
"Hah? Apa? Mereka mengunci kita?"
"YA! Karena mereka kira, jika pintu perpus ini macet, Pak! Jadi mereka mencoba-coba mengunci dan membuka, terus saja seperti itu. Aarrgghhh, semua ini karena ulah Anda Pak Nicko. Tanggung jawaaaaab!" Giara berteriak.
"Heh, ssshhttt, diam kamu! Jangan berteriak, nanti terdengar oleh orang dari luar. Kita pikirkan saja, bagaimana caranya kita bisa segera keluar dari tempat ini. Okay?" Nicko merayu Giara, walau sebenarnya ia sendiri pusing harus bagaimana.
"Terserahlah! Aku sangat membencimu!" Giara emosi bukan main.
"Jangan berisik terus kamu! Tunggu saja dulu, kita cari bagaimana jalan keluarnya. Bukankah di perpus ini ada jendela, kita keluar saja dari jendela. Mudah, bukan? Jadi cewek bawel banget! Kamu banyak ngomong terus!" gerutu Nicko.
Mata Giara melotot tajam seakan-akan mau keluar karena Nicko terus saja berbicara omong kosong. Padahal, Nicko termasuk dosen baru di kampus ini, dan Nicko tentu saja masih belum tahu bagaimana konstruksi perpustakaan ini.
"Bicara saja terus seperti tong kosong yang nyaring bunyinya! Ngomong terus nyerocos, tapi ga ada artinya! Bapak gimana sih, jendela di perpus lama ini memang banyak, Pak! TAPI ..., Tapi, Pak, TAPI ..., kita ini berada di lantai dua! Dan Bapak tahu kan betapa tingginya bangunan kampus kita? Membuka jendela, dan keluar dari jendela, Bapak mau bun*uh diri, ha? Tinggi banget kali, Pak, tinggi ..." Giara berucap dengan mata yang menonjol keluar saking gemasnya pada Nicko.
"Astaga, iya juga. Kenapa aku bisa lupa akan hal seperti itu? Aduh, bagaimana caranya kits keluar kalau begini?" Nicko menggaruk-garuk kepalanya.
"Aarrrgghh, Pak Nicko! That's my question from earlier, you know!" Bapak sih nyebelin banget deh!" Giara memonyongkan bibirnya.
Nicko menatap ekspresi Giara yang menyebalkan. Apalagi, bibir merekahnya yang dimajukan ke depan. Ingin rasanya Nicko menutup bibir Giara dengan bibirnya, agar gadis itu tak terus berbicara. Eh?
"Diam, atau ...," Nicko menghentikan ucapannya.
"Apa? Apa? Atau apa? Semua ini terjadi karena Bapak tahu gak! Kalau saja Pak Nick----" ucapan Giara terhenti karena Nicko melakukan sesuatu padanya.
Melakukan apa?
Ayooo, melakukan apa?
Apa yang Nicko lakukan pada Giara?
__ADS_1
Ternyata, Nicko hanya menutup mulut Giara dengan ibu jarinya. Nicko geram, Giara terus saja berbicara tanpa henti dan terus menyalahkan dirinya. Jangan halu ya, Nicko tak mungkin berani mencium Giara jika keadaannya tak terpaksa seperti saat di Bali tempo dulu.
Itupun yang nyosor duluan Giara, bukan Nicko. Nicko selalu menjaga harga dirinya dari hal yang memalukan seperti itu. Nicko selalu menguatkan dirinya, jika ia tak boleh terpancing sedikitpun, walaupun sebenarnya ia menginginkan hal tersebut.
“Mm, lepas!" Giara menepis ibu jari Nicko yang menempel di bibirnya.
"Kamu bisa saja bilang banyak bicara padaku, padahal jelas-jelas kamu sendiri yang sedari tadi bicara dan tak mau mengalah!" Nicko membalas ucapan Giara.
"Ya iyalah, gimana aku gak ngomong terus! Semua ini kan karena Bapak menculik aku! Pak Nicko yang bawa aku kesini. Bapak emang bener ya, nyebelin banget. Kenapa sih? Kan bisa kasih tahu lewat telepon! Gak pake acara culik-culikan seperti ini! Akhirnya, kita jadi terkunci kan di perpus lama ini!" memang sudah watak Giara, banyak bicara dan tak pernah berhenti walau sudah diperingatkan sekalipun.
"Astaga, kamu bilang aku menculik? Dasar tak tahu terima kasih! Dengar ya, Giara ... aku begini karena peduli padamu. Aku memberitahumu perihal dekan yang tengah mengintaimu! Bukannya berterima kasih, malah terus saja menyalahkan! Dan juga, perihal menghubungimu, jika saja aku bisa menghubungimu sudah kulakukan sejak tadi. Apa kamu tak ingat? Bukankah nomorku masih kau blokir sejak saat itu? Jika saja kamu sudah membuka blokiran-nya, aku tak mungkin bersusah payah seperti ini!" pekik Nicko tak mau kalah.
