
Suasana tegang di dalam ruang tamu terlihat sangat pekat, semua orang berada dalam pikiran masing-masing kecuali Aily yang saat ini tengah menempel erat pada Tama.
Sedangkan Tama sendiri dia masih bimbang, tapi perhatiannya pada Aily masih sama. Jika wanita itu ingin duduk di pangkuannya, maka Tama mempersilakan dengan senang hati seperti sekarang ini.
"Aily, nggak boleh seperti ini Sayang. Ayo turun, dia orang asing," ucap Dona merasa khawatir melihat tingkah laku adiknya.
"Nggak mau, Aily mau sama Tama!" seru Aily semakin menyembunyikan wajahnya di dada bidang Tama.
"Sebenarnya kalian ini siapa?" Daniel sudah tak tahan lagi, dia ingin memperjelas semuanya dan ingin tau sebenarnya siapa Tama, kok sampai mamanya begitu lengket pada Tama.
"Saya Hendrix Pratama, CEO perusahaan SYN Grup. Saya suami Aily —"
"APA! SUAMI?"
Semua orang disana benar-benar terkejut dan tak menyangka akan pengakuan Tama, bagaimana bisa orang sepolos Aily tiba-tiba menjadi istri orang dan lebih parahnya semua orang tidak mengetahui hal itu.
"Iya, Tuan Tama sudah menikah dengan Nyonya Aily beberapa bulan lalu sebelum akhirnya menghilang," kata Reza sedikit tersenyum.
"Apa benar itu, Aily!" seru Dona langsung menatap tajam adiknya.
"Apa?" Aily justru terlihat seperti orang bingung, dia belum paham akan arti pernikahan jadi jika ditanya dia tak akan pernah bisa menjawab.
"Ma, tolong jawab yang jujur. Apa benar mama dan pria ini sudah menikah?" Daniel terlihat sangat putus asa setelah mendengar perkataan Tama.
"Menikah itu apa?" Aily menatap Daniel bingung. Tapi tak lama setelah itu Tama menggenggam lembut jemari-jemari Aily.
"Sayang, apa kamu ingat saat warga berbondong-bondong ke rumah menuduh kita pasangan zina dan memaksa kita menikah?" tanya Tama.
__ADS_1
Aily terdiam, tapi dia seperti sedang mengingat dan Tama berharap Aily ingat. Tapi jika pun istrinya lupa, dia masih punya bukti jika mereka sudah menikah secara agama.
"Oh itu! Yang kita disuruh duduk berdua sambil belajar bersalaman?" Aily terlihat sangat polos sekali, bahkan wajahnya terlihat sangat bahagia.
"Iya itu, apa kamu sudah ingat?"
Aily langsung mengangguk. "Iya Aily ingat!"
"Itu namanya menikah, Sayang. Jadi kita itu sepasang suami-istri, jadi jika ada yang tanya apakah kita sudah menikah maka kamu harus menjawab?" Tama ingin mendengar jawaban Aily.
"Sudah, Aily istrinya Tama."
Tama segera tersenyum menang, dia segera memeluk Aily dan Aily membalas pelukan istrinya itu. Pikiran-pikiran buruk akan umur mereka sudah tak jadi masalah baginya, yang terpenting Aily berada disisinya lagi.
"Tidak bisa! Ini tidak sah, apalagi Aily masih memiliki wali, jadi mana mungkin kalian menikah. Nama orang tua harus tepat dan —"
"Aily sudah menyebut nama lengkap almarhum ayahnya, masalah wali karena kita dalam masalah siapapun walinya tak jadi masalah kan?" Potong Tama.
"Mama memiliki trauma akan hubungan sek*sual, dia pernah mengalami pemerkosaan jadi mama tidak mungkin menjadi seorang istri. Apalagi aku melihat kamu orang normal, pasti kamu tidak akan bisa memahami kondisi Mama!" seru Daniel.
Mengatakan semua itu bukanlah hal mudah baginya, apalagi menceritakan aib orang tuanya sendiri. Padahal Daniel memiliki niat akan merahasiakan semua, agar mamanya tak dipandang rendah.
Sedangkan Tama, dia sangat terkejut mendengar ucapan Daniel. Dia tak menyangka jika Aily pernah mengalami hal seperti itu.
"Apa sikapnya selama ini imbas dari pelecehan itu?" tanya Tama.
"Iya benar. Kejadian itu sudah berlalu puluhan tahun, tapi Aily masih terjebak trauma masa lalu."
__ADS_1
Semua orang terdiam, mereka berusaha memikirkan jalan keluar terbaik untuk Aily. Di satu sisi Aily sangat lengket pada Tama, tapi mereka juga tak ingin Tama harus tersiksa jika Aily tidak bisa melayaninya seperti orang normal.
"Saya tetap ingin menikahinya, bagaimanapun psikis dan kondisinya Aily tetap pilihan saya. Saya akan bawa dia berobat keluar negeri kalau perlu dokter terhebat akan saya panggil!"
***
"Sayang, kenapa kamu melamun?" Vanye tiba-tiba memeluk tubuh Daniel dari belakang. Dia sangat merindukan suaminya, padahal mereka baru berpisah beberapa menit saja.
"Aku bingung, Van. Mama sangat lengket sekali dengan om Tama, tapi aku ragu akan ketulusan pria itu," lirih Daniel.
Siapa sih yang bisa tenang jika orang tuanya memilih tinggal dengan orang asing, padahal Daniel sudah membujuknya berkali-kali, akan tetapi mamanya lebih memilih Tama.
"Aku tahu kamu sangat khawatir akan kondisi Mama, tapi kamu juga harus mengambil hikmahnya, Sayang." Vanye segera membalikkan badan suaminya agar mereka saling tatap.
"Maksudnya bagaimana?" Daniel tak paham akan ucapan istrinya.
"Mungkin ini cara Tuhan agar Mama bisa terbebas akan masa lalunya. Coba kamu pikir lagi, Mama sangat sulit dekat dengan orang asing, tapi sekarang justru lengket sekali sama om Tama. Berarti belia memiliki kelembutan yang membuat Mama Aily merasa nyaman," jelas Vanye panjang lebar.
Karena Vanye juga melihat ketulusan di mata Tama, dia sangat yakin jika lelaki itu benar-benar mencintai mertuanya tanpa memandang fisik serta lainnya.
"Kenapa kamu sangat yakin sekali, Van? Aku justru melihat orang mesum yang mengincar sesuatu dari Mama!" Daniel terlihat sangat kesal.
Namun, ucapan Daniel malah membuat Vanye tertawa dan semakin gemas pada suaminya. "Kamu juga mecum sekali loh, Sayang! Awalnya saja sok polos, tapi setelah itu lebih buas daripada serigala!" serunya terus mencubit kedua pipi Daniel.
"Apa aku mesum?"
"Sangat! Sangat mesum dan ... akkkhh! Daniel kamu mau apa?" Teriak Vanye saat Daniel tiba-tiba mendorongnya ke atas ranjang.
__ADS_1
"Ingin membuktikan ke mesuman ku, Sayang!" bisik Daniel mampu membuat tubuhnya meremang.
"MENYEBALKAN!!!!"