
...Silakan baca ulang di bab 58 ...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Tama menatap senang ke arah rumah besar milik Daniel. Rasanya seperti mimpi dia bisa menemukan keberadaan sang pujaan hati setelah sekian lama mencari, bebannya pun semakin ringan dan Tama yakin semua akan baik-baik saja sekarang.
"Kamu yakin ini rumahnya?" tanya Tama.
"Saya sangat yakin, Tuan. Dari informasi yang saya dapat, memang ini rumahnya," balas Reza.
"Kerja Bagus! Jika memang Aily ada di dalam, gajimu akan aku naikan lima puluh persen!" serunya sangat bahagia.
Begitupun juga Reza, dia sangat senang mendengar kata-kata gajinya naik. Dalam otaknya mulai merencanakan hal-hal baik untuk masa depannya nanti bersama sang istri.
"Ayo kita masuk, jangan sampai kita terlambat dan berakhir penyesalan," ucap Tama.
Reza menganggukkan kepala sebagai jawaban. Setelah itu mereka berdua berjalan memasuki pekarangan rumah Daniel, sampai akhirnya mereka tiba di depan pintu. Dengan semangat menggebu-gebu, Tama memencet bel rumah berkali-kali saking tak sabarnya.
"Kenapa lama sekali!" seru Tama sangat tak sabar.
"Sabar Tuan, mungkin saja mereka masih sibuk. Kan ini juga masih jam kerja," balas Reza.
Tama tak menjawab sedikit pun, tapi dia terus menatap gelisah pintu rumah Daniel. Tangannya juga tak henti-hentinya memencet bel, sampai akhirnya suara seseorang terdengar dari dalam.
"Iya, tunggu sebentar!"
Mulai saat itu jantung Tama berdetak tak karuan, ada debaran rindu sehingga dia tak bisa mengontrol semua.
"Apakah itu Aily?" lirihnya.
"Maaf siapa ya?" tanya seorang wanita setelah pintu terbuka lebar.
Ada rasa kecewa berat ketika bukan Aily yang membuka pintu itu, senyuman yang tadinya sangat merekah tiba-tiba musnah dan tak terpancar lagi.
"Maaf, apa benar ini kediaman pak Daniel?" tanya Reza. Melihat raut wajah Tama, dia sudah paham dan mengambil alih pembicaraan ini.
__ADS_1
"Iya benar ini rumahnya. Kalau boleh tahu kalian siapa ya, kok mencari anak saya?"
Reza sangat bersyukur akhirnya dia tak salah rumah, dengan senyum semangat Reza langsung pada intinya.
"Jadi begini, kami mencari seseorang. Dari beberapa bulan lalu telah mencari sampai akhirnya kita sampai disini," ungkap Reza.
"Siapa yang kalian cari?" Wanita itu terlihat kebingungan, dia juga penasaran siapa orang yang dicari dua lelaki ini.
"Kami mencari —"
"Tamaaaaaaaaaa!"
Teriakan itu pun membuat Tama maupun Reza menoleh kebelakang dan betapa bahagianya mereka melihat Aily sehat-sehat saja tanpa ada kekurangan sedikitpun.
"Sayang!" Tama segera lari ke arah Aily, tak peduli dia sudah tua yang jelas Tama sangat merindukan istrinya itu.
"Tunggu! Ini apa maksudnya, kenapa orang itu memanggil Sayang pada adikku!" serunya tak terima, dia ingin menghampiri Aily namun dicegah Reza.
"Jangan, Tuan Tama sudah sangat lama menunggu nyonya dari lama. Mereka memang sewajarnya bersama," kata Reza.
Dona tak bisa melanjutkan ucapannya, dia masih sangat bingung dan tak tahu apa yang sedang terjadi.
Sejak kapan adiknya memiliki pasangan, sejak kapan? Sungguh dia merasa tak terima jika memang adiknya memiliki kekasih, atau sebaliknya.
"Tama dari mana saja? Aily nungguin Tama!" seru Aily penuh kebahagiaan.
