Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 64. Aku Mulai Berani


__ADS_3

"Pak Nicko, bagaimana? Berhasil kan?" tanya Bu Sinta begitu antusias, saat Nicko keluar dari ruangan Pak Handoko.


"Terima kasih Bu, atas bantuannya." jawab Nicko.


"Ah, syukurlah Pak Nicko ... tentu saja, Pak Nicko akan berhasil jika bersamaku. Semuanya akan baik-baik saja dan tentu saja Pak Nicko harus menepati janji pada saya," seru Bu Sinta nampak bersemangat.


Deg. Lagi-Lagi, janji itu tak Nicko indahkan. Ia benar-benar lupa karena Nicko tak sedikitpun serius pada janjinya untuk mengajak Bu Sinta jalan-jalan. Namun rupanya Bu Sinta tak melupakan janji Nicko.


Sepertinya Bu Sinta tak akan melupakan janji Nicko begitu saja. Bahkan, ia terkesan ingin menagih janjinya dan tak sabar ingin segera pergi bersama Nicko.


"Pak Nicko, gak lupa kan sama janji kita ..." seru Bu Sinta begitu antusias.'


"J-janji?" Nicko pura-pura mengingat.


"Iya lah Pak, janji Pak Nicko buat ajak saya jalan-jalan dan traktir saya. Pak Nicko jangan sampai lupa ya, awas aja kalau lupa!" Bu Sinta mulai kesal.


Nicko terdiam sembari nyengir kuda. Rupanya Bu Sinta benar-benar menagih janjinya untuk berjalan-jalan bersama Nicko. Mau tak mau, Nicko sepertinya harus merealisasikan keinginan Bu Sinta, agar wanita ini tak meradang.


"Oh itu, ya tentu saja, Bu, tentu saja kita akan pergi. Bu Sinta tenang saja, saya tak mungkin lupa dengan itu." jawab Nicko, agar Bu Sinta tak marah.


"Yaudah, ayo kita berangkat!" Ajak Bu Sinta.


"Lah, kok sekarang Bu? Nanti-nanti saja ya, Bu, saya kan sedang di kampus. Kita harus mengajar dulu, Bu," Nicko mencoba menghindari.


"Jangan alasan dong Pak Nicko. Jadwal Pak Nicko hari ini kan kosong, Pak Nicko sengaja ke kampus karena ingin mengurus laporan ini. Pak Nicko gak ada kelas lho hari ini ..." rayu Bu Sinta.


"Ah, iya, begitu rupanya ... saya hampir lupa, Bu. Tapi ngomong-ngomong, Bu Sinta kan pasti ada kelas hari ini? Ibu ngajar dulu saja, Bu. Nanti setelah ngajar kita agendakan untuk jalan-jalan bersama." Nicko terus mencari cara agar menunda acara tersebut.


"Haish, Pak Nicko, jangan pikirkan saya. Sudah, ayo kita jalan saja. Saya bisa izin untuk gak masuk kelas, kok. Lagian, anak-anak pasti senang sekali kalau saya gak ngajar hari ini. Sudah, kita pergi sekarang saja, Pak," ajak Bu Sinta memaksa.

__ADS_1


Nicko menghela napas berkali-kali. Rupanya sangat sulit baginya untuk mengelak ajakan Bu Sinta. Mungkin memang Nicko tak bisa lagi untuk menunda hal ini. Mau tak mau, sekarang ia harus mengajak Bu Sinta jalan-jalan.


"Memangnya Ibu gak takut ketahuan dosen lainnya Bu? Bagaimana nanti jika saya kena getahnya? Nanti ada berita gini, Bu Sinta bolos mengajar karena pergi bersama Pak Nicko. Wah, ada nama saya kan bU, jadi gak enak saya," Nicko masih berupaya mengulur-ulur waktu.


"Gak apa-apa Pak Nicko. Cuma bolos sekali saja, tak akan berdampak apapun. Bilang saja kita ada keperluan. Toh, saya malah senang kalau mereka tahu jika kita pergi bersama. Kabar tentang kita akan mudah menyebar ke seluruh kampus lho, Pak Nicko ..." Bu Sinta mulai lagi.


Ya Tuhan, kenapa aku bisa terjebak dengan wanita aneh seperti dia ini? Ku akui, tanpanya aku akan kesulitan merayu hati Pak Handoko. Tapi, jika setelahnya akan begini, sungguh aku tak sanggup membayangkan. Bagaimana jika mereka sungguh mengira aku dan Bu Sinta ada sesuatu? Oh tidak, tida, aku tak sanggup. Ucap Nicko dalam hati.


"Kita mau ke mana Bu?" Akhirnya Nicko pun mengalah.


"Saya mau ke Mall, mau ke taman kota, dan berjalan-jalan bersama dengan Pak Nicko. Ayok Pak, jangan tunggu lama-lama, kita harus menghabiskan waktu bersama sekarang. Saya gak sabar banget, mau berduaan sama Pak Nicko," Bu Sinta terus saja merayu Nicko.


