
Daniel menatap ngeri pada Vanye ketika melihat istrinya makan dengan sangat lahap. Tenggorokan Daniel pun terasa kering mendadak, melihat sisi baru Vanye yang rakus ini.
Selama enam bulan menikah, Daniel tak pernah sekalipun melihat Vanye makan dengan porsi besar. Entah karena kelelahan atau memang doyan, Daniel tak paham.
"Van, pelan-pelan. Nanti kamu tersedak. Nggak ada yang mau merebut makananmu kok," tegurnya sembari membersihkan sisa-sisa saus pada bibir istrinya.
Vanye tersenyum mendengar ucapan suaminya, setelah itu dia kembali menyantap semua hidangan di depannya. "Sungguh seperti anak kecil, makan saja sampai belepotan," ujar Daniel masih setia membersihkan sisa-sisa makanan.
Sejenak Daniel memperhatikan wajah istrinya, semakin hari Daniel merasa Vanye semakin cantik. Cintanya pun juga semakin besar, hingga dia tak bisa melirik wanita lain meski disini banyak sekali bule bule seksi.
"Van, apa kamu suka jika kita berlibur ke Bali?" tanya Daniel tak putus memandang Vanye.
"Tentu saja aku suka! Bahkan hari ini pun aku sangat bahagia, Sayang," jawab Vanye tak pernah melepaskan senyuman manisnya.
Hembusan nafas lega terdengar begitu jelas ketika Vanye menjawab. Daniel sangat takut jika istrinya tidak suka dengan idenya ini, tetapi setelah melihat jawaban serta senyum lepas Vanye, membuat Daniel senang.
"Baguslah jika kamu suka, Van. Tadinya aku takut kamu nggak suka, atau terpaksa mengikuti keinginanku," kata Daniel mengelus lembut pipi Vanye sampai sang istri tersipu malu.
Dari tadi, jantung Vanye selalu di buat berdetak tak menentu. Perlakuan Daniel benar-benar memanjakan, sampai banyak pasang mata menatap ke arah mereka.
"Daniel, mau sampai kapan kamu membelai pipiku?" Vanye bertanya. Jujur saja dia merasa ada yang beda dalam tubuhnya saat ini setiap Daniel menyentuhnya.
'Aish! Van. Kamu sensitif banget sih, masa seperti ini saja langsung merinding. Padahal kemarin-kemarin sebelum melakukannya kamu biasa saja, kenapa sekarang malah seperti tersangat listrik sih setiap kali dia menyentuhku!' batinnya sangat frustasi.
"Kok ngelamun sih, Sayang? Ada yang mengusik pikiranmu, atau makanannya tak enak? Kalau iya aku pesankan lagi," kata Daniel.
Vanye menggeleng cepat mendengar perkataan suaminya, dia sudah cukup kenyang dan menu di meja makan juga masih sangat banyak. "Bukan karena rasa makanannya nggak enak, tapi ...." Vanye bingung harus jujur atau berbohong.
"Tapi apa? Coba katakan, biar aku tau keluhanmu." Desak Daniel.
Vanye kebingungan, dia harus jawab apa coba. Nggak mungkin kan berkata jujur jika dirinya terangsangg dengan sentuhan Daniel tadi, bisa-bisa jatuh harga diri seorang Vanye.
"Tapi ... emm, tapi aku memikirkan papa. Disana papa sudah makan atau belum, kalau dia tau anaknya makan sebanyak ini pasti kaget." Bohongnya.
"Oh, gitu ...." Daniel mangut-mangut.
"Tapi kamu nggak bohong kan, Sayang!" serunya semakin membuat Vanye terpojok.
__ADS_1
"Enggak!"
"Baiklah, lanjutkan makanmu. Nanti keburu dingin," kata Daniel.
Vanye menurut, dia kembali makan. Namun, di tengah-tengah santapan. Vanye tiba-tiba penasaran dengan Lifta, entahlah tapi dia hanya ingin Daniel terbuka padanya.
"Emm ... Daniel, boleh aku tau masa lalumu bersama Lifta?" tanyanya ragu-ragu. Dia paham hal ini sangat sensitif, tapi apa salahnya untuk saling terbuka untuk menghindari kesalahpahaman antara mereka nanti.
"Kenapa kamu ingin tahu, Van? Bukannya lebih baik kita lupakan masa lalu dan tidak mengungkit semua itu," jawab Daniel sangat malas. Sungguh dia jadi nggak mood makan jika harus membahas Lifta, dan mendadak Daniel mual mendengar nama itu.
"Aku hanya penasaran, Daniel. Bukannya kamu pernah bilang jika hubungan dilandasi kejujuran, dan kepercayaan? Sekarang aku ingin kamu jujur tentang masa lalumu," ujar Vanye terus berusaha agar Daniel mau menceritakan semua.
"Dia hanya masa laluku, Van. Jangan di ungkit-ungkit lagi, aku nggak suka." Daniel pun melepaskan genggaman tangannya.
Vanye merasa kehilangan, tetapi Daniel tak peduli. Mendadak dia kehilangan semangat ketika Vanye terus memaksa dirinya. Daniel ingin nama Lifta lenyap dalam ingatannya, tanpa harus di bayang-bayangi dia lagi.
"Please, Daniel. Aku ingin kita bagas ini agar nantinya tak salah paham di antara kita, jika Lifta mengganggu lagi," mohon Vanye.
Spontan Daniel menarik frustasi rambutnya, dia tak mau membahas Lifta. Akan tetapi, dia tak tega melihat wajah melas istrinya.