"Seharusnya aku yang tanya begini. Kamu kemana saja, aku kan sudah bilang jangan kemana-mana tapi aku tinggal ambil mobil kamu sudah pergi." Tama sampai meneteskan air mata.
Dia sempat berpikir tak akan bertemu lagi dengan Aily, tapi tuhan berkata lain dia dipertemukan kembali dengan istrinya.
"Maaf Aily salah." Aily pun menampilkan wajah sedih, tapi dengan cepat Tama meraih kedua pipi Aily dan menatap wajah sang istri penuh kerinduan.
"Kamu nggak salah, aku yang salah."
Satu kecupan pun mendarat sempurna di kening Aily, bahkan Aily langsung memeluk erat pinggang Tama dan menampilkan wajah bahagia.
__ADS_1
"Aku merindukanmu, Sayang."
"Brengsek! Berani sekali kamu mencium mamaku, rasakan ini!"
Bug! Bug! Bug!
Tiga tinjuan Daniel berikan, dia sangat murka ketika melihat mamanya dicium orang asing. Apalagi di depan umum, padahal dia hanya membeli bubur sebentar saja tapi mamanya sudah dilecehkan orang asing.
"Anakku jangan pukul Tama, jangan!" Aily berteriak sambil lompat-lompat, air matanya langsung mengalir deras saat melihat Tama tersungkur ke bawah.
"Nggak bisa, dia harus diberikan pelajaran!" seru Daniel masih belum terima.
"Tunggu dulu, kamu bilang dia anakmu? Apa dia yang kamu cari dulu, Aily?" tanya Tama masih bingung dengan semuanya, Tama kira Aily bohong dan Tama pikir anak tirinya masih berusia 6 tahun. Tapi siapa sangka jika usianya hampir sama dengannya kalau dilihat-lihat.
"Iya aku anaknya, memang kenapa ha?"
Sungguh jawaban Daniel membuat Tama tertawa sumbang, di seperti dipermainkan takdir dan Tama takut sekarang, takut jika usia Aily hampir menginjak enam puluhan. Sedangkan dia saja masih berusia 34 tahun.
"Sungguh gila! Tuhan, sekali lagi kamu mempermainkan aku!" teriak Tama sangat frustasi.
Reza yang melihat Tuannya sangat terguncang pun mendekati Daniel, dia ingin diberi kesempatan untuk bicara beberapa kata di dalam agar semuanya jelas dan segera selesai. Sungguh, Reza tak tega melihat keadaan Tuanya jika harus mendapat hasil buruk.
"Tuan, beri kami kesempatan untuk menjelaskan semua. Kami kenal dengan Nyonya Aily dan saya bisa menjadi Tuan saya orang baik," mohon Reza.
"Tama terluka," rengek Aily terus meminta dilepaskan. Aily ingin menghampiri Tama, tapi Daniel begitu erat memegang tangannya.
"Tuan lihatlah, bahkan Nyonya ingin bersama Tuan Tama, beri kamu kesempatan jangan bertindak egois."
Perlahan-lahan Daniel menurunkan emosinya, dia juga menatap iba ke arah Aily. Terlihat jelas jika mamanya itu sangat sedih melihat kondisi lelaki asing di hadapannya itu, jadi demi kebaikan bersama Daniel mau menurunkan egonya.
"Baiklah kita bicara didalam, tapi beritahu tuan mu agar jangan sembarangan mencium Mama!" seru Daniel sebelum memutuskan pergi dari hadapan Tama.
Daniel berusaha memberi pengertian pada mamanya agar tidak terus merengek-rengek karena melihat kondisi Tama, bahkan Daniel mulai melepaskan genggaman tangannya dan membiarkan Aily menghampiri Tama.
"Sekali lagi terima kasih Tuan Daniel," ungkap Reza sangat bahagia. Merasa mendapatkan izin, Reza segera membantu Tama berdiri dan mereka semua masuk ke dalam rumah untuk merundingkan segalanya.
__ADS_1