Ya Tuhan, makhluk planet ini. Giara Giara, semua ini karena ulahmu. Aarrgggghhh, aku harus membalaskan semua ini pada Giara nanti. Batin Nicko lagi.


"Baik, Bu. Jangan banyak bicara, kita berangkat sekarang saja ya," Nicko sudah lelah.


Nicko pun meminta Bu Sinta untuk jalan terlebih dahulu, agar pergi ke parkiran mobil. Ingin rasanya Nicko menjerit dan meneriaki Giara saat ini, karena semua ini terjadi juga karena ulah Giara.


Sembari berjalan menuju parkiran mobil, tangan Nicko gatal sekali untuk menghubungi Giara. Akhirnya sembari berjalan, Nicko mengirim sebuah pesan pada Giara, untuk menumpahkan kekesalannya.


Nicko Alandani : Kamu tak akan di DO! Tapi, ada satu hal yang sangat menyebalkan. Dan semua ini, terjadi karena kamu. Kamu harus ganti rugi kesialanku ini, Giara!


Itulah isi pesan yang Nicko kirimkan pada Giara. Tak lama, Giara pun membalasnya, dengan balasan yang super nyeleneh, dan bahkan membuat Nicko marah.


Giara Divania : Whoaaa, thank u so much Pak Nicko yang baik hati! Acieeee, mau jalan-jalan berdua sama baginda ratu. Ekheeem, pasti so sweet banget nih, wkwkwkw


Giara malah puas menertawakan Nicko. Sontak saja Nicko semakin kesal dan marah pada Giara. Ingin rasanya saat ini Nicko membekap mulut Giara yang banyak bicara itu.


Nicko Alandani : Keterlaluan kamu, ya! Selama ini aku berjuang dan berusaha keras untukmu, tapi inikah balasannya? Kamu malah menertawakanku! Awas saja jika bertemu nanti, akan kuhabisi kamu!

__ADS_1


Giara Divania : Coba saja kalau berani ... memangnya aku takut pada Pak Nicko, wleee ..., btw, thanks banget ya Pak, udah bantuin aku. Aku gak nyangka, usaha Pak Nicko gak sia-sia. Pokoknya, nanti aku akan kasih hadiah untuk Pak Nicko. Tunggu saja ya hadiah dariku.


Nicko senyam-senyum sendiri membaca isi pesan tersebut. Hadiah apa? Rasanya Nicko begitu antusias mendapatkan hadiah dari Giara. Sebenarnya, yang Nicko inginkan adalah hadiah hubungan mereka. Tapi, rasanya itu adalah hadiah tersulit yang akan Nicko dapatkan.


Nicko harus melewati rintangan yang begitu rumit. Yaitu, kedua orang tuanya. Mau tak mau, bisa tak bisa, perlahan ia harus bisa meyakinkan kedua orang tuanya, jika Giara tak sepenuhnya buruk. Hanya profesinya saja yang memang terkesan menjurus pada hal negatif, tapi Giara belum tentu terjerumus seperti itu juga.


Nicko Alandani : Hadiah apa? Aku sangat menantikannya. Hadiahnya harus sepadan dengan apa yang telah aku perjuangkan saat ini. Jangan asal memberiku hadiah, ya!


Giara Divania : Kalau begitu, aku tanya Pak Nicko saja. Bapak mau hadiah apa dariku? Tak usah surprise segala kalau begitu, biar aku langsung belikan saja!


Nicko Alandani : Aku mau hadiah pernikahan kita, Giara!


Deg. Dari sudut yang lain, tangan Giara gemetar hebat membaca pesan dari Nicko. Ia bingung tak sanggup untuk membalas pesan tersebut.


Giara Offline terakhir dilihat 10.40.


Nicko kesal, melihat Giara tiba-tiba offline dari chat-nya. Padahal, Nicko teramat berharap sekali, jika balasan dari Giara akan membuatnya senang. Memang gadis itu tak pernah bisa diajak serius.


Ternyata, saat Nicko berbalas pesan dengan Giara saat Nicko senyam-senyum pula, Bu Sinta tengah memerhatikan Nicko. Bu Sinta jadi terlalu gede rasa seakan jika senyuman Nicko itu karena sedang membicarakan dirinya di ponsel Nicko pada teman-temannya.


"Pak Nicko sebegitu bahagianya ya jalan sama saya? sampai-sampai Pak Nicko tersenyum dan tersipu seperti itu? Ya Tuhan, saya benar-benar bahagia hari ini ...," Bu Sinta tersenyum, namun hal itu membuat Nicko merinding.


"Ya Tuhan Bu Sinta, bukan, bukan seperti itu. Ibu salah paham, tak begitu Bu," Nicko membela diri.


"Hish, Pak Nicko ... pura-pura aja deh. Bilang aja Bapak malu ketahuan sama saya ...."


Astaga Ya Tuhan, kapan aku bisa terlepas dari makhluk aneh ini? Nicko menggerutu dalam hatinya ,ia benar-benar tak sanggup terus bersama Bu Sinta.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2