Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)

Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)
21.pendisiplinan(S2)


__ADS_3

❄selamat membaca❄


    Aku sudah menyelesaikan beberapa berkas dihadapan ku dan itu tidak terlalu memakan banyak waktu. Hanya dua jam saja biasanya kalau miska yang urus satu berkas pun tak akan ia tuntaskan seharian. Karena ia terlalu berpikiran sempit dan mudah terpengaruh.


Aku berdiri sebentar dan melakukan sedikit peregangan karena merasakan beberapa persendian ku mulai pegal.


Aku menelpon pihak cleaning servis untuk menyiapkan satu cangkir kopi lengkap dengan cemilannya karena aku mulai merasa lapar saat ini.


Hari sudah mulai malam karena aku berangkat ke kantor sore jadi aku tak sadar waktu berlalu sangat cepat saat aku mengerjakan berkas-berkas tadi.


Petugas cleaning service itu datang dengan nampan berisi cemilan juga kopi pesanan ku.


Aku pun duduk di kursi lalu menyeruput kopi hangat itu dengan tenang. Namun apa kalian dapat menebak apa yang sedang melintas dibenakku saat ini?.


Aku mungkin sudah tidak waras saat ini, kenapa wajah gadis bodoh itu melayang layang dalam ingatanku. Aku sungguh tidak menginginkan ini. Menjijikkan sekali sih.


Aku dengan cepat meneguk habis kopi hangat itu karena tak suka dengan apa yang ku ingat tadi.


Saat aku hendak memakan roti lapis yang tertera diatas piring, miska datang lagi dengan wajah panik bukan main.


"Astan, gawat lagi." Ia sudah berdiri tepat dihadapan ku dengan wajahnya yang sangat khas itu.


"Apa lagi hmmm? "Aku hanya menanggapi nya dengan santai sembari menutup berkas yang sedang kukerjakan itu.


" Niky, dia tetap bersikeras ingin berpacaran dengan pegawai indomaret itu. Otaknya sudah hilang mungkin, bagaimana bisa dia tetap bersikeras seperti itu? "Miska merasa kesal.


Aku menghela nafas sedikit pelan" Sudah dibicarakan baik-baik? "Tanyaku pelan.

__ADS_1


" Aku sudah berkali-kali memperingati dia tapi dia tidak mendengar perkataan ku. Aku sudah lelah menghadapi niky bahkan menejer nya saja sudah mengundurkan diri karena tak sanggup."miska terlihat benar-benar kesal saat ini.


"Sebenarnya sangat mudah untuk menghadapi gadis seperti niky. Apalagi kamu seorang perempuan harusnya lebih tau dibanding saya karena kamu pasti memahami emosi yang kami laki-laki tidak tau. Jadi cobalah untuk membujuknya lagi tapi bukan dengan dalih pekerjaan ataupun norma kantor tapi sebagai teman juga sesama perempuan. Niky sedang butuh perhatian hingga ia mencari perhatian dengan membuat tingkah seperti itu." Aku kembali duduk.


Miska yang awalnya kesal itu berangsur pulih lalu mengangguk.


"Tapi aku mohon astan. Untuk kali ini kamu saja yang membujuk dia, aku sudah lelah berurusan dengan niky, aku takut mati muda karena dia," Ucap miska membuatku tertawa karena perkataannya itu.


"Baiklah, bawa saya menuju niky sekarang." Miska mengangguk dan berjalan lalu aku ikuti.


Niky sudah duduk tertunduk diruang Pendisiplinan.


"Lihatlah dia, saat aku sedang berbicara dengan nya ia tak akan pernah menunduk seperti itu. Saat kamu datang ia malah menunduk. Pilih kasih sekali sih." Miska langsung aku suruh berhenti berbicara.


"Niky lihat kearah saya sekarang? " Ucapku dengan pelan dan ia langsung patuh melihat kearahku.


"Tuhkan, beneran pilih kasih inimah, aku sedang berbicara tadi tak pernah ia dengar kan." Aku lagi-lagi menyuruh miska berhenti berbicara Karena niky masih sangat labil tak akan menerima nasehat jika kita menasehati nya dengan kata-kata kasar dan juga keras.


