
Saat mereka tengah berdebat kecil, tiba-tiba ponsel Nicko berdering. Nicko melihat ponselnya segera, ia merasa heran, tak biasanya Fera memanggilnya. Biasanya, jika ada hal penting, Fera cukup mengirim pesan saja, tak pernah hingga menelepon seperti ini.
"Eh, Ra, bentar ... Mamaku nelepon, aku angkat dulu ya!"
"Ah, iya, silakan Pak,"
Nicko pun sedikit menjauh dari Giara, karena Fera meneleponnya. Ada sedikit perasaan tak nyaman, jika mengangkat ponsel dihadapan Giara. Nicko takut, jika hal itu berhubungan dengan Queen, dan membuat Nicko tak nyaman.
"Ada apa, Ma?"
"Di mana kamu?" tanya Fera to the point.
"Di rumah Giara, Ma. Ada sedikit urusan. Ada apa? Mama mau nitip sesuatu?" tanya Nicko refleks.
"Enggak. Kamu pulang sekarang, Nicko!" tegas Fera.
"Loh, memangnya ada apa?" Nicko sedikit bingung.
"Pulang sekarang! Jangan banyak tanya. Mama tunggu dalam tiga puluh menit!"
"Loh, loh, Ma-Ma, t-tapi--" sebelum sampai Nicko menyanggah ucapan Fera, sang ibunda telah mematikan ponselnya.
Nicko heran, apa yang terjadi? Ada apa? Kenapa tiba-tiba ibunya bersikap dingin dan memaksa seperti itu? Apa yang terjadi? Akhirnya, mau tak mau Nicko pun pulang lebih cepat. Ia harus pamit pada Giara, menimang ibunya memintanya segera pulang.
"Giara, aku harus segera pulang. Mama memintaku pulang," ucap Nicko.
"Ah, begitu ya, tentu saja, Pak. Lagian ini juga sudah sore ..." jawab Giara.
"Padahal aku masih betah di sini. Aku enggan pulang," Nicko berulah lagi.
"Ish, Pak Nicko, mulai deh!" Giara memonyongkan bibirnya.
"Bercanda, bercanda ... yaudah, aku pulang dulu ya! Kamu jaga Ibu baik-baik. Hati-Hati, jangan sampai Ibu melakukan aktifitas berat. Dia butuh bantuan kamu, sebisa mungkin kamu harus siaga, dan selalu ada untuknya, ya!" pesan Nicko.
"Iya, iya Pak Nicko bawel ... siap ...," Giara mengangguk-angguk.
"Aku pulang ya," serasa berat Nicko akan meninggalkan Giara. Nicko pun melambaikan tangannya pada Giara, dan segera memakai helm.
"Hati-Hati di jalan, Pak. Kabari kalau sudah sampai ..." Giara pun membalas lambaian tangan Nicko.
__ADS_1
Nicko mengangguk, dan segera berlalu meninggalkan rumah Giara. Walau ada perasaan mengganjal dalam dirinya, namun Nicko tak mau membuat Giara curiga. Sebisa mungkin Nicko bersikap seperti biasanya, agar tak membuat Giara curiga dengan apa yang tengah ia rasakan saat ini.
Kediaman Nicko,
Fera dan Andi masih menunggu kedatangan Nicko. Sebelum Nicko pulang, tentu saja Fera telah berbicara dengan Andi, sang suami. Walau bagaimanapun, Fera harus tetap berunding dan memberi tahu semua ini pada suaminya.
Setelah Fera jelaskan perihal pertemuannya dengan Diana, Andi bukannya fokus pada Diana, tapi ia malah fokus pada bukti yang Diana berikan. Setelah Andi melihat bukti foto tersebut, ia sendiri pun baru mau membuka pembicaraan.
"Benar saja dugaan Papa selama ini," seru Andi sembari menggeleng tak percaya.
"Papa tahu hal ini, Pa? Kenapa gak bilang dari awal sama Mama?"
"Papa hanya menduga. Saat gadis itu diajak Nicko ke rumah, Papa baru sadar, jika dia mirip seseorang yang berada di dalam foto teman Papa. Rupanya, itu bukan sebuah kemiripan. Itu memang benar dirinya. Anak itu ternyata berbahaya. Dibalik wajahnya yang lugu, ternyata ia memiliki banyak rahasia." tegas Andi seakan tak percaya.
"Astaga, kenapa Papa baru bilang sama Mama? Fix, ini bukan hanya dugaan, tapi gadis itu memang nakal. Bisa-Bisanya Nicko bertemu dengan seorang wanita nakal yang tentu saja akan mencoreng nama baiknya sendiri," keluh Fera.
"Jangan dulu berasumsi negatif Ma, kita harus tetap tunggu dulu penjelasan Nicko. Papa rasa, Nicko adalah anak yang selektif. Tak mungkin juga dia asal mengenal seorang wanita. Kecuali, jika Nicko dibohongi, atau tertipu dengan gadis itu." Ucap Andi.
"Ya pasti dibohongi lah, Pa. Nicko juga pasti gak akan mau sama cewek panggilan bekas banyak orang! Astaga, kenapa ada-ada saja saat Nicko telah dekat dengan seorang wanita?" Fera begitu menyayangkan hal ini terjadi.
