
Dua minggu telah berlalu begitu cepat, kini Daniel dan Vanye sudah ada di Bandung. Mereka berdua langsung memulai aktivitasnya seperti biasa, bahkan Daniel semakin hari semakin sibuk, karena rumah makannya semakin ramai pembeli.
Dia juga berinisiatif untuk membuka cabang baru di beberapa daerah, karena banyaknya permintaan dari para pelanggannya dan ingin mengembangkan bisnisnya ini.
Namun, di tengah-tengah kesibukan dia dan istrinya, Daniel masih sempat meluangkan waktu untuk bersama. Seperti hari ini. Mumpung Daniel libur, dia memutuskan untuk membuat sarapan pagi. Dia sangat rindu memanjakan lidah Vanye, dengan masakan-masakan yang dibuat.
"Daniel, aku boleh bantu kamu masak yah? Kalau kamu gak izinin aku ikut campur kapan aku bisanya," protes Vanye terus memohon. Dia memang sedikit demi sedikit mulai paham, tapi itu hanya makanan ringan sedangkan masakan rumit Vanye masih kesulitan.
"Baiklah, tapi kamu hanya potong-potong sayur saja. Jangan ikut menggoreng, nanti tanganmu kena minyak panas," balas Daniel mempersilahkan Vanye ikut serta.
Dengan semangat Vanye menghampiri suaminya, dia sangat bahagia bisa masak bersama-sama. Momen ini memang Vanye tunggu-tunggu, karena bisa masak langsung sama koki terhebat.
"Kita masak apa hari ini?" tanya Vanye sambil mengupas bawang merah.
"Hari ini kita masak ayam koloke, capcay, sama udang saus tiram. Apakah kamu ingin yang lain, Van," balas Daniel terus sibuk membersihkan ayam juga udang.
"Nggak ada sih, ini sudah cukup banyak kok. Lagian kalau kebanyakkan nanti nggak kemakan, jadi mubazir," balas Vanye.
Daniel mengangguk paham, setelah itu mereka kembali fokus pada masakan mereka. Sesekali, Vanye melontarkan candaan agar tak terlalu sepi.
Vanye sangat jahil hari ini. Diam-diam tanpa sepengetahuan Daniel, dia mengambil tepung terigu dan langsung dioleskan tepat di wajah Daniel.
Daniel kesal, dia akhirnya ikut menjahili Vanye. Setelah itu Daniel memeluk erat istrinya dan berusaha mengoles tepung di wajah Vanye hingga sang empu menjerit minta maaf.
"Ampun, oke aku minta maaf. Sudah, stop!" ucap Vanye tertawa keras.
Anya terus berteriak karena Daniel tak mau berhenti. Kini wajahnya berubah menjadi putih, penuh dengan tepung. Jangankan wajah, baju mereka juga penuh dengan tepung dan kejadian seperti ini terulang untuk kedua kalinya.
"Kamu sekarang nakal, Sayang. Apa kamu ingin aku menerkammu di dapur? Kelihatannya nggak buruk, kalau kita bercinta di dapur," ucap Daniel tepat di telinga Vanye.
Mendengar kata-kata Daniel, tiba-tiba tubuh Vanye merinding. Nggak lucu bercinta di dapur, bisa-bisa kelakuan mereka dilihat oleh asisten rumah tangganya.
"Nggak mau!" tegas Vanye.
"Kenapa nggak mau, Sayang? Kan enak, ada sensasi baru," balas Daniel semakin membuat Vanye panas dingin.
Perlahan-lahan tangan nakal Daniel mulai mendarat kemana-mana. Vanye mulai tergoda, tapi godaan perutnya lebih terasa dominan daripada hasrat membara.
"Daniel aku lapar," lirih Vanye dan kata kata lapar dari mulutnya berhasil menghentikan Daniel.
Daniel langsung ingat, jika Vanye tak bisa makan lebih dari jam 8. Jika sampai melewati jam itu, maag yang diderita istrinya akan kambuh.
__ADS_1
"Maafkan aku, Van. Aku lupa kita belum sarapan." Daniel pun kembali memasak untuk mereka berdua. Dengan sangat cepat, seperti bus patas agar waktu matang masakannya nggak melebihi jam setengah delapan.
Sedangkan Vanye langsung terkekeh melihat ekspresi panik Daniel, sungguh sangat menggemaskan. Jika dia tidak lapar, mungkin dirinya lebih memilih berduaan saja dengan suaminya.
Setelah beberapa menit berlalu, masakan yang mereka buat akhirnya selesai. Mereka pun membagi tugas, Vanye menata makanan di meja makan sedangkan Daniel setelah selesai masak langsung mandi agar terlihat segar.
Akan tetapi, makan pagi mereka sepertinya terhalang oleh pekerjaan. Tiba-tiba Daniel mendapatkan telepon dari Pamukas, jika ada kendala masalah laporan keuangan. Daniel memutuskan untuk segera ke rumah makan, tapi sebelum berangkat Daniel pamit dahulu pada istrinya.
"Van, aku minta maaf. Harusnya hari ini kita menghabiskan waktu bersama, tapi kenyataannya ada masalah di rumah makan. Kalau bosan di rumah, kamu bisa jalan-jalan ke mall, tapi kamu sendirian nggak apa-apa kan?" tanya Daniel terus mencium bibir istrinya.
Daniel merasa bersalah sekali melihat rona kecewa dimata Vanye, tapi mau gimana lagi ini adalah pekerjaan Daniel. Jika rumah makan ada masalah, otomatis akan terjadi penurunan omset.
"Aku nggak ada niatan kemana-mana, Daniel. Aku lebih suka dirumah sambil browsing cara-cara memasak. Aku ingin cepat bisa memasak dan mengirim makanan untukmu," jawab Vanye sambil membenarkan kerah kemeja suaminya.
"Pelan-pelan saja, Van. Jangan terlalu memaksakan diri, ingat aku nggak pernah memaksa untuk bisa masak. Jadi bersantailah di rumah atau ke Mall," kata Daniel lagi.
Anya mengangguk, setelah itu Daniel segera berangkat. Vanye mengantarkan Daniel kedepan, sebagai tanda perpisahan, setelah itu Vanye mencium punggung tangan suaminya.
"Hati-hati dijalan, jangan ngebut. Aku nggak mau terjadi sesuatu padamu," ingatnya.
"Iya, Sayang. Aku berangkat dulu, jaga diri dirumah. Ingat ucapanku, jika bosan lebih baik kamu jalan-jalan bersama teman-temanmu," ucapnya lagi.
Setelah memastikan suaminya pergi, Vanye kembali masuk ke dalam. Dia akhirnya duduk sendiri sambil menikmati masakan suaminya, rasanya sangat sepi tapi ya mau bagaimana lagi, dia jauh dengan keluarga jadi sebisa mungkin Vanye harus terbiasa.
"Oh ya, hari ini kan ada acara masak-masak di channel Masakku, mending aku lihat itu saja daripada diam sendiri disini!" seru Vanye setelah beres membersihkan semua makanan di atas meja.
Tanpa menunggu lama, Vanye bergegas ke ruang TV dia juga membawa beberapa cemilan untuk dijadikan teman menonton. Untung saja acara yang dia ingin lihat baru di mulai, jadi Vanye langsung mencatat semua bahan-bahan yang diperlukan.
Drrtt ..., Drrtt ..., Drrtt ....
"Ishh! Siapa sih yang nelpon, padahal masih fokus nonton ada saja yang ganggu!" kesalnya.
Vanye pun menaruh buku serta pulpennya, setelah itu dia mencari keberadaan ponselnya dan melihat siapa yang menelepon di saat seperti ini.
"Siapa sih ini? Kok nomornya privasi, apa aku angkat saja barangkali penting." Karena penasaran, Vanye segera mengangkat panggilan tersebut.
"Halo, siapa ya?"
'Halo, Sayang. Apa kamu tak merindukanku?'
Deg!
__ADS_1
Vanye mendadak diam kaku, dia bukan orang bodoh yang tak bisa mengenali suara siapa itu. Namun yang menjadi pertanyaan Vanye, Satria tau nomornya dari siapa. Padahal dia dan Daniel sudah mengganti nomor, jauh-jauh hari.
"Satria?"
'Betul sekali, ternyata kamu belum sepenuhnya melupakan kekasihmu ini, Sayang.'
Mual, Vanye sangat mual mendengar ucapan Satria. Dia merasa mantan kekasihnya ini sudah gila, sampai tak sadar jika Satria telah memutuskan hubungan mereka secara sepihak.
"Cih! Buat apa mengingat sampah! Yang ada aku mual dan ingin memuntahkan semua isi perutku saat mendengar suaramu," balas Vanye sangat menghina, tapi sayang Satria otaknya konslet jadi lelaki itu hanya tertawa mendengar hinaan Vanye.
'Kamu marah karena aku meninggalkanmu, Sayang?'
"Stop memanggilku Sayang, Setan! Kita sudah selesai dan aku sangat bahagia dengan kehidupanku sekarang, jadi please jangan menggangguku. Cari saja wanita lain yang bisa menjadi batu loncatan untukmu!" marahnya semakin menggebu-gebu.
Jika ingat ucapan Satria waktu itu, hatinya benar-benar sakit. Seenaknya datang dan pergi, padahal Vanye sudah mulai melupakan masa lalunya.
'Itu menurutmu, Sayang. Kalau menurutku, kita masih berstatus tunangan sampai saat ini. Kamu milikku dan aku milikmu.'
"Cih! Jangan mimpi kamu, Satria. Sampai kapanpun aku nggak mau ada hubungan lagi denganmu, jika kamu memaksa maka siap-siaplah aku akan melaporkanmu ke polisi!" Vanye pun memakai jalur mengancam, jika ini gagal maka dia akan meminta papanya untuk mengurus Satria.
"Aku nggak takut, Van. Karena bagiku, ancamanmu hanya sebuah sampah, yang tak patut ku takuti. Camkan ini Vanye, aku akan datang dan merebutmu kembali dari tangan Daniel!"
...***...
Emak : Hey pak, lu gagal mop one ya? Lu kemane aje selama ini, guh gusti kok ada lakik kek elu tong tong!
Satria : Diem lu mak, ngapain juga sih nikahin Vanye sama Daniel! Kan gue nggak rela, Makk!
Emak : Dih, yang terserah emak lah. Lo kok sewot, mangkanya jadi laki Jentelmen dikit dong, kek Daniel. Meski dia muda tapi jiwanya pemberani, beda sama elu, nyali ciut.
Satria : lihat saja, Mak! Aku akan rebut Vanye sampai dapat, camkan ini MAAAKK!
Emak : dih bocah gemblung!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
Judulnya Mafia's women Author Hilmiath_ jangan lupa ya 😍😍
__ADS_1