
Siapa sangka, tragedi Giara dan Nicko semakin dekat, tercium oleh Anita. Anita adalah teman Nicko, yang pada saat itu ikut reuni di Bali bersama.
Rupanya, selama ini Anita mengintai kedekatan Nicko dan Giara. Anita mencari tahu, sedekat apa mereka dan selalu melaporkannya pada orang yang begitu merindukan Nicko.
Siapa lagi kalau bukan Diana? Selama ini, Diana menjadi silent people dalam kedekatan Nicko dan Giara. Padahal, Diana jelas mengamati semua ini. Awalnya, Diana akan merelakan Nicko. Namun melihat Nicko terlihat bahagia dengan Giara, membuat Diana merasa kecewa dan sakit hati.
Di sebuah cafe yang mulai padat pengunjung, Diana tengah berbincang dengan Anita. Mereka tengah membahas Nicko dan wanitanya. Ada beberapa hal yang harus Diana katakan pada Anita, dan itu tentu saja menyangkut Nicko.
"Jadi kemarin mereka berduaan lagi?" tanya Diana.
"Ya, mereka makan di restoran bersama. Gue gak sengaja lihat. Harusnya lo jangan gini terus, Na, bisa-bisa gak ada kesempatan buat balik lagi sama Nicko. Kapan lo minta cerai sama Pria tua itu? Toh, sekarang utang keluarga lo udah lunas kan, dan ternyata pria tua itu gak punya keberanian apa-apa sama lo!" ujar Anita.
"Sebenernya gue bingung, kenapa suami gue tiba-tiba jadi acuh dan gak peduli sama gue. Bahkan, beberapa waktu lalu, saat dia ulang tahun, dia gak ada di rumah, dan gak berharap seperti tahun-tahun yang lalu. Sepertinya dia punya wanita lain, dan berpaling dari gue. Hans gak biasanya kayak gini. Dia kan udah janji, akan setia sama gue kalau gue mau nikah sama dia Sekarang gue curiga, dia pasti gak akan mau kasih hartanya sama gue. Kalau gue minta cerai, kayaknya dia pasti ngizinin gitu aja. Dan itu sulit, gimana kalau Nicko gak bisa kembali ke pangkuan gue?"
Anita terdiam mendengar Diana terus berbicara. Diana mungkin kini dilema, menjadi wanita serakah tentunya bukan hal yang mudah. Dahulu, ia dipaksa keluarganya untuk menikah dengan Hans Wijaya, pria yang berbeda hampir 15 tahun dengan usianya.
Diana kira, Hans adalah pria yang jahat dan kejam. Nyatanya, Hans begitu baik, dan tak seperti bayangannya. Lambat laun, Hans ternyata malah jatuh cinta padanya dan mencoba mencintai Diana dengan sepenuh hatinya.
Diana sangat membenci hal itu terjadi. Ia tak ingin Hans mencintainya, ia ingin Hans membencinya dan membiarkan Diana pergi agar bisa kembali pada Nicko.
Tiga tahun berlalu, kedua orang tua Diana meninggal karena kecelakaan. Diana sedih sekaligus merasa lega, karena kepergian mereka, membuat Diana tak akan lagi terkekang dengan sang suami, Hans Wijaya.
Diana mencari jalan keluar untuk berpisah dengan Hans. Hal ini akan terasa mudah, karena kedua orang tuanya telah tiada. Diana hanya perlu menunggu waktu agar semua aset dan kekayaan milik Hans jatuh ke tangannya.
Tapi sampai saat ini, sampai enam tahun berlalu, Hans tak pernah juga memberikan kekayaannya untuk Diana. Diana sudah berulang kali meminta balik nama saham dan perusahaan milik Hans, namun Hans sepertinya tahu akal bulus Diana. Ia tak pernah memberikan sahamnya sedikitpun pada Diana.
"Emang si bandot tua itu masih belum juga ngasih saham atas nama elu, Na? Mau sampe kapan lu nunggu kayak gini. Kalau si Nicko gak punya cewek sih posisi lu tetep aman, Na. Tapi kan, kondisinya dia udah punya pacar. Daaan, gak mungkin ada kesempatan buat lo dapetin Nicko lagi! Harusnya lu bertindak cepat, dan menggugat cerai bandot tua itu. Ancam aja dia, biar secepatnya ngasih saham ke elu!" Anita memberi saran.
"Itu dia. Akhir-Akhir ini dia cuek sama gue. Dia gak peduli gue mau ngapain pun. Gak kayak dulu, saat awal-awal pernikahan gue sama dia. Dia begitu peduli sama gue. Walau gue amat jijik sama tingkahnya, tapi terasa banget kalau dia gak mau kehilangan gue. Beda sama sekarang, Nit. Entahlah, gue takut cerai sama dia tapi gue gak dapatkan apa-apa." jelas Diana.
__ADS_1
"Tapi kan lo tahu resikonya? Lo lihat, Na, sekarang Nicko udah move on. Dia udah punya pengganti lo, Na. Sepertinya lo gak akan bisa masuk ke dunia Nicko lagi. Apalagi, menemui anak lo, dan mengakui jika lo adalah Ibu kandungnya!" saran Anita.
"Terus gue harus gimana? Pria tua itu memang kurang ajar! Dulu aja dia begitu baik sama gue. Tapi sekarang kenapa dia seakan-akan jual mahal gini saat gue mau kembali sama Nicko. Aarrggghh, nyebelin banget!"
"Lo terlalu lama diam dan gak bertindak! Jadi semuanya terlambat! Gak usah ribet deh, hipnotis aja suami tua lo itu, biar dia ngikutin apa yang lo mau!" saran Anita.
