Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 37. Tak Ingin Mempermalukan


__ADS_3

Nicko sedang membacakan dongeng sebelum tidur pada Queen. Hal ini rutin Nicko lakukan, karena selain sebagai Ayah, Nicko juga memposisikan dirinya sebagai Ibu.


Tak ada yang menjadi sosok Ibu untuk Queen selama ini. Hal inilah yang selama ini membuat Nicko bersedih. Ia kasihan melihat Queen hanya mendapat kasih sayang dari dirinya dan kakek dan neneknya.


Nicko bukan tak ingin mencari Ibu baru untuk Queen, rasanya akan menyayat hati, jika Nicko kembali berhubungan dengan seorang wanita. Rasa traumanya itu begitu membekas. Karena ditinggalkan oleh Diana, bagaikan hari kiamat di mata Nicko.


"Jadi, pada akhirnya Pangeran menemukan orang yang cocok menggunakan sepatu yang ia bawa. Dia adalah cinderella. Ternyata, sepatu cantik itu memang milik cinderella, hingga akhirnya pencarian pun berakhir. Pangeran telah menemukan putri yang sesungguhnya, yaitu cinderella. Mereka pun hidup bahagia bersama, karena pangeran sangat mencintai cinderella." ucap Nicko di akhir cerita cinderella-nya.


Queen bertepuk tangan, karena Nicko telah menyelesaikan dongengnya. Namun kali ini ada yang berbeda, Queen tak terlelap seperti biasanya. Queen masih terjaga dan begitu menikmati dongeng yang Nicko bacakan.


"Sudah ya, sekarang Queen tidur," pinta Nicko.


"Aku belum ngantuk, Ayah. Oh iya, apakah aku boleh bertanya?"


"Boleh, tapi jangan banyak-banyak. Ini sudah malam, sayang,"


"Apa memang susah ya cari sepatu yang pas bagi pangeran untuk dapatkan putrinya?" tanya Queen polos.


"Ya itu kan hanya cerita. Kalau mau cari sepatu yang pas, tentu saja mudah." jawab Nicko.


"Tapi sepertinya Ayah juga kesulitan cari Ibu yang pas buat Queen." ucap Queen.


Deg. Nicko mulai tak paham, alur yang Queen bicarakan. Entah apa maksudnya, kenapa Queen malah jadi menyinggung dirinya.


"Maksud kamu apa? Kenapa jadi bahas Ayah?"


"Kata Omah, Ayah pasti akan berikan Ibu untuk Queen, seperti teman-teman Queen yang lainnya. Tapi, sampai sekarang Ayah masih sendiri-sendiri aja. Lama banget Queen nunggu. Ayah kayak pangeran di dongeng cinderella, susah nyari yang pas ya? Padahal Ayah barusan bilang katanya mudah,"


"Queen, jangan dengarkan Omah jika dia bicara tak jelas. Kamu fokus belajar saja, jangan memikirkan hal lain-lain." Nicko jadi salah tingkah karena ucapan Queen.


"Selalu aja Ayah begitu kalau Queen lagi bahas Ibu. Sebenarnya, Ibu Queen ke mana sih Ayah? Kalau dia meninggal, mana kuburannya? Katanya, kalau orang meninggal ada kuburannya. Queen ingin tahu kuburan Bunda Queen Ayah," ucap Queen dengan polosnya.


"Queen, tidur! Jangan banyak bicara lagi. Ini sudah malam. Kamu tidur ditemani Omah saja, Ayah ada urusan."

__ADS_1


Nicko tak ingin lagi mendengar Queen berbicara. Apalagi, membicarakan hal yang memang membuat dirinya tertekan. Nicko segera memanggil Ibundanya untuk menemani Queen tidur.


Ia segera bergegas ke kamarnya. Hatinya kesal jika Queen terus menyebut Bunda, Bunda, dan Bunda. Apalagi, jika Queen menyinggung keberadaan Diana, Ibu kandungnya.


Sesampainya di kamar, Nicko merebahkan tubuhnya. Tak lama, ponselnya berbunyi. Rupanya, sebuah pesan masuk, dari Anita. Refleks Nicko segera membuka dan membaca pesannya.


Anita Hariawan : Nicko, ini gue Nita. Btw, lo lagi sibuk gak? Kayaknya, sekarang lo harus datang ke cafe bar n lounge deh. Ada sesuatu yang harus lo lihat. Ini penting banget, Nick. Kalo lo penasaran, lo harus datang sekarang juga. Maaf, bukan maksud gue ngancurin hubungan lo. Tapi, gue rasa lo harus tahu aja. Sumpah, gue gak ada maksud apapun.


Deg. Nicko kaget bukan main. Ia tak sangka, jika Anita akan mengirim pesan seperti itu padanya. Nicko masih tak paham apa maksudnya. Namun, Nicko mencoba berpikir, jika kata-kata itu berpacu pada Giara.


"Apa mungkin semua ini ada hubungannya dengan Giara?" Nicko berbicara sendiri.


Sepertinya, Giara tengah berada di cafe tersebut. Nicko terdiam, ia tengah berpikir keras saat ini. Haruskah Nicko benar-benar datang ke sana dan mempermalukan dirinya?


Nicko merasa emosi, karena Giara sepertinya y


tak menepati janjinya. Sepertinya Giara bermain-main lagi dengan pria-pria tua sugar baby-nya. Padahal, Nicko sudah melarangnya.


Nicko mencoba menghubungi Giara, sebelum ia benar-benar mendatangi cafe tersebut. Panggilan pertama, rupanya tak dijawab oleh Giara. Nicko yakin, Giara pasti sengaja tak mengangkat panggilannya.


Panggilan kedua, masih sama juga rupanya. Giara tetap tak mengangkat panggilan Nicko. Lama-Lama, Nicko mulai jengah. Nicko yakin, Giara takut untuk mengangkat panggilannya.


Akhirnya, Nicko mengirim pesan pada Giara saat ini juga. Berharap jika Giara akan segera membacanya, dan tak mengabaikannya lagi.


Nicko Alandani : Aku tahu, kamu sedang berada di mana sekarang. Aku juga tahu, kamu rupanya mengingkari janjimu. Kamu memang tak bisa dipercaya Giara. Jujur, aku kecewa padamu. Aku tak sangka, jika kamu benar-benar sengaja melakukan ini. Aku tak akan mendatangimu ke tempat itu. Tapi, kuharap kamu mau datang ke tempat di mana aku ingin menemuimu malam ini. Aku tunggu kamu di Hotel Cravia, dekat cafe tempatmu berada. Aku tunggu kamu satu jam dari sekarang. Jika kamu menyesal dan ingin meminta maaf, datanglah, maka aku akan memaafkanmu. Namun, jika kamu tak datang, maka ..., aku pastikan esok hari kamu sudah bukan lagi mahasiswa di Universitas Nusantara lagi!


Pesan ancaman itu sepertinya sudah dibaca oleh Giara. Nicko sengaja, ia tak mau mempermalukan dirinya dihadapan Anita. Nicko bukan pria yang mau memalukan dirinya demi seorang wanita.


Nicko bersiap, ia akan berangkat menuju tempat yang akan ia kunjungi saat ini. Nicko sengaja mengancam Giara, karena Nicko tak mungkin membiarkan hal ini terjadi.


Dipermainkan oleh anak berusia dua puluh tahunan, tentu saja membuat Nicko merasa dirinya seperti orang bodoh. Tak peduli, apa yang akan terjadi nanti. Nicko hanya ingin mengetahui, apakah Giara akan datang atau tidak.


Di cafe, saat ini Giara tengah ketar-ketir. Ia sudah membaca isi pesan Nicko. Giara heran, tak tahu darimana jika Nicko bisa melihatnya bersama seorsng Om-Om lagi.

__ADS_1


Rupanya, Giara tak menyadari keberadaan Anita yang juga ada di cafe ini. Anita memang melihatnya, namun Giara tak sampai fokus melihat siapa yang ia kenal.


"Om, sebentar lagi aku pulang ya? Aku harus nemenin Ibu, takut sakitnya kambuh lagi," Giara beralasan.


"Ah, ini kan masih seru sayang. Kenapa kamu tiba-tiba meminta pulang? Om antar ya?" Om Roy menawarkan diri.


"Tak usah, Om. Kali ini aku akan memesan kendaraan online saja. Bukannya malam ini Om mau di service? Aku kan udah siapkan wanita yang bisa memuaskan Om malam ini," seru Giara.


Om Roy pun berbisik, "Ya, aku mau di service. Tapi, kapan-kapan juga Om maunya di service sama kamu, Giara ..."


"Haish, Om. Sudah ya, aku pulang dulu," Giara benar-benar sudah tak fokus.


"Ya sayang, segera katakan pada wanita service itu, sebentar lagi aku akan ke ruangan VIP. Suruh dia masuk, dan membawa oil,"


"Baik, Om. Aku akan segera sampaikan padanya. Aku pulang ya, Om," Giara mencium pipi Om Roy.


Akhirnya Giara berlalu, meninggalkan cafe tersebut. Saat Giara pergi, tentu saja Anita dan Diana kaget bukan main. Karena apa? Karena Nicko belum datang. Justru, mereka sangat menantikan momen kedatangan Nicko memergoki Giara.


"Lah, kok dia pergi sih? Gimana dong nih? Nicko pasti udah dijalan, kan?" seru Anita.


"Apa Nicko tak peduli pada kekasihnya?"


“Entahlah, tapi, masa iya dia tak kaget membaca pesanku." ucap Anita.


"Ya sudah, kirimkan saja foto yang tadi. Agar Nicko semakin gemas dan penasaran pada kekasih nakalnya ini."


Anita pun mengirim beberapa bukti foto dan video Giara yang bergelayut dengan Om-Om. Setelah mengirimnya, Anita merasa puas dan tersenyum kecut.


"Diana, tenang saja. Sebentar lagi, kamu pasti akan jadi milik Nicko lagi. Percayalah padaku," Anita tersenyum sinis.


"Makasih, Nita, gue beruntung karena lo pinter bantuin gue,"


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2