
Setelah selesai meminta sekretarisnya untuk memotret, Papa Nicko memutuskan untuk tak jadi makan di restoran tersebut. Ia lebih memilih untuk membungkusnya dan segera pulang ke rumah. Ada hal yang harus Papa Nicko laporkan pada istri dan cucunya di rumah.
“Gilang, aku ke mobil lebih dulu. Aku takut Nicko melihatku. Kamu segera bayar dan ambil pesanan kita. Aku tunggu di mobil sekarang. Hati-Hati, jangan sampai Nicko tahu,” ujar Papa Nicko.
“Baik, Tuan Andi,” sang sekretaris pun segera memberikan kunci mobil pada Papa Nicko, lalu ia menjalankan perintah yang diminta Papa Nicko.
Papa Nicko berlalu, ia sengaja segera berlalu, karena Nicko bukan anak yang suka dicampuri urusannya oleh orang tua. Papa Nicko sudah hafal betul watak anak keduanya ini. Berbeda dengan Kakak Nicko, yang justru sejak dulu malah memusingkan dirinya, karena terlalu sering gonta-ganti wanita, hingga terkadang banyak sekali wanita yang datang ke rumahnya karena perlakuan Ricko, Kakak Nicko.
Berbeda sekali dengan Nicko, yang sejak dulu selalu setia pada satu wanita, hingga mereka menikah, namun akhirnya harus kandas karena istri Nicko pergi tanpa sebab. Karena itulah, Papa Nicko begitu antusias ketika melihat anak bungsunya itu bersama dengan seorang wanita.
Sejak bercerai dengan Diana, Nicko tak pernah sekalipun dekat dengan wanita lagi. Bahkan, pernah Ricko memperkenalkan wanita padanya, namun Nicko enggan menggubris apa yang kakaknya lakukan. Nicko menutup diri pada wanita. Mungkin ia memang trauma.
Namun melihat keadaan ini, membuat Papa Nicko merasa tenang. Ternyata Nicko tak trauma, mungkin Nicko hanya belum menemukan wanita yang cocok saja untuknya, pikir Papa Nicko.
Kembali pada Nicko dan Giara ... kini mereka tengah menikmati hidangan yang disajikan restoran tersebut. Nicko merasa bersyukur, karena kini ia dan Giara mulai bisa berdamai. Walau kadang kala perdebatan dan masalah tetap ada, anehnya Nicko kini emrasa lega karena ia dapat berhubungan baik dengan Giara.
Saat Nicko memandang kearah pintu keluar, ia sedikit heran melihat seseorang yang tengah membuah beberapa bungkusan. Nicko seakan mengenalnya, namun ia tak yakin itu siapa. Nicko mengernyitkan dahinya berkali-kali, seakan ia melihat asisten pribadi Papanya, namun Nicko masih tak yakin dengan apa yang baru saja ia lihat.
“Pak Nicko kenapa?” tanya Giara yang heran melihat ekspresi Nicko.
“Sepertinya aku melihat sekretaris Papaku, tapi aku tak yakin itu dia,” jawab Nicko.
“Mungkin hanya mirip, Pak,”
“Sepertinya begitu,” Nicko mengangguk pelan.
Giara pun turut mengangguk juga. Tak berapa lama, ponsel Giara berdering. Ponselnya sudah berdering sejak tadi, namun Giara sengaja tak mengangkatnya, karena itu adalah Om Roy. Pria tua itu sepertinya menginginkan jasa Giara, namun Giara ragu untuk menerimanya.
Beberapa menit kemudian, karena tak kunjung diangkat jua panggilannya, Om Roy mengirim pesan pada Giara. Tanpa sepengetahuan Nicko, Giara pun membaca pesan dari sugar daddy-nya tersebut.
“Diva, kenapa kamu mengabaikan Om? Apa kamu ingin memutus hubungan dengan Om? Harusnya tidak seperti ini, Diva. Om kurang baik apa padamu? Harusnya kamu bicarakan baik-baik jika ada masalah, jangan menghindar seperti ini. Bukankah dulu kamu sudah berjanji akan selalu menjadi teman wanitaku?”
