Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 57. Menolong Giara


__ADS_3

Akhirnya, Nicko dan Bu Sinta datang ke ruangan penasehat kampus. Nicko berharap, jika ia bisa menggagalkan rencana pihak kampus untuk memberhentikan Giara. Semua ini Nicko lakukan karena Nicko tak ingin Giara terluka.


Ada perasaan luar biasa dari Nicko untuk Giara. Walau cinta itu belum terucap, tapi perbuatan Nicko telah menggambarkan, jika duda beranak satu itu begitu ingin melindungi Giara.


Cinta memang tak harus diucapkan dengan kata-kata, namun cinta bisa diekspresikan dengan perlakuan manis dan sentuhan hangat dari sang pemberi cinta. Jika Nicko tak bisa mengatakan cinta pada Giara, mungkin saja Nicko memang tipe pria yang mengungkapkan cinta dengan perbuatan.


Seperti saat ini, setelah makan siang selesai, Nicko mengajak Bu Sinta untuk menemaninya pergi ke ruang penasehat kampus. DPA (Dewan Penasehat Akademik) di kampus Giara, adalah dosen yang sudah lama mengajar di kampus ini.


Usianya sudah menginjak kepala lima. Dia merupakan dosen senior yang sering mengatasi permasalahan-permasalahan mahasiswa di sini. Nicko memang belum terlalu mengenalnya, berbeda dengan Bu Sinta, yang sudah lama mengajar di kampus ini. Bu Sinta tentu saja mengenal DPA kampus yang bernama Pak Handoko ini.


Karena itulah, Nicko menarik Bu Sinta. Jika dengan Bu Sinta, semoga saja Penasehat itu bisa memahami dan mempertimbangkan keputusannya. Walau Bu Sinta pasti bertanya-tanya, alasan Nicko ingin membantu Giara.


"Pak Nicko, saya ini sebenarnya ingin bertanya pada Pak Nicko," ucap Bu Sinta yang tengah berjalan bersama Nicko, menuju ruang DPA.


"Ah, iya Bu? Bertanya apa?"


“Tapi Pak Nicko harus jawab jujur ya! Kalau gak jujur, saya gak akan mau bantu Pak Nicko!" tegas Bu Sinta.


Astaga, apalagi ini? Kenapa tiba-tiba jadi begini? Jangan, jangan sampai dia tak menolongku. Aku sangat butuh bantuannya. Hanya dialah yang bisa menolong Giara saat ini. Ucap Nicko dalam hati.


"Apa Pak Nicko suka sama si Giara centil itu?!" tanya Bu Sinta tanpa aba-aba.

__ADS_1


Nicko refleks tersedak, "Uhuk, uhuk ... a-apa? M-maksud Bu Sinta ini apa? Kenapa ngomongnya ngawur begitu?"


"Ya, aneh aja! Kenapa Pak Nicko harus membantu dia kalau gak ada maksud tertentu? Pak Nicko apa ada main sama gadis nakal itu? Iya? Jujur, Pak!" sentak Bu Sinta.


Seakan kecemburuannya intens terjadi begitu saja. Bu Sinta merasa, jika Nicko mencintai Giara. Dan jika hal itu terjadi, tentu saja Bu Sinta tak mau membantu Nicko mencabut laporan DO Giara.


"Ah Bu Sinta ... jangan berpikir aneh-aneh, Bu. Jadi begini, saya tahu kehidupan keluarga Giara itu seperti apa. Kebetulan, dulu Kakak saya pernah mengenal ibunya Giara. Mereka berasal dari keturunan keluarga kurang mampu. Giara itu terpaksa bekerja seperti itu, untuk membiayai berobat ibunya yang terkena penyakit komplikasi. Intinya, dia terpaksa melakukan hal itu, Bu. Saya prihatin dengan kondisi keluarganya. Jadi, DO bukanlah suatu hal yang tepat. Pihak kampus harusnya mengetahui dulu seluk beluk tentang Giara, sebelum memutuskan sebelah pihak secara sembunyi-sembunyi seperti ini." jelas Nicko.


Walau kisah Nicko sedikit mengarang, namun memang ada benarnya juga. Hal ini Nicko lakukan agar Bu Sinta tak curiga, dan mau memahami apa yang terjadi pada Giara.


"Apakah benar begitu? Ya Tuhan, malang sekali nasibnya ..." Bu Sinta terhanyut dengan ucapan Nicko.


