
❄selamat membaca❄
Aku duduk termenung memikirkan bagaimana nantinya kisah kami setelah ini. Hidupku tak pernah bisa kutebak dengan benar. Aku merindukan anakku juga istriku yang sudah dua minggu kini masih saja berada di rumah sakit.
Mina belum juga sadar dan aku belum diperbolehkan membawa anakku untuk pulang Karena mina belum juga sadar.
Terkadang rasa pesimis itu bisa muncul tiba-tiba, aku terkadang berpikir bagaimana jika mina Sungguh tidak akan bangun? Bagaimana jika mina sungguh akan pergi? Tapi aku meyakinkan diriku lagi bahwa mina adalah gadis yang kuat. Ia pasti tau kalau ada aku dan anakku yang menunggunya disini.
Selama dua minggu ini aku terus saja menemani mereka berdua bergantian, mengajak berbicara meskipun diantara mereka salah satu pun tak ada yg menyahuti ucapan ku.
Aku hanya yakin kalau mereka pasti bisa mendengar semua yang ku katakan itu. Baik harapan juga keinginan ku atas keselamatan dan kesembuhan mereka. Dan bayiku sudah dua minggu belum pernah meminum asi dari mina.
Sedangkan aku dirumah selalu menyibukkan diri dengan membersihkan rumah, mencuci pakaian ku sendiri dengan tanganku tanpa menggunakan mesin cuci.
Sebenarnya aku bisa saja menyewa layanan pembersih Tapi aku enggan melakukan itu.
Namun aku ingin mengerjakannya sendiri dengan tanganku karena dengan itu aku bisa merasakan kehadiran Mina saat bekerja dan mengerjakan ini semua.
Aku tersenyum mengingat saat dimana kami pernah bergotong royong berdua dirumah ini karena Mina meminta ku untuk membantunya bekerja, tentunya dengan menuruti keinginan ku jika aku mau membantu nya.
Bukannya membantu tapi aku malah menganggu dan mencuri kesempatan untuk memodusi Mina baik itu mencium dan colak colek. Aku pun semakin semangat dalam mengerjakan nya mengingat Mina yang kesal saat aku ganggu dulu.
"Aku janji sayang kalau kamu bangun aku bakal nurut sama kamu ngk bakal nakal lagi."kuhapus dengan pelan air mata ku yang mulai jatuh.
Akhir-akhir ini aku tak hentinya menangis dan mengeluarkan air mata karena memikirkan mereka berdua. Hidup ku seolah sedang dihukum sekarang, aku memang salah telah menyia-nyiakan mina dulu saat pertama kali ia menginjakkan kakinya dirumah ini aku tak menyambutnya dengan baik dan malah melontarkan hinaan juga siksaan padanya.
Aku dengan cepat menghapus air mataku dan tak sengaja melihat buku yang pernah kuberikan pada mina saat dulu. Aku tersenyum mengingat bagaimana bodohnya aku dulu, sudah jelas aku yang mengambil buku itu dan meletakkan nya diatas keranjang belanjaan dan aku malah menuduh mina yang melakukan itu karena tak ingin dikira perhatian.
Aku tergerak turun untuk meraih buku itu dan penasaran apakah ia menuliskan sesuatu didalamnya.
Kubuka perlahan halaman pertama dan mendapati namanya tertulis disana dengan ukuran tulisan yang sedikit besar dan aku melihat ada namaku terselip didekat namanya dengan tulisan sangat kecil.
Aku sudah tak bisa lagi menahan senyuman saat melihat sebuah tanda love diantara nama kami. Sepertinya mina memang sudah mencintai ku sejak lama. Dan aku sangat senang mendapati itu.
"Alay sekali sih kamu sayang hahahha."aku sudah tak bisa menahan tawa karena mina.
Aku dengan teliti membuka halaman selanjutnya dan mendapati tulisan singkat mina yang menyelipkan namaku disana.
📝📝📝📝📝📝📝📝📝📝📝📝📝📝
Mas astan jahat🤧
__ADS_1
Tega,biadab ehh biadab itu apa yah? Aku pernah dengar dari indosiar tapi ngk tau apa maksudnya.
Ah pokoknya mas astan biadab, ngk tau apa kalau aku cemburu kalau dia dekat dengan sekretaris nya, lagian kenapa orang orang di kantornya cantik cantik dan seksi sekali sih?
Wajar saja mas Astan tak pernah tertarik dengan ku,aku jelek dan bodoh tidak seperti mereka cantik dan pintar mana sekolahnya tinggi tinggi lagi, sedang aku SMA saja tak lulus, aku harus sadar diri memang, belum lagi aku itu adalah gadis pembawa sial.
