Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 53. Bertemu!


__ADS_3

Di dalam mobil ....


Giara tak sedikitpun menoleh Nicko. Ia kesal, benar-benar kesal pada Nicko malam ini. Berkali-kali Nicko menatap Giara, Nicko sudah merasa, jika Giara pasti marah padanya.


Nicko pura-pura terlihat biasa saja, ia tak terlalu memikirkan Giara yang kesal padanya. Lambat laun juga Giara akan mencair seperti biasanya. Tapi Nicko sedikit heran, kenapa Giara terus memegangi perutnya.


"Kamu sakit perut?" Giara memberanikan diri bertanya pada Nicko.


"Ya, cepetan bawa mobilnya!"


"Mau ke toilet dulu? Rumah kamu masih jauh, lho,"


"Aku sakit perut bukan karena mau ke toilet, tapi karena aku lapar!" sentak Giara.


"Astaga, kamu lapar? Kenapa kamu gak bilang? Kenapa kamu malah diem aja? Kan tadi bisa bilang pas di rumah kalau kamu lapar, jadi kita bisa makan di rumah." jawab Nicko.


"Enak banget ya Pak Nicko ngomong. Aku sejak tadi bersama Om Hans aja gak makan apa-apa. Gimana mau makan, perasaanku aja gak enak. Pas di rumah Bapak, Pak Nicko sendiri kan yang bilang kalau udah makan." Giara tak malu-malu lagi.


"Ya Tuhan, benarkah begitu? Kenapa aku tak menyadarinya?" Nicko benar-benar polos.


"Tahu, ah. Pokoknya, cepat pulang. Aku lapar, aku mau makan."


"Kita makan di restoran aja ya?" bujuk Nicko.


"Enggak, ah. Ini udah malem. Kasihan Ibu, aku gak bilang ada kerjaan malam ini." jawab Giara.


"Ya udah, beli makanan untuk dibungkus aja ya?"


"Gak usah, Pak," Giara sudah terlanjur malas.


"Kenapa gak usah? Apa di rumah kamu punya makanan?" tanya Nicko.


"Gampang, aku tinggal masak mie sama telor aja," jawab Giara enteng.


"Nggak, gak boleh. Itu jelas gak sehat! Udah, kita beli temen nasi dulu aja. Setelah itu aku janji, bawa mobilnya dengan cepat, biar cepet nyampe juga ke rumah kamu." Nicko segera mencari restoran untuk membelikan Giara makan malam.


"Eh, gak usah, Pak, gak usah." Giara enggan menerima kebaikan Nicko.


"Jangan berisik. Pantesan aja tuh badan kamu kurus kering gitu. Diisinya sama makanan yang gak bergizi terus, sih." sindir Nicko.


"Eh, Pak Nicko, sembarangan aja kalo ngomong!" Giara tak terima.


Akhirnya, Nicko melipir ke sebuah restoran khas sunda, yang menyajikan berbagai menu makanan dari mulai sayur, lalapan, sambal ,ikan, daging dan sebagainya.

__ADS_1


Nicko benar-benar memesankan Giara menu empat sehat lima sempurna. Lengkap dari karbohidrat, protein nabati, protein hewani, hingga sayurnya. nIcko sengaja, karena ia merasa Giara harus makan makanan dengan gizi seimbang.


Sepertinya, selama ini Giara tak pernah memerhatikan kesehatannya. Apalagi makanannya. Giara tercengang melihat Nicko memesankan begitu banyak makanan. Seperti bukan untuk satu orang, melainkan lima orang.


"Pak, ini buat siapa aja? Buat di rumah Pak Nicko juga ya?" tanya Giara polos.


"Siapa bilang? Ini cuma buat kamu aja!"


"Apa? Buat aku aja? Astaga, Pak Nicko gak salah? Pak ini sih kebanyakan ish. Ibu gak bisa banyak makan, Pak. Lagian, di rumahku gak ada siapa-siapa lagi. Pak Nicko ini terlalu banyak! Bapak berlebihan banget, sih," Giara benar-benar tak terima.


"Gak salah. Kamu harus makan banyak. Ini untuk malam ini dan besok pagi. Kamu taruh di kulkas aja sayur atau lalapannya, mungkin besok pagi masih bagus, dan dihangatkan sebentar."


Giara terdiam. Entah ia harus menjawab apa, karena Nicko merasa sudah yakin dengan apa yang dia beli. Ingin menolak, tapi rasanya tak enak. Kenapa juga Nicko harus se-perhatian ini padanya?


"Kamu harus banyak makan, biar badan kamu berisi." Nicko menenteng bungkusan itu sembari berjalan ke mobil.


