
Kediaman Nicko ....
Queen telah sampai di rumahnya. Ia membawakan beberapa makanan untuk Oma-nya. Sesampainya di rumah, ia langsung mencari keberadaan Ibunda Nicko, karena Queen memang sangat dekat dengan Sang Oma.
"Oma, Queen dan Ayah belikan Oma makanan ini ... Oma pasti senang," seru Queen membawakan jinjingannya.
"Wah, mana Oma lihat. Oma juga baru pulang, dan belikan Queen pizza di tempat teman Oma. Apa Queen mau?" tanya Ibunda Nicko yang bernama Fera Yulia.
"Queen kenyang, Oma. Queen sudah makan di restoran. Pizza-nya simpan saja, lalu nanti hangatkan lagi kalau Queen lapar." ucap Queen.
"Kenyang? Makan di restoran? Sejak kapan Ayah kamu mau makan bersama kamu di restoran? Biasanya dia selalu membawa apapun ke rumah, dan lebih nyaman makan di rumah, bukan?" Fera tahu siapa Nicko, Nicko tak suka jika harus makan di tempat umum.
"Tadi Queen udah bungkus Mc. D*naldnya, Oma. Tapi karena ada Kakak baik, jadi kita makan bersama di restoran." jawab Queen.
"Kakak baik?" Fera mengernyitkan dahinya, ia tak mengerti apa yang dimaksud oleh sang cucu.
"Iya, karena ada Kakak baik, Queen jadi makan di restoran. Ayah juga nganterin Kakak baik ke rumahnya. Oma harus ketemu sama Kakak baik, biar Oma tahu,"
"Kamu kenal sama Kakak baik itu?"
“Baru kenal tadi sih, Oma ... tapi dia baik banget sama Queen. Dia juga cantik banget Oma. Tanya aja sama Ayah, eh ya ampun, aku lupa ..." Queen refleks menutup mulutnya.
"Lho, lupa kenapa Queen?" Fera heran dengan tingkah cucu kesayangannya itu.
"Kata Ayah, Queen kan gak boleh bilang-bilang tentang Kakak baik ke Oma. Tapi Queen lupa, malah bilang ke Oma. Apalagi soal undangan-undangan itu, katanya Queen jangan sampe bilang ke Oma." jawab Queen dengan polosnya.
"Undangan apa memangnya? Iya, Queen diam-diam aja, Oma gak akan bilang ke Ayah. Ini cuma kita aja yang tahu, Okay?" Fera memancing kepolosan Queen.
"Oke Oma, Oma janji ya, kalau Oma gak akan bilang ke Ayah?"
"Iya, iya Queen," Fera begitu penasaran.
"Tadi ada teman Ayah, dia Mamanya Chelsea, Oma ... Oma kenal kan?"
__ADS_1
"Oh, Tante Anna, ya? Iya, iya, Oma kenal sayang. Terus-terus?"
"Mama Sea bilang ke Ayah, kapan undang-undang? Nah, aku bingung Oma, undang apa emangnya? Undang untuk ulang tahun Queen kah? Bukankah ulang tahunku masih lima bulan lagi?" tanya Queen teramat polos.
Fera refleks terdiam mendengar ucapan Queen. Ia mulai terpikirkan tentang seorang wanita yang tengah menjadi kekasih Nicko. Mungkinkah selama ini Nicko memang memiliki kekasih?
Dalam hatinya, Fera merasa lega, karena ternyata Nicko masih memiliki hasrat untuk jatuh cinta lagi. Awalnya Fera takut, karena Nicko tak tertarik lagi pada wanita, hingga Fera sempat menyerah dan rela mencari Diana kembali.
Akhirnya, saat ini Fera mulai lega, karena anak keduanya ini ternyata tengah memiliki kekasih. Fera kasihan pada Nicko, karena ditinggalkan Diana sejak dulu ia selalu murung dan lebih suka menyendiri. Karena itulah, Fera rela, memohon pada Diana agar Diana kembali pada Nicko.
Namun rupanya, sosok Diana tak bisa ditemui sama sekali. Entah ada di mana wanita kejam itu, yang tega meninggalkan anak dan suami yang begitu menyayanginya.
"Queen, jangan dipikirkan ya ... lebih baik sekarang Queen istirahat, Queen pasti lelah kan sudah jalan-jalan bersama Ayah? Biar Oma antar Queen tidur ya," ajak Fera.
"Baik, Oma. Tapi sebelum tidur, aku mau nonton dulu," pinta Queen.
"Baik sayang," Fera mengusap-usap rambut Queen.
Beberapa saat kemudian, setelah Queen diantar Fera menuju kamarnya, Fera segera mencari keberadaan Nicko. Selepas pulang dari Mall, Nicko ternyata tengah mencuci mobilnya.
Tiba-Tiba, Fera, berniat menyapa dan bertanya pada Nicko. Rasanya, pertanyaan Fera tak bisa ditunda lagi. Ia harus segera mengatakannya pada Nicko, dan meminta kepastian perihal ucapan yang dikatakan oleh Queen.
