
Daniel menarik nafas panjang ketika mobilnya sudah berhenti di depan rumahnya. Dengan perasaan campur aduk, Daniel memutuskan segera turun dari dalam mobil.
Dari kejauhan, matanya sudah dapat melihat sosok wanita yang saat ini tengah berdiri di balik jendela samping rumah, sampai hati Daniel tak bisa menahan dan hanya bisa menghembuskan nafas kasar.
"Daniel ...."
"Dia mama kandungku, Van. Selama ini kita dekat dan aku baru mengetahuinya," kata Daniel.
Vanye terkejut, dia tak menyangka jika mama kandung Daniel ada di sampingnya selama ini. Merasa masalah ini sangat penting, terpaksa Vanye menyuruh Ramon bersama bu Patmi.
"Daniel, apa kamu akan tetap disini atau menghampirinya?" tanya Vanye sangat penasaran dengan jawaban Daniel.
"Aku sangat ingin kesana, tapi kakiku sangat berat Van. Banyak sekali dosa-dosaku pada Mama, aku malu bertemu dengannya," lirih Daniel terus menatap Aily dari luar.
Vanye menghembuskan nafas kasar, dia genggam tangan suaminya dan Vanye tuntun menuju rumah mama mertuanya. Daniel tak menolak, justru dia mengikuti langkah istrinya sampai mereka berdua benar-benar ada di depan rumah Aily.
"Masuklah Sayang, mama pasti sangat merindukanmu." Vanye mendorong suaminya agar masuk ke dalam.
"Kamu yakin, Van?" Daniel masih terlihat sangat ragu.
"Sangat yakin."
Karena Vanye terus mendorongnya untuk masuk, Daniel pun mulai memegang knop pintu, dengan perlahan Daniel mendorong pintu itu sampai benar-benar terbuka.
Di dalam Daniel melihat seorang wanita cantik berkulit putih dengan baju berwarna hitam. Di sampingnya juga terdapat pamannya, sambil memegangi tangan Aily yang saat ini tengah menangis.
"Ma-mama ...." Bibir Daniel bergetar hebat. Dengan cepat dia berlari ke arah Aily dan langsung memeluk kaki Aily.
Daniel menangis, meraung-raung sambil mencium kedua kaki Aily. Dia cium kaki wanita yang telah melahirkannya itu, sampai semua orang di sana ikut menangis melihat Daniel seperti ini.
"Maafkan aku, Ma. Aku anak durhaka yang tak tau keberadaan ibunya sendiri, maafkan aku Ma." Daniel masih menangis sambil memeluk erat kaki Aily.
Sedangkan Aily dia menatap kakaknya, dia seorang bertanya apakah ini nyata? Anak yang selama ini dia lihat dari jauh, sekarang ada di depan matanya.
"Iya, Sayang. Dia anakmu, anak yang kamu cari selama ini. Peluk dia Ai, peluk anakmu."
Aily menangis, dia perlahan-lahan berjongkok dan memegang pundak Daniel. Dia tegakkan tubuh anaknya, dia pandang sambil membelai lembut wajah Daniel. "Anakku ...."
__ADS_1
"Iya, Ma. Aku anakmu," balas Daniel.
"Kamu anakku, anakku." Aily langsung memeluk Daniel sangat erat. Air matanya terus berlinang, dia sangat bahagia akhirnya bisa bertemu dengan Daniel, bahkan Aily terus mencium puncak kepalanya sambil membelai lembut punggung Daniel.
"Jangan pergi lagi, Mama nggak mau kehilangan kamu. Mama mau tinggal dengan kamu," ucap Aily sesegukan.
"Daniel nggak akan pergi lagi, Ma. Kita tinggal bersama ya? Bersama mama Dona, Ramon, dan istriku," balas terus mendongakkan kepalanya.
Daniel hapus air mata Aily penuh kelembutan, bahkan dia juga mencium berkali-kali punggung tangan Aily.
"Istri?" Aily terlihat senang mendengar Daniel menyebutkan nama istri.
"Iya Ma, dia istriku Ma. Menantu Mama," ucap Daniel memberi isyarat pada Vanye agar mendekat.
"Kamu cantik, sangat cantik." Aily pun meminta agar Vanye mendekat.
"Terima kasih, Ma." Vanye juga mencium punggung tangan Aily.
