
Aku adalah wanita yang tak pantas untuk dicintai. Sebelum aku dewasa, aku sudah memutuskan untuk tidak mengenal kata cinta. Karena bagiku, cinta hanyalah sebuah perasaan yang menggantung, dan tak melekat selamanya. Teringat ketika Ayah meninggalkan aku dan Ibu untuk selama-lamanya. Dari situlah, aku membenci cinta. Cinta dan Takdir yang berkaitan erat dan bisa terlepas begitu saja.
Di kenyataan lainnya, banyak orang yang mengalami kegagalan cinta. Cinta itu bersifat nomaden, ia tak bisa menetap di satu tempat, ia selalu berpindah-pindah. Itulah yang aku takutkan akan sebuah cinta. Tak akan ada cinta yang abadi, dan berada statis untukku selamanya.
Ungkapan hati Giara, mewakili perasaannya saat ini. Sebelum terjun ke dunia malam, ia sudah meyakinkan dirinya, jika ia tak akan melibatkan hati dan perasaannya dalam setiap hal apapun.
Giara tak akan menerima siapapun yang berkata cinta padanya. Karena baginya, cinta hanyalah sebuah kebodohan dan membuang-buang waktu. Seperti hal nya saat ini, ucapan Nicko padanya. Apa Nicko tak buang-buang waktu mengatakan hal seperti ini padanya?
"Aku tak percaya cinta. Aku tak pernah tahu apa itu cinta. Tak ada cinta yang abadi dalam hidup ini. Selama ini, aku sering bergelut dengan orang-orang yang dengan mudahnya mengkhianati cinta. Mereka bermain-main denganku, padahal mereka memiliki cintanya di rumah. Itulah yang membuatku muak dengan para pria. Karena itulah, kuputuskan hanya untuk meraup uang yang banyak dari mereka." Giara seperti memiliki trauma mendalam pada makhluk yang bernama pria.
"Apakah aku sama seperti mereka? Apa aku menyewamu karena aku ingin mengkhianati cintaku? Aku menyewamu karena aku jelas-jelas tak memiliki cinta untuk aku pamerkan pada rekan-rekanku! Jika aku memilikinya, untuk apa aku memintamu pura-pura jadi kekasihku? Semua pendapatmu pada pria, tak bisa di sama ratakan, Giara. Aku berbeda, aku tak sama. Kenapa kamu harus menilaiku buruk padahal aku tak seburuk yang kamu pikirkan?"
Giara terdiam. Ungkapan Nicko memang benar adanya. Nicko tak sama, Nicko berbeda dari pria-pria lainnya. Justru, Nicko yang dikhianati dan ditinggalkan oleh wanitanya.
Sebenarnya, Giara hanya berkilah. Ia hanya berharap jika Nicko tak perlu menaruh hati padanya. Giara sadar diri, ia tak pantas untuk pria sebaik Nicko. Nicko layak mendapatkan wanita yang lebih baik darinya.
Mana bisa Giara mencintai Nicko? Hati Giara sudah ia bekukan sejak lama. Giara tak akan lagi jatuh cinta, pada siapapun itu. Luka tentang cinta membuatnya trauma. Karena itulah, Giara hanya berharap bisa mendapatkan uang dari pria-pria bodoh yang memanfaatkannya.
Walau sebenarnya, dalam hati Giara, ia begitu terbuai dengan ucapan manis Nicko. Ciuman panas yang Nicko berikan pun tentu saja membuat Giara merasa terhenyak.
Tubuhnya merinding, jantungnya berdebar hebat. Getaran itu memang ada untuk Nicko. Namun Giara tetap bersikukuh keras kepala, ia tak akan jatuh pada Nicko. Ia akan menepis perasaan dalam hatinya.
__ADS_1
"Pak, jangan ucapkan hal seperti itu pada saya. Buka matamu, wanita di dunia ini banyak. Kenapa harus memilih aku yang kotor ini?"
"Karena aku hanya dekat denganmu, sejak ditinggalkan mantan istriku. Selama itu, aku menutup hatiku, sampai beberapa waktu lalu, saat itu ..., saat aku menyewamu, aku tak tahu, kenapa perasaanku ini jadi aneh. Aku merasa ada hal yang berbeda saat kita bersama. Aku sendiri ingin menghapus perasaan ini, namun rupanya, semakin kita sering bertemu, semakin aku sering terikat padamu. Entahlah, perasaan ini terlalu datang mendadak memang. Namun semakin diperkuat, saat Queen anakku menyukaimu ..." Nicko menghela napas, lalu ia menunduk perlahan.
Ucapan Nicko begitu terdengar tulus dari hati. Giara pun terhanyut dengan ucapan Nicko saat ini. Jika mