Suamiku (Calon) Adik Iparku

Suamiku (Calon) Adik Iparku
SCAI - 29. Sudah Tak Tahan


__ADS_3

"Sayang, sudah dong ngambeknya. Sumpah aku nggak tau kalau Lifta akan datang ke rumah makan," ucap Daniel terus memohon agar istrinya ini tak diam saja.


Terhitung sudah lima jam Vanye mendiami Daniel dan rasanya sangat tak enak, jika sang istri menjadi seperti ini. Lebih baik Daniel mendengar celotehan Vanye daripada diam seribu bahasa.


"Sebenarnya ada apa sih kalian ini? Satunya diam terus, satunya terus memohon, bilang biar Papa nggak penasaran!" seru Dimas ikutan jengkel melihat drama rumah tangga mereka.


"Dia yang mulai duluan, Pa!" seru Vanye tak mau menatap Daniel sedikitpun.


"Daniel ...." Dimas menatap Daniel berharap dia menjelaskan apa yang sedang terjadi.


"Ini semua salah Daniel, Pa. Andai saja aku bisa mencegah —"


"Halah! Dasarnya kamu pengen di peluk dia saja!" Potong Vanye.


"Bukan ya ampun, Van." Daniel benar-benar tak habis pikir dengan pemikiran Vanye, cemburunya terlalu over sampai membuatnya bingung mau seperti apa menjelaskannya.


"Bukan apa? Kamu ini laki-laki loh, tapi menghadapi satu wanita saja nggak bisa. Seharusnya sebelum Lifta memelukmu, kamu langsung menghindar bukan malah diam dan tak memberi perlawanan sedikitpun!" seru Vanye semakin murka. Mengingat betapa eratnya Lifta memeluk Daniel membuat otak dan hatinya bergemuruh panas.


"Bukan nggak memberi perlawanan, Van! Tapi --"


"Stop!" Dimas langsung menengahi pertikaian mereka berdua. Telinganya berdengung mendengar perbedaan yang tak ada hentinya hanya karena masalah entah apa.


"Vanye, kamu boleh cemburu tapi nggak seperti ini juga. Dia suamimu, sewajarnya kamu hormati bukan malah membantah terus penjelasannya. Sedangkan kamu Daniel ...."


Dimas beralih menatap menantunya. "Kamu sebagai kepala rumah tangga harusnya bisa mendidik Vanye, jika dia sudah keterlaluan tegur bukan malah mengalah terus. Mau jadi apa nantinya pernikahan kalian kalau seperti ini, duh bikin pusing saja!"


"Maaf ...."


"Jangan minta maaf terus, renungkan semua ini dan kalian harus bisa mengontrol emosi. Pernikahan itu nggak setahun dua tahun, kalau bisa sampai maut memisahkan. Bumbu rumah tangga? Iya, memang setiap rumah tangga pasti ada bumbu-bumbunya, tapi kalian juga harus bisa memposisikan semua. Paham kan?"


Mereka berdua pun sama-sama menganggukkan kepala, setelah itu Vanye meminta maaf pada Daniel karena terlalu kasar sampai tak menghargai suaminya, begitu juga sebaliknya Daniel meminta maaf sudah membuat istrinya marah.


"Sekarang bisa tenang kan makannya? Papa disini hanya satu hari, masa nggak diberi ketenangan," ujar Dimas melanjutkan makan siangnya.


"Iya, Pa."


***


Hari yang di tunggu-tunggu Daniel pun akhirnya tiba. Setelah sepuluh hari memastikan istrinya bersih dari tamu bulanan, Daniel langsung memesan kembali tiket pesawat untuk bulan madu ke Bali.


Sekarang disinilah mereka, di villa yang sengaja Daniel sewa saat mereka di Bali. Kamar mereka bahkan langsung menghadap ke pantai, terlihat sangat indah dan menawan.

__ADS_1


"Sayang ...." Daniel memeluk istrinya dari belakang sambil memberikan kecupann lembut di leher Vanye.


"Ish, jangan seperti ini Daniel. Lihat tuh di luar banyak orang, nggak lucu makalau mereka tau," ujar Vanye terus melepaskan pelukan suaminya.


"Kamu ini lucu, Sayang. Mana mungkin mereka lihat, kan ini kaca dua arah. Kita bisa melihat luar, tapi yang di luar tak bisa melihat kita," balas Daniel langsung merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang.


"Daniel, kita baru sampai loh. Belum juga bersih-bersih atau nggak—"


"Sudah nggak tahan, nanti saja bersih-bersihnya! Atau lebih baik kita mandi bersama saja," balas Daniel langsung berdiri.


Setelah itu Daniel mengangkat tubuh istrinya dan membawanya ke kamar mandi. Tanpa basa-basi Daniel menyalahkan shower sehingga tubuh mereka terguyur air.


"Van, mungkin kamu akan bosan mendengar ini, tapi aku nggak akan berhenti mengatakan aku mencintaimu sampai mendapatkan balasan darimu. Vanye aku benar-benar mencintaimu, jauh dari lubuk hatiku hanya terukir namamu saat ini sampai akhir hayatku."


Daniel pun langsung melumatt lembut bibir Vanye setelah mengatakan cintanya tadi, dia terus menikmati bibir manis istrinya dan perlahan-lahan membuka helai demi helai baju Vanye.


