
Akhirnya ... dengan hati bak tertusuk duri, Diana pergi meninggalkan sekolah Queen. Memang tak mudah, membuat Fera memaafkannya. Nicko saja tak mungkin mau memaafkannya. Diana memang pergi terlalu lama, ia sendiri menyadari hal itu.
Bukan keinginan Diana, muncul sekarang. Tapi, karena kondisinya baru memungkinkan untuk saat ini ia menemui mereka. Kedua orang tuanya baru meninggal, dan tentu saja tak ada lagi yang mengikatnya dengan Hans Wijaya, si pria tua menyebalkan itu.
Diperjalanan, ia terus teringat akan kata-kata yang mantan mertuanya lontarkan padanya. Sebenarnya, Diana sudah tahu, jika Nicko ataupun orang tuanya akan seperti ini padanya.
Namun tetap saja, rasanya teramat menyakitkan ketika Fera mengutarakan hal itu secara langsung. Kata-Kata itu seakan terekam didalam memori Diana saat ini. Kata-Kata Fera yang begitu menyayat hati, padahal Diana telah mencoba melunakkan jiwanya, agar Fera tersentuh padanya.
"M-Mama," maafkan aku ..." Diana ingin meraih tangan Fera, namun Fera menepisnya begitu saja.
"Jangan sebut aku Mama, dan jangan pernah menyentuh tanganku. Apa kau tuli? Kubilang pergi, kenapa masih belum pergi? Apa maumu?"
"Aku ingin melihat anakku ..." ucap Diana terisak.
"Aku tak akan menutupinya. Dia memang anakmu, tapi aku tak akan mengizinkan dia bertemu denganmu, apalagi menganggapmu sebagai ibunya. Lantas, apalagi yang akan kau harapkan dari semua ini? Penyesalanmu itu kuanggap sebagai sadarnya orang gila dari rumah sakit jiwa!" pekik Fera tanpa ampun.
"Ma, cukup, hatiku sakit mendengar semua ucapanmu. Apakah aku tak boleh menemui anakku? Aku akan jelaskan semuanya dari awal, perihal kepergianku, dan kenapa aku tak mengabari kalian. Kumohon, aku tak bisa lagi menahan hasrat untuk bersama anakku, dan Nicko lagi. Aku sangat-sangat merindukannya, Ma. Coba kau bayangkan, hati ibu mana yang tak terluka. Selama ini aku terluka, Ma, selama ini aku terpaksa. Bisakah kau dengarkan aku? Kumohon ...," Diana berlinang air mata, ia terus memohon pada Fera.
"Makan saja penyesalanmu, dan jangan ganggu anak juga cucuku. Jika kau bersikeras mengganggunya, maka aku tak akan segan-segan melaporkanmu ke polisi! PERGI KAU SEKARANG JUGA!" Sentak Fera sembari berlalu meninggalkan Diana.
Dalam taksi, ia terus mengepalkan tangannyam Emosi dan kesedihannya bercampur jadi satu. Baiklah, jika aku tak bisa mendapatkan Nicko lagi, maka ..., tak akan ada satupun wanita yang bisa mendapatkan Nicko, termasuk ..., GIARA, si pel@cur itu.
Diana segera mengambil ponselnya, ia akan beraksi mulai saat ini. Hatinya panas, jika Nicko dibiarkan, maka sepertinya Fera akan menyetujui Nicko dan Giara.
Padahal, Nicko sama sekali tak pantas untuk wanita nakal seperti Giara. Diana tengah melihat foto-foto kemesraan Giara dengan Hans Wijaya suaminya. Hal yang pertama akan ia lakukan adalah, mendesak suaminya agar jujur, dan mau menceraikannya.
Diana akan memperlihatkan foto Hans Wijaya dengan Giara. Bila perlu, Diana akan menikahkan Hans Wijaya dengan Giara. Agar Diana bisa leluasa mendapatkan hati Nicko, terutama hati Queen.
Merasa jika waktu mulai berpihak padanya, membuat Diana harus bergerak cepat demi mewujudkan semua impiannya. Diana tak langsung pulang ke rumahnya, namun ia akan segera melabrak suaminya ke kantornya.
__ADS_1
Tak lupa, Diana membawa berkas perceraian dan juga berkas pembagian saham yang ia impikan sejak dulu. Berharap jika Hans Wijaya akan menandatangani semuanya.
Hidup bersama pria tua itu begitu menyesakkan dan menjijikan. Bagi Diana, Hans Wijaya hanyalah sampah yang tak berguna. Diana memang egois, ia menginginkan harta Hans Wijaya, namun ia tak bisa menyayangi pria itu sebagaimana mestinya.
Padahal, jika Diana bisa mencintai Hans Wijaya, maka Hans juga pasti akan menyerahkan semuanya pada Diana. Hanya saja, Diana tak bisa melakukan semua itu, ia hanya mencintai Nicko, dan ingin kembali pada Nicko.
Sesampainya di kantor Hans Wijaya, Diana langsung menerobos masuk kedalam. Beberapa karyawan sudah tahu, siapa Diana. Mereka pun tak mencegah Diana untuk masuk kedalam.
