Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 67. Ketahuan


__ADS_3

"Kamu mau bawa Mama ke mana?" Fera heran, karena jalan menuju rumahnya jelas bukan lewat sini.


"Kita pergi ke suatu tempat, agar Mama bisa mendengarkan aku, dan memahami keinginanku." jelas Nicko.


"Maksud kamu apa Nicko?" Fera sungguh tak mengerti.


"Tunggu saja, nanti Mama juga akan tahu ke mana Nicko akan membawa Mama," jawab Nicko.


"Jangan aneh-aneh kamu Nick, kenapa sih kamu jadi seperti ini?" Fera amatlah tak nyaman.


Nicko tak peduli dengan ucapan ibunya yang terus menyalahkannya. Ia akan segera pergi ke rumah Giara, agar Fera mengetahui kondisi Giara yang sebenarnya. Sebelum ibunya banyak bicara menjelekkan Giara, ada baiknya Fera melihat kenyataan yang terjadi.


Giara sepertinya masih di kampus, namun Nicko tetap akan memaksakan diri untuk pergi ke rumah Giara sekarang juga. Semua ini karena Nicko tak ingin ibundanya terus-menerus menjelekkan Giara.


Nicko sudah meyakinkan pilihannya, bahwa ia memang akan bersama Giara. Karena itulah, Nicko bersikeras meyakinkan Fera, agar Fera bisa menerima Giara. Walau semua ini takkan mudah, namun Nicko yakin, ia percaya pada kemampuannya.


Tak ada usaha yang akan mengkhianati hasil. Sebisa mungkin, Nicko akan meyakinkan Fera ,bahwa Giara tak seburuk yang ia bayangkan. Giara bukan sugat baby yang begitu hina. Dia hanya terpaksa, Giara hanya tak punya pilihan lain.


Jika saja Nicko bisa bersama Giara, pasti Nicko akan mengubah Giara seutuhnya. Semoga saja usahanya tak sia-sia, walau pasti banyak rintangan yang akan mereka alami.


"Nicko! Jawab Mama! Kamu mau bawa Mama ke mana? Jangan seenaknya ya kamu!" Fera benar-benar sudah emosi.


"Ke rumah Giara, Ma!"


"Ha? Apa? Kamu gila! Untuk apa kamu membawaku ke rumah gadis tak bermoral itu! Hentikan! Putar balik mobilnya dan cepat kita pulang! Jangan sampai aku benar-benar marah padamu, Nicko! Jangan memaksaku, jangan membuatku benar-benar marah padamu!" pekik Fera.


"Maafkan Nicko, Ma. Kali ini Nicko tak akan mendengar ucapan Mama. Maaf, bukan Nicko tak berbakti pada Mama, tapi ... Nicko hanya ingin, Mama tahu keadaan Giara yang sebenarnya. Sehingga, Mama tahu, apa yang sebenarnya terjadi." ujar Nicko.


"Kurang ajar kamu, Nicko! Sekalipun keadaannya memprihatinkan, aku tak peduli! Sekali pel@cur, tetaplah pel@cur!" sentak Fera.

__ADS_1


"Mama, hentikan!" Nicko tak tahan lagi, ia benar-benar kecewa dengan apa yang diucapkan oleh Fera.


Tanpa pikir panjang, Nicko terus melajukan mobilnya menuju kediaman Giara. Hanya berusaha, dan terus mencoba, sebisa mungkin agar Fera mengerti, dan tak keras kepala lagi.


Walau Fera terus berbicara, Nicko tetap membiarkannya. Ia menghela napas panjangnya, mencoba untuk tetap bersikap tenang dan tak terbawa emosi.


Semua ini akan segera berlalu, begitu Nicko menjelaskan dan memberi tahu alasan kuat Guara, mengapa nekad menjadi seorang sugar baby.


Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai di jalan dekat rumah Giara. Fera enggan turun dari mobil, ia bersikeras untuk tetap tinggal di dala mobil.


"Mama gak akan turun!"


"Jangan begitu, Ma! Mama harus ikut Nicko!" pinta Nicko.


"Mama bilang enggak ya enggak! Jangan memaksa, Nicko! Kamu keterlaluan! Hanya karena seorang wanita, kamu jadi begini pada Mama, ha?" pekik Fera.


Fera terdiam. Ucapan Nicko makin sini makin membuatnya merasa canggung. Harus apa dirinya sekarang? Apa yang akan Fera lakukan jika ia masuk ke rumah Giara? Tak mungkin Fera bersikap lemah lembut bukan?


