Suamiku (Calon) Adik Iparku

Suamiku (Calon) Adik Iparku
SCAI - 37. Kepedasan


__ADS_3

"Apa, Satria berani mengancammu?"


Vanye mengangguk cepat. Setelah merundingkan semua dengan suaminya, kini dia ada di Jakarta melaporkan perbuatan Satria pada Dimas. Vanye tak mau mengambil resiko besar, lebih baik meminta bantuan daripada Daniel celaka nantinya. 


"Maunya apa sih itu anak?"


"Pa, aku takut Satria melukai Daniel lagi. Dulu tangannya patah, juga ulah Satria," ucap Vanye semakin mengadu. 


Sedangkan Daniel hanya menggaruk hidungnya, sambil cengengesan mendengar istrinya mengadu seperti anak kecil. 


"Apakah itu benar, Daniel?" Dimas mulai menatap tajam menantunya. 


"Iya, tapi —"


"Kurang ajar! Berani sekali dia mengganggu ketenangan kalian, ternyata pelajaran yang aku berikan belum membuatnya tobat!" 


Kalah sudah Daniel. Dia tak bisa memberikan penjelasan jika dua orang itu mulai bersatu, yang Daniel lakukan hanya bisa diam sambil mendengarkan ocehan mereka. 


"Bimo! Panggil Jack, Simon, Date, dan Seta, secepatnya!" teriak Dimas membuat Daniel kebingungan. 


'Kenapa papa memanggil banyak orang? Apa papa akan mengumumkan peperangan atau ... ah entahlah, lihat saja nanti,' batin Daniel. 


Tak membutuhkan waktu lama, empat orang yang dipanggil Dimas pun sudah ada di depannya. Mereka berdiri tegak, siap melaksanakan tugas yang diberikan tuanya. 


"Kalian berempat kawal Vanye dan Daniel kemanapun dia pergi, jangan sampai Satria maupun orang lain mencelakai mereka. Jika sampai terjadi sesuatu, maka nyawa kalianlah taruhannya!" titah Dimas membuat Daniel melotot. 


"Pa, ini berlebihan," protes Daniel. 


"Berlebihan dari mana? Yang ada malah kurang, seharusnya ada lebih dari sepuluh orang untuk mengawal kalian!" tegas Dimas sangat serius. 

__ADS_1


"Nggak mau! Dua saja cukup dan Papa sendiri tau kan kamar Daniel ada berapa? Hanya dua, kalau mereka semua di sana nanti tidur di mana?" Jelas Daniel terus menolak keputusan mertuanya. 


Dimas pun membenarkan ucapan Daniel, dia diam memikirkan segalanya dan mencoba mencari jalan keluar. "Kamu benar juga, jika seperti itu maka Papa akan renovasi rumah kalian agar bisa banyak kamar."


"Nggak boleh!" tolaknya lagi. 


"Sekarang kenapa lagi, Daniel!" Dimas jadi geram di buatnya. 


"Pa, aku ingin menikmati waktu hanya berdua dengan istriku. Jika bertambah empat orang, pasti rumah akan semakin ramai dan kita tak bisa bermesraan di sembarang tempat," jelas Daniel terdengar tak masuk akal, tapi memang ini yang di keluhkan Daniel. 


Dia tak mau aktivitas bersama Vanye jadi terhambat dan merasa terbatasi oleh mereka, jadi lebih baik Daniel jujur daripada bohong. 


"Daniel, ish malu-maluin!" seru Vanye. 


"Kenapa? Memang benar kan, aku suka nggak kontrol melihatmu, kalau kebanyakan orang bisa bayangkan betapa sulitnya untuk kita bermesraan kecuali di kamar," balas Daniel sedikit berbisik. 


"Ehem! Jika alasannya seperti itu, maka baiklah. Date dan Seta saja yang ikut dengan kalian, tapi ingat jaga diri baik-baik jangan sampai ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi," putus Dimas. Daripada berdebat terus, lebih baik dia mengalah. 


"Aku akan selalu hati-hati, Pa. Yang penting Vanye ada penjaganya, soalnya aku jarang ada di rumah. Kalau masalah keselamatanku sendiri, aku bisa berpartisipasi."


***


Malam harinya, semua orang sudah berkumpul di meja makan. Hari ini Vanye perdana memasak sendiri tanpa bantuan siapapun, sebenarnya Ratih sudah sangat ragu, tapi demi menyenangkan hati sang anak, maka dia merelakan dapurnya di obrak-abrik Vanye. 


"Selamat makan semua!" seru Vanye. 


Mereka tak ada yang menjawab, dari raut wajahnya saja sudah bisa ditebak jika mereka semua ragu untuk memakan hidangan di depan mata. Tapi, karena tak mau membuat Vanye kecewa, maka mereka akan mencobanya. 


"Kamu makan yang banyak, ini spesial untukmu Daniel." Vanye langsung menaruh beberapa lauk juga sayuran di atas piring suaminya. 

__ADS_1


Daniel tersenyum penuh arti, dia ingin menolak tapi mau bagaimana lagi. "Terima kasih, Sayang," ucap Daniel. 


"Ayo semua cicipi," ucap Vanye. 


Mereka semua pun mulai memberanikan diri menyendok sesuap nasi beserta lauk-pauk, dengan perasaan campur aduk mereka mulai memasukkan makanan tersebut dan di kunyah. 


"Uhuk!" Daniel langsung terbatuk setelah menyantap masakan Vanye. 


"Sayang kamu baik-baik saja kan? Ini minum dulu, kalau nggak enak jangan di teruskan." Vanye berniat mengambil piring suaminya tapi di cegah oleh Daniel. 


"Mau apa?" 


"Masih tanya? Ya mau di buang lah, Daniel!" marah Vanye. 


"Jangan, ini enak kok. Hanya sedikit pedas saja," balas Daniel terus mulai menyantap makanannya lagi. 


Dimas dan Ratna menatap ngeri pada menantunya, bisa-bisanya dia bilang hanya pedas padahal ini juga terasa sangat asin. Sedangkan cah kangkung buatan Vanye, terasa sangat manis. 


"Pa, Mama nggak sanggup," lirih Ratna. 


"Sama, Ma. Tapi mau nggak di lanjut takut Vanye marah, lebih baik di makan saja, enak nggak enak pokoknya habis."


Ratna menghembuskan nafas gelisah, dia pun mulai memakan masakan anaknya sedikit demi sedikit sambil memandang Daniel yang saat ini tengah kepedasan sampai bercucuran keringat. 


Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.


Judulnya HAMIL TANPA SUAMI Author IPAH jangan lupa ya 😍😍


__ADS_1


__ADS_2