
Daniel menatap istrinya penuh kasih sayang, dia belai lembut wajah cantik Vanye sampai matanya tak mau berpaling sedikitpun. Siang tadi saat dia akan mengatakan rencananya untuk bulan madu harus tertunda, karena Vanye mendadak mendapat panggilan darurat dari perusahaan papanya.
Memang, sekarang Vanye mulai aktif di perusahaan mertuanya. Tapi, Vanye hanya datang saat mau akhir pekan dan selanjutnya kerja di rumah melalui zoom. Daniel tak melarang istrinya, selagi Vanye mau maka dia akan mengizinkan.
"Sampai kapan kamu terus menatapku, Daniel? Nanti lepas loh bola matamu, karena terlalu lama memandangku," keluh Vanye. Dia jadi salah tingkah dibuat Daniel, tatapannya begitu lembut dan menyejukkan hati.
"Kamu sangat cantik, Sayang."
"Jelas dong, istrinya siapa?" Vanye pun mencubit gemas hidung mancung Daniel.
"Kamu bisa saja," balas Daniel sambil mengecupp sekilas bibir istrinya.
"Oh ya, ada hal penting yang ingin aku bicarakan." Daniel pun beranjak dari atas ranjang dan mengambil sesuatu dari laci. Setelah itu dia menyodorkan amplop putih ke arah Vanye, agar istrinya membaca kejutan yang dipersiapkannya.
"Apa ini?" tanya Vanye.
"Buka dulu, Sayang." Daniel semakin di buat gemas oleh Vanye.
Vanye pun segera membuka amplop tersebut, setelah terbuka dia mengeluarkan dua lembar tiket pesawat dan beberapa brosur Villa dengan paket honeymoon.
"Kita mau honeymoon?" tanya Vanye.
"Iya Sayang, kan itu sudah jelas," balas Daniel.
"Kapan berangkatnya?" tanya Vanye seperti panik.
"Besok pagi, Sayang." Daniel jadi gemas sendiri, padahal di sana sudah tertera jelas kapan mereka berangkat dan pulangnya.
"Yahh, kenapa nggak tanya-tanya dulu sih Daniel! Percuma dong kita ke Bali kalau ...." Vanye tak berani melanjutkan bicaranya.
"Kalau apa?"
Daniel jadi was-was melihat expresi Vanye. Dilihat dari mimik wajah istrinya, dia jadi mengingat kejadian beberapa bulan ini.
"Jangan bilang ...."
__ADS_1
Vanye mengangguk lesu. Sedangkan Daniel melotot tajam sambil mengumpat, dia tak menyangka tamu istrinya akan datang secepat ini padahal dia masih ingat jika Vanye datang bulan sekitar tanggal 29 tapi sekarang masih tanggal 20, jauh sekali dari periode awal.
"Terus ini bagaimana?" tanyanya sangat frustasi. Gagal sudah rencananya untuk honeymoon jika begini, masalah biaya mungkin dia bisa toleransi tapi masalah gagalnya malam pertamanya membuat kepalanya sakit.
"Batalin dulu saja, sedangkan masalah Villa minta diundur tanggal. Hanya tujuh hari nggak akan memakan waktu lama kok, Daniel," jelas Vanye.
Sebenarnya dia sama sedihnya seperti Daniel karena tak jadi honeymoon, tapi kalau di paksa berangkat juga percuma, dia sedang halangan dan tak bisa melakukan penyatuan.
"Huft, ya sudah kalau memang seperti itu. Mungkin belum waktunya kita menyempurnakan pernikahan ini," balas Daniel menahan kekecewaan.
Tapi, semua tak berlangsung lama saat ide-ide gila mulai merasuki otaknya. "Eh, meski gagal honeymoon, tapi kegiatan kita masih bisa dilakukan kan?" tanya Daniel penuh tatapan licik.
Seketika bulu kuduk Vanye merinding, dia jadi ingat kejadian semalam saat dirinya hampir muntah karena Daniel terlalu mendorong kuat tongkat beruratnya.
"Nggak bisa! Kita libur dulu," tolak Vanye. Sebisa mungkin dia menghindar, agar kejadian semalam tak terulang.
"Kenapa nggak bisa? Kamu nggak kasihan sama aku, lihat adik kecil sudah bangun." Daniel meraih tangan Vanye dan di letakkan ke atas tongkat beruratnya.
"Ish, nggak mau!" Vanye menarik tangannya. Dia bersiap pindah kamar, tapi sudah kalah cepat dengan suaminya. Pergerakannya benar-benar dikunci, bahkan untuk bergerak saja sulit.
