
Di sisi lain, Nicko dan Diana tengah berada di tempat yang berbeda. Nicko mengajak Diana ke tempat yang sepi, jauh dari keramaian, tepatnya di belakang cafr tersebut.
Pandangannya begitu tajam, rasa kecewa dan sakit hati itu teringat lagi. Wajah Diana mengembalikan luka yang selama ini Nicko sembunyikan. Nicko memang tak berusaha keras mencari Diana, karena dulu Nicko sadar, jika Diana pergi, itu berarti memang kehendaknya.
Namun tetap saja, rasa penasaran itu tetap ada dan Nicko ingin tahu, kenapa di saat Queen begitu membutuhkan kasih sayang ibunya, sang Ibu malah pergi begitu saja dan tega meninggalkan buah hatinya yang masih bayi?
Sekelumit pertanyaan ada di dalam benak Nicko. Namun, jika Nicko mengatakan semuanya, mampukah Diana menjawabnya? Apa yang akan Diana katakan pada Nicko?
"Ke mana kau selama ini?"
"Kau tanya kenapa, Nicko? Kenapa kau tak mencariku?" balas Diana menyengat.
"Hah? Mencarimu? Aku sudah mencarimu, ke keluargamu. Aku sudah menanyakan kabarmu pada mereka. Bahkan, aku sudah pernah melapor ke polisi, namun laporanku ditutup begitu saja. Apa maksudnya ini Diana? Kukira kau sudah mati, bisa-bisanya aku menemuimu di tempat yang tak disangka-sangka ini. Wanita gila, yang tega meninggalkan bayinya, kukira kau memang gila, tapi ternyata kau baik-baik saja." Nicko geleng-geleng kepala.
Hati Diana tersayat, ketika Nicko memakinya secara halus. Jika saja semua ini bukan karena paksaan kedua orang tuanya, mungkin Diana akan hidup bahagia bersama Nicko.
Penyesalan kini tinggal sesal yang abadi. Tak ada yang perlu diungkit lagi, ketika semua sudah berlalu. Untuk apa? Untuk apa membahas luka lama? Goresan luka yang semestinya telah hilang, kenapa harus terbaca lagi?
"Nicko, aku akan jelaskan semuanya. Sebentar lagi, aku akan kembali padamu. Ada alasan dibalik semua ini, Nicko. Jangan terus menyalahkan aku, tapi dengarkan aku dulu. Bukankah kamu tahu, jika keluargaku tak merestui kita? Semua ini ada hubungannya dengan mereka. Kuharap, kamu bisa memahaminya, dan mau mendengarkan apa yang akan aku katakan. Kita harus duduk berdua, dan berbicara Nicko," suara Diana melemah.
"Apa? Sebentar lagi aku akan kembali padamu? Kau tak salah bicara, Diana? Ah, Tuhan, kenapa aku harus buang-buang waktu di sini? Kenapa aku harus mengungkit sampah yang semestinya aku buang? Bodoh sekali aku ini, benar-benar tak ada gunanya!" Nicko memalingkan wajahnya dari Diana.
__ADS_1
Diana teramat kecewa mendengar ucapan Nicko. Ia sebenarnya memang siap mendengar celoteh Nicko yang seperti ini. Memang Nicko pasti akan begini. Diana sudah menduga hal ini.
Namun tetap saja, rasanya amat menyakitkan karena Nicko benar-benar tak memberinya kesempatan untuk berbicara dan menjelaskan. Melihat Nicko memalingkan wajahnya, membuat Diana refleks memegang tangan Nicko, namun secepat kilat Nicko menepis tangan Diana dengan kasar.
"Lepaskan, jangan pernah berani-berani menyentuhku sedikitpun! Aku tak sudi, disentuh oleh wanita sampah sepertimu! Sudahlah, kurasa cukup. Aku tak perlu lagi mendengar apapun celotehanmu lagi. Ada hal penting yang harus aku urus. Maaf, aku harus pergi."
Nicko tak basa-basi lagi. Ia tak peduli jika saat ini Diana telah kembali. Nicko teringat Giara, wanita yang seharusnya Nicko amati sejak tadi. Karena Diana, fokus Nicko pada Giara jadi terlupakan. Dan Nicko benar-benar muak mendapati pertemuannya dengan Diana.
Nicko melangkah pergi tanpa menoleh lagi kearah Diana. Hal ini tentu saja membuat Diana sakit hati. Karena perlakuan Nicko yang menyakitkan, Diana pun dengan lantang berbicara, agar Nicko mendengarnya.
