Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)

Suamiku Yang KEJAM (S1&S2)
22.Minum(S2)


__ADS_3

❄Selamat membaca❄


     Sudah hampir jam 10 malam aku baru menyelesaikan berkas-berkas itu. Aku merasa sangat pegal dan melakukan beberapa peregangan lagi dan lagi.


Mataku kembali teralihkan keatas meja yang disana terpajang indah foto Dyva saat sedang tersenyum bahagia.


Aku berjalan pelan dan mengambil foto itu.


"Apa kamu bahagia disana? Kakak harap iya, karena kakak disini akan mencoba sebisa mungkin membalaskan dendam kita." Aku meletakkan kembali foto itu.


Rasa benci juga dendam ku kian membara lagi saat mengingat wajah gadis sialan itu.


Aku tidak akan pernah memberikan ia kebebasan dan aku akan memikirkan berbagai macam cara lagi untuk membuatnya merasa hidup bagai di neraka.


Lihat dan tunggu saja pembalasan dendam yang sebenarnya dariku.


Aku melihat kearah meja, mencari ponsel ku untuk menghubungi pak umar memberitahukan kalau aku akan pulang terlambat nanti. Namun aku tak menemukan ponsel itu sama sekali.


"Apa ketinggalan yah dirumah? " Aku akhirnya pasrah saja tak mencari lagi setelah mengingat kalau ponselku memang tinggal diatas nakas dekat tempat tidur.


Aku memakai kembali jasku dan berjalan meninggalkan ruangan kerjaku itu.


23.42 pm


Aku dan beberapa rekan kerjaku sudah berkumpul disebuah bar tempat mereka biasa berkumpul untuk minum dan sesekali membahas aset juga keadaan pekerjaan mereka.


"Wah tumben sekali bapak astan yang terhormat mau bergabung dengan kita, biasanya saat diajak dia akan menolak, " Ejek Reno selaku CEO dari perusahaan IT yang saat ini sedang Marak-maraknya.


Kami berteman sudah sangat lama, ia tau apa alasanku selalu menolak ikut selama ini. Yah karena Dyva menolak aku untuk ikut ke bar.


"Aku hanya ingin minum malam ini. Aku lupa bawa ponsel kalau aku tidak sadar nanti kamu hubungi saja nomor telepon rumah yang sudah pernah aku berikan. Kalau yang mengangkat perempuan berarti itu asisten rumah tangga ku yang baru, " Ucapku pelan.


"Wah, masih muda ngk tan? Cantik ngk? Seksi ngk?" Kebiasaan otaknya suka ngk bener. Untung saja yang bekerja di perusahaan nya kebanyakan pria dan wanita yang sudah berumur kalau bukan pasti dia sudah terlibat kasus.

__ADS_1


Aku menggeleng cepat "Yang ada hanya gadis bodoh yang tidak tau apa-apa dan lebih parahnya dia adalah sumber emosi. Ahh sudahlah malas membicarakan nya." Kuakhiri dengan satu tegukan minuman beralkohol itu.


Reno tertawa melihatku"Beneran nih lu mau minum sampai ngk sadar? Ada masalah apa sih? Setauku kantor mu sangat maju sekarang."ia tersenyum kearahku.


"Maklum lah no, terlalu berkembang juga membuat kita semakin bingung, bingung harus dikemanakan uang yang banyak itu hahahah, " Sambung Adit selalu teman dekat Reno.


Aku berteman dengan Adit yaitu melalui jalur Reno. Adit juga merupakan orang sukses yang mengagumkan ia tak beda jauh darimu yang memulai suatu usaha mulai dari nol. Berbeda dengan Reno yang hanya meneruskan perusahaan orang tuanya.


"Tidak ada masalah sih, hanya ingin minum saja." Aku meneguk lagi dan lagi minuman itu hingga aku mulai merasakan kalau pikiran ku sudah tidak sinkron lagi.


"Jangan terlalu buru-buru minumnya, pasti sedang merindukan Dyva kan? " Reno paling tau bagaimana sifatku yang sebenarnya.


Aku hanya terdiam dan menundukkan Kepala ku. Menahan air mataku yang sudah dipenghujung mata.