"Sebentar saja, Sayang. Nggak lama kok," bujuk Daniel.
Tapi, lama kelamaan Vanye merasa risi atas rengekkan Daniel. Dia mendudukkan dirinya sambil menatap kesal suaminya, "oke, aku mau melakukan seperti kemarin tapi dengan satu syarat!"
"Apa?"
Daniel menanti persyaratan dari Vanye. Dia melihat istrinya keluar dari kamar, setelah beberapa menit barulah Vanye kembali sambil membawa satu buah pisang besar dari kulkas.
Setelah itu Vanye mengupas kulit pisang dan langsung menyodorkannya pada Daniel. "Syaratnya kamu harus makan ini, kalau nggak mau jangan harap minta melakukan seperti semalam!" seru Vanye.
Jujur, Daniel kebingungan sekaligus ingin tertawa. Tapi, semua dia urungkan saat melihat tatapan tajam Vanye. "Hanya begini syaratnya? Kamu nggak salah kan, atau —"
"Nggak ada yang salah, sekarang mau atau nggak menuruti syaratku!" bentak Vanye.
Jika sudah seperti ini, maka Daniel lebih memilih diam dan mengikuti alur istrinya. "Oke oke, aku makan ini." Daniel segera mengambil pisang itu.
__ADS_1
Namun, ketika dia hendak menyantapnya tiba-tiba Vanye mendorong tangannya dan pisang tadi masuk ke dalam kerongkongan Daniel. Dengan cepat, dia memuntahkan pisang itu sebelum nyawanya melayang.
"Uhuk! Uhuk! Vanye kamu apa-apaan sih! Kalau aku mati bagaimana? Nggak lucu tau bercandanya," marah Daniel.
"Kenapa marah? Sakit? Nggak bisa nafas? Atau kelolot sampai mau mati?" bentak Vanye tak kalah menantang. Dia ingin Daniel merasakan apa yang dia rasakan semalam, jadi hanya ini jalan satu-satunya.
"Sudah tau masih nanya!"
"Lah kamu? Sudah tau rasanya seperti apa, terus kenapa kemarin kamu sodok-sodok batangmu sampai ke kerongkongan, ha! Itulah yang aku rasakan semalam, hampir mati karena kamu terlalu menekan benda nggak ada akhlak itu!"
Nafas Vanye sampai naik turun, dia bukan menolak jika diajak lagi ayo, tapi dia hanya ingin Daniel mengetahui apa yang Vanye rasakan agar suaminya tidak mengulangi kesalahan sama.
"Ya maaf, aku kan nggak tau," lirih Daniel mulai terlihat salah tingkah. Dia baru menyadari kesalahannya dan mengingat jika perlakuannya semalam di luar batas, sampai membuat Vanye menangis.
"Terus saja ngelak! Sudahlah, ini mau dilanjut nggak yang tadi? Katanya mau seperti semalam, tapi ku mohon pelan-pelan saja," ujar Vanye. Hatinya mulai meleleh saat melihat Daniel merenung.
"Nggak jadi, aku takut melukaimu lagi." Tolak Daniel.
Bukannya senang, Vanye malah terlihat kesal. Dia pun menarik tangan Daniel dan langsung mendorong suaminya ke atas ranjang.
Setelah itu Vanye naik ke atas tubuh Daniel. Dia dekati suaminya dan membisikkan kata-kata pada Daniel, "aku akan memuaskanmu, tapi dengan caraku sendiri. Kamu nggak boleh ikut campur, nikmati saja service yang ku berikan," bisiknya tepat di telinga Daniel.
Daniel pun hanya menganggukkan kepala, tak lama kemudian Vanye mulai menurunkan dirinya dan berusaha membuka resleting celananya sampai menampilkan tongkat beruratnya.
Disana Vanye tak langsung mengulumm, dia mainkan terlebih dulu dengan tangannya secara perlahan-lahan. "Ahh, Van!"
Daniel semakin di buat pusing tujuh keliling ketika bibir lembab Vanye menyentuh puncak kepala tongkat, Daniel hanya bisa mendongakkan kepalanya sambil menikmati apa yang dilakukan istrinya.
Semakin hari, Vanye semakin pintar memanjakannya dan selalu membuat Daniel tergila-gila. Meski belum sempurna, tapi dengan cara seperti ini sudah membuat Daniel bahagia.
"Van, aku mencintaimu!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
__ADS_1
Judulnya TAKDIR Author nazwatalita jangan lupa ya 😍😍