Ia langsung menatap kearahku dengan mata berbinar senang dan dengan anggukan yang kalau kuhitung ada 5 kali anggukan.


"Benar pak, saat aku trinee dulu bahkan saat aku hampir tidak debut ia yang selalu menemani juga mendukung ku. Bapak tau sendiri kalau aku sudah tidak punya siapapun selain dia, jadi aku mohon jangan larang aku untuk terus bersamanya. Karena aku tak ingin mengecewakan dia yang sudah sangat baik sekali padaku. Jika aku menjauhi nya sekarang pasti ia akan kecewa karena setelah ia melakukan semuanya demi aku, aku dengan mudahnya membuang nya, " Ucap niky terdengar sangat tulus.


Anak ini memang sesuatu sekali, ia benar-benar sangat peduli dengan orang yang berperan dalam kesuksesannya. Aku tau bagaimana cara yang tepat untuk membuatnya tidak bisa berulah lagi.


Aku tersenyum kearahnya "Dengar kan perkataan saya ini baik-baik yah. Kamu pasti tau kan resiko menjadi seorang bintang itu bagaimana? Seluruh aktivitas kita dibatasi, termasuk untuk dekat dengan pasangan kita terkadang tidak mudah untuk dilakukan. Jadi kalau kamu memang sayang dengan karrier mu saat ini kamu bisa kan untuk bersabar dulu. Jangan dulu bertemu dengan nya karena ingat ada fans yang harus kamu jaga perasaan nya. Saya tidak melarang kamu untuk bersama dengan pria baik itu, tapi akan ada saatnya kalian bisa memberitahu publik tapi bukan sekarang.ingat perjuangan mu untuk berada di tempat ini tidaklah mudah, kamu mau kalau ia kecewa melihat karirmu hancur begitu saja? " Ucapku bertanya padanya dan dengan cepat ia menggeleng menolak.


"Baiklah kamu pasti faham maksud saya kan. Saya permisi, " Ucapku berdiri.

__ADS_1


"Tunggu pak," Ucapnya berdiri lalu berjalan menuju ke arah ku.


"Terima kasih sudah menjadi pemimpin yg bijak pak. Aku bangga bersama bapak, maafkan aku yang kurang profesional ini," Ucapnya menunduk lalu aku balas dengan senyuman.


"Baiklah, kalau bangga buat saya bangga juga. " Ia dengan cepat mengangguk.


Aku langsung berjalan keluar dan diikuti oleh miska.


"Wah, bagaimana dia bisa sentuh itu kalau berhadapan dengan mu? Kamu pakai pelet atau apa sih? " Miska langsung saja bertanya yang bukan-bukan.


"Ada-ada saja kamu. Saya sudah katakan berkali-kali kalau api dibalas dengan api sudah pasti akan membuatnya menjadi bom, jadi kalau seseorang sudah memupuk api cobalah untuk memupuk air hingga bisa mengalahkan api tersebut." Aku memasuki ruangan ku dan diikuti oleh miska lagi.


"Apa ada hal lain lagi yang harus kita bahas? " Tanyaku pelan dan ia menggeleng.


"Lalu? Kenapa masih disini? Saya sedang sibuk saat ini." Aku duduk.


Ia mendecap pelan merasa kesal"Selalu saja sibuk, sesekali kita juga butuh mengobrol loh astan,"ucapnya berjalan keluar.


Aku hanya menggeleng tertawa pelan melihat miska yang sangat mudah merasa kesal itu.


Aku kembali disibukkan dengan berkas yang jumlahnya tidaklah sedikit itu.


Bekerja di perusahaan seperti ini bukanlah hal yang mudah dilakukan semua orang. Kita harus bisa mengayomi semua orang yang kita naungi. Apalagi saat mereka sedang berulah kita harus bisa sebijak dan secakap mungkin untuk membuat mereka sadar bahwa mereka adalah tokoh publik yang saat bergerak sedikit saja akan menimbulkan masalah.


Aku sudah berpengalaman dalam banyak masalah yang ditimbulkan oleh idola yang aku naungi tapi sekarang semua itu bukan apa-apa lagi untuk ku.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Waduhh akang astan ternyata sangat ber karisma saat dikantor yah.


Jangan lupa like, vote dan komennya yah.


__ADS_2