Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 61. Bersikap Sok Manis


__ADS_3

Mulutmu, Harimaumu! Pekik Giara dalam hati.


Bisa-Bisanya Nicko mengatakan bahwa uang Giara adalah uang haram. Tentu saja Giara emosi bukan main. Namun apa boleh buat, Giara tak bisa membantah sedikitpun, apa yang dikatakan oleh Nicko.


Separah apapun perkataan Nicko padanya, Giara akan tetap menerimanya dengan lapang dada. Giara sadar diri, jika ia memang salah. Namun sebenarnya, tak perlu juga Nicko mengungkit hal tersebut.


Nicko pun melihat ibunda Giara yang tengah duduk di kursi roda. Wajahnya masih terlihat cantik walau tengah sakit-sakitan. Bicaranya sudah tak jelas, karena hampir setengah tubuhnya sudah tak berfungsi.


Penyakit struk yang Ibu Giara alami sudah merusak beberapa saraf di otaknya. Nicko memaklumi penyakit mematikan ini, karena memang mendiang Kakek Nicko pun pernah mengidap darah tinggi dan struk mendadak.


"Ibu, Ibu jangan sedih ya, saya yakin, jika Ibu berobat jalan, penyakit Ibu akan berangsur membaik. Apalagi Ibu masih muda. Harus banyak afirmasi positif untuk menunjang kesehatan Ibu. Semoga saja, Ibu bisa mencoba untuk terus semangat, jangan pernah menyerah. Ini bukan titik terendah hidup Ibu, Ibu masih kuat dan bisa bertahan sampai nanti. Semoga saja ya, Bu, kami akan mendoakan yang terbaik untuk Ibu." Ucap Nicko sambil memegang tangan Ibunda Giara.


Bu Yuni namanya, walau tengah sakit keras, ibunda Giara tetap terlihat begitu cantik. Hanya saja, tubuhnya yang kurus membuat iBu Giara nampak menyedihkan. Mendengar ucapan Nicko, membuat air mata Bu Yuni mengalir.


Bahagianya, masih ada orang baik yang memahami keadaannya. Apalagi, sampai mau memegang tangannya dan memberikan semangat untuknya. Bu Yuni hanya bisa menjawab dengan anggukan saja, karena bicara pun sudah tak jelas dan tak mungkin dimengerti oleh Nicko.


"Ibu, maafkan saya ya, saya izin mengambil foto Ibu. Saya ingin berfoto dengan Ibu. Apakah boleh, Bu? Atau Giara, kita foto bertiga sama-sama. Bagaimana?" Nicko mencoba merayu Bu Yuni, agar tak terlalu mencolok jika semua ini hanya untuk keperluan laporan pada pihak DPA Kampus.


Bu Yuni menatap Giara, seakan tak mengerti, kenapa harus ada sesi difoto segala. Giara pun tersenyum dan seakan memahami apa yang dikhawatirkan oleh sang Ibunda.


"Ah, begini, Bu ... Pak Nicko ini kan dosen di kampus Gia, jadi Pak Nicko ingin ada dokumentasi orang tua siswa. Tenang aja, gak ada maksud apa-apa kok, Bu. Ibu gak perlu khawatir. Ya ...," Giara merayu sang Ibu.


Akhirnya dengan sedikit bujuk rayuan, Bu Yuni mau difoto sambil tersenyum. Terlihat sekali, jika dirinya memang sakit. Tubuhnya yang kering, dan terlihat duduk di kursi roda, sudah menandakan jika Ibunda Giara memang tengah sakit.


Nicko mencoba memfoto sebaik mungkin agar meyakinkan penasehat kampus, jika orang tua Giara benar-benar sakit keras, dan Giara berjuang penuh untuk kesembuhannya. Sehingga itu, Giara terpaksa menjadi sugar baby untuk membiayainya.


Nicko sudah yakin, jika laporan yang ia berikan mampu membuat pihak DPA percaya. Memang semua ini benar adanya, kehidupan Giara sangat menyedihkan. Bahkan, rumah ini pun terlihat sudah lapuk dan tua.


Giara memang hanya tinggal di rumah peninggalan keluarga Ayahnya. Hanya rumah ini satu-satunya harta berharga mereka. Nicko sudah merekap semua bukti fisik rumah beserta isinya. Semua ini dilakukan untuk menunjang laporan tentang penangguhan pemberhentian Giara.

__ADS_1


Setelah Nicko rasa selesai, ia akhirnya keluar dari rumah Giara, dan duduk di kursi teras. Giara pun membawakan teh hangat untuk Nicko. Mana tahu Nicko haus lagi, padahal tadi Giara juga sudah memberikan teh untuknya.


