Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 22. Marah Tak Tahu Tempat


__ADS_3

Nicko membaca isi pesan tersebut. Ia mengernyitkan dahinya, entah siapa yang mengiriminya pesan saat ini. Baru saja Nicko akan membalas pesan tersebut, tiba-tiba Ibunda Nicko memanggilnya, dan Nicko pun melupakan pesan tersebut.


Nicko memang tak terlalu penasaran dengan pesan tersebut, karena ia seringkali mendapat pesan spam seperti itu. Biasanya, pesan itu hanya berasal dari teman-temannya yang iseng dan kurang kerjaan saja.


Waktu berlalu begitu cepat, hingga keesokan harinya, Nicko kembali beraktifitas untuk mengajar di kampus. Setiap pagi, Nicko tak lupa menyapa sang putri dan mencium keningnya.


Hanya itu yang bisa Nicko lakukan. Beruntungnya, Nicko memiliki sosok Ibu yang bisa menjadi Ibu juga untuk anaknya. Jika tak ada Fera, entah akan bagaimana nasib Queen.


"Pagi anak Ayah ..., sarapan yang banyak ya," sapa Nicko pada Queen yang tengah asyik memakan rotinya.


"Iya Ayah ... Ayah juga, ngajarnya yang semangat ya. Kan nanti di sana Ayah bakalan ketemu sama Kakak baik lagi," ujar Queen polos.


"Eh, apa sih sayang ... udah, fokus sama sarapanmu saja," Nicko mengalihkan pembicaraan.


Papa Nicko yang tengah sarapan pun mendengar ucapan Queen tersebut, "Kakak baik itu siapa? Kenapa tak pernah dibawa ke rumah? Ajak ke sini dong, Nick ..."


"Eh, astaga, jangan dengarkan Queen. Itu hanya gurauannya saja. Dia mahasiswaku Papa. Queen, jangan bicara yang tidak-tidak. Opa jadi salah mengartikan ucapanmu ...," ujar Nicko.


"Maafin aku Ayah. Tapi, kalau aku minta buat ketemu lagi sama Kakak baik, apa boleh Ayah?" tanya Queen dengan wajah polosnya.


Deg. Nicko benar-benar tak sangka dengan apa yang diucapkan oleh Queen. Ucapannya benar-benar terkesan tulus dari dalam hatinya. Namun, tak mungkin hal itu terjadi, karena Nicko dan Giara pun tak ada hubungan apapun.


"Ya enggak bisa dong, Queen. Pertemuan kemarin kan hanya kebetulan saja. Dia hanya murid Ayah di kampus. Kamu tak boleh berlebihan seperti itu ya," ucap Nicko.


"Memang dia siapa? Jika Queen ingin bertemu dengannya, kenapa tidak, Nick? Biarkan saja mereka bertemu dan bermain.” Ucap Papa Nicko serius.


“Dia hanya mahasiswiku di kampus. Aku juga tak terlalu mengenalnya, Pa. Biarkan saja Queen, tak usah terlalu mendengarkannya.” Nicko sangat malas, ketika yang dibahas Giara lagi, Giara lagi.


Setelah mengenal Giara, hidup Nicko jadi kacau balau. Nicko sangat kesa, kenapa dirinya selalu ada sangkut pautnya dengan Giara? Apalagi, keinginan tak masuk akal Queen, sangatlah membuat Nicko marah dan kesal. Jika saja Nicko tak menyewa Giara saat itu, mungkin saja rasanya tak akan secanggung ini.


Apalagi, kini Giara mengetahui semua rahasia Nicko. Nicko malu, jika seluruh kampus mengetahui kalau dirinya seorang duda beranak satu. Cukup Giara saja yang mengetahuinya, karena Nicko sudah terlanjur basah berkata pada semua anak di kampus, jika dirinya masih perjaka dan belum menikah.

__ADS_1


Kebohongan itu terjadi karena rasa malu Nicko yang terlalu dalam, karena ditinggalkan oleh Diana, sang mantan istri, Nicko tak menerima status dudanya karena luka yang diberikan oleh Diana. Hati Nicko hancur, terluka, jika mengingat masa-masa kelam Diana yang meninggalkannya.


Betapa kasihannya Queen, yang masih bayi ditinggalkan begitu saja, hal itu membuat Nicko sangat malu dan menjadi tak percaya diri. Nicko sangat mencintai Diana, namun sayangnya, Diana tak memiliki perasaan yang sama seperti yang Nicko rasakan. Jika Diana mencintai Nicko, tak mungkin Diana akan pergi meninggalkan Nicko, dan juga buah hati mereka.


