Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 30. Sugar Baby Duda Tampan


__ADS_3

Nicko menutup gudang lama perpustakaan. Ia mengamati keadaan sekitar, semoga tak ada orang yang melihat mereka masuk ke ruangan itu. Giara kaget bukan main, karena tiba-tiba Nicko malah menyeretnya masuk ke ruangan lama ini.


"Pak Nicko ngapain sih Pak? Kenapa ganggu saya?" Giara kesal bukan main.


"Giara, ini adalah tempat yang paling aman untuk kita bicara."


"Bicara apalagi sih, Pak? Pak Nicko kekeh maksa saya buat nerima tawaran Bapak? Maaf, Pak, saya gak bisa! Pak Nicko tak mungkin bisa mencukupi semua kebutuhan saya!" sentak Giara.


"Bukan, bukan itu! Aku tak peduli kamu mau terima tawaranku atau tidak. Sebenarnya aku hanya mengkhawatirkanmu saja, Giara! Tapi sayangnya, kamu terlalu menilai saya buruk."


"Apa memangnya? Apa yang ingin Bapak katakan?"


"Giara, dengarkan aku, namamu sudah ada dalam coretan merah. Dekan dan penasehat kampus mengetahui profesimu itu. Aku baru mendengarnya dari Bu Sinta, dosen fakultas ekonomi. Dia berkata, jika ada yang melaporkanmu, dan kini penasehat kampus tengah mencari bukti lebih kuat untuk meyakinkan semuanya." ucap Nicko penuh rasa khawatir.


Giara terdiam. Ia memandangi Nicko. Antara percaya dan tidak percaya, apakah ucapan Nicko memang benar adanya? Apakah benar, jika dirinya ditandai oleh pihak kampus?


"Bapak bohong kan?"


"Untuk apa aku berbohong? Tak ada gunanya. Aku serius, Giara. Harusnya kamu sadar, jika kamu akan mendapat masalah jika terus-menerus menjadi sugar baby Om-Om di luar sana. Mereka tengah mengamatimu. Jangan sampai kamu dikeluarkan dari kampus karena pekerjaan ini! Sudah kubilang kan, pekerjaanmu ini memiliki resiko yang sangat tinggi! Jangan sampai karena hal ini kamu tak bisa mengejar cita-citamu! Bukankah kamu masuk ke kampus ini karena mendapat bantuan dari sekolahmu dulu? Apa kamu mau menyia-nyiakannya Giara?"


Giara terdiam. Ucapan Nicko membuatnya bingung. Ia sadar, jika pekerjaannya ini memang menanggung resiko. Giara kira, identitasnya akan tetap aman. Namun rupanya, pihak kampus tengah mengamatinya. Siapa yang tega melaporkan Giara?


Jika tidak menjadi seorang sugar baby, bagaimana Giara bisa mencukupi kehidupannya dan membiayai berobat jalan sang Ibu? Giara sudah pernah mencoba pekerjaan lain, seperti berjualan dan bekerja part time di toko. Namun semua itu tak mampu mencukupi biaya hidupnya.

__ADS_1


"Aku tak bisa berhenti menjadi seorang sugar baby. Aku sudah nyaman dengan posisiku saat ini. Pak Nicko tak tahu betapa kerasnya aku berusaha untuk tetap bertahan hidup! Tak ada yang tahu bagaimana sulitnya aku jika aku tak bekerja seperti ini. Aku adalah tulang punggung keluarga! Aku harus membayar biaya berobat jalan Ibu rutin setiap dua minggu sekali. Aku tak punya asuransi kesehatan, tak ada yang meng cover penyakit Ibuku. Tak ada bpjs, tak ada KIS yang bisa aku gunakan untuk meringankan biaya berobat Ibu."


Nicko terdiam. Ia menatap Giara, mata Giara terlihat berkaca-kaca saat mengatakannya. Mungkin memang benar, jika Giara tertekan. Ia terpaksa melakukan pekerjaannya itu demi menyambung hidup.


"Sudah kubilang, terima tawaranku, dan hanya jadi sugar baby untukku! Belajarlah dengan baik, dan aku akan membiayai semuanya sampai kamu lulus! Tak usah bertanya apa alasanku meminta hal ini padamu, karena aku sendiri pun, tak tahu. Hatiku hanya tergerak untuk membantumu! Dan anehnya, setiap apa yang kamu lakukan, aku selalu khawatir. Padahal, awalnya aku begitu kesal padamu. Tapi lama-lama, aku selalu dihantui rasa khawatir padamu, Giara! Tak bisakah kau pertimbangkan tawaranku? Kurang baik apa aku padamu, Giara?"


Giara terdiam. Ia tak mungkin menerima tawaran Nicko. Mana bisa Giara menerima tawaran Nicko. Akan sungkan rasanya jika meminta sesuatu dari Nicko. Mereka tak sedekat itu untuk saling melakukannya.