Sontak saja mulut Giara yang sejak tadi tak henti-hentinya berbicara, akhirnya diam juga. Ucapan Nicko mampu membungkam mulut Giara yang terus berbicara seperti bebek.
Giara sadar, ia memang memblokir nomor ponsel Nicko. Sebenarnya Giara lupa, ia tak membuka blokirannya lagi. Refleks, Giara pun mengambil ponsel dari saku jeans-nya, ia melihat kontak yang telah diblokir.
“Kurang ajar sekali kamu menamai kontakku dengan sebutan bon cabe! Atas dasar apa kamu memberikan nama itu pada kontakku, Giara!?" pekik Nicko terlihat kesal.
Astaga, astaga ..., aku lupa. Aku tak ingat jika aku menamai dirinya dengan sebutan dosen bon cabe. Kenapa juga dia harus kepo, sih? Kenapa dia harus melihat ponselku? Dasar dosen kepo. Selain mulutnya pedas, ternyata jiwa ke-kepoannya juga begitu tinggi! Fiuh, dasar dosen menyebalkan! Batin Giara dalam hati.
"Apa Pak Nicko tak merasa jika Bapak itu seperti Bon Cabe?" Giara malah memancing kemarahan Nicko.
"Ya tentu saja tidak! Kamu pikir aku ini pedas seperti Bon Cabe apa?" sentak Nicko.
Jelassssss, pemarah dan emosian! Apa bedanya Anda dengan Bon Cabe level 30, Pak! PEDASSSSS dan PANAASSSSS. Ucap Giara lagi dalam hati.
"Kalau Pak Nicko tak merasa, ya Bapak jangan marah dong, apalagi melotot seperti itu. Serem banget tahu, matanya udah kayak mau loncat keluar aja. Slow Pak, slow, kalau Pak Nicko emang gak ngerasa kayak bOn Cabe. Oke, Pak? aku ganti kok sekarang. Ganti nih ganti, lihat nih ..." Giara memerlihatkan lagi ponselnya pada Nicko.
Nicko tak menjawab ucapan Giara. Ia hanya menatap ponsel Giara sembari fokus memerhatikannya. Berharap jika Giara memang benar akan mengganti nama kontaknya. Ternyata benar, Giara menghapus kontak dengan tulisan "Dosen Bon Cabe" itu.
__ADS_1
"Ganti namanya dengan Dosen tampan saja!" celetuk Nicko membuat Giara kaget bukan main.
"Whaaaa, uhuk-uhuk," Giara refleks tersedak.
"Heh, kenapa kamu? Tersedaknya dibuat-buat sekali."
"Ya bukannya begitu, Pak Nicko kok pede banget sih pengen aku nulis nama kontaknya dengan sebutan tampan!" Giara terkekeh.
"Lah, memang fakta kan? Coba kamu lihat dosen di sini. Apa memang ada yang setampan aku? Apalagi dekan dan rektor, semuanya sudah pada berumur. Sepertinya, aku dosen termuda di kampus ini, yang tentu saja lebih fresh dan tampan!" Nicko begitu percaya diri.
Giara tak kuasa menahan tawanya, "Pak, boleh gak saya ketawa?"
“Ketawa saja, kamu juga pasti mengakui apa yang kukatakan barusan, kan?" Nicko mengangkat kedua alisnya.
"Kayaknya lebih cocok disebut Duda Tampan, sih ..." anehnya, Giara begitu refleks ketika mengatakannya. Antara sadar dan tidak dia mengucapkan duda tampan pada Nicko.
Nicko jadi merasa kaget, ketika Giara mengucapkan kata duda tampan. Tak seperti tadi yang terus menyanggah ucapan Giara. Kini Nicko terdiam membisu, karena ucapan Giara barusan membuat mereka sama-sama canggung.
"Ah, terserah kamu saja. Apapun itu namanya, asalkan jangan bon cabe! Keterlaluan kalau begitu,"
"Baiklah, aku ganti nama kontak Bapak dengan tulisan "Duda Tampan" biar Pak Nicko bahagia," ujar Giara.
"Bahagia? Memangnya ada seorang duda yang bahagia? Kalau bahagia, aku tak mungkin menyandang status sebagai seorang duda, yang sudah kesepian sejak enam tahun lamanya." ucap Nicko begitu refleks.
Deg. Jantung Giara gedebak-gedebuk merasa bersalah. Kenapa Nicko malah kadi curhat seperti ini?
Ya Tuhan, apa aku salah bicara? Kenapa aku jadi tak enak telah berkata seperti itu. Batin Giara sembari menatap Nicko yang tengah melihat ke langit-langit perpus lama ini.
*Bersambung*
__ADS_1