Aku bukanlah laki-laki cengeng namun, menyangkut Dyva air mataku sangat mudah untuk jatuh.


"Setiap mengingat Dyva aku malas untuk pulang, rasanya saat ini aku sudah tidak ada gunanya untuk hidup. Bekerja juga percuma tak ada yang harus aku perjuangkan sekarang." Aku menunduk dan merenung bagaimana keadaan Dyva sekarang.


Seperti yang aku katakan tadi kalau Reno meneruskan perusahaan orang tuanya kan? Ia adalah satu-satunya anak dari kedua orang tuanya dan kedua orang tuanya meninggal saat sedang bepergian keluar kota. Ia sendirian dan mulai bertekad untuk meneruskan semua peninggalan orang tuanya.


"Sudahlah, kita kesini untuk minum bukan untuk bersedih seperti ini." Adit menuangkan kembali minuman itu kegelas kami satu persatu dan kamipun bersulang lagi, lagi, dan lagi.


Aku merasa mulai hilang akal saat ini. Kebencian, rasa sakit, dan juga amarah sudah berbaur dalam otakku saat ini. Aku tak tau harus Mengikut kemana? Rasanya sungguh membingungkan.


"Apa ini pembantu astan?"aku samar-samar mendengar Reno berbicara di telpon. Ia masih cukup sadar dan ia juga dikenal sebagai peminum yang handal.


Apa ia sedang menelpon gadis bodoh itu yah, suaranya terdengar seperti suara gadis sialan itu karena Reno memasang speaker nya agar aku bisa mendengar nya.


"Iya,,ada apa tuan,apa tuan astan ada disana tuan?"tanya nya terdengar khawatir. Dasar gadis rubah pasti sedang ber-akting kan.


"Begini,astan sedang mabuk di bar xxx,bisa kamu jemput sekarang,saya akan segera pulang jadi saya percayakan dia padamu,dia sudah tidak ada keluarga jadi hanya kamu yang bisa menjemput dia,"ucapnya menutup telpon.


Dasar Reno sialan, berkata begitu seperti sedang mengasihani ku saja. Untung saja kamu temanku.

__ADS_1


" Astan aku sama Adit duluan yah, kami masih harus lembur berbeda dengan mu yang sangat santai ini. Kamu tunggu saja disini jemputan mu akan segera tiba,"ucapnya berlalu dengan Adit.


Aku sendirian sekarang ini, pikiran ku sudah mulai hilang akal aku sungguh merasa kacau saat ini.


Seandainya Dyva masih Hidup aku takkan sekacau ini sekarang. Aku tak akan pernah kesini untuk minum-minum dan juga aku takkan berubah menjadi orang jahat hanya karena dendam.


Kepergian Dyva seolah membawa semua kebahagian ku dan menggantinya dengan kesedihan, amarah juga dendam.


Setelah menunggu lama barulah aku melihat sosok Pak umar dari jauh datang kearahku.


"Tuan astan, tuan baik-baik saja? " Tanya pak umar kepadaku.


Aku menggeleng dengan mata yang mulai berair.


"Aku tidak baik baik saja pak, aku lelah dan ingin menghilang saja dari dunia ini. Hidup ku saat ini sudah tidak berarti lagi," Ucapku dengan lirih.


Pak umar menggeleng "Kamu sangat hebat bahkan sampai saat ini, bapak yakin non Dyva pasti bangga karena memiliki kakak seperti nak astan." Pak umar kembali berbicara santai dengan ku. Aku rindu percakapan hangat ini.


Aku yang membuat pak umar merasa segan dan semakin jauh dari ku.


"Maafkan saya pak karena sudah berubah." Aku menunduk.


"Nak astan tak pernah berubah sama sekali, bapak tau itu, " Ucapnya menepuk pelan bahuku.


"Mari kita pulang nak, kamu sudah bekerja keras hari ini dan kamu butuh istirahat yang cukup untuk kembali beraktivitas besok. " Pak umar menuntun ku keluar dari bar itu.


Setidaknya ada dia yg menjadi tempat bersandar saat aku tak bisa berdiri seimbang.


BERSAMBUNG...


JANGAN LUPA LIKE, KOMEN DAN VOTENYA YAH.


LAFFYOUALL😘

__ADS_1


__ADS_2