"Terima kasih atas kerja samanya. Kuharap, ibuku tak curiga sedikitpun tentang pemotretan yang terjadi," ujar Nicko.


"Sepertinya Ibu tidak akan curiga, karena dia tahu, jika Pak Nicko adalah dosenku di kampus. Minum lagi, Pak, kelihatan banget kalau Pak Nicko haus dan lapar," Giara terkekeh.


"Mana bisa aku minum dan makan di depan ibumu. Entah mengapa, aku begitu canggung dan gugup dihadapannya. Aku merasa aneh, Giara ... apakah ini efek bertemu dengan calon mertua?" tanya Nicko.


"Uhuk, uhuk," Giara refleks tersedak.


"Eh, kenapa kamu? Nyediain minum buat saya, tapi malah kamu yang tersedak. Minumlah dulu gelas milikku, biar tenggorokan kamu sedikit enakan," Nicko menyerahkan gelasnya.


Giara menggeleng, ia mencoba menghela napasnya agar lebih rileks lagi. Bukan tanpa alasan Giara tersedak. Ia tersedak karena ucapan Nicko yang berkata 'calon mertua'. Hal itu tentu saja membuat Giara kaget bukan main.


"Ah terima kasih, Pak. Tak usah, itu milik Pak Nicko. Lagipula, saya sudah enakan kok." jawab Giara.


"Padahal tak mengapa, milikku juga kan nantinya jadi milikmu ..." Nicko tersenyum manis.


“Ya Tuhan, ada apa dengan Anda Pak Nicko? Bicaranya benar-benar tak difilter. Tak biasanya Pak Nicko seperti ini," Giara mencoba sok tenang, padahal dalam hatinya ia begitu bahagia.


"Memang tak biasa, karena itulah aku akan membiasakannya, agar aku terbiasa bersikap manis padamu ..."


Wajah Giara memerah seketika. Benar-Benar bukan Nicko yang Giara kenal. Nicko ini, adalah Nicko yang berbeda. Giara tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Nicko yang banyak bicara ini. Wajah Giara memerah padam, Giara malu, karena Nicko terus berkata romantis padanya.


Giara hanya tersenyum simpul mendengar ucapan gombal Nicko. Ia tak boleh memasukannya kedalam hati, karena semua pria rata-rata memang sering menggombal. Giara harus terbiasa dengan keadaan ini.


"Ah, Pak Nicko, gombal banget sih ..." Giara tersipu malu.


"Kamu belum tahu saja, jika aku ini bisa mengalahkan pujangga yang ada di muka bumi ini!"

__ADS_1


“Cih, pede banget!" Giara menjulurkan lidahnya.


"Ah, terserah kalau kamu tak percaya. Kamu bisa buktikan sendiri nanti! Ngomong-Ngomong nih ya, karena membantu kamu, aku jadi terjebak bersama Bu Sinta!" Ucap Nicko mengendikkan bahunya.


"Terjebak gimana maksud Pak Nicko?"


“Dia yang akan membantuku merayu DPA, agar kamu tak dikeluarkan. Sebagai gantinya, jika kamu berhasil tak dikeluarkan, dia meminta aku jalan-jalan dengannya. Aku harus pergi bersamanya. Mentraktirnya, dan membelikan semua apapun yang dia inginkan. Bayangkan saja, Giara ... aku harus seperti itu. Oh Tuhan, bencana besar untuk kehidupanku. Semua ini karena kamu! Demi kamu, dan untuk kamu! Harusnya kamu pahami itu, Giara!" ucap Nicko begitu meyakinkan Giara.


"Ya Tuhan, ingin tertawa, tapi aku takut dosa ,karena bahagia di atas penderitaan Pak Nicko. Tapi, terima kasih banyak, jika Pak Nicko rela melakukan hal itu untukku ... walau, sejujurnya Bu Sinta memang menyeramkan sih, Pak,"


"Karena itulah, aku malas, namun aku tak ada pilihan lain." Nicko terus menggerutu membicarakan Bu Sinta.


"Gak apa-apa, Pak, yang penting kan aku gak dikeluarin dari kampus. Makasih banyak Pak duda, eh Pak Dosen maksudku," Giara tertawa.


"Kurang ajar kamu! Awas keceplosan bilang begitu di kampus!"


"Enggak akan Pak, mulutku di sekolahin kok,"


"Awas saja kamu!" ancam Nicko.


Tiba-Tiba, ponsel Nicko berdering, terlihat nama kontak sang Mama memanggilnya.


~My Mama~


"Eh, Ra, bentar ... Mamaku nelepon, aku angkat dulu ya!"


"Ah, iya, silakan Pak,"


Nicko pun sedikit menjauh dari Giara, karena Fera meneleponnya.

__ADS_1


*Bersambung*


__ADS_2