
Daniel diam terperangah menatap istrinya. Sungguh, hari ini Vanye terlihat sangat cantik dan mempesona. Bahkan, matanya sampai tak berkedip saking kagumnya dia pada Vanye.
"Apa aku melakukan kesalahan, Daniel?" Vanye jadi salah tingkah melihat tatapan Daniel.
"Kamu sangat cantik, Sayang. Sangat perfect," ujarnya terus menghampiri Vanye.
"Huft, aku kira kenapa Daniel. Hampir saja kamu membuatku jantungan," kata Vanye sangat lega.
"Kenapa sampai jantungan? Kan aku nggak ngapa-ngapain, Sayang," lirih Daniel langsung menghirup kuat aroma tubuh istrinya.
"Ya kan kamu diam saja setelah aku masuk, Sayang. Jadi pikiranku pasti ada kesalahan yang tak ku sadari, ternyata bukan." Vanye pun melingkarkan tangannya di leher Daniel.
Daniel juga tak mau tinggal diam, tangannya juga melingkar sempurna di pinggang Vanye dan setelah itu dia cium istrinya penuh kelembutan.
Vanye membalas ciumann suaminya, mereka pun saling melumatt dan menikmati peraduan masing-masing tanpa memikirkan orang yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Pamukas sangat shock melihat pemandangan ini, dia baru saja pamit ke kamar mandi beberapa menit lalu, tapi saat keluar ternyata ada tontonan live streaming. Meski hanya kissing, tapi Pamukas jadi merinding.
"Ehemm!" Deham Pamukas mampu membuat Vanye terbeliak dan langsung mendorong Daniel menjauh.
"Sial!" umpat Daniel.
Sedangkan Vanye hanya menundukkan kepala. Dia malu ketahuan berbuat seperti ini di depan Pamukas, rasanya Vanye ingin menghilang saja dari hadapan Pamukas.
"Kalau mau enak-enak aku bisa keluar kok, tapi ya kasih kode dong, biar aku keluar dulu," sindir Pamukas.
"Ganggu saja kamu, Pam!" seru Daniel.
__ADS_1
Dia tau istrinya sangat malu, jadi langsung menggiring Vanye ke sofa agar dia duduk dan menetralisir rasa canggungnya.
"Dih, kan kalian yang nggak kenal tempat, kok malah jadi menyalahkan aku," sungut Pamukas. Padahal disini dia korbannya, tapi malah disalahkan Daniel.
"Namanya suami istri ya wajar dong, kamu sih belum nikah, coba nikah nanti tau rasanya," sindir Daniel sambil tertawa.
Pamukas semakin mendengus, dia juga ingin menikah tapi calonnya saja yang tak punya. Kemarin sempat ingin serius dengan satu wanita, tapi sayang wanita itu mau menikah jika maharnya uang 1 Miliar. Mana punya uang sebanyak itu dia, apalagi disini Pamukas sebagai tulang punggung.
"Males ah kalau sudah bahas nikah, mending aku keluar saja, kalian lanjutkan buat adeknya. Jangan lupa, bismillah dulu biar anaknya soleh-solehah," pamit Pamukas segera pergi.
Setelah kepergian Pamukas, Vanye langsung menghembuskan nafas panjang. Rasanya tertekan sekali ketika Pamukas masih di dalam, "akhirnya pergi juga," lirih Vanye.
"Kenapa Sayang?" Daniel mendekati Vanye.
"Dih, masih tanya kenapa. Yang jelas malu lah, lagi ciumann terus kepergok, malu nya sampai ke ubun-ubun tau!" cetus Vanye.
"Duh malu ya, sini aku peluk biar malunya hilang." Daniel bersiap-siap akan memeluk Vanye tapi langsung mendapat penolakan dari istrinya.
"Hal penting apa sampai membuatmu datang kesini, Van?" tanya Daniel.
"Ini tentang Satria," lirih Vanye.
Mendengar nama Satria, Daniel menjadi kesal sekaligus pemasangan. Tumben sekali istrinya ini ingin membahas kakaknya, padahal Vanye sudah memutuskan akan melupakan dan tak mengungkit-ungkit masa lalu.
"Ada apa dengan, Kakak?"
"Hari ini dia menghubungiku dan aku nggak tau Satria dapat nomorku dari siapa, yang jelas dia ingin menghancurkan hubungan kita," ucap Vanye terlihat sekali sangat panik.
__ADS_1
"Maksudnya, Van?" Daniel ingin memastikan yang jelas, dia masih belum paham dengan penjelasan istrinya.
"Ish, kamu paham nggak sih Daniel! Satria menghubungiku, dia mengancam akan mencelakaimu jika aku nggak mau balik ke dia," jelas Vanye sangat kesal. Padahal dia sudah menjelaskan dari tadi, tapi Daniel malah lemot sekali menganggap ucapannya.
"Kakak tau nomormu dari siapa?" Daniel malah bertanya balik.
"Ya mana aku tau, Daniel! Sekarang aku sangat takut, dia orangnya terlalu nekat dan aku takut kamu kenapa-napa," jelasnya sambil menangis.
"Tenanglah, Van. Semua pasti baik-baik saja, yakinlah kakak tidak mungkin berbuat nekat. Jika pun iya, usahanya tak akan berhasil," jelas Daniel sambil memeluk istrinya.
Jujur, jauh di dalam hatinya Daniel mengumpat kesal. Dia marah pada Satria, kenapa harus mengusik kehidupannya. Padahal jelas-jelas Satria lah yang membuang tunangannya, tapi setelah Vanye bahagia Satria terlihat tak suka.
"Kita kasih tau papa saja Daniel, hanya papa yang bisa membantu kita. Jangan anggap enteng Satria, karena aku tau sikapnya seperti apa," ujar Vanye semakin mempererat pelukannya.
"Iya, nanti kita bilang sama papa. Tapi, jujur tanpa bantuan papa, aku bisa membereskan Kakak. Namun, jika kamu bisa tenang setelah minta bantuan papa, maka semua sesuai keinginanmu."
Vanye mengangguk cepat, dia lebih memilih untuk meminta bantuan daripada menyesal nantinya. Dia sadar musuhnya kali ini orang gila, jadi Vanye membutuhkan papanya.
Apalagi mengingat kejadian di Bali, Satria begitu nekat menciumm-nya di tempat umum dan masih mengklaim dirinya sebagai tunangan.
***
Maaf, jika episode kali ini garing kek kerupuk. Pikiran emak kemana-mana soalnya, urus keperluan mutasi anak belum kelar-kelar. Capek hati, juga capek pikiran. 🤧🤧🤧
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai aku ada rekomendasi cerita punya temenku loh, jangan lupa mampir juga ya. Ceritanya seru, aku juga suka bacanya.
__ADS_1
Judulnya CINTA TULUS GADIS BUTA Author Dhevy Yuliana jangan lupa ya 😍😍