Bukan hanya bibir saja, Daniel juga meninggalkan beberapa bekas kepemilikan di setiap inci tubuh Vanye. Dia tak meninggal cela sedikitpun, karena Daniel mau seluruh dunia tau kalau Vanye hanya miliknya.


Merasa mulai kedinginan di dalam kamar mandi, Daniel memilih berpindah tempat sambil menggendong istrinya.


Vanye bener-bener pasrah, dia hanya bisa melingkarkan kakinya di pinggang Daniel dan tangannya berpegang kuat pundak suaminya sambil terus menikmati ciumann mereka.


Saat sampai di atas ranjang, Vanye dapat merasakan tongkat berurat suaminya mulai menusuk-nusuk lembut di bawah sana seperti mencari jalan namun tersesat ke mana-mana.


Jujur saja dia merasa sakit ketika Daniel terus mendorong tongkat beruratnya di bagian yang salah, padahal terlihat sangat lembut jika disentuh tapi kalau menusuk ternyata sakit.


"Maaf Sayang, kan adik kecilku nggak punya mata." kekeh Daniel.


"Sudah tau nggak punya mata harusnya dituntun dong, dipegang atau di apain gitu!" kesal Vanye.


Daniel semakin tertawa, sungguh melihat Vanye seperti ini rasanya gemas sekali. Ingin dia gigit dan makan, sampai Vanye minta ampun.


"Maafin aku ya, kita lanjut ritualnya. Ini sudah tegang, lihatlah sangat kokoh dan nggak tahan pengen masuk ke sarang bergerigi." Daniel meraih tangan Vanye agar dia mau mengusap lembut tongkat berurat nya.


"Ini kira-kira muat nggak ya?" tanya Vanye.


"Jelas muat dong, Sayang."


Daniel semakin tak tahan, dia kembali menerjang bibir istrinya sampai Vanye terhuyung ke atas ranjang. Daniel begitu kuat menyesapp bibir bawahnya, sambil meremass kuat dadanya.


Setelah itu Vanye merasakan kakinya semakin di bukan lebar oleh Daniel dan selanjutnya dia merasa sesuatu menerobos masuk ke dalam, sehingga membuat Vanye sedih terjingkat kaget.

__ADS_1


"Daniel!" Vanye berteriak kecil sambil mencengkram kuat lengan suaminya, ada rasa sakit bercampur perih ketika suaminya berusaha masuk.


"Tahan sebentar, ini mau masuk," ucap Daniel terus berjuang.


Namun semua semakin sulit saat kaki istrinya berusaha memberontak dan menutup rapat kakinya, Daniel yang sudah di ubun-ubun jadi pening dibuat Vanye.


Jalan satu-satunya dia harus menahan kaki Vanye dan menindih tubuhnya, agar istrinya ini nggak terlalu banyak bergerak. "Sakit Daniel!" serunya mulai menangis.


Vanye merasa tubuhnya terbelah menjadi dua, rasa sakit yang sangat dominan membuatnya menangis. Tapi, tak lama kemudian Daniel berusaha menenangkan Vanye sehingga dia hanya bisa pasrah membiarkan suaminya ini melakukan kewajibannya.


Kreek!


"Aawww!" pekiknya saat merasa ada yang robek di bawah sana, Vanye semakin menangis. Sedangkan Daniel terus berusaha sampai tongkat berurat nya masuk dengan sempurna.


"Masih sakit?" tanya Daniel sangat lembut, dia sengaja menghentikan kegiatan setelah masuk sempurna, biar Vanye bisa menarik nafas.


"Masih," jawab Vanye.


"Maaf ya, aku sudah membuatmu sakit."


Vanye tak menjawab dia masih merasakan sakit di bawah sana. Diam itu lebih baik daripada berontak, semakin membuatnya sakit.


Daniel yang melihat Vanye mulai rileks pun mulai menarik perlahan tongkat beruratnya, terlihat sekali Vanye kembali merintih, tapi kali ini Daniel juga memberikan pemanasan ringan agar istrinya tidak terlalu merasakan sakit seperti tadi.


Daniel juga merasakan lubang kenikmatann Vanye sedikit licin, pertanda rangsangannn yang dia berikan berhasil membuat adik kecilnya lancar keluar masuk.


"Pelan-pelan!" seru Vanye masih belum sepenuhnya merasakan nyaman.


"Iya Sayang."


Daniel semakin memompaa dirinya perlahan-lahan sambil menikmati bibir ranum istrinya, dia terus menerjang persawahan Vanye sampai nafasnya terus memburu.


Istrinya juga pun mulai menikmati permainannya, rasa sakit mulai sedikit demi sedikit memudar dan Vanye bisa mengimbangi percintaann mereka. Tapi, beberapa jam mereka melakukannya Daniel belum juga keluar sehingga Vanye merasakan nyeri sekali lagi.


Untung saja Daniel sudah mempersiapkan segalanya, dia berdiri mengambil gel khusus dan mengoleskannya di permukaan milik Vanye. Setelah itu dia mulai melakukan penyatuan, sampai keduanya berhasil mendapatkan puncak kenikmatan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.


Judulnya SUAMIKU DAN SUAMIMU Author Nita.P jangan lupa ya 😍😍

__ADS_1



__ADS_2