Mana mungkin Giara bisa memanfaatkan Nicko terus-menerus. Rasanya akan sangat canggung, jika Giara melakukannya. Tapi, jika ia dikeluarkan dari kampus, bagaimana?


"Aku tak mungkin melakukannya, Pak. Pak Nicko bukan siapa-siapa untukku. Tak mungkin semudah itu aku memanfaatkanmu. Biarlah, Bapak tak usah memedulikan aku, karena aku pun tak peduli dengan Anda. Aku akan menjalani kehidupanku seperti biasanya. Jika memang aku harus dikeluarkan, mungkin memang jalanku harus seperti itu. Tak mengapa, karena aku memilih pasrah atas apa yang Tuhan berikan padaku. Yang terpenting, aku bisa membiayai pengobatan Ibu."


Lagi-Lagi, Giara malah menyerah dan seakan tak peduli dengan ancaman yang ada di depan matanya. Nicko kesal, karena Giara begitu keras kepala. Padahal saat ini, Giara tengah diperhatikan oleh pimpinan kampus, karena ulahnya ini tentu saja akan mencemari nama baik universitas.


Deg. Giara sontak saja kaget karena Nicko tahu biodata yang pernah ia tulis saat dulu akan memasuki kampus ini. Nicko tahu darimana? Apakah Nicko sengaja mencari tahu semua tentang Giara?


"B-Bapak tahu darimana biodata itu? Aku hanya menulisnya saat ospek dulu. Dan kurasa, Pak Nicko belum menjadi dosen di sini," Giara sedikit kaget.


"Aku melihat resume-mu di perpustakaan. Aku selalu tergelitik dengan anak-anak sepertimu. Karena itulah aku mencari tahunya. Ternyata, kamu adalah anak yang baik Giara. Kamu hanya salah arah dalam menentukan kehidupanmu," ucap Nicko dengan pancaran mata yang bersinar.


"B-benarkah?"


Ucapan Nicko sangat hangat, dan membuat Giara tersentuh. Ternyata, dibalik sikap dingin dan cuek Nicko, ia begitu memerhatikan Giara. Kenapa Nicko harus susah payah memerhatikan gadis nakal seperti Giara?

__ADS_1


"Giara, aku tak mengenalmu, dan aku tak memiliki perasaan apapun untukmu. Tapi, kamu membuatku tertarik untuk ikut campur dalam kehidupanmu. Karena, kehidupanmu begitu berbeda dengan anak-anak lain pada umumnya. Kenapa harus memilih jalan sulit itu? Padahal yang kamu lakukan ini begitu memiliki resiko yang cukup tinggi."


"Aku ingin membahagiakan Ibuku, namun cara yang aku lakukan salah. Tapi, dengan cara ini, aku bisa melakukannya. Dengan tetap kuliah, dan membiayai pengobatannya," air mata itu jatuh tak tertahan, Giara menangis, ia tak bisa menahan air mata itu sejak tadi.


"Menangislah, jika menangis mampu membuatmu merasa tenang. Luapkan semua kesedihan itu, dan cobalah berpikir jernih, mungkinkah hidupmu akan selalu begini, Giara? Suatu hari, kamu pasti menyesalinya, jika kamu tetap melakukan jalan ini." tegas Nicko.


Haruskah aku terima tawaran Pak Nicko untuk menjadi sugar baby pribadinya? Tapi, kenapa Pak Nicko memintaku melakukan itu? Apakah dia tak sayang pada uangnya? Ucap Giara dalam hati.


"Aku tak mungkin memberatkan Anda, Pak. Aku bukan siapa-siapa bagimu. Kenapa juga Pak Nicko harus terus meminta aku untuk jadi sugar baby pribadimu?"


Pertanyaan yang sulit untuk Nicko. Namun, semua ini Nicko lakukan karena Queen yang begitu menginginkan kehadiran Giara. Anak Nicko lah yang menyebabkan Nicko jadi terus memerhatikan Giara.


"Karena anakku ..."


Giara refleks menatap Nicko,


"Anak Pak Nicko?"


“Ya, dia ingin bertemu lagi denganmu. Dia rupanya menyukaimu, hingga kedua orang tuaku pun memaksa, untuk mengajakmu datang ke rumahku. Karena itulah, aku memintamu untuk mau menjadi sugar baby-ku. Hanya sebatas untuk menyenangkan hati anakku, Giara. Mungkin, kamu juga bisa menjadi Kakak untuknya ..., mungkin," Nicko berkata Kakak begitu ragu dan tak yakin.


"K-Kakak?" Giara gugup. Ada sebuah perasaan yang aneh ketika Nicko mengatakan itu.


Haruskah aku terima menjadi sugar baby duda tampan ini? Hanya berpura-pura didepan anaknya?

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2