
Anita tak menyadari, jika Diana telah pergi diseret oleh Nicko. Saat melihat ke belakang, Anita tak melihat siapa-siapa. Anita heran, ke mana perginya Diana? Beberapa saat mengedarkan pandangannya, tiba-tiba sosok Hans Wijaya turun dari mobilnya.
Niat hati mencari Diana, namun rupanya target sudah tiba. Akhirnya, mau tak mau Anita bersembunyi di balik cafe yang tak akan mungkin dilihat oleh Hans. Biarlah, Diana tak ada, namun Anita akan tetap memantau Hans seorang diri.
"Mungkin dia ke toilet, gak bilang sama gue. Ah, dahlah, biarin aja Diana. Gue yang harus mantau Hans Wijaya tengah bersama siapa. Sejujurnya, Diana itu bodoh banget! Lagi-Lagi, kenapa dia harus cerai sama pria kaya seperti Om Hans? Padahal, walaupun tua begini, Om Hans itu berkharisma, dan tentu saja kaya raya. Diana memang bodoh!" ucap Anita berbicara sendiri.
Anita tentu saja memerhatikan kedatangan Hans Wijaya. Anita sendiri pun rupanya begitu penasaran, dengan siapakah sebenarnya Hans Wijaya akan bertemu?
Hans berjalan perlahan, menuju sebuah tempat duduk, yang di sana tengah berada seorang wanita cantik sedang menunggunya. Anita memicingkan matanya, seolah tak asing dengan wanita yang ditemui Hans saat ini.
Siapa dia? K-kenapa wajahnya begitu familiar? Kurasa, aku mengenalnya. Astaga, wajahnya terhalangi Om Hans. Tapi, sepertinya aku memang mengenalnya. Siapa dia ini? Batin Anita dalam hati.
Saat wajah wanita itu terlihat oleh Anita, sontak saja Anita refleks menjerit. Namun segera ia tutupi dengan kedua tangannya. Matanya melotot kaget, benar-benar tercengang bukan main.
Wanita yang berada dihadapan Hans Wijaya, adalah wanita yang kala itu menemani Om-Om juga. Dan wanita itu ..., adalah Giara. Giara yang sepengetahuan Anita adalah kekasih Nicko.
Anita benar-benar kaget bukan main. Ia secepat kilat menghubungi Diana, namun rupanya Diana tak jua menjawab panggilannya. Anita heran, ke mana sebenarnya Diana pergi?
"Bener-Bener speechless gue, gak nyangka ... sumpah, gue gak nyangka banget! Kok bisa sih Nicko dapetin wanita nakal kayak si Giara ini? Sepengetahuan gue, kata Diana namanya Diva, kan? Kok yang ditemuin Om Hans malah si Giara pacarnya Nicko sih? Gila sih ini, harus diabadikan secepatnya! Lagian, ke mana sih si Diana? Kok malah ngilang? Ini gak bisa dibiarin! Ini pasti bisa bikin Nicko benci sama cewek p3lacur ini. Dan secepat mungkin, Diana pasti bisa dapetin Nicko!"
Anita berbicara sendiri karena ia sangat kaget dan tak percaya. Dengan sigap, Anita terus memotret Giara dan Hans Wijaya. Berharap jika ini bisa jadi bukti nyata pada Nicko nantinya.
__ADS_1
Sebenarnya, ada maksud lain dari Anita, kenapa ia rela begitu antusias membantu Diana. Anita ternyata mengincar suami Diana, yaitu Hans Wijaya. Rupanya, Anita menyukai pria-pria tua seperti ini. Pantas saja, sampai usianya menginjak kepala tiga, Anita belum juga menemukan tambatan hatinya. Ternyata, memang tengah ada pria yang ia incar.
Kembali pada Giara dan Hans Wijaya. Hans begitu antusias ketika Giara mengajaknya bertemu. Hans tak tahu, maksud dan tujuan Giara mengajaknya bertemu. Justru pria tua ini masih mengharapkan jika Giara mau menerima dirinya, untuk menikah dan menjadi pasangan hidupnya.
"Kenapa baby? Kamu butuh uang?" tanya Om Hans to the point.
"Enggak, Om, enggak. Diva ngajak ketemuan di sini karena ada hal penting yang harus dibicarakan sama Om Hans." jawab Giara jujur.