Isi pesan tersebut sedikit membuat Giara khawatir. Sepertinya memang sulit melepas status sugar baby yang sudah melekat pada dirinya. Jika saja Nicko tak mengatakan jika Giara sedang diintai, maka Giara tak akan seragu ini pada pria-pria yang menjadi sugar daddy-nya.
Akhirnya, Giara mencoba mencari jalan keluar dengan menggunakan Nicko sebagai penyelamatnya. Giara akan berbicara pada Nicko, dan berharap jika Nicko mampu menyelesaikan masalahnya.
“Pak Nicko,” seru Giara.
“Ya?”
“Apa Bapak bisa bantu saya?” tanya Giara.
__ADS_1
“Bantu apa?”
“Apa Pak Nicko bisa meyakinkan dekan dan dewan penasehat agar meredakan kasusku? Maksudnya, apa Pak Nicko bisa membuat mereka menghentikan pengintaian padaku? Aku ingin namaku bersih lagi, Pak,” Giara mencoba merayu Nicko.
Nicko terdiam. Ia sebenarnya bingung harus berbuat apa, karena Nicko juga tak punya kuasa di kampus ini. Apalagi, di kampus ini, Nicko juga termasuk dosen baru yang baru merangkak. Apakah mungkin mereka bisa mendengarkan Nicko dan menghentikan kasus Giara saat ini?
"Entahlah, aku tak yakin. Siapa yang mau mendengarkan dosen baru sepertiku? Yang penting kamu berhenti saja, maka tak akan ada bukti kuat untuk mereka terus mengintaimu. Itu juga sudah cukup, dan mampu membuat mereka menghentikan pengintaian terhadapmu,” jawab Nicko.
Ya Tuhan, bagaimana ya aku bicaranya? Tapi, apa aku bisa benar-benar meninggalkan dunia itu? Aku merasa tak enak pada Om Hans, Om Roy, Papa Bima, semua orang yang telah berbaik hati padaku. Batin Giara.
“Ah, begitu ya, baiklah Pak, terima kasih banyak ya, semoga saja masalah ini cepat berlalu.”
“Tapi, aku akan mencoba mencari cara, kamu tenang saja, asalkan kamu bersungguh-sungguh akan meninggalkan dunia gelapmu itu,”
“B-baik, Pak,” jawab Giara nampak ragu.
Giara pun terdiam, ia benar-benar dilema harus bagaimana dan berbuat apa kedepannya. Seprtinya tak akan mudah untuk melepaskan diri sebagai sugar baby. Giara sudah sangat melekat dengan pekerjaannya itu. Mungkinkah Giara benar-benar mampu meninggalkan dunianya?
........
Kediaman Nicko ....
Andi Alandani, Papa Nicko tengah mengajak Fera sang istri dan Queen untuk duduk bersama di ruang keluarga. Fera heran, karena sang suami terlihat bahagia sekali. Entah ada apa yang terjadi pada Andi, hingga ia bereaksi seperti ini.
“Queen sayang, sini-sini, Opa akan memperlihatkan sesuatu pada kamu,” ujar Andi antusias.
“Apa itu Opa? Apakah mainan baru? Barbie yang aku inginkan?” tanya Queen.
“Barbie hidup sepertinya ini ...” Andi terkekeh.
“Papa ini bicara apa sih? Gak jelas banget!” Fera tak paham.
Andi mengeluarkan ponsel dari sakunya. Lalu ia memerlihatkan sebuah foto yang tadi telah dipotret oleh Gilang, sekretarisnya. Saat Andi membuka foto tersebut, refleks Queen lansung bereaksi dan dia terlihat begitu ceria.
“Queen, coba lihat ini siapa?” tanya Andi serius.
“Opa! Inikan foto Kakak baik! Ini Ayah sama Kakak baik, Opah! Ih, kenapa Ayah jahat banget sih sama aku Opah? Kenapa Ayah gak ajak aku buat ketemu sama Opah baik ...” Queen cemberut.
