel sampai tersungkur.
"Daniel!" teriak Vanye tak menyangka suaminya memukul orang tak di kenal.
"Bawa Ramon ke dalam mobil, biar aku bereskan orang ini!" titah Daniel.
Vanye menganggukkan kepala, dengan perasaan takut dia menggandeng Ramon dan membawanya masuk ke dalam mobil. Dari dalam Vanye masih melihat suaminya berkelahi.
"Tante tenang saja, Om pasti baik-baik saja. Om jago bela diri, karena beberapa hari lalu sempat mengalahkan seseorang," kata Ramon terus menatap kagum pada Daniel.
"Ha, serius? Daniel pernah berkelahi di daerah sini?" tanya Vanye penuh keterkejutan.
"Iya, Tante."
Penasaran, ya Vanye jadi penasaran. Kenapa dia tak tau hal ini dan baru mengetahui semua dari bocah kecil di depannya ini, padahal setiap saat Vanye selalu berhubungan melalui video call.
"Van, kamu ambil amplop coklat di dalam tas!" seru Daniel sungguh membuat Vanye tersentak.
"Buat apa?" tanyanya.
"Buat nebus Ramon, nanti setelah ini kita mampir dulu ke bank karena uangku nggak cukup," balas Daniel cepat.
__ADS_1
"Om, jangan lakukan itu. Aku nggak mau menyulitkan orang, Bang Japar itu mata duitan, pasti dia minta uang banyak." Ramon mencegah tindakan Daniel. Dia tak mau sampai Daniel mengeluarkan uang banyak hanya untuknya.
"Jangan pikirkan masalah ini, yang penting kamu terbebas dari orang gila itu," balas Daniel.
Setelah menerima amplop itu Daniel bergegas kembali ke Japar dan langsung melemparkannya tepat di dada Japar. "Disitu ada uang sepuluh juta, kamu bisa ambil sebagai DP! Sisanya akan aku berikan besok malam, setelah urusanku beres!" seru Daniel.
"Aku pegang janjimu, dalam waktu 24 jam uang lima ratus juta belum kamu berikan, maka Ramon akan aku ambil kembali."
***
"Daniel kamu gila? Uang lima ratus juta dari mana? Dalam waktu satu hari, jangan bercanda deh," bisik Vanye sangat pelan takut jika terdengar oleh Ramon. Dia memang kasihan pada Ramon, tapi mengingat tabungan Daniel tak sebanyak itu membuatnya ikut panik.
"Kecilkan suaramu, jangan sampai Ramon mendengarnya. Lihatlah dia sangat kurus, pasti orang tadi memperlakukan Ramon seperti hewan," sahut Daniel sambil tersenyum. Dia senang sekali melihat Ramon begitu lahap memakan makanannya.
"Masalah uang jangan dipikirkan, nanti aku pinjam Zac atau Pamukas untuk sementara waktu, setelah masalah Ramon beres aku akan mengajukan pinjaman ke bank," sambungnya seperti tak ada penyesalan sedikitpun.
"Aku nggak setuju jika kamu berhutang apalagi sampai ke bank, jika memang keputusanmu sudah bulat, maka pakai saja uangku. Aku ada tabungan sekitar lima miliar, jadi ambil saja uang itu," usul Vanye.
Vanye lebih baik memberikan tabungannya daripada harus berhutang, toh selama ini dia tak pernah menghabiskan uang jajan dari papanya. Sejak kecil Vanye sudah diberikan uang, tapi dia selalu tabung dan akhirnya menumpuk sebanyak itu.
"Kamu dapat uang dari mana sebanyak itu, Van?" Daniel sampai tak percaya mendengarnya.
"He he he, itu uang jajan dari papa. Paling aku ambil jika memang perlu banget, karena ini juga sangat penting jadi ambil saja," balas Vanye cengengesan.
Mendengar cerita Vanye, Daniel sampai melongo. Uang jajan sampai terkumpul sebanyak itu, sungguh amazing. Tapi, Daniel salut dengan istrinya karena tak pernah menghambur-hamburkan uangnya untuk hal tak penting.
"Kalau begitu, aku pinjam dulu uangmu. Nanti kalau sudah ada aku—"
"Daniel, jangan seperti itu. Kita ini suami-istri, uangku ya uangmu. Intinya uang kita bersama, nggak peduli itu hasil sebelum atau sesudah menikah. Pakailah, jangan pernah berkata hutang." Vanye memotong perkataan Daniel.
Jujur, dia tak suka jika suaminya berkata seperti tadi. Baginya, semua sama saja. Nggak ada istilah hutang piutang dalam menjalani pernikahan, yang penting saling jujur satu sama lain.
"Terima kasih, Sayang. Kamu memang istri yang sangat baik." Daniel terlihat sangat senang.
"Sama-sama, Suamiku. Sudah ah, kita fokus makan. Nanti keburu sore sampai rumah," ucapnya malu-malu.
Mereka pun melanjutkan makan, sambil menunggu Ramon selesai menyantap hidangannya. Sesekali mereka mengajak ngobrol Ramon, sampai tak terasa semua makanan habis dan mereka kembali melanjutkan perjalanan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
Judulnya BERTAHAN TERLUKA author PIPIHPERMATASARI jangan lupa ya 😍😍
__ADS_1