Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 52. Terkesan Ragu


__ADS_3

Giara hanya tersenyum dan menyalami Papa Nicko. Papa Nicko tak berbicara sepatah kata apapun. Namun dari sorot matanya, ada yang aneh. Seakan Andi merasakan sesuatu.


Siapa wanita ini? Kenapa aku begitu familiar dengan wajahnya? Seperti pernah melihatnya di dalam foto temanku, Roy. Ah, apa aku salah melihatnya? Diakah sosok Kakak baik yang cucuku rindukan? Apa hanya mirip saja? Ucap Andi dalam hati.


Andi menepis pikiran anehnya. Ia mencoba terlihat ramah sebagai orang tua Nicko. Walau sebenarnya, ada perasaan mengganjal dalam dirinya. Merasa jika wanita yang Nicko bawa ke rumah, adalah wanita yang tak asing dan pernah ia lihat.


Giara nampak akrab dengan Queen. Queen memang selalu menyebut Giara dengan sebutan Kakak baik. Jika Nicko menginginkan Giara menjadi ibunya Queen, pantaskah jika Giara disebut Bunda oleh Queen?


Nicko pun sebenarnya merasa, jika Giara lebih asyik dipanggil Kakak, dan lebih pantas menjadi Kakak Queen. Pertama, karena umur Giara dan Nicko yang terpaut lumayan jauh, juga wajah Giara yang terkesan baby face, semakin membuatnya terlihat masih sangat muda.


Giara berbincang dan mengobrol santai bersama ibunda Nicko. Fera terlihat ramah dan tak menunjukkan ekspresi yang aneh pada Giara. Fera begitu menghargai Giara yang diajak oleh Nicko ke rumahnya.


"Kalian makan dulu saja, ya?" pinta Fera.


"Gak usah Ma, Giara pasti gak nyaman kalau makan di sini." jawab Nicko cepat.


Ya Tuhan, padahal jika makan di sini pun aku tak mengapa. Perutku benar-benar keroncongan sejak tadi. Kenapa sih bisa-bisanya Pak Nicko bilang kalau kita udah makan? Sumpah deh, demi ratu ubur-ubur, gue belum makan sama sekali. Ya ampun, pengen cepet pulang aja deh rasanya. Gerutu Giara dalam hati.


"Makasih Tante, gak usah repot-repot," jawab Giara seadanya.


"Baiklah, kalau kalian memang tak mau makan di sini. Oh iya Giara, ngomong-ngomong, Nicko kalau di kampus gimana? Apa dia galak kalau lagi ngajar?" tanya Fera basa-basi.


"Ah, enggak kok Tante, cuma agak tegas aja, gitu ..." jawab Giara malu-malu.


"Aduh, Nicko ini ya, pasti bikin kamu gak nyaman deh. Padahal, dulu semasa SMA Nicko ini anaknya pendiam banget. Jarang bicara anaknya. Tapi setelah kuliah, mungkin juga efek adaptasi di kampus dan seiring bertambahnya usianya ,dia jadi banyak bicara dan berani. Jangan kaget ya, kalau dia bawel ataupun marah-marah sama kamu. Sama Tante aja, sekarang dia banyak bicara sekali." Fera menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ah, iya Tante, gak apa-apa kok. Giara juga memakluminya, karena seorang dosen itu memang harus tegas, agar disegani oleh mahasiswanya." Giara tersenyum manis.


"Tapi, kalau Nicko udah keterlaluan, tegur aja ya ,gak usah takut." Fera lagi-lagi terkekeh.

__ADS_1


"Eh, Mama kok ngajarin gak bener sih!" keluh Nicko.


"Kamu, gitu aja sewot. Eh iya, Mama tinggal dulu ya. Papamu katanya lagi cari berkas yang ilang. Mama bantuin Papa dulu, ya. Kalian ngobrol saja dulu. Giara, silakan dimakan cemilannya ..." Fera tersenyum, lalu tak lama ia berlalu.


"Ah, iya Tante, silakan ..." Giara begitu sopan.


Akhirnya, Fera pergi berlalu meninggalkan Nicko dan Giara. Queen tetap berada di sana, karena dengan hadirnya Giara, Queen serasa mendapatkan teman baru.


Giara begitu asyik diajak bercanda dan bermain. Queen sangat betah bermain bersama Giara. Nicko pun merasa senang, melihat keakraban mereka berdua. Waktu terus berlalu, hingga kini telah menunjukkan pukul delapan malam.


Karena merasa tak enak, Giara pun berbisik pada Nicko, jika ia ingin segera pulang. Nicko pun menyetujuinya. Akhirnya, Nicko dan Giara pamit pada kedua orang tua Nicko.