Nicko meninggalkan ruang makan, dan ia segera beranjak menuju garasi rumahnya untuk menghidupkan motor. Daripada terus mendengar ocehan Queen yang tak jelas, lebih baik Nicko segera bersiap untuk pergi ke kampus. Ingin rasanya Nicko menghindari kedua orang tuanya, karena mereka selalu saja ingin Nicko mengenalkan wanita pada mereka. Padahal, Nicko tak sedikitpun tertarik untuk mencari cinta lagi.


Saat Nicko akan membawa tas kerjanya, tiba-tiba sebuah panggilan masuk memenuhi layar ponselnya. Nomor tak dikenal memanggilnya. Nicko mengernyitkan dahinya, ia merasa aneh, karena akhir-akhir ini selalu saja ada yang mengganggunya.


Nicko berasumsi jika ini adalah ulah mahasiswanya di kampus, karena Nicko merasa pernah menuliskan nomor ponselnya di mading kampus. Nicko pun tak mengangkat panggilan tersebut. Karena jika panggilan dari nomor tak dikenal, tentu saja itu pasti iseng dan tak serius.


Tiba-Tiba, sebuah panggilan masuk lagi-lagi mengganggu Nicko. Kali ini, Nicko melihat, bahwa nomornya tak disembunyikan. Nomor ponselnya sama seperti nomor ponsel yang kemarin mengirimi pesan padanya. Akhirnya, mau tak mau Nicko pun mengangkatnya. Ia paling tak suka diganggu, karena itulah, Nicko harus menegaskannya.


“Halo, siapa ini?” sapa Nicko di ponselnya.


Hening. Tak ada yang menyahut dalam panggilan itu. Telepon masih tersambung, namun tak ada suara sedikitpun yang membalas perkataan Nicko. Nicko semakin heran dibuatnya. Ia sungguh merasa terganggu atas panggilan iseng seperti ini. Kesal, namun Nicko tak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya, Nicko kembali berbicara agar penelepon misterius itu tak mengganggunya lagi.


“Saya sangat sibuk, jika kamu hanya ingin mengerjai saya, bukan seperti ini caranya. Saya tak suka dengan orang yang membuang-buang waktu. Jangan pernah menghubungi saya dengan hal konyol seperti ini lagi. Jangan menjadi pengecut! Jika berani, temui saya, dan berbicara pada saya secara empat mata.” Tegas Nicko, ia akan segera mematikan ponselnya.


Menyusahkan saja, orang-orang seperti itu apa tak ada kerjaan? Memanggil orang dan tak berbicara sedikit pun. Ada baiknya aku blokir saja nomor ini. Ucap Nicko seorang diri.


Akhirnya, tanpa basa-basi, Nicko segera memblokir nomor tersebut. Ia tak ingin berhubungan dengan orang-orang tak penting. Hidupnya kini harus serius, Nicko bukan anak muda lagi, yang hanya menghabiskan waktu dengan sia-sia. Selepas menyelesaikan semuanya, Nicko pamit pada Queen dan kedua orang tuanya, lalu ia segera bergegas ke kampus untuk mengajar.


...........


Beberapa jam kemudian, Nicko mulai produktif mengajar kembali. Kali ini, giliran Nicko mengajar di kelas Giara. Kelas yang Nicko anggap keramat, karena ada Giara didalamnya. Bertemu Giara, seperti Nicko tengah berkaca pada sebuah kaca. Kenapa bisa begitu? Karena Giara tahu semua aib memalukan Nicko.


Menatap Giara, terkadang merasa jika aibnya bisa saja terbongkar begitu saja. Ingin rasanya Nicko menjauh dari Giara, namun nyatanya tak bisa. Nicko harus tetap menghadapi Giara, seakan-akan tak ada apa-apa dan tak ada sesuatu apapun yang terjadi antara mereka. Saat pembelajaran berlangsung, muka Nicko terlihat masam dan tak enak dipandang.


Giara dan Belva memerhatikan dosen dingin mereka itu. Lagi-Lagi Giara berasumsi, jika Nicko seperti itu karena Nicko memang labil. Umur Nicko boleh tua, tapi sifat dan kelakuannya itu seperti anak kecil yang menyebalkan. Kali ini Giara kebingungan, karena ia ada janji dengan Om sugar daddynya. Seperti biasa, Giara ingin izin pulang lebih dulu.


Namun melihat wajah Nicko yang tak sedap dipandang, membuat Giara malas untuk meminta izin. Tapi, ia ta punya pilihan lain, karena hari ini adalah hari ulang tahun Om Hans, dan Giara sudah berjanji, akan memberikan surprise pada pria paruh baya itu.