Diana terus berjalan dengan cepat, ia mengumpulkan semua emosinya, agar bisa memarahi Hans dengan maksimal. Agar Hans Wijaya merasa bersalah, dan tentu saja mau menyerahkan sebagian hak milk perusahaannya pada Diana.
"Bu, Bu, Tuan Hans sedang tak bisa diganggu. Ada masalah dengan proyek barunya. Mohon Ibu mengerti, dan jangan dulu masuk ke ruangannya," cegah sekretaris Hans Wijaya yang menahan Diana masuk ke dalam.
"Heh, sekretaris sialan! Kamu tahu apa, ha? Kenapa kamu ikut campur dan memerintahku seenak jidatmu? Kau pikir kau siapa? Berani-Beraninya mencegah aku masuk ke ruangan suamiku sendiri! Harusnya kamu tahu, siapa aku, dan seberapa berkuasanya aku di kantor ini!" pekik Diana membuat sang sekretaris ketakutan.
"M-maaf, Bu, s-saya hanya menjalankan perintah yang dikatakan oleh Tuan Hans. Sekali lagi, maafkan saya,"
"Diam dan biarkan aku masuk ke dalam!" Diana tak mau diatur sama sekali.
Hans teramat kaget, mendapati Diana ada di kantornya. Jarang-Jarang jika Diana mau datang ke kantornya. Biasanya, Diana hanya ingin tahu tentang uang saja.
"Ada apa? Sudah kubilang, aku tak bisa diganggu. Aku sedang sibuk!" Kali ini Hans Wijaya terlihat tak ramah.
"Aku adalah pengecualian, tentu saja aku bisa masuk ke sini!" Balas Diana.
Hans kesal, karena semakin dibantah, Diana akan terus semakin mencecar dirinya.
"Apa maumu?" tanya Hans.
Diana mengangkat alisnya. Ia akan memulai aksi berontak dan melabrak Hans Wijaya. Padahal, Diana tak sedikitpun peduli, jika Hans bersama wanita lain.
__ADS_1
Hanya saja, hal ini sangat menggelitik bagi dirinya. Apalagi, Diana mengetahui, jika Hans ada main dengan gadis nakal yang menjadi kekasih Nicko. Harapan Diana, kenapa Hans tak bersama Giara saja? Namun, harta kekayaannya, jatuh dulu ke tangan Diana.
Besar harapannya jika kekayaan Hans akan jatuh pada dirinya. Tak peduli berapa ratus wanita yang menjadi simpanannya, yang terpenting bagi Diana, adalah harta kekayaan milik Hans Wijaya. Hanya itu saja.
"Dasar lelaki brengsek! Bisa-Bisanya kau selingkuh dan bermain dengan wanita malam yang haus uang! Kau gila, hah? Ada banyak pasang mata yang melihatmu! Benar saja dugaanku, pantas saja hatiku selalu menginginkan perceraian ini, karena kau tengah bermain api dibelakangku!" Bentak Diana amat kasar.
"Mana buktinya?"
Diana tersenyum kecut, lalu ia melempar semua barang bukti, foto-foto Hans Wijaya dengan Giara. Anita sudah mencuci foto mereka, agar bukti bisa lebih mencengangkan lagi.
Hans melihat bukti foto tersebut. Ia memang tak mungkin mengelak, karena ia dan Giara memang tengah sering berjalan bersama, hanya untuk sekadar menemani dirinya yang kesepian.
"Kenapa memangnya? Dia hanya menemaniku saja, tak lebih dari itu. Berbeda dengan dirimu, yang sejak dulu bermain pria hingga pernah tidur bersama. Kau berkaca lah dulu sebelum menyerangku. Aku sudah lelah bermain drama denganmu, Diana!"
"Kurang ajar! Dasar pria tak tahu diri! Sudah selingkuh, malah membalikkan fakta!" Diana begitu emosi.
"Memang benar kan?" tantang Hans Wijaya.
"Aku kecewa padamu! Aku tetap ingin cerai dengan membawa harta gono-gini yang tertulis di berkas ini! Kau harus menandatanganinya segera!" pekik Diana.
"Kenapa cerai harus membawa harta gono-gini? Itu milikku, aku tak mungkin memberikannya padamu. Apalagi, jika kau meminta cerai padaku!" jawab Hans bersikeras juga..
"Jadi, mau kau apakan harta yang seharusnya untukku hah? Akan kau berikan pada pel@cur itu, iya? Kurang ajar!" Diana terlihat emosi.
"Tentu saja! Jika saja wanita dalam foto ini mau menikah denganku, maka aku akan memberikan semua kekayaanku padanya!" Hans malah mengompori Diana, agar terlihat marah dan kecewa.
"Sialan! Pria tua brengsek! Apa maksudmu berkata seperti itu!!!!!" Diana ngamuk, ia menghancurkan meja kerja pria paruh baya ini.
Mood Diana benar-benar hancur karena Hans juga turut menyakiti hatinya.
__ADS_1
*Bersambung*