"Sudah Ma, tenangkan dirimu. Jangan berpikiran negatif dulu. Kita tunggu Nicko saja dulu,"
Nicko tak mengerti, sebenarnya ada apa ini? Jika didengar dari suara Fera, terdengar sekali jika ibunya itu tengah marah. Namun, Nicko tak mau berasumsi apapun, karena belum ada bukti yang tepat.
Saat masuk ke dalam rumah, kedua orang tua Nicko terlihat ada
"Selamat sore Ma, Pa, Nicko pulang ... Queen di mana?!" tanya Nicko celingukan.
"Anakmu sedang jalan-jalan bersama Bibi. Duduklah, ada yang harus kami tanyakan padamu!" jawab Fera to the point.
Nicko mengerucut, ia tak memahami apa maksud sang Mama berkata seperti ini. Nicko pun duduk, sambil menyimpan tas nya di depan meja.
"Iya, ada apa?"
Fera menatap tajam pada Nicko, seakan berharap jika Nicko tak akan membohonginya sedikitpun.
"Wanita yang tempo hari kamu bawa ke rumah, apakah dia itu pacarmu?" tanya Fera.
Nicko mengerutkan dahinya, jadi semua ini tentang Giara. Nicko menghela napas panjangnya, sepertinya Nicko mulai memahami, ke mana alur pembicaraan ini berlangsung.
__ADS_1
"Bukan, aku baru dekat dengannya." jawab Nicko jujur.
"Jadi kamu berniat memacarinya?" tanya Andi.
Nicko menggeleng, "Lalu?"
“Aku berniat menikahinya!" Jawab Nicko tanpa takut.
Deg. Sontak saja ekspresi Andi dan Fera berubah masam. Mereka sama sekali tak menyangka, jika jawaban Nicko akan seperti itu. Seakan Nicko menantang mereka, dan berkata jika dirinya memang memilih Giara.
"Apa? Kau gila, Nicko!" pekik Fera.
"Kenapa, Ma? Apa ada yang salah dengan itu?"
"Nicko, apa kau tak tahu siapa wanita itu?" tanya Andi terlihat masih tetap tenang.
Nicko terdiam. Sepertinya kedua orang tuanya telah mencium kabar tentang profesi Giara. Nicko heran, mereka tahu dari mana tentang Giara? Sepertinya, mulai saat ini dan kedepannya, hubungan Nicko dan Giara akan mulai mengalami kesulitan.
Pikirannya menerawang ke mana-mana. Darimana Mama dan papanya tahu tentang profesi Giara? Siapa yang sudah memberi tahu mereka? Hanya itu yang ada dibenak Nicko saat ini.
"Aku tahu, Pa," jawab Nicko datar.
"Nicko, jawab Mama dengan jujur! Apa kamu tahu, bahwa dia adalah seorang sugar baby incarannya Om-Om? Apa kamu tahu, pekerjaan dia yang hina itu, ha? Jawab, Nicko! Mama ingin kamu jujur, tak berbohong sedikitpun!" Pekik Fera berapi-api.
Lagi-Lagi, Nicko menghela napasnya. Ia begitu keberatan dengan pertanyaan yang dilontarkan ibunya. Nicko tahu, Nicko tahu semuanya. Bahkan, pertemuannya dengan Giara pun, terjadi saat Giara tengah menjadi sugar baby baginya.
Tapi, Nicko tak menyalahkan pilihannya ini. Nicko tahu semua, Nicko yang menjalaninya, bahwa profesi "sugar baby" Giara tak sepenuhnya salah. Namun, apakah kedua orang tuanya akan memahaminya begitu saja? Sepertinya, hal ini akan sulit bagi Nicko, terlepas, jika profesi sugar baby sudah dicap sebagai pekerjaan negatif oleh mereka.
"Aku tahu, bahkan pertemuanku dengannya terjadi saat aku tengah menyewanya menjadi sugar baby-ku. Aku tak berbohong, aku jujur Ma," jawab Nicko.
"A-apa? Bodoh sekali kamu, Nicko! Sudah tahu pekerjaannya seperti itu, dan kamu masih bilang akan menikahinya! Kamu benar-benar gila, Nicko! Mama tak akan pernah merestui dia sedikitpun! Camkan itu!" Fera begitu muak, ia berdiri, lalu meninggalkan Nicko dan Ayahandanya.
Nicko terdiam. Seperti ditampar oleh Fera, kata-kata ibunya itu benar-benar mengenai ulu hatinya. Tapi, Nicko tetap diam tak bergeming. Nicko sadar ,orang tuanya pasti akan merespon semua ini. Ini adalah tantangan bagi Nicko, bagaimana caranya ia meluluhkan hati kedua orang tuanya.
"Nicko, apa yang terjadi padamu? Haruskah kamu seperti itu? Papa kecewa padamu, Nick." Ungkapan kekecewaan itu dilontarkan Andi pada Nicko.
Nicko menghela napas panjangnya, "Maafkan Nicko, Pah. Tapi, Nicko akan tetap pada pilihan Nicko, dan meyakinkan kalian, jika Giara tak seperti yang kalian bayangkan. Aku akan menghadapi kalian dengan tenang, aku yakin, aku mampu melakukannya."
"Nicko, kamu ...,"
__ADS_1
*Bersambung*