
Diana tak menyangka, Hans akan seperti itu padanya. Diana kira, pria tua itu akan memohon dan memperbaiki hubungan mereka. Namun nyatanya, bagaikan jatuh tertimpa tangga, Hans seakan tak peduli padanya.
Ditatapnya pria tua itu, pria yang dulu menikah dengannya karena sebuah paksaan. Pria tua yang pasrah menerima perjodohan itu, kini mulai berbeda. Tak seperti biasanya, yang selalu hangat dan tak pernah berontak pada dirinya.
Kini Diana kebingungan sendiri, kenapa Hans Wijaya tiba-tiba jadi tak peduli padanya? Harusnya pria tua bangka ini malu, dan merasa bersalah, karena ketahuan selingkuh oleh Diana.
Tapi nyatanya, Hans malah merasa bangga ketahuan oleh Diana. Pria ini tak seperti dahulu, yang begitu pasrah dan memuja Diana. Akhirnya Diana muak sendiri, ia tak mungkin meneruskan keinginannya.
Hans sedang tak bisa diajak berbicara baik-baik. Percuma, jika dengan kepala panas seperti ini, tentu saja hanya akan saling berseteru tanpa menemukan titiknya.
Akhirnya Diana pergi tanpa permisi, sembari membawa berkas-berkas miliknya. Hans Wijaya hanya bisa menatap wajah malang istrinya itu. Sebegitunya Diana, ingin mendapatkan harta milik Hans dan meninggalkannya.
"Awalnya, aku akan menuruti perkataan Giara, dan meluruskan hubunganku dengan kamu, Diana. Tapi rupanya, kamu itu berbisa. Untungnya temanmu Anita mendatangiku, dan mengatakan padaku, tentang semua sikap burukmu, Diana. Aku tak boleh terbuai dengan semua itu. Sepertinya kamu memang harus dihempaskan dengan secepat mungkin."
Diam-Diam, ternyata Anita menusuk Diana dari belakang. Mungkin Diana terlalu polos, sehingga ia tak menyadari, jika kemungkinan Anita akan mengkhianatinya dan menikungnya.
.......
Kampus Giara ....,
Hari ini, kelas Nicko telah berakhir. Kebetulan, Nicko mengajar di kelas Giara di siang hari. Tak seperti biasanya, yang mengajar di sore hari. Setelah kelas selesai, mereka akan beristirahat.
Muncul dalam benar Nicko, untuk mengajak Giara pergi makan siang bersama. Namun Nicko sendiri bingung, bagaimana mengajak Giara? Dia sendiri merasa malu, jika ketahuan oleh anak-anak kampus.
Tapi, dalam hatinya, Nicko ingin sekali makan siang bersama Giara. Haruskah Nicko mengajak Giara makan siang yang lumayan jauh dari kampus?
Giara tengah keluar dari kampusnya, ingin rasanya? Nicko menyapanya dan memanggilnya. Namun apa daya, Nicko masih merasa malu dan tak nyaman pada anak-anak di sekitar kampus.
Saat Nicko akan menghubungi Giara via telepon, tiba-tiba Bu Sinta datang dan mengagetkan Nicko. Pupus sudah harapan Nicko untuk makan siang bersama Giara. Karena ada benalu, yang tentu saja tak bisa disuruh pergi begitu saja.
"Halo, Pak Nicko, akhirnya saya bisa temukan Pak Nicko di sini ... Pak Nicko kenapa sih, gak angkat panggilan saya? Sesibuk itukah Pak Nicko? Duh, saya kan udah rindu, kita gak bertemu dari kemarin ..." ucap Bu Sinta dengan gayanya yang berlebihan.
Astaga, malah ketemu dia di sini. Niat hati ingin mengajak Giara makan siang, rupanya sudah tak bisa karena ada mak lampir ini menemuiku. Astaga, ini adalah hari sialku rupanya. Batin Nicko dalam hati.
__ADS_1
"Maaf, Bu, saya jarang pegang ponsel akhir-akhir ini," Nicko beralasan.
"Ih, Pak Nicko bohong banget sih. Itu lagi megang ponsel, kan? Jangan alasan deh. Pak Nicko pasti gugup kan ketahuan sama saya?" Bu Sinta terkekeh.
"Astaga iya, maaf ini belum dipakai kok ponselnya. Baru dipegang aja,"
"Iya iya, saya maklum kok. Pak Nicko pasti gugup bertemu saya, kan? Udah, Pak, biasa aja sih. Jangan gugup kayak gini. Makan siang yuk? Ini kan jadwal makan siang kita. Tuhan memang telah menakdirkan kita untuk selalu bersama, Pak Nicko ..." Bu Sinta begitu percaya diri.
"Ah, tapi, Bu, s-saya gak bisa, maaf, ini saya ada urusan mendadak,"
"Pak Nicko, urusan apa sih? Saya ikut aja urusan Pak Nicko, biar kita bisa selalu bersama. Bagaimana? Ngomong-Ngomong, kita udah lama gak ketemu, masa Bapak gak kangen sama saya sih?" Bu Sinta terus saja merayu.
"T-Tapi, Bu," Nicko benar-benar keberatan.
Seketika, saat Nicko tengah bersama Bu Sinta, Giara dan Belva lewat dihadapan mereka. Giara menatap Nicko tanpa berkedip. Giara ingin tertawa, karena rupanya Nicko tengah diganggu oleh Bu Sinta.
Ingin puas wajah Giara menahan tawa, dan Nicko sepertinya ingin juga mengumpat Giara karena telah menertawakannya. Nicko melotot tajam pada Giara, sontak saja Giara terkekeh dan segera lari terbirit-birit.