__ADS_1


Giara meminta izin karena ia harus membeli kue dan kado untuk Om Hans. Namun, bagaimana meminta izin pada Nicko? Apakah kali ini Giara akan diizinkan? Giara menghela napas panjangnya, ia memberanikan diri maju ke depan dan bertanya pada Nicko.


Yang membuat Giara berani adalah karena ia telah melakukan perjanjian denan Nicko. Jika, Giara akan menyembunyikan rahasia Nicko, dan Nicko pun harus mengerti posisi Giara. Walau hal itu mendapat penolakan dari Nicko, namun Giara akan tetap mencobanya.


“Pak Nicko,” Giara berada di depan meja Nicko.


Nicko tak menatap Giara sedikitpun, ia lebih fokus pada tugas anak-anak lainnya, “Hmm?”


Giara berbicara sembari berbisik, “Pak, biasa, saya mau izin ...”


Deg. Nicko mengangkat wajahnya, lalu ia menatap tajam pada Giara. Nicko sudah tahu, jika Giara pasti akan menemui pria-pria tua itu lagi. Entah kenapa, Nicko merasa tak rela jika Giara terus melakukan hal tersebut. Nicko benci, mendengar Giara meminta izin seperti ini.


Nicko menghela napas panjang, Nicko pastikan tak akan lagi membiarkan Giara harus melayani Om-Om lagi. Nicko juga tak mengerti, kenapa ia begitu tak rela melihat Giara seperti itu. Nicko sangat menyayangkan, gadis secantik Giara, harus menyia-nyiakan dirinya pada banyak pria. Ibarat piala bergilir yang terus digilir ke manapun orang membutuhkannya.


“GIARA DIVANIA, kamu tahu, sudah berapa kali kamu bolos dan meminta izin? Apa kamu tak punya muka, terus saja meminta izin? Kamu pikir, saya akan memberimu izin? Wanita sepertimu ini tak boleh diberi hati! Kamu pasti akan melakukan hal negatif itu kan? Hey, hidupmu masih panjang! Masa depanmu masih cerah! Kenapa kamu harus buang-buang waktu dan melakukan hal yang diluar norma? Berpikir! Jangan hanya uang, uang, uang saja yang dipikirkan! Kamu saya beri nilai E untuk kali ini!" Nicko benar-benar blak-blakkan, ia tak memedulikan hati dan perasaan Giara sedikitpun.


Mata Giara berkaca-kaca, ia malu, jati dirinya seakan dibongkar begitu saja oleh Nicko. Giara tak pernah menyangka, jika Nicko akan berkata sekejam itu padanya.


Sungguh menyakitkan sekali kata-kata yang keluar dari mulut Nicko. Giara malu pada teman-temannya yang lain. Ucapan kali ini sangat diluar batas, dan Nicko benar-benar menghancurkan jati diri Giara.


Semua temannya mendongak keheranan, mendengar ucapan Nicko pada Giara. Mereka semua jadi bertanya-tanya, mengapa semudah itu Nicko mengatakan sesuatu tentang Giara.


Suasana kampus jadi ricuh, mahasiswa lain terheran-heran dan jadi bertanya-tanya tentang apa yang dibicarakan oleh Nicko. Giara menangis, air matanya tak henti-hentinya mengalir.


Tanpa pikir panjang, Giara segera mengambil tas di mejanya, dan pergi meninggalkan ruangan kampus. Giara sudah tak peduli dengan penolakan Nicko. Masa bodoh jika Nicko tetap akan memberi nilai jelek pada mata kuliahnya, yang jelas saat ini Giara sangat malu, dan harus menutup mukanya karena ucapan memalukan Nicko.


Belva kaget, ia tak tahu harus berbuat apa. Apalagi, kepergian Giara, tak merubah sedikitpun perilaku dingin dan kejam Nicko. Nicko meminta semua tetap tenang dan melanjutkan tugasnya kembali.


Nicko terdiam, lama-kelamaan hati dan pikirannya mulai kembali jernih. Nicko sendiri tak mengerti, kenapa tadi dia berulah begitu kejam pada Giara? Nicko tak sadar telah memaki Giara di depan rekan kampusnya.


Tuhan, apa yang baru saja aku lakukan? Apa aku salah memarahinya? Kenapa ini? Kenapa aku jadi posesif begini pada Giara? Giara, maafkan aku. Maafkan mulutku yang keterlaluan ini. Giara, kamu pasti sakit hati kan dengan ucapanku barusan? Gila, kenapa aku harus seperti itu padanya? Haruskah aku meminta maaf padanya? Giara, di mana kamu sekarang? Ucap Nicko dalam hatinya.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2