"Ya gak segini banyak juga kali, Pak. Nanti saya gendut, apa Bapak mau tanggung jawab? sedangkan buang-buang makanan itu kan gak boleh! Kasihan mereka, mubadzir jadinya ..." Giara melakukan pembelaan.


"Ya konteks-nya bukan gendut. Tapi berisi, Giara. Kalau kurus gini, pakai gaun pengantin itu kurang bagus. Kalau sedikit berisi kan bakalan bagus banget."


"A-apa? G-gaun pengantin?" Giara kaget.


"Ya, gaun pengantin. Kenapa memangnya?"


"Deket lah. Kan ini calon kamu!" Nicko terkekeh.


"Astaga, Pak Nicko!" Giara malu, benar-benar malu.


Mereka pun segera naik ke mobil, dan Nicko bergegas mengantar Giara pulang. Nicko merasa bersalah, karena tak mengingat jika Giara belum makan. Saking bercampurnya emosi Nicko tadi, ia bisa-bisanya tak mengajak Giara untuk makan.


Maafkan aku, gadis cantik. Karena aku, kamu sampai kelaparan begini. Ucap Nicko dalam hati, begitu ia memerhatikan Giara yang tengah memakai sabuk pengaman.


Keesokan harinya ...,


Pagi ini, seperti biasa Queen akan diantar oleh Fera. Baby sitter Queen tengah pulang kampung sejak beberapa hari yang lalu, sehingga Queen harus diantar jemput lagi oleh Fera.


"Maafin Nicko Ma, Nicko ada kelas pagi, jadi Nicko gak bisa antar Queen," ucap Nicko.


"Gak apa-apa. Paling nanti Queen Mama tinggal sebentar. Mama ada urusan sama Bu Ajeng." jawab Fera.


"Baiklah, Mama diantar supir Papa kan?"


"Iya, Nick. Udah gak apa-apa. Kamu tenang aja, jangan merasa bersalah seperti itu."

__ADS_1


Queen dan Fera pun berangkat ke sekolah. Sesampainya di sekolah, Fera menunggu sampai Queen masuk, karena ia akan bertemu dengan Bu Ajeng. Ada urusan mendadak tentang arisan bulanan mereka.


Waktu terus berlalu, hingga Queen kini tengah beristirahat dari sekolahnya. Fera rupanya belum datang kembali, karena masih ada urusan dengan Bu Ajeng.


Queen pun beristirahat dengan temannya, karena ia juga sudah mengerti jajan sendiri. Saat Queen tengah duduk di taman sekolahnya, tiba-tiba, ada seorang wanita dari belakangnya, yang memanggilnya.


"Q-Queen ...," suaranya nampak bergetar, terasa sekali jika ia benar-benar gugup.


Queen pun berbalik, "Iya, Tante?"


Queen menatap wajah wanita yang memanggilnya. Wajah polosnya menatap wanita itu. Queen sedikit heran, wajah wanita itu terlihat berkaca-kaca dan sedih.


"Tante kenapa? Tante siapa cari Queen?" Queen refleks bertanya.


Dialah Diana. Dia sengaja menemui Queen dan memberanikan diri untuk melihat anak semata wayangnya. Awalnya, Diana begitu tak sanggup menatap dan bertemu Queen.


Dosanya pada Queen terlalu besar, sehingga Diana merasa malu untuk menatap anaknya. Tak pernah terbayangkan, jika Queen akan menjadi sosok yang cantik dan menawan seperti ini.


Queen begitu mirip Diana saat kecil. Hidungnya, rambutnya, matanya, benar-benar mengingatkan Diana pada wajah masa kecilnya.


"Queen sedang istirahat? Yang mengantar sekolah siapa?" tanya Diana dengan suara bergetar.


"Oma, tapi Oma belum kesini. Tante siapa? Kenapa Tante mengenal Queen?"


“Tante, mm, Tante a-adalah, Tante adalah teman Papa Queen. Iya benar, Tante adalah teman Papa Queen." jawab Diana gugup.


"Queen gak punya Papa, Tante. Queen punyanya Ayah." jawab Queen polos.


"Ah, iya, maksud Tante, Tante teman Ayah Queen, Ayah Nicko ..." Diana jadi gugup bukan main.


"Benarkah Tante?" Queen tak percaya.


Tiba-tiba, Fera, ibunda Nicko datang dan menghampiri Queen yang tengah didekati oleh seorang wanita.


"Maaf, siapa ya?" tanya Fera.


Diana pun berbalik, "M-Ma-Ma ..."


Fera melotot saking kagetnya, ia tak menyangka ,dengan sosok wanita yang ada dihadapannya ini, tengah menemui cucunya.


"K-Kamu!" Fera terlihat emosi, ia tak bisa menyembunyikan kekesalannya pada Diana.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2