Suamiku (Calon) Adik Iparku

Suamiku (Calon) Adik Iparku
SCAI - 64. Merelakan Kepergian Aily


__ADS_3

...Jika Ada Typo Mohon Dimaklumi, Mata Emak Minus parah ada Cyl juga jadi kadang huruf jadi 2 😌...


...----------------...


Daniel keluar dari kamar dengan perasaan bahagia, dia tak menyangka jika sebentar lagi akan menjadi seorang ayah. Bayang bayang masa depan pun sudah terlintas dalam benaknya, sehingga membua Daniel terus tersenyum meski kini dia sudah ada di ruang tamu.


"Kamu kenapa, Daniel? Dari tadi Papa lihat senyum-senyum seperti orang gila saja," ucap Dimas sedikit mengejek. 


Dimas sangat tahu bagaimana perasaan menantunya, sehingga muncul sebuah ide untuk mengusili Daniel. 


"Eh, Papa. Aku hanya—"


"Hanya belajar gila kan? Kalau kamu sampai gila, anak cucuku akan Papa bawa pergi," goda Dimas  langsung membuat Daniel shock.


"Eh, nggak bisa seperti itu Pa. Mereka jantung hati Daniel, kalau mereka Papa bawa, sama saja  membunuhku secara perlahan." Daniel sangat serius dengan ucapannya.


Saking seriusnya wajah Daniel terlihat seperti orang bodoh, terlalu mencintai membuatnya sangat lucu. Tapi, disisi lain Dimas sangat bersyukur Vanye jatuh pada orang yang tepat. Jika saat itu anaknya jadi menikah dengan Satria, mungkin perusahaannya sudah pindah alih jauh sebelum pernikahan berlangsung satu bulan.


"Papa hanya bercanda, Daniel. Sini, duduklah. Papa ingin bicara sesuatu, tentang Satria dan Lifta."


Dimas sengaja ingin membahas mereka berdua, jika bisa dia akan memberantas benalu  agar tidak bisa mengganggu anaknya lagi.


"Ada apa lagi dengan mereka, lama-lama aku bosan sama kelakuan dua manusia itu!" serunya terlihat sangat tak senang.


Untuk saat ini Daniel ingin bebas dari mereka, dia ingin fokus pada kehamilan Vanye agar tidak terjadi sesuatu.

__ADS_1


"Papa dengar Lifta akan merencanakan sesuatu beberapa hari ini, tapi Papa nggak tahu apa rencananya. Sedangkan Satria, belum ada pergerakan sama sekali. Tapi Papa masih takut mereka melakukan rencana, jadi biarkan mereka menemani Vanye."


Dimas segera memberi isyarat agar seseorang masuk. Tak lama setelah itu dua orang masuk memakai baju hitam, terlihat seperti bodyguard. Daniel jadi ingat dengan nasib orang kepercayaan mertuanya, mereka diusir Vanye karena tak suka jika kemana-mana harus di intai.


Tapi sekarang Dimas melakukan hal sama lagi, tapi Daniel tak menyalahkan mertuanya. Siapa sih orang tua yang ingin anaknya di teror terus, pasti tidak ada. Sebab itu Daniel memaklumi kekhawatiran sang mertua.


"Mereka Aldi dan Aldo, dia penjaga khusus untuk Vanye. Tapi kamu tahu kan bagaimana istrimu, Papa harap kamu bisa membujuk Vanye agar mau dikawal mereka berdua," jelas Dimas.


"Baiklah, Pa. Nanti aku bujuk Vanye dan menerima mereka. Dipikir-pikir Vanye memang harus ada yang menjaga, apalagi sekarang juga ada Ramon." 


Daniel juga mulai berpikir tentang Ramon, untuk saat ini keselamatan mereka lebih penting daripada dirinya sendiri.


"Papa titip, Vanye. Tolong jangan pernah sakiti dia, jika kamu sudah bosan, atau tak menginginkan dia maka kembalikan pada Papa. Bagaimanapun juga, Vanye anak Papa," kata Dimas dengan mata berkaca-kaca.


Namun, Dimas sadar jika anaknya sudah dewasa, bahkan akan menjadi seorang ibu jadi sebisa mungkin dia menahan perasaannya. Terlebih lagi Dimas akan melakukan perjalanan bisnis lagi, mungkin akan memakan waktu beberapa bulan.


Yang Dimas bisa lakukan hanya memantau dari jauh, jika ada sesuatu maka dia orang pertama melindungi mereka. Meski jarak memisahkan mereka berdua.


"Papa bicara apa sih, Daniel tidak akan pernah bosan dengan Vanye. Dia segalanya bagiku, apapun akan aku lakukan agar Vanye bahagia. Jadi, Papa tenang saja. Daniel akan selalu mencintainya, sampai tua nanti."


***


"Om, apa kamu serius mau membawa mama hari ini juga?" 


Daniel sangat gelisah melihat Tama akan membawa mamanya ke luar negeri, meski perjalanan mereka untuk berobat tapi Daniel takut jika keluarga Tama tak setuju akan kondisi mamanya.

__ADS_1


"Apa kamu masih meragukan aku, Daniel?" Tama terlihat sangat angkuh ketika dia diragukan. 


"Bukan begitu, hanya saja ...." Daniel tak bisa berkata-kata lagi, dia sungguh takut Tama akan menelantarkan mamanya dan perasaan takut akan keluarga besar Tama, membuat Daniel tak tenang.


"Jangan khawatir akan keluargaku, Daniel. Yang menikah dan menjalani juga aku, mereka tak perlu ikut campur. Aku pastikan Aily akan selalu bahagia."


Mendengar itu Daniel bisa bernafas lega, dia langsung memeluk Tama dan berkata. "Dia orang tuaku satu-satunya, aku percayakan Mama pada Om. Tolong jangan sakiti fisiknya." 


"Pasti itu!"


Sejenak Daniel menghapus air matanya, dia merasa sangat senang mendengar jawaban Tama. Tak lama setelah itu Daniel memeluk Aily sangat erat, isak tangis mulai terdengar sangat lirih sampai-sampai Daniel sesegukan.


Baru saja dia bertemu orang tua kandungnya, tapi harus berpisah. Tapi Daniel ikhlas jika ini semua demi kesembuhan mamanya, apapun akan dia lakukan agar orang-orang tercintanya bahagia.


"Anakku jangan menangis," lirih Aily.


"Mama baik-baik ya di sana, jangan suka kabur-kaburan. Kasian Om Tama jika Mama menghilang lagi," ucap Daniel terus menciumi jemari-jemari Aily.


Karena waktu penerbangan sudah mendekati rela tak rela Daniel melepaskan kepergian orang tuanya, dengan perasaan sangat sedih dia memutuskan memeluk erat Dona.


"Dia pasti baik-baik saja Daniel, mamamu sudah jatuh di tangan yang tepat. Ikhlas kan, mamamu berhak bahagia." Dona berusaha kuat, tapi endingnya dia juga ikut menangis.


"Semoga Ma, semoga dengan jalan seperti ini Mama Aily bisa sembuh."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2