"Gila lu emang. Yang rasional dong kalo ngomong! Hal kayak gitu itu cuma halu belaka aja tahu! Gila emang lu," Diana kesal.
"Yaudah lu pikir sendiri deh caranya. Kalau lu butuh bantuan gue, lu tinggal bilang aja. Ikut pusing gue jadinya." Anita kebingungan.
Diana terdiam. Ia berharap jika akan ada jalan keluar untuk kebahagiaan dirinya. Selama ini, ia terpaksa meninggalkan Nicko, karena kedua orang tuanya tak setuju atas pernikahannya dengan Nicko.
Semua itu karena hubungan orang tua Diana dan orang tua Nicko tak akur. Ditambah lagi, saat itu orang tua Diana terlilit banyak utang, sehingga mereka meminta bantuan Hans Wijaya, untuk mau melunasinya ,dengan menyerahkan Diana pada Hans Wijaya.
.....
Di pintu masuk cafe tersebut, rupanya Giara baru saja masuk bersama Om Roy. Ternyata, Giara tak bisa menuruti permintaan Nicko. Apa alasannya? Tentu saja semua karena jasa Om Roy pada Giara terlalu banyak.
Om Roy lalu mengajak Giara untuk duduk di sofa dan menikmati hiburan di cafe ini. Om Roy pun memesan beberapa makanan untuk Gjara dan tentu juga untuk dirinya.
"Kamu kenapa sih akhir-akhir ini sibuk sekali? Jangan coba-coba untuk tinggalkan Om ya, Diva! Kamu tahu kan, jika Om selalu memberikan apa yang kamu inginkan." Ucap Om Roy dengan nada sedikit mengancam.
Giara terdiam. Ia begitu gugup karena ucapan Om Roy terdapat penekanan yang membuat Giara sedikit gugup. Giara hanya mengangguk tanpa menjawab ucapan Om Roy.
"Apa kamu sibuk dengan kuliahmu? Apa dosen itu menyulitkanmu? Jika iya, kamu bisa bilang pada Om, untuk pindah universitas saja." ucap Om Roy lagi.
Deg. Giara mulai kaget bukan main. Dosen itu? Dosen siapa maksudnya? Apakah Nicko? Apakah Om Roy mengenal Nicko?
“D-Dosen siapa, Om? Apa yang Om tahu?" Giara sedikit kaget.
__ADS_1
"Dosen yang pernah menyewamu itu. Akulah orang yang memberikan nomormu pada bawahanku. Dia berkata, untuk membantunya berpura-pura menjadi kekasihnya." jelas Om Roy.
"Ya Tuhan, Kak Fadli maksudnya? Jadi, Om ini adalah Bos nya Kak Fadli? Teman Pak Nicko?"
Om Roy mengangguk, "Ya, Fadli adalah anak buahku. Dia salah satu staff di ruanganku."
Astaga, ternyata semua kebetulan ini berasal dari Om Roy. Hingga aku dan Pak Nicko terlibat sejauh ini. Ucap Giara dalam hati.
Saat Giara tengah terlibat pembicaraan penting dengan Om Roy, tiba-tiba saja, pandangan Diana yang tengah duduk di meja bartender menatap kearah Giara dan Om Roy yang tengah saling merangkul.
"Mungkin si bandot tua itu juga sekarang udah nyewa-nyewa gula (sugar baby) kali ya. Pantesan ke gue jadi acuh dan gak peduli gitu. Kayak mereka yang di ujung sofa sana tuh! Eh, tapi, kok gue kayak pernah liat itu gula ya. Wajah gula itu gak asing deh. Tapi di mana ya liatnya?" Diana berpikir.
"Ngomong apaan sih lo?!" tanya Anita sembari memakan buah yang ada dihadapannya.
"Itu, gue lagi merhatiin gula sama sugar daddynya. Keinget juga deh, kalau suami gue juga bisa aja kan sekarang ini nyewa yang begituan. Jadi ke gue dia udah gak peduli lagi." ucap Diana mengulang pembicaraannya.
"Gula mana sih?"
“Noh, yang di sofa merah itu! Gue kayak kenal, tapi di mana ya?" tunjuk Diana pada sofa Om Roy dan Giara.
Refleks Anita melihat kearah yang ditunjuk Diana. Saat melihat kearah sofa tersebut, sontak saja Anita menyemburkan makanan yang tengah ia kunyah. Anita kaget bukan main, karena ia sungguh mengenal gadis yang tengah dirangkul oleh Om-Om itu.
"Astaga Diana! Apa lu gak kenal dia siapa? Bukankah elu juga sering lihat fotonya? Padahal gue udah sering banget kirimin foto dia sama lo. Dan masa lo gak sadar dia siapa? Gila, gue kaget bukan main. Bener-Bener kaget lihat pemandangan luar biasa ini!" Anita nampak percaya tak percaya.
"Hah? Masa sih? Siapa emangnya? Keliatannya, make up dia tebal, jadi gue gak ngeuh juga," jawab Diana.
"Lo pasti gak ngenalin dia secara jelas, karena lampu di sini juga redup kan. Tapi, gue yakin seratus persen, kalau sugar baby yang lagi rangkul-rangkulan sama Om-Om itu adalah Giara! Dia kekasih Nicko, Na! kekasih Nicko! Lo bayangin aja, gila banget gak sih ini! Astaga, sumpah gue speechless banget! Aaarrghhh, gak nyangka gue!"
"A-apa? G-Giara? Kekasih Nicko?" Diana kaget bukan main mendengar nama itu.
__ADS_1
*Bersambung*