“Nanti Opa suruh Ayah ajak Kakak baik untuk ke sini, ya.” Andi mengusap-usap rambut Queen.
“Apa? Kakak baik? Papa, kamu dapat foto ini di mana?” Fera mengambil ponsel suaminya, lalu memerhatikan dengan jelas foto Nicko dan Giara.
__ADS_1
“Pah, inikah wanita yang sedang dekat dengan Nicko? Tak salah? Kenapa terlihat sangat masih muda?” Fera merasa aneh.
“Ma, Papa tak tahu. Tanya saja pada Nicko nanti.”
Bak pucuk dicinta, ulampun tiba ... Nicko ternyata sudah berada di depan pintu dan mengetuk pintu rumahnya. Pintu tak tertutup, hingga akhirnya Nicko bisa segera langsung masuk dan menyapa keluarganya.
“Selamat sore sayang, Ayah pulang. Sore Mah, sore, Pah,” Nicko menyapa keluarganya.
“Ayah! Ayah jahat! Kenapa Ayah gak ajakin aku kalau mau ketemu sama Kakak baik? Aku minta Kakak ke rumah gak boleh, tapi Ayah malah terus saja ketemu sama Kakak baik tanpa ngajakin aku!” Queen terlihat cemberut kesal.
“Loh, loh, apa maksud kamu sayang?” Nicko heran tak mengerti.
“Queen marah sama Ayah!” Queen berlalu meninggalkan ruang keluarga.
Fera segera menyuruh pembantunya untuk menemui Queen, karena ia dan Andi akan menginterogasi Nicko, terkait foto yang diperlihatkan Papanya pada sang Mama.
“Nicko, duduk dulu,” pinta Fera.
“Tapi, Ma, itu Queen?”
“Tak apa, nanti saja kamu temui dia. Mama mau bicara,” tegas Fera.
Andi terlihat diam saja, karena tak paham dengan apa yang diinginkan istrinya. Fera rupanya sedikit terganggu dengan penampilan gadis yang difoto bersama Nicko. Bagi Fera, gadis itu terlalu muda dan masih kekanak-kanakan. Dan tentunya tak pantas untuk jadi sosok seorang Ibu.
“Ini pacar kamu?” Fera memerlihatkan foto Nicko dan Giara dari ponsel sang Papa.
Deg. Nicko kaget bukan main.
“K-kenapa Mama bisa punya foto itu?” Nicko tak percaya.
“Jawab saja, Nicko. Apa benar, dia adalah wanita yang disebut Queen sebagai Kakak baik? Jika kamu belum berpacaran dengannya, apa kamu sedang dekat dengannya?” tanya Fera tegas.
“Dia bukan siapa-siapa, sudah kubilang hanya mahasiswi di kampusku. Tak lebih dari itu. Bukankah aku sudah bilang pada kalian? Jika aku tak akan pernah mencari wanita pengganti mantan istriku? Kenapa kalian terus mengusikku?” Nicko jadi kesal.
“Carilah wanita pengganti, Nicko. Cari sampai kamu bahagia. Tapi, apa kamu yakin harus dengan wanita yang semuda ini? Apa dia layak menjadi Ibu sambung untuk anakmu? Dia terlihat masih sangat muda dan belum dewasa. Apa kamu yakin dia orangnya? Mama hanya tak ingin kamu salah langkah lagi dalam memilih, Nick ...” Fera begitu mengkhawatirkan nasib Nicko.
“Ma, kita kan belum tahu,” sanggah Papa Nicko.
“Mama, Giara tak seperti yang Mama bilang! Jangan menilai orang hanya dari fisiknya saja, Mama tak tahu bagaimana dia! Akulah yang tahu, siapa dan bagaimana sikap Giara”
Nicko, kenapa kamu ini labil sekali? Tadi kamu bilang, tak ingin mencari wanita pengganti mantan istrimu. Tapi barusan, seakan kamu membela gadismu itu. Apa yang tengah terjadi pada hatimu, Nak? Batin Papa Nicko.
__ADS_1
*Bersambung*