Bu Sinta menatap Giara dengan penuh emosi. Sepertinya Bu Sinta terlihat ilfeel pada Giara. Dosen itu menatap Giara dari atas ke bawah, karena sepertinya Giara saat ini tengah menjadi bahan pokok pembicaraan di kampus.
"Apa Bu? Dikeluarin?" Nicko refleks menjawab ucapan Bu Sinta.
"Loh, iya, memangnya Pak Nicko tak tahu ya kabar terbarunya seperti apa?"
"Kabar terbaru gimana, Bu?" tanya Nicko serius.
"Penasehat kampus sudah mendapat bukti fisik yang kuat. Dan mungkin dalam minggu-minggu ini dia pasti akan segera dipanggil dan dikeluarkan. Buktinya sudah valid, dan memang ada saksi yang mengatakan jika dia adalah wanita panggilan. Mungkin saja dia belum tahu, perihal kabar ini, jadi dia masih terlihat santai dan bisa tertawa bebas seperti itu. Dasar gadis murahan!" Pekik Bu Sinta memaki Giara dihadapan Nicko.
"A-apa? Benarkah begitu kabarnya?"
Lagi-Lagi, kabar tentang Giara membuat Nicko teramat kaget. Nicko tak tahu, jika hal ini akan menimpa Giara lagi. Nicko kira, masalahnya sudah diredam, namun rupanya makin sini makin rumit.
Nicko tak menyangka, jika ia melewatkan kabar terbaru tentang masalah Giara. Sepertinya, ada hal yang Nicko lupakan. Nicko tak mungkin membiarkan masalah ini terjadi.
__ADS_1
Giara tak boleh diberhentikan dari kampus ini. Nicko tahu, Giara sangat ingin kuliah dan lulus menjadi sarjana. Baru saja niat Giara mulai lurus, masalah baru timbul begitu saja.
Akhirnya, Nicko pun menyetujui makan siang dengan Bu Sinta. Nicko harus mengorek informasi lebih dalam lagi tentang kasus Giara. Jangan sampai kali ini Nicko kecolongan dan Giara dikeluarkan dari kampus.
"Baiklah, Bu, kita makan siang bersama kali ini," ajak Nicko.
"Nah, gitu dong Pak Nicko. Jangan malu-malu kucing, Pak Nicko kan bisa jujur aja kalau mau makan bareng saya. Hayuk ah, capcus, kita makan sekarang ..."
Akhirnya, Nicko dan Bu Sinta makan ke kantin bersama. Di kantin, suasananya begitu ramai. Banyak pasang mata yang memerhatikan Nicko dengan Bu Sinta. Nicko merasa tak nyaman, namun rupanya ia tak ada pilihan lain, selain menyetujuinya.
"Bu, ngomong-ngomong, penasehat kampus sudah menandatangani dikeluarkannya Giara?" tanya Nicko.
"Ya tentu saja sudah, gadis nakal itu hanya tinggal menunggu dipanggil saja oleh penasehat kampus."
"Oh iya, kalau saya boleh tahu, siapa yang melaporkan kasus ini, Bu? Apakah Ibu tahu orangnya?"
"Ya tentu saja teman kampus si Giara. Mereka kan sengaja memata-matai anak itu. Rupanya, benar saja, Giara memang seorang wanita panggilan." jawab Bu Sinta.
"Apa laporan itu bisa dicabut?" tanya Nicko.
"Ya bisa, kalau dilakukan sanggahan."
"Bagaimana caranya kita menyanggah laporan itu, Bu?"
“Loh, Pak Nicko mau bantuin dia agar gak dikeluarkan gitu? Ngapain dibantu sih anak kayak gitu?" ujar Bu Sinta.
"Kasihan, Bu. Bagaimana kalau Ibu bantu saya untuk menyanggah laporan itu, agar dia tak dikeluarkan. Sebagai gantinya, jika laporan itu berhasil dicabut, Ibu akan saya ajak jalan-jalan seharian, dan saya traktir apapun yang Ibu mau, sepuasnya ..." ucap Nicko memberikan penawaran yang fantastis.
"Ah, apa benar begitu Pak Nicko? Saya rasa, menyanggah dan mempertahankan anak itu mudah dilakukan. Tapi Pak Nicko gak bohong kan untuk mengajak saya jalan-jalan?" Bu Sinta terdengar begitu semangat.
"Iya Bu, saya janji ..."
Nicko tak ada pilihan lain. Ia harus membantu Giara. Nicko tak ingin, Giara dikeluarkan. Giara harus bisa lulus dari kampus ini. Image sugar baby ternyata sudah melekat pada diri Giara.
__ADS_1
Nicko sebagai dosen baru, tak bisa membantu banyak untuk menyelesaikan semua ini. Tak mungkin penasehat kampus akan percaya padanya. Karena itulah, terpaksa Nicko meminta bantuan Bu Sinta untuk mencabut laporan Giara.
Semua ini aku lakukan demi kamu, Giara. Kamu harus benar-benar berubah. Aku tak ingin hidupmu sia-sia. Kamu harus bisa membuat dirimu bangkit dari image jelek yang menempel pada dirimu. Aku ingin kamu sukses, aku ingin kamu jadi wanita baik-baik. Aku hanya ingin, orang-orang menilai bahwa kamu layak untuk bersanding denganku ... apalagi dihadapan kedua orang tuaku. Aku sudah berjanji pada diriku, aku akan merubahmu, menjadi sosok Giara yang hebat, dan luar biasa. Ucap Nicko dalam hati.