"Ma, please ..." rayu Nicko.


"Untuk apa sih Nick? Tak penting bagi Mama!" Fera masih enggan.


"Hanya sebentar, Nicko janji, hanya sebentar, Ma. Please,"


Nicko memegang tangan ibunya, memohon dengan sangat agar Fera mau mendatangi rumah Giara. Akhirnya, Fera pun luluh juga karena Nicko terus merayunya.


Mereka berdua keluar dari mobil, namun tak segera masuk ke rumah Giara. Nicko meminta Fera bersembunyi dibalik mobilnya. Sebelum masuk kedalam, Nicko ingin ibunya tahu, tentang sisi kehidupan Giara.


"Ma, rumah itu adalah rumah Giara. Dia adalah gadis yang kurang mampu. Di rumah itu, dia hanya tinggal dengan ibunya, karena Ayahnya telah meninggal. Nahasnya, ibunya mengidap penyakit komplikasi. Tubuhnya mengalami struk, hingga hampir setengah badannya tak berfungsi. Sehari-harinya, Ibu Giara memakai kursi roda. Tak ada jaminan kesehatan yang mereka miliki, hingga semua biaya pengobatan ibunya, biaya berobat jalan harus mereka tanggung sendiri. Mama bayangkan saja dulu,"

__ADS_1


Fera merasa kaget ketika mendengar Nicko menjelaskan dengan begitu panjang lebar. Benarkah semua itu? Apakah Nicko sedang membohonginya?


"Kamu gak bohongin Mama?" tanya Fera refleks.


"Enggaklah, Ma. Jika Mama mau, kita bisa masuk kedalam dan bertamu. Namun, sepertinya Giara belum pulang dari kampus. Dan, karena biaya berobat jalan yang tak sedikit, akhirnya Giara terpaksa bekerja melayani pria-pria tua yang mau menyewanya, Ma. Yaitu, menjadi seorang sugar baby. Tapi, perlu Mama tahu, Giara tak seperti sugar baby pada umumnya. Dia tak memakai tubuhnya untuk menemani mereka. Giara hanya ingin uang agar bisa mengobati ibunya yang sakit."


Nicko terus meyakinkan Fera, agar pandangan Fera pada Giara berubah. Semoga saja, Fera mau menerima Giara, walau pada kenyataannya semua itu mungkin butuh proses yang tak sebentar.


Nicko terus memerhatikan rumah Giara, hingga lama-lama keluarlah seorang Ibu paruh baya yang tengah menggunakan sebuah kursi roda. Ia adalah Ibu Giara.


Terlihat Ibu Giara tengah mengambil sebuah handuk yang dijemur di teras rumah itu. Sontak saja Fera kaget melihat sosok Ibu tua itu. Ternyata benar saja, jika ibunda Giara memang tak bisa berjalan dan tengah menggunakan kursi roda.


"Mama lihat kan? Itu adalah ibunya Giara. Ibu itu sudah tak bisa berjalan Ma. Nicko tak berbohong. Mama harus percaya pada Nicko. Dan Nicko harap, Mama sadar, jika Giara melakukan semua ini karena terpaksa. Karena ia harus tetap bertahan hidup dan menjadi tulang punggung bagi keluarganya. Mama, jangan pandang Giara sebelah mata. Dia hanya terpaksa melakukan profesi nakalnya itu. Tujuan Nicko mengejarnya, Nicko ingin merubah dia, agar menjadi wanita yang lebih baik lagi, Ma. Nicko ingin dia tak sendiri lagi. Kasihan dia Ma, menjalani kehidupan pahit ini hanya berdua dengan ibunya."


Fera kaget bukan main, bisa-bisanya Nicko mengatakan hal itu padanya. Mendengar penjelasan Nicko, membuat Fera mulai mengerti sisi kehidupan Giara. Tapi, haruskah Fera menyetujui Nicko dan Giara?


Saat Nicko dan ibunya tengah memerhatikan rumh Giara dan ibu Giara, tiba-tiba saja dari belakang mereka ada seseorang yang datang. Tentu saja kedatangannya mengagetkan Nicko dan juga Fera.


"Pak Nicko, ngapain Bapak di rumah saya?"


Deg. Rupanya itu Giara.


Nicko berbalik saking kagetnya, "G-Giara? Kenapa kamu sudah pulang?"


"Dosennya gak ngajar. Saya tanya, Bapak ngapain di sini?"


Astaga, aku malu. Aku malu ketahuan. Harus bagaimana ini?


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2