Fera dan Andi begitu ramah pada Giara. Nicko tak blak-blakkan mengatakan jika Giara adalah wanita pilihannya. Ini memang masih terlalu awal, Nicko hanya ingin kedua orang tuanya mengenal Giara terlebih dahulu, sebelum sampai Nicko benar-benar akan serius pada Giara.


Queen memaksa ingin ikut pada Nicko, namun Fera melarang, karena hari pun sudah malam. Akhirnya, setelah drama berlalu, Queen bisa dibujuk agar tak memaksa ikut Nicko mengantar Giara.


Dengan lembut, Giara pun pamit pada orang tua Nicko, dan Queen yang terlihat marah padanya. Nicko dan Giara pun berlalu, karena Nicko harus secepat mungkin mengantar Giara.


Apalagi pada seorang wanita, dengan mudahnya Queen akan refleks menerima kebaikannya. Mungkin karena Queen memang kurang perhatian dari sosok seorang Ibu.


Bahkan, bukan kurang lagi, Queen tak pernah merasakan perhatian dari seorang Ibu, karena Queen tak memiliki Ibu. Walau Fera begitu menyayanginya dengan sepenuh hati, namun rasanya berbeda sekali, karena Fera adalah neneknya, bukan ibunya.


Tentunya beda sekali, kasih sayang seorang Nenek dan seorang Ibu. Queen masih merasa kesepian, karena tak ada sosok Ibu dalam kehidupannya. Setelah Queen terlelap, akhirnya Fera dan Andi berbincang bersama di ruang keluarga.


"Papah, apa gadis tadi itu kekasih Nicko?" tanya Fera.


"Ya pasti lah Ma, Nicko sudah berani membawa gadis itu ke rumah, itu tandanya dia pacarnya Nicko." ucap Andi mengiyakan.


"Papa merasa ada yang kurang cocok gak sih? Bener kan kata Mama, dia itu kelihatan muda banget! Kayak masih ABG labil gitu. Kayaknya kurang pantes deh buat Nicko. Kayak lebih cocok jadi adik Nicko, daripada jadi ceweknya." jelas Fera.

__ADS_1


"Waktu Papa fotoin mereka dulu, Papa gak lihat jelas penampilan fisiknya. Lama-lama, Papa merasa, jika Giara ceweknya Nicko ini, mirip seseorang lho, Ma," Andi pun angkat bicara tentang keraguannya.


"Mirip siapa, Pah?"


"Dari saat melihat di restoran, dan bahkan melihat dari dekat seperti tadi, kok kayak Papa sering lihat di foto teman Papa ya. Tapi Papa sendiri masih ragu, bisa saja itu hanya mirip. Begitu, Ma," jelas Andi.


"Ya sebagai apa? mirip seperti anaknya? Bisa saja dong Pa? Papa coba tanya ke temen Papa deh," saran Fera.


"Eh, bukan anaknya Ma ... tapi, itu ..." Andi seakan berat untuk berbicara.


"Itu apa maksud Papa?" Fera penasaran.


"Ya, teman Papa suka menyewa wanita bayaran gitu kalau dia kesepian. Nah, Papa pernah lihat story WhatsApp-nya, seperti Giara, yang tengah bersama teman Papa ini," ujar Andi walau begitu ragu.


"Astaga, mana mungkin sih, Pa. Jangan berkata begitu ih, nanti jatuhnya fitnah itu! Amit-Amit deh, masa iya Giara adalah wanita seperti itu. Mungkin itu cuma mirip aja kali," Fera mengelak.


"Iya, Ma, iya. Kan Papa bilang cuma mirip aja, Papa juga ragu. Mungkin mereka hanya mirip saja,"


"Iya, gadis-gadis ABG gitu kan style-nya kadang selalu sama. Dari tatanan rambut, pakaiannya, makeup-nya pun bahkan kadang sama. Jangan sampai deh Nicko kenal dengan wanita seperti itu. Amit-Amit deh Mama. Mama pasti tolak habis-habisan jika memang ada wanita bayaran seperti itu." Fera bergidik ngeri.


"Iya lah, Ma. Jangan sampe. Papa juga gak mau," Andi menambahkan.


"Walau Giara ini juga sebenarnya gak cocok sih buat Nicko. Menurut Mama terlalu muda, terlalu kekanak-kanakan. Lebih cocok jadi adiknya Nicko kalau kata Mama. Tapi, ya kita menghargai pilihan Nicko juga, sih." jelas Fera.


"Iya, Ma, daripada Nicko tak bersama wanita sama sekali, lebih membuat kita takut kan. Biarlah mereka menikmati hidup mereka. Kita hanya bisa doakan yang terbaik sebagai orang tua."


"Iya, Pa, iya. Mau bagaimana lagi ..."


Nampak jelas sekali, keraguan yang ada dalam diri kedua orang tua Nicko pada Giara.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2