Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 40. Tersanjung


__ADS_3

Keesokan harinya ....


Semalaman, Anita dan Diana tengah menunggu Nicko di cafe. Rupanya, Nicko tak datang sama sekali. Bahkan, mereka kecolongan, ternyata Giara pun sudah tak ada di tempatnya.


Diana tak menyangka, jika Nicko tak akan mudah tersulut emosi seperti itu. Akhirnya, ia jadi kesal sendiri, karena keinginannya bertemu Nicko tak kesampaian.


Diana mendatangi Anita ke restoran milik wanita karier itu. Diana ingin meminta solusi lagi pada Anita, bagaimana caranya agar langkah Diana untuk kembali pada Nicko semakin mudah.


"Gue rasa, semalam Nicko langsung nemuin ceweknya di tempat lain. Makanya dia gak datang ke cafe. Karena dia tahu, kita pasti ada di situ." ujar Anita.


"Apa Nicko udah buta? Padahal, kenapa gak dilabrak aja itu cewek sih?"


"Siapa tahu si Nicko sebenernya udah tahu kalau ceweknya itu sugar baby. Cuma karena si Nicko buta aja, jadi dia mau sama tuh cewek nakal." timpal Anita.


"Gue bener-bener muak. Cewek itu gak pantes buat Nicko, Nit! Kenapa bisa-bisanya Nicko pacaran sama dia!" Diana teramat kesal.


"Tenang aja, kita susun strategi lagi, biar Nicko mau ketemu sama lo lagi. Sekarang, yang harus lo lakukan adalah gimana caranya lo terlepas dari suami tua lo itu. Lo harus bisa ambil hartanya, dan pergi dari dia. Setelah itu, lo deketin anak Nicko, yang juga merupakan anak lo. Yang pertama harus lo lakukan adalah bercerai dengan Hans Wijaya, cuma itu Na!" Saran Anita.


"Kalau hanya cerai aja mudah bagi gue! Satu detik aja udah gampang bercerai sama dia. Tapi, dia tetap gak mau kasih sahamnya buat gue. Dia bilang, gue bebas pergi, tanpa satu persen saham pun. Rugi banget kan?"


“Coba lagi aja nanti, pikirin cara yang tepat biar dia mau tanda tangan saham buat lo. Sekarang, tenangin diri dulu lah. Minum orange juice, mau?" tawar Anita.


"Boleh, gue haus nih. Yang dingin ya,"


"Baik, Bos ..."

__ADS_1


Ada perasaan kesal dalam diri Anita saat Diana terus saja mengatakan harta gono-gini milik Hans Wijaya. Entah apa maksudnya, hanya Diana yang mengetahuinya seorang diri.


.....


Hari ini Giara tak masuk kampus. Ia malu, sangat malu jika harus bertemu dengan Nicko. Apalagi, hari ini adalah kelas Nicko mengajar mata kuliahnya. Rasanya, Giara sudah tak ingin lagi menatap wajah Nicko.


Karena itulah, Giara memutuskan untuk tak masuk kampus, dan hanya berdiam diri di rumah mengurus ibunya. Biarlah jika bolos satu hari saja, Giara akan pergi ke klinik dan meminta surat sakit, semoga saja klinik bisa memakluminya.


"Ibu, minggu depan kita pergi berobat jalan lagi. Ibu sehat-sehat ya, semoga kondisi Ibu cepat membaik. Ara ingin lihat Ibu sehat, dan tersenyum seperti dulu lagi."


Sang Ibu hanya mengangguk, karena penyakit struk yang dideritanya sudah membuat indera pengecapnya tak berfungsi. Giara tengah menjalani terapi untuk sang Ibu, agar perlahan otot-otot dan tubuh ibunya bisa seperti sedia kala.


Berdiam diri di rumah saja pun membuat Giara kesal. Dari pagi hingga siang, ia sudah membersihkan rumah, dan menyelesaikan semua pekerjaan rumah. Giara bukanlah anak yang bisa tinggal di rumah.


Waktu sudah hampir petang, dan rasanya Giara ingin keluar dari rumahnya. Namun, rasa trauma masih menghampirinya. Ajakan temannya, dan beberapa permintaan sugar daddy-nya, Giara hiraukan begitu saja.