"Apa itu? Tumben sekali harus bertemu. Padahal jika ada maunya, kamu selalu menghubungi Om dan berbicara terus terang."
Giara menghela napas panjangnya, "Ini hal penting, dan Om Hans harus mendengarkan aku bicara,"
"Apa itu?" Hans Wijaya mulai serius.
"Om, bagaimana kelanjutan hubungan Om dengan istri Om? Aku tak mau jadi pengganggu hubungan kalian. Apa Om masih bisa memperbaikinya? Kuharap, Om bisa kembali pada istri Om. Juga, mengakhiri kedekatan kita," ucap Giara sembari membungkuk.
Refleks Hans Wijaya melotot kaget. Ia sama sekali tak sangka, jika sugar baby yang ia cintai akan mengatakan hal seperti ini padanya. Padahal Hans sudah berharap penuh, jika Giara akan menerima cintanya.
"Kenapa? Kenapa kamu berkata seperti ini?"
"Karena aku memposisikan diriku sebagai seorang istri. Jika posisiku menjadi istrimu, tentu saja hal ini akan sangat menyakitkan bagiku. Jika saja istri Om tahu tentang kita, dia pasti akan sangat sakit hati dan terluka. Aku tak ingin hal ini terjadi, Om. Aku tak mau merusak hubunganmu dengan istrimu. Aku ingin kalian baik-baik saja. Aku ingin menyelesaikan semuanya. Aku tak mau, karma akan berbalik padaku, jika aku terus seperti ini. Tak akan ada sebuah kisah bahagia, jika aku merebut milik seseorang. Jika masih bisa kembali, kembalilah pada istrimu, Om, dan jangan mengharap padaku. Aku tak akan menerimamu, karena aku sendiri pun ingin mengakhiri semua ini." ucap Giara sembari menunduk.
__ADS_1
"Apa kamu sudah menemukan kekasih yang pas untukmu?" tanya Hans.
"Tidak, aku hanya ingin merubah hidupku. Menjadi lebih baik lagi. Aku lelah hidup seperti ini, Om. Aku ingin melepaskan image buruk ini. Apa bedanya aku dengan seorang pelakor? Aku merebut suami orang, agar mau bersamaku, dan memberiku uang. Wanita macam apa aku ini?"
"Kamu bisa menjadi wanitaku yang sesungguhnya. Tak akan ada kata pelakor, karena aku memang ingin memilikimu seutuhnya." rayu Hans.
Giara menggeleng, ia tak bisa jika terus begini. Sebisa mungkin, kali ini ia harus mengakhiri semuanya. Demi masa depannya, demi Nicko yang terus memohon padanya, Giara harus bisa melepaskan Hans Wijaya.
"Om, maafkan aku. Ini yang terbaik untuk kita. Aku tak bisa, aku tak bisa meneruskan semua ini. Jika Om ingin meminta bantuanku, katakan saja, Om. Aku pasti akan membantu Om. Asalkan, Om kembali pada istri Om,"
Hans Wijaya menilik Giara dengan tajam. Dirinya tak percaya, jika Giara memang ingin melepaskan pekerjaan itu. Hans tahu, jika ada sesuatu yang Giara sembunyikan darinya.
Entah apa, Hans sendiri tak tahu apa yang disembunyikan Giara. Ucapannya memang benar, jika Hans sebaiknya kembali pada istrinya. Tapi, benarkah hanya karena Giara tak mau mengganggu? Bagaimana jika Giara sebenarnya berbohong pada Hans?
"Apa kamu yakin dengan ucapanmu ini?" tanya Hans serius.
"Tentu saja yakin, Om. Aku ingin kalian bahagia, aku tak ingin menjadi perusak. Maafkan aku, yang baru sadar kali ini,"
Hans menatap Giara, "Aku akan mendengarkan ucapanmu, jika kamu memang berkata jujur. Namun, jika kamu ternyata memiliki pria lain dan membohongiku, jangan salahkan aku, jika aku akan mengganggumu, dan priamu ...."
Ucapan Hans Wijaya tentu saja membuat Giara kaget bukan main. Benarkah ucapannya itu?
__ADS_1
Pak Nicko, bagaimana ini?
*Bersambung*