"Huft ...! Baiklah, baiklah aku ceritakan semua. Tapi ini semua kamu yang minta kalau sampai—"
Sejenak Daniel merasakan sesak di dadanya. Mengingat penghianat Lifta membuatnya kesal, tapi dia harus bisa mengontrol emosi agar Vanye tidak salah paham.
"Aku dan Lifta menjalin hubungan sudah lima tahun. Bahkan aku selalu memanjakan dia, apa yang dimau selalu terkabul. Mulai dari mulai apartemen, Uang, perhiasan, semua aku berikan, tetapi lucunya Lifta tak pernah menempati apartemen itu," ucap Daniel sedikit menjedah ceritanya.
"Terus kenapa dia minta apartemen jika nggak ditempati?" Vanye semakin penasaran.
"Karena Lifta memberikan apartemen itu pada ibunya serta adik-adiknya, aku awalnya protes kenapa dia tak ikut tinggal, tapi Lifta menjawab kalau apartemen itu tak cukup untuk mereka semua," jelas Daniel.
Dia sangat yakin sekarang jika Lifta berbohong. Sebelum membeli Daniel sudah menanyakan bisa muat berapa kamar dan bodohnya Daniel baru sadar sekarang.
"Dari situ aku mulai merasa Lifta terlalu boros, uang berapapun yang aku berikan selalu habis dalam sekejap. Jadi aku mulai mengurangi memanjakan dia dan semua sudah berjalan satu tahun lamanya." Lanjut Daniel sambil memutar-mutar sendok di atas piringnya.
"Aku memiliki rencana untuk menikah dengannya, sedikit demi sedikit aku menabung dari hasil kerja kerasku menjalankan rumah makan. Semua sudah tersusun rapi, tapi Lifta berselingkuh dengan sahabatku sendiri." Daniel tersenyum kecut mengingat kembali malam terkutuk itu.
"Bagaimana kamu bisa tau kalau Lifta selingkuh? Apakah tau dari orang lain?" tanya Vanye.
__ADS_1
"Aku sendiri yang memergoki dia selingkuh, dengan Joni. Aku marah sekali saat itu, selama lima tahun lamanya aku menjaga Lifta, tak pernah menyentuh dia dan selalu memuliakannya, tapi dengan mudahnya sahabatku sendiri menjamahh Lifta sampai mereka melakukannya!"
Setelah berkata, Daniel langsung mengepalkan tangannya. Emosinya tiba-tiba datang lagi dan ingin sekali Daniel membanting sesuatu, tapi semua dia urungkan saat merasakan genggaman tangan hangat istrinya.
"Kenapa kamu nggak mau melakukannya, Daniel? Dia kekasihmu, kamu bebas melakukan apapun." Terdengar sangat konyol memang, tapi Vanye penasaran dengan jawaban suaminya.
"Aku memegang prinsip sangat kuat, Van. Aku sudah berjanji pada diri sendiri nggak akan pernah merusak wanita yang ku cintai sebelum pernikahan," balas Daniel.
Trenyuh? iya Vanye sangat trenyuh. Dia tak mengira Daniel bisa memiliki pendirian seperti ini, jika orang lain mungkin akan menerobos dan masalah lain diurus belakangan.
"Alasan dia selingkuh apa, Daniel? Rasanya sangat nggak etis sih, lelaki sesempurna kamu dicampakkan," kata Vanye tanpa sadar matanya mulai berkaca-kaca.
"Entah, dia hanya bilang nggak bisa lanjut dengan sikapku yang cuek, kurang bertemu, bahkan tak pernah saling sapa." Hanya itu sih masalah nya.
"Oh ...."
"Daniel kamu itu orang baik, Bisa-bisanya mereka melukai hatimu. Lupa semua masa lalumu, aku akan selalu ada disampingmu, mendukung semua rencanamu sampai aku berhenti bernafas," kata Vanye sambil membelai lembut tangan suaminya.
Daniel mengangguk mengiyakan perkataan Vanye, dia sangat beruntung mendapatkan Vanye. Meski sikap istrinya masih ada kekanak-kanakan, tapi sedikit demi sedikit dia mau berubah.
"Tersenyumlah selalu, Van. Karena senyummu, mampu membuat hati ini luluh. Kamu juga terlihat sangat cantik hari ini," kata Daniel.
"Iih, mulai gombal nya!" seru Vanye malu-malu.
"Tidak! Aku serius, kamu sangat cantik, manis, anggun, mataku pun masih terbayang-bayang lekuk tubuh poloss mu di atas ranjang," ucap Daniel sedikit menggoda Vanye.
"Daniel! Ini di luar, jangan macam-macam kamu!" serunya sangat malu. Seketika Vanye merasakan panas di pipinya, banyak orang melihat mereka tapi Daniel malah secara gamblang mengatakan itu.
"Kenapa? Disini rata-rata orang bule, nggak akan tau bahasa kita. Lebih baik kita pulang saja yuk, kita lanjut —"
”Stop, jangan teruskan! Aku mau ke toilet," teriak Vanye langsung pergi begitu saja.
Sedangkan Daniel hanya tertawa melihat istrinya terbirit-birit seperti itu, dia sengaja mencari topik pembicaraan ini agar Vanye tak menanyakan terus tentang Lifta. Baginya Lifta hanya segudang sampah dan Daniel harus membakar semua agar hidupnya tenang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
__ADS_1
Judulnya Harta Tahta dan Perjaka (Playboy Sejati Mencari Istri) Author Merpati_Manis jangan lupa ya 😍😍