"Nicko, jangan bodoh! Wanita yang saat ini menjadi kekasihmu, adalah wanita nakal yang menjual dirinya pada Om-Om! Dia adalah sugar baby yang haus uang dan kenikmatan, Nicko! Kau harus tahu itu, jangan sampai kau menyesal, Nicko!" Diana berteriak sangat keras.
Nicko berbalik kembali menoleh Diana. Seakan tak terima jika Diana menjelekkan Giara, Nicko lagi-lagi berjalan kembali mendekati Diana. Entah apa yang Nicko lakukan, namun sepertinya dia marah karena ucapan Diana yang keterlaluan pada Giara.
"Dia tak pantas untukmu! Dia bukan wanita baik-baik, Nicko! Kau harus percaya padaku. Aku tahu bagaimana kelakuan buruk kekasihmu itu! Dia tak layak menjadi Ibu bagi Queen, anakku! Aku tak akan pernah menyetujuinya." pekik Diana.
"Apa? Memangnya siapa kau berhak mengaturku? Lantas, siapa yang berhak menjadi Ibu untuk anakku? Kau, begitu? Iya? Hahaha, ingin rasanya aku menumpahkan kotoran di wajahmu! Karena kau begitu tak tahu malu!" Nicko benar-benar sudah terpancing emosinya pada Diana.
Wajah Diana memerah menahan kekecewaan dan amarah. Namun inilah konsekuensi yang harus ia lalui. Diana memang akan dicaci-maki Nicko. Bertemu dengan Nicko lagi, siap tak siap, Diana harus siap.
"Aku memang darah dagingnya! Seburuk apapun aku, aku adalah ibunya. Walau aku penuh dosa, tapi kau harus percaya Nicko, bahwa aku sangat mencintai dan merindukan Queen! Tak ada yang bisa menjadi Ibu baginya! Hanya akulah yang pantas menemaninya, Nicko. Wanita malam itu sangatlah tak pantas! Mana mungkin anakku akan dididik oleh wanita yang pekerjaannya begitu hina?" Diana sudah tak bisa mengontrol emosinya.
__ADS_1
Nicko geleng-geleng kepala. Sungguh tak Nicko sangka, jika Diana ternyata memiliki sifat tak tahu diri seperti ini. Dalam hatinya, Nicko merasa menyesal, karena telah menarik tangan Diana, dan mengajaknya berbicara.
Nicko menyesal, karena lidah Diana ternyata sekarang lebih runcing daripada dulu. Nicko tak terima, apalagi jika Diana menjelekkan Giara, wanita yang tengah Nicko perjuangkan.
"Kau menjelekkan mutiara, dan dibandingkan dengan sampah sepertimu, Diana? Dengarkan aku sekali lagi, tak peduli siapa dia dan bagaimana profesinya. Yang terpenting, aku hanya memedulikan dirinya yang begitu menghargaiku dan telah membantuku sejak dulu. Dia sangat berjasa untukku, dia juga tak pernah meninggalkan aku sedikitpun! Tak sepertimu, yang sudah gila meninggalkan aku dan putriku. Jangan pernah ikut campur pada hubunganku lagi, karena aku tak butuh saran darimu!" bentak Nicko.
"Aku hanya meyakinkan kamu, Nick! Akulah yang layak untuk bersamamu, akulah wanita yang pantas mendampingimu. Maafkan aku, jika aku telah pergi untuk waktu yang lama. Ada alasan dibalik kepergianku ini, dan semua ini murni bukan karena kesalahanku," Diana memohon, mencoba meyakinkan Nicko, agar mau mendengarnya.
Rupanya sejak dulu, Diana tengah memerhatikan Nicko. Saat Nicko tak dekat dengan siapapun, Diana tak pernah mengganggu Nicko. Namun saat ini, saat Diana tahu jika Nicko tengah bersama seorang wanita, di sinilah ia meradang.
Diana tak terima, jika ada wanita lain di kehidupan Nicko selain dirinya. Karena inilah, Diana bergerak cepat ingin meninggalkan Hans Wijaya, dan memutuskan untuk meraih hati Nicko lagi.
Saat mereka masih berbincang bersama, tiba-tiba, berdiri sosok di belakang Nicko dan Diana, yang tentu saja mengagetkan mereka berdua.
"Pak Nicko," sapa Giara yang keheranan karena melihat Nicko tengah bersama dengan seorang wanita.
Rupanya itu Giara, Nicko kaget karena mendapati Giara sudah ada di belakangnya. Nicko kira, pertemuannya dengan sugar daddy-nya, akan berlangsung lama. Namun anehnya, hanya sebentar saja.
"G-Giara?" Nicko sedikit kaget.
Diana menatap Giara dari atas ke bawah dengan tatapan tak suka dan kesal, "Dasar murahan!" batin Diana dalam hati.
__ADS_1
*Bersambung*