Setelah itu, Aily menatap kakaknya dia seperti meminta diambilkan sesuatu dan kakaknya menurut. Tak lama kemudian Rappah keluarga sambil membawa kotak kecil.
"Ini untukmu, jaga baik-baik." Aily memakaikan cincin itu di jari manis Vanye. Terlihat pas dan sangat cocok, seperti mereka sudah tau ukuran serta selera Vanye.
"Shut, jangan dibahas. Yang penting sekarang aku bisa melihat anak dan menantuku, jangan pergi lagi." Aily memeluk mereka berdua.
Melihat ini Rappah sangat senang, diam-diam dia memfoto mereka bertiga dan mengirimkan foto tersebut pada Dona.
Disisi lain, Dona tersenyum melihat kebahagiaan adiknya. Sekian lama dia menderita akhirnya kini Aily bisa berkumpul dengan anaknya, hilang sudah beban Dona dan sekarang waktunya dia mundur.
Dia menghapus air matanya, setelah itu Dona masuk ke dalam rumah dan berniat menemui Doni untuk memberikan surat gugatan perceraian.
Dona sudah berpikir matang-matang, dia akan melaporkan suaminya ke polisi atas tindakannya dulu dan menebus semua kesalahannya di penjara.
"Doni, aku mau kita bercerai!" seru Dona langsung ke intinya. Dia tak mau basa-basi, yang diinginkan hanya kepastian agar cepat lepas dari cengkraman Doni.
"Apa maksudmu ini?" Doni terlihat sangat shock sampai dia berdiri dari kegiatan menonton televisi.
"Aku ingin kita berpisah, cepat tandatangani surat perpisahan dan masalah harta aku nggak minta sepersen pun karena aku tahu watakmu," jelas Dona agar suaminya paham.
__ADS_1
"Jangan ngimpi, sampai kapanpun kita tetap suami-istri dan jangan pernah meminta perceraian!" Doni terlihat emosi sampai-sampai berkas perceraiannya dia robek, menjadi beberapa bagian.
"Walau berkas itu kamu bakar sekalipun, jika aku mau bercerai maka bercerai. Kita bertemu nanti di pengadilan, oh ya, perbuatanmu dulu harus kamu tebus di dalam jeruji besi!" seru Dona sedikit memberi bocoran untuk Doni.
Tapi tanpa Dona sadari, perkataan-nya barusan memancing emosi Doni. Dengan sangat cepat lelaki itu menarik rambut istrinya dan di banting begitu saja ke lantai, bukan hanya di banting tapi juga dipukul beberapa kali sampai Dona menjerit kesakitan.
"Jangan pernah kamu mengancamku, Dona! Inilah akibatnya main-main denganku, lama-lama kamu ini sangat menyebalkan!" Doni seperti gelap mata, dia terus mencekikk leher Dona sampai kesulitan bernafas.
"Lepaskan!"
Dona terus berusaha lepas dari Doni, tapi sayang tenaganya tak sebanding dengan pria gila di atasnya ini. Tangan Dona terus berusaha melepaskan cekikikann itu, hingga rasanya dia tak sanggup lagi dan matanya mulai melirik ke atas.
Brakk!
"Angkat tangan!"
Doni langsung melepaskan cekikikann nya dan menoleh kebelakang, dia melihat banyak sekali polisi datang sambil menodongkan pistoll.
"Ajudan, cepat tangkap dia!"
"Siap!"
Para polisi pun menangkap Doni, sedangkan Dona dia hanya menatap kosong langit-langit rumahnya sambil tertawa, hampir saja nyawanya melayang jika polisi telat masuk.
"Ha ha ha, kamu hampir mati ditangan orang yang sangat kamu cintai. Betapa bodohnya kamu bertahan sejauh ini, sungguh bodoh kamu Dona!" serunya masih saja tertawa tapi matanya terus meneteskan air mata.
Tak lama setelah itu, seorang polisi datang membantu Dona berdiri. Namun, dia merasa tak sanggup dan merasa tulangnya ada yang patah.
"Panggil ambulans, korban mengalami cedera fatal. Cepat panggil jangan tunggu lama."
Setelah mendengar teriakan polisi, perlahan-lahan pandangan Dona mulai kabur. Tak membutuhkan waktu lama, dia sudah tak sadar dalam dekapan seorang polisi.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
Judulnya GAIRAH CINTA KAKAK ANGKAT Author ENI PUA jangan lupa ya 😍😍
__ADS_1