Jadi sebelum terlalu dalam perasaan ini lebih baik aku sadar diri dan akhiri saja semua
📝📝📝📝📝📝📝📝📝📝📝📝📝📝
Tiba-tiba aku merasa sedikit pilu membaca tulisan mina ini. Apalagi saat ia menuliskan kalau ia bahkan tidak lulus SMA. Aku langsung merasakan rasa bersalah yang amat sangat dalam.
Aku yang salah telah merebut masa remaja Mina dengan menggantinya dengan masa paling menyulitkan untuk Mina mulai dari siksaan yang kuberikan bahkan saat ini Mina hampir kehilangan nyawanya karena aku membuat Mina hamil dan memilih untuk mempertahankan kandungan yg sudah jelas Mina tau akan membahayakan nyawanya sendiri.
Aku memeluk erat buku itu dengan air mata masih mengalir"Maafkan aku sayang, apa aku pantas berada disisimu?"
Aku langsung bergerak meraih ponselku saat kudengar suara dering nya.
"Apa ini dari bapak astan? "Dengan cepat aku menyahuti nya.
"Iya ini dengan saya."
"Kami dari pihak rumah sakit, ini tentang istri bapak pasien bernama Mina yang koma dalam dua minggu ini."
Pihak rumah sakit memang belum mengatakan apa-apa tapi aku langsung faham sekarang dan tak sanggup untuk mendengar itu langsung, terlalu menyakitkan. Aku ingin melihatnya dengan mata kepala ku sendiri untuk yang terakhir kalinya. Aku sungguh tak menduga ini semua.
Aku buru buru mengambil kunci dan meninggalkan rumah dengan cepat tak peduli bahkan hp ku masih tergeletak dilantai.
Air mata ku tak hentinya mengalir bahkan saat mengemudi aku bahkan hampir tertabrak karena tak bisa berpikir jernih sekarang.
Wajah Mina dan kenangan yang telah kami lalui bersama terngiang-ngiang dalam ingatan ku.
Aku sangat ingin menabrakkan diriku saat ini, karena tak mau menerima kenyataan pahit ini.
Bagaimana aku akan hidup tanpa mina? Bagaimana dengan putra kami?.
"Hiks,,, " Aku menubruk kan kepalaku di jendela mobil yang sedang melaju itu.
"Tidakkkkk" Aku teriak sekeras-kerasnya dalam mobil itu.
Orang orang yang sedang berlalu lalang dijalan itu pun sempat menoleh kaget mendengar teriakan ku yang seperti orang gila ini,ah aku memang sudah gila.
__ADS_1
"Kenapa harus istriku?kenapa bukan aku? " Aku masih berteriak seperti orang gila dan masih menyetir.
Untung saja saat itu polisi lalu lintas sedang tidak ada kalau ada mungkin aku sudah ditilang karena kebodohanku ini.
Aku memarkirkan asal kendaraanku dan langsung berlari menuju ruangan Mina istriku dirawat.
Aku membuka dengan keras pintu bangsal Mina dan jantung ku seakan berhenti berdetak saat itu juga.
Ruangan tempat Mina dirawat sudah kosong dan tak ada lagi Mina yang berbaring lemah tanpa tenaga disana.
"Tidak hiks,,, tidak mungkin,, istriku tidak mungkin hiks,,, "
Aku terduduk lemas dilantai tepat didekat ranjang itu.
Air mata ku mengalir deras bak air hujan dimusim penghujan.
Kalau kita ukur mungkin air mata ku sudah lebih dari se ember saking derasnya.
Aku tak menyangka akan mendapatkan berita kejam ini.
Kalau boleh memilih aku lebih memilih Mina terbaring lemah disana daripada harus pergi untuk selamanya.
Aku tak mau kehilangan Mina untuk selamanya.
Aku butuh Mina dan juga anak ku.
Mina dan putraku lah satu satunya yang aku punya dan sekarang Mina pergi?..
"Aaaa,,, tidak mungkin,, tidak mungkin hiks,,, " Aku seperti orang gila berteriak sekeras yang aku bisa hingga menganggu pihak lain yang sedang dirumah sakit itu.
"Kenapa harus istriku?aku saja jangan dia hiks,, " Aku semakin lemah saja melihat tempat tidur itu benar-benar sudah kosong.
"Bagaimana dengan anak kita sayang? Hiks,,, kamu jahat, kamu sudah janji bakal selamat"
"Kamu pembohong" Aku sudah seperti seorang gadis yang diputuskan cintanya.
Hatiku benar benar hancur sekarang.
Bagaimana aku tanpamu?
BERSAMBUNG...
__ADS_1
Waelah kang astan.
Jangan lupa yah like, komen dan vote.❤