"Ah, baiklah kalau rupanya jiwa kemanusiaan Pak Nicko yang bekerja. Saya jelas pasti mau membantu Pak Nicko, kalau alasannya seperti itu. Saya tak sangka, jika Pak Nicko benar-benar luar biasa ... saya jadi semakin respect dengan Bapak. Sungguh, Pria seperti Pak Nicko ini sudah langka. Saya sangat menyukai sosok Pak Nicko ..." Bu Sinta kembali berulah lagi.


"Astaga, Bu, jangan berlebihan seperti ini. Banyak sekali, kok, pria diluaran sana yang lebih dari saya," jawab Nicko malas.


"Eh, enggak, lho ... Pak Nicko ini kayak martabak spesial pake telor 4. Pokoknya, sempurna! Selain tampan, gagah, berkharisma, berwibawa, sixpect, dan mapan, Pak Nicko juga punya jiwa sosial yang sangat tinggi. Kalau seperti ini, saya semakin jatuh cinta deh sama Pak Nicko ... aduh, hati saya sudah mulai berlabuh lho, Pak, di pelabuhan cinta Pak Nicko," Bu Sinta bergelayut di bahu bidang Nicko.


Sontak saja hal ini membuat Nicko merasa risih. Benar-benar risih dan membuat tak nyaman. Tapi, jika tidak begini, bisa saja Bu Sinta tak mau membantu Nicko. Biarlah, kali ini perawan tua ini bersikap agresif, yang penting Giara bisa selamat, pikir Nicko.


"Aduh, Bu, malu dong. Jangan seperti ini, jadi gak nyaman saya. Malu dilihat anak-anak, Bu," Nicko sedikit menepis tangan Bu Sinta yang berada di lengannya.

__ADS_1


"Ah, maaf Pak Nicko, habisnya tangan Pak Nicko kekar banget, sih ... rahasianya apa sih, Pak, saya jadi betah deh gelendotan gini di lengan kekarnya Pak Nicko," lagi-lagi, Bu Sinta membuat Nicko geli dengan perlakuannya.


Astaga, astaga, astaga ... kenapa dengan perawan tua ini? Giara, semua ini karenamu. Aku rela melakukan hal ini untukmu. Awas saja jika kamu tak berubah dan serius, Giara. Akan kuberi pelajaran kamu nanti. Batin Nicko.


"Ibu nge-gym saja kalau mau punya lengan kekar. Udah Bu, ayo kita segera ke ruangan Pak Handoko. Jangan begini terus, malu dilihat orang-orang. Kita kan gak ada hubungan apa-apa," ucap Nicko sambil terus menepis tangan nakal Bu Sinta.


"Ah, gak apa-apa. Sekarang belum ada, tapi nanti pasti kita memiliki sebuah hubungan ..." Bu Sinta cengar-cengir.


Nicko tak menjawab ucapan Bu Sinta, karena sebentar lagi mereka sudah sampai di ruangan DPA kampus ini. Sesampainya di sana, Bu Sinta segera mengetuk pintu, berharap jika sang dosen penasehat ada di ruangannya.


Pintu terbuka, rupanya dosen itu ada di dalam ruangannya. Bu Sinta pun masuk, diikuti oleh Nicko dibelakangnya. Dosen penasehat itu sedikit heran, kenapa tiba-tiba mereka mendatanginya.


Setelah perbincangan basa-basi antara Bu Sinta dan Dosen Handoko, mulailah Nicko mengutarakan maksud dan tujuannya datang ke ruangan ini. Sepertinya Pak Handoko sudah menduga, jika kedatangan mereka ingin menyanggah perihal Giara yang akan di DO.


"Sehubungan dengan mahasiswi fakultas hukum yang akan segera di Drop Out, apakah Bapak tak bisa mempertimbangkannya lagi? Kami sebagai dosen pembimbing sedikit merasa iba jika hukumannya harus DO, Pak. Apakah Bapak tak bisa memikirkannya dulu? Bagaimana jika diberi peringatan terakhir? Karena mengingat, mahasiswi yang bersangkutan itu memiliki sebuah alasan yang masuk akal, kenapa dia bisa melakukan hal seperti itu, Pak. Saya harap, Pak Handoko bisa memakluminya, dan mencoba mempertimbangkannya lagi." ucap Nicko begitu ramah dan tenang.


Pak Handoko menatap Nicko dari atas ke bawah, sepertinya Pak Handoko merasa mengenal Nicko. Tapi, Pak Handoko tak sedikitpun mengungkit hal tersebut.


Kurasa, dosen baru ini juga menyewa gadis malam tersebut. Sepertinya kemarin aku melihat ada fotonya pada bukti yang diberikan oleh orang itu. Apa hubungannya dosen baru ini dengan Giara? Haruskah aku membahasnya sekarang? Batin Handoko dalam hati.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2