Semua ini karena Nicko, sosok Nicko membuat Giara menolak semua ajakan itu. Masih ada perasaan malu dan bersalah, karena kekalahan Giara tadi malam.


Ada rasa takut ketahuan Nicko lagi, jika Giara berkeliaran keluar apalagi ke bar. Anehnya, kenapa Nicko bisa tahu? Apa Nicko memata-matainya? Apa Nicko memang punya indera keenam?


Ah, entahlah ... memikirkan Nicko semakin membuat Giara merasa depresi. Nicko selalu membayang-bayangi dirinya. Seakan-akan Nicko adalah hantu yang terus bergentayangan dalam kehidupan Giara.


Giara yang tengah melamun di kamarnya, jadi benci karena lamunannya sendiri. Kenapa harus melamunkan dan memikirkan Nicko?


“Kenapa aku harus memikirkan setan itu? Dia memang seperti hantu, yang terus saja menggangguku dan bergentayangan dalam hidupku. Ya Tuhan, kapan aku bisa terlepas dari belenggu Pak Nicko? Apa susahnya sih pindah kuliah? Toh, sepertinya uangku cukup untuk membayar kampus baru. Eh, tapi ...," Giara berpikir lagi.

__ADS_1


"Jika aku pindah kampus, maka aku akan kesulitan membayar biaya pengobatan Ibu. Ah, bagaimana ini? Aku tak sanggup, berada satu kampus dengan dia. Dia hanya menyempitkan langkahku, dan kehidupan bebasku. Dengan bicara semaunya, jika aku harus menjadi sugar baby pribadinya. Dan aku, aku bebas meminta uang padanya. Mana bisa aku begitu? Tentu saja aku lebih baik memilih bersama Om-Om yang tajir melintir itu, daripada Pak Nicko." Giara terus saja ngoceh, berbicara sendiri.


Beberapa saat kemudian, ada yang mengetuk pintu rumah Giara. Sontak saja Giara merasa heran, karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Malam-Malam begini, ada tamu? Siapa?


"Ya, sebentar," Dengan malas, Giara pun bangkit dan keluar dari kamarnya.


Giara mengira, itu pasti Pak RT yang meminta iuran pembangunan ataupun kebersihan. Kesalnya Giara, kenapa harus malam-malam begini?


"Menyusahkan saja!" gerutu Giara dalam hati.


Saat Giara membuka pintu rumahnya, ia kaget bukan main, karena dugaannya salah besar. Bukan RT ataupun warga yang mengetuk pintu rumah Giara. Melainkan, makhluk yang sejak tadi ingin Giara hindari, yaitu Nicko.


"P-Pak, Nicko?" Giara gugup, dan benar-benar tak menyangka, jika Nicko kini ada berada di rumahnya.


"Kenapa gugup seperti itu? Apa aku terlihat akan memakanmu?" tanya Nicko santai.


"T-tidak, Pak. T-tapi, apa tujuan Pak Nicko ke sini? K-kenapa tak menghubungiku? Juga, darimana Pak Nicko tahu rumahku?" Giara heran bukan main, karena pada saat Nicko mengantarnya pulang, Nicko hanya mengantar sampai dengan jalan besar saja, tak memasuki ke gang rumahnya.


"Kudengar kamu sakit, makanya aku ke sini ingin menjengukmu. Aku juga membawakan beberapa buah dan cemilan untukmu. Anggap saja, jika malam ino aku menjengukmu, dan berusaha untuk meminta maaf, atas apa yang telah aku lakukan padamu kemarin malam. Maafkan aku, ya. Aku tak bermaksud menyakitimu, Giara ..." ucapan Nicko kali ini begitu serius dan hangat pada Giara.


"A-Apa?" Rasanya tak percaya, mendapati Nicko berkata romantis pada Giara.


Apa dia sedang bermimpi? Apa dia kerasukan setan? Atau jin? Atau makhluk apa? Kenapa tiba-tiba datang ke rumahku dan membawa makanan untukku? Dan lagi, kenapa aku malah tersanjung seperti ini? Kenapa sepertinya hati ini bahagia karena perlakuan Pak Nicko? Ada apa sih? Ya Tuhan, jangan biarkan hatiku ... ucap Giara dalam hati, yang tak sanggup meneruskan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.


*Bersambung*..

__ADS_1


__ADS_2