
"Dasar om jahat!"
Bug!
"Aduh!" Satria memekik sakit saat balok keras itu menimpa kepalanya. Dia juga melihat ada darah keluar, sehingga Satria menoleh kebelakang.
"Bocah sialan!"
Satria langsung mencengkram kuat lengan anak laki-laki itu, dia hendak memukulnya tapi dengan cepat Daniel menahan Satria.
"Mau memukul dia, langkahi dulu mayatku!" serunya.
Satria ingin menuruti permintaan adiknya ini, tapi dia urungkan karena banyak sekali orang sehingga mereka menjadi tontonan. Tak lama setelah itu, polisi juga datang sehingga Satria harus menunda emisinya ini dan mencari waktu tepat.
"Kamu nggak apa-apa, Dek?" tanya Daniel.
"Seharusnya aku yang tanya, apakah Om baik-baik saja?" bocah itu langsung menyentuh luka memar di sudut bibir Daniel.
"Om, baik-baik saja. Namamu siapa? Kenapa jam segini berkeliaran di jalan, apa kamu nggak sekolah?" tanya Daniel mengajak bocah itu duduk di pinggir jalan. Untung saja di sana ada seperti tempat duduk, jadi Daniel bisa mengajak ngobrol bocah lelaki pemberani ini.
"Namaku Ramon, Om. Aku nggak sekolah soalnya sibuk ngamen, buat kebutuhan hidup," balas Ramon.
Hati Daniel tercubit mendengar penjelasan Ramon, dia tak menyangka bocah sekecilnya harus banting tulang mencari nafkah demi memenuhi kebutuhan hidupnya.
"Kamu tinggal dimana? Apa kamu punya orang tua?" tanya Daniel lagi.
"Aku yatim-piatu, Om dan aku tinggal di belakang gedung besar itu." Ramon menunjuk ke arah gedung-gedung tinggi di depannya.
__ADS_1
Daniel mengangguk paham, dia ingin mengantar Ramon pulang, tapi karena Zac sudah menelepon terus jadi Daniel mengurungkan niatnya dan berniat lain kali mampir ke rumah Ramon.
"Nak, karena Om masih banyak kerjaan, jadi lain kali Om datang ke rumahmu ya," ucap Daniel penuh penyesalan.
"Nggak apa-apa, Om. Rumah Ramon jelek, jadi nggak perlu ke sana," jawab Ramon terus tersenyum tanpa menampilkan kesedihan sama sekali.
Daniel sangat salut pada ketegaran Ramon, jarang sekali ada anak seperti dia. Meski notabene anak jalanan, tapi sikapnya sangat sopan.
"Ini ada uang sedikit, kamu buat kebutuhanmu beberapa hari ini. Maaf, Om hanya bisa memberi sedikit. Nanti kalau kita bertemu lagi, Om ajak jalan-jalan beli baju baru untukmu." Daniel menyodorkan uang lima ratus ribu ke Ramon.
"Om, ini kebanyakan!" tolak Ramon. Setelah itu dia mengambil uang lima puluh ribu dari tangan Daniel.
"Ini saja sudah cukup, terima kasih ya Om."
Daniel benar-benar tercengang melihat Ramon. Jika itu anak lain, mungkin akan menerima semua uang pemberiannya, tapi ternyata Ramon menolak dan mengambil seperlunya saja.
Daniel langsung memeluk Ramon, tanpa sepengetahuan bocah itu, Daniel memasukkan sisa uang tadi ke dalam tasnya. Setelah selesai, barulah Daniel kembali melanjutkan perjalanan menuju Bandung.
***
Ramon berlari senang pulang ke rumah, hari ini dia sangat beruntung bisa bertemu orang baik sehingga dia bisa pulang cepat dan memberikan setoran pada bang Japar.
Dengan langkah cepat, Ramon terus berlari memasuki perkampungan lusuh yang ternyata di sana banyak sekali para pengemis dan beberapa orang keadaan lebih parah dari Ramon.
"Bang Japar, aku sudah mendapatkan setoran untuk hari ini. Apa aku boleh libur?" teriak Ramon sangat girang.
Orang yang dipanggil Bang Japar itu pun menoleh, dia terlihat sangat senang melihat Ramon membawa banyak uang. "Mana lihat!" Japar terlihat berbinar menantikan berapa banyak uang yang dihasilkan Ramon.
__ADS_1
"Tunggu Bang, aku ambil dulu uangnya."
Ramon segera membuka tasnya, dia mengeluarkan semua uang di dalam tasnya. Dia benar-benar terkejut melihat ada uang ratusan ribu di sana, dia masih ingat betul jika jumlah uangnya tak sebanyak ini.
"Wah, banyak sekali! Kamu memang pintar mencari uang," ucap Japar langsung merampas uang Ramon.
"Tunggu jangan di ambil semua, ini bukan uangku Bang!" serunya meminta kembali uang itu.
"Nggak bisa, ini sudah menjadi milikku!" Japar pun mendorong Ramon, dia tak mengizinkan bocah itu mengambil uangnya.
Ramon menanti, dia terus memohon agar uangnya dikembalikan. Dia merasa itu bukan haknya, jadi akan mengembalikan semua pada pemiliknya. Tapi, sayang yang ada Ramon malah mendapat kekerasan sampai tubuhnya dipenuhi luka memar karena Japar memukulinya.
"Ramon, kamu yang sabar ya. Lain kali kalau mau kasih uang, di liat dulu. Hitung uangmu di luar, jangan langsung di kasih lihat Bang Japar," ucap Rina — teman perjuangan Ramon.
"Kamu benar, Rin. Harusnya aku cek dulu sebelum pulang, sekarang semua uang nya diambil." Ramon semakin menangis.
Bukan dia menangis karena uangnya, tapi Ramon menangis karena terlalu bodoh sampai tak melihat Daniel memasukkan uang secara diam-diam.
'Semoga aku bisa bertemu Om itu, dia sangat baik dan aku harus membalas budinya.'
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
Judulnya DIPERSUNTING TUAN BARUN Author STRAWCAKES jangan lupa ya 😍😍
__ADS_1