"Nick, sudah selesai belum?" tanya Fera, saat Nicko tengah mengelap mobilnya.
"Sebentar lagi selesai, Ma, memangnya ada apa?" tanya Nicko.
"Gak apa-apa, Mama cuma pengen nemenin kamu aja, kok." Fera basa-basi.
"Tumben sekali, Ma. Mama ada maunya nih pasti?" Nicko menerka-nerka.
Fera hanya tertawa kecil mendengar ucapan Nicko. Rasanya, Fera sudah tak sabar untuk dikenalkan pada wanita yang kini tengah dekat dengan Nicko. Padahal, Fera berharap, jika Nicko tak menyembunyikan perihal wanita tersebut.
Justru Fera bahagia, jika kini Nicko tengah dekat dengan seorang wanita. Seharusnya, Nicko bisa segera membawanya ke rumah, dan mengenalkannya pada Mama dan Papanya.
__ADS_1
"Nick, ajak ke sini dong ..." goda Fera.
Nicko mengernyitkan dahinya, "Apa yang ajak ke sini? Maksud Mama?"
“Jangan pura-pura deh. Harusnya kamu gerak cepat, Nick. Bawa ke rumah dan segera kenalkan pada Mama dan Papa. Bukannya malah sembunyi-sembunyi seperti ini. Kamu kayak Abede aja," balas Fera.
"Sebentar, Ma, maksud Mama ini apa sih? Nicko gak ngerti sama sekali dengan apa yang Mama bicarakan. Sebenarnya, Mama ngomong apa?" tanya Nicko serius.
"Kamu jangan pura-pura terus, Nick, kamu gitu deh sama Mama. Sama Queen aja kamu ngenalin calon kamu. Kenapa kamu belum mau ngenalin juga ke Mama?" tanya Fera.
"Ngenalin? Sama Queen? S-Siapa sih maksudnya?" Nicko sama sekali tak paham maksud pembicaraan Fera.
Nicko berpikir, tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ia baru menyadari, rupanya Queen pasti berbicara pada Ibunya tentang pertemuannya tadi dengan Giara. Lagi-Lagi, masalah Giara tak pernah lepas dari kehidupan Nicko.
Heran, sungguh heran. Nicko tak mengerti, kenapa akhir-akhir ini kehidupannya malah semakin rumit setelah Nicko mengenal Giara. Setelah Giara ada di dalam kehidupannya, hidup Nicko jadi tak tenang, dan dihantui rasa tak nyaman seperti ini.
"Astaga, Mama ... Mama pasti dengar sesuatu dari Queen ya? Ma, Mama jangan mudah percaya apa kata Queen, dia gak paham, Ma. Dia gak ngerti, apa yang terjadi. Mama kenapa jadi terdoktrin ucapan anak kecil sih?" Nicko mulai menyadari, bahwa semua ini ada hubungannya dengan Giara.
"Loh, masa anak kecil bohong sih? Kamu aja yang apa-apa selalu disembunyikan dari Mama. Iya kan? Nick, kamu jujur aja! Tadi kamu makan sama cewek kamu kan? Kamu juga ajak Queen makan bareng. Terus, kamu ketemu sama Anna, dan Anna juga tanya, kapan kalian ngundang? Kamu mau ngelak apalagi, Nick? Jangan malu, Mama jelas dukung kamu! Mama sangat bahagia kalau kamu sudah temukan pengganti Diana!" tegas Fera begitu mendalam.
Deg. Lagi-Lagi, Queen tak bisa diajak menjaga rahasia. Semua ini sudah sampai ke telinga sang Ibunda. Akan sulit menjelaskannya pada Fera, apalagi semua kebetulan ini terasa begitu seperti nyata.
"Ma, itu Giara, dia mahasiswaku di kampus! Aku gak ada hubungan apapun sama dia. Hubunganku dan dia hanya sebatas dosen dan murid saja. Kenapa Mama harus percaya ucapan Queen sih? Tadi Nicko dan Giara gak sengaja bertemu di Mall, karena Giara membantu Queen. Tadi es krim Queen jatuh. Plis, Ma, jangan mengada-ada lagi. Aku tak punya pacar. dan aku fak dekat dengan wanita manapun. Aku capek, udah ya ..." Nicko meninggalkan sang Bunda sendirian di halaman rumahnya.
"Eh, Nick, Nicko! Tunggu! Main pergi-pergi aja sih!" Fera terus memanggil, namun Nicko mengabaikannya.
Nicko masuk kedalam rumahnya, ia malas terus berbicara dengan sang Mama yang terus mendesaknya. Saat Nicko berjalan menuju kamarnya, tiba-tiba ponsel Nicko berbunyi. Ada sebuah pesan masuk, dan Nicko pun refleks membacanya.
+6281234565432 :
Nick ....
Deg. Nicko kaget membaca isi pesan tersebut. Siapa itu? Kenapa jantung Nicko jadi berdebar hebat saat membaca pesan dari nomor yang tak dikenal tersebut?
__ADS_1
*Bersambung*