Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 59. Bukti Foto


__ADS_3

Cinta memang buta, jika ia sudah merasuki jiwa, maka akal sehat tak lagi berguna. Menghalalkan semua cara demi mendapatkan cinta yang sempurna. Benarkah itu cinta? Atau hanya sebuah obsesi semata?


Mengharapkan cinta yang takkan bisa digapai tentu saja tak akan ada habisnya, karena hanya akan menyakiti hati dan menyesakkan dada. Namun jika terus dipaksakan, akankah bisa berakhir bahagia?


Diana tak puas dengan apa yang terjadi padanya saat ini. Ia harus bisa meyakinkan Fera, orang tua Nicko, agar mau melihat dirinya. Setidaknya, jika Diana tak bisa bersama Nicko, maka tak ada yang juga boleh bersamanya.


Keegoisan itu memang sudah mendarah daging. Diana terlalu lupa, dengan apa yang telah ia lakukan pada Nicko. Semudah itu Diana menganggap jika Nicko akan bisa kembali padanya.


Ambisinya sudah terlalu besar, sehingga Diana tak menyadari, jika mendapatkan Nicko akan menjadi hal tersulit yang akan ia dapatkan.


Hari ini, adalah hari yang Diana rencanakan untuk menemui Fera lagi. Diana sudah mengorek informasi dari beberapa teman high class-nya tentang aktifitas dan keseharian Fera, ibunda Nicko.


Menurut kabar, hari ini Fera dan teman-temannya tengah mengadakan arisan mingguan, yang selalu mereka agendakan hampir seminggu sekali. Diana akan memaksakan dirinya, untuk hadir dan menemui Fera lagi.


Kali ini Diana sudah siap, untuk benar-benar menghancurkan Giara, agar tak mendapat restu dari kedua orang tua Nicko. Biarlah, dirinya tak mendapatkan kesempatan untuk bersama Nicko, namun jika seperti itu, Giara juga tak pantas untuk bersanding dengan Nicko.


"Lo gak salah mau tiba-tiba dateng di acara arisan itu?" tanya Anita basa-basi.


"Gak salah, kok. Bukannya di sana ada open member ya? Pura-pura aja mau ikut arisan emak-emak rempong itu."


"Mana bisa semudah itu, di sana itu gak bisa semudah jidat lu kalo mau masuk. Apalagi Nyokapnya Nicko, dia pasti ngusir elu habis-habisan." ujar Anita.


"Gak apa-apa, gue hanya tinggal kasih bukti-bukti foto ini ke dia. Kalau dia penasaran dan minta lebih, bisa gue kirim beberapa videonya." Diana tersenyum culas.

__ADS_1


"Gila ya lo, bener-bener niat banget buat ngancurin Nicko sama Giara. Apa lo yakin, bisa kembali lagi sama Nicko? Kayaknya sulit sih Na,"


"Gue lebih percaya sama pepatah, darah itu lebih kental daripada air ... ikatan darah gue sama Queen gak akan bisa musnah begitu saja. Dia adalah darah daging gue, sekalipun gue gak bisa dapatkan Nicko, tapi ada yang mengikat gue dengan Nicko, yaitu anak kita ..." Diana merasa yakin.


Anita mengangguk mantap. Rasanya Diana memang tak main-main dengan ucapannya. Anita hanya tinggal mendukung Diana dan membantu Diana mendekatkan diri pada Nicko lagi.


Padahal, ada satu hal yang tak Diana ketahui tentang rencana Anita saat ini. Diam-Diam, ternyata Anita tengah mengatur rencana demi mewujudkan keinginannya.


Selang beberapa saat kemudian, terlihat Fera dan beberapa rekannya tengah berada di sebuah restoran dan tengah berbincang bersama. Inilah saatnya Diana melancarkan aksinya dan mendekati Fera.


Diana berjalan perlahan dan segera mendekati Fera juga teman-temannya. Fera sudah menyadari kedatangan Diana, yang terlihat mendekatinya. Fera benar-benar kaget tak menyangka, karena Diana berani-beraninya mendatanginya di saat-saat seperti ini.


"Untuk apa kamu ke sini?" sentak Fera saat melihat sosok Diana dihadapannya.


"Jangan sebut aku Mama!" teriak Fera.


"Tapi aku mohon, dengarkan apa yang ingin aku katakan saat ini. Ada hal penting yang harus aku katakan pada Ma, maaf maksudku, Tante ..." Diana terus merayu.


Rasanya, Fera sangat malu kali ini, karena ia dilihat oleh teman-temannya tengah ditemui oleh Diana. Mungkin beberapa temannya ada yang lupa, atau bahkan ada yang masih mengingat Diana.


Akhirnya, dengan perasaan kesal yang membuncah, Fera pun menuruti keinginan Diana. Fera meninggalkan rekannya, dan mengajak Diana berbicara di tempat yang lebih sepi.


Entah apa mau Diana, Fera tak bisa menerka apa yang diinginkan wanita ini selain Nicko. Padahal, Fera sudah katakan berulang kali pada Diana, jika tak akan ada kesempatan bagi Diana untuk bisa kembali lagi bersama Nicko.

__ADS_1


Fera mengajak Diana bertemu di luar restoran, dan duduk di meja depan. Fera sudah memberikan Diana peringatan, agar tak menemuinya lagi. Namun sepertinya Diana begitu tak memedulikan peringatan Fera.


"Apa maumu? Kenapa kamu seperti ini, ha?"


“Tante, duduklah dulu, tenangkan dirimu. Aku ingin memberitahu sesuatu yang penting, yang harus kau ketahui," ujar Diana meyakinkan.


"Apalagi? Kau ingin menghasutku, iya? Kau ingin merayu aku? Dengar ya Diana, kamu sudah melemparkan kotoran pada muka keluargaku. Kamu tak bisa semudah itu membersihkannya. Aku dan Nicko yang menanggung malu akibat perbuatanmu. Lantas, setelah perbuatan seperti ini, kamu dengan tak tahu malunya, malah berkata seolah-olah semua ini baik-baik saja. Berkacalah, Diana! Ngaca! Kau memang sudah tak waras!"


Lagi-Lagi, umpatan demi umpatan dilontarkan Fera pada Diana. Kali ini, Diana terlihat kuat, karena ia sudah menyiapkan mental baja sedemikian rupa, karena kali ini tantangannya akan lebih dari semula.


Diana mulai mengambil beberapa bukti foto dari dalam tas nya. Diana sendiri sebenarnya deg-degan, ia takut menghadapi respon yang dialami Fera nantinya. Tapi, Diana sudah yakin, jika dirinya pasti akan bisa membuat Fera percaya dengan bukti yang ia bawa saat ini.


"Maaf, bukan maksudku menghancurkan harapan Tante. Bukan pula maksudku untuk menghancurkan hubungan Nicko. Hanya saja, sebagai Ibu Queen, aku tak terima, jika Queen mempunyai Ibu sambung yang sifatnya benar-benar tak terpuji. Maaf, Tante, bukan maksudku ingin merebut Nicko. Ini murni karena aku tak ingin Queen mendapatkan sosok Ibu seperti kekasih Nicko saat ini. Maaf, Tante bisa melihat ini. Maaf sekali, jika foto ini tak berkenan bagi Tante. Tapi aku pribadi, hanya ingin kalian tahu, agar kalian tak menyesali semua itu nantinya. Kumohon, pikirkan lagi baik-baik, tentang menerima dia sebagai ibunya Queen," Diana menyerahkan beberapa bukti foto yang ia bawa.


Fera terdiam. Ia enggan membalas ucapan Diana sebelum benar-benar melihat bukti foto yang ia pegang. Dibukanya berkas foto itu perlahan-lahan, betapa kagetnya Fera saat melihat sosok gadis muda yang saat itu datang ke rumahnya, tengah berfoto mesra bersama dengan pria-pria paruh baya seusianya.


Mata Fera melotot tajam, ia benar-benar tak menyangka, jika hal ini akan ia lihat. Tapi, tak semudah itu Fera percaya. Bisa saja ini hanyalah editan, dan akal-akalan Diana untuk menghancurkan hubungan Nicko dan Giara.


"Apa maksudmu? Ini pasti editan! Kamu pasti sengaja kan menghancurkan hubungan Nicko! Jujur saja kamu!" Fera masih tak ingin memercayai Diana.


"Tante, foto bisa saja dianggap editan. Tapi, jika video dengan real time, apa masih bisa dikatakan editan? Aku memiliki videonya juga Tante. Apakah Tante ingin melihat?" Diana tersenyum simpul, berharap jika Fera akan tertarik melihat videonya.


Deg. Fera benar-benar kaget, haruskah ia melihat video itu? Hatinya tak karuan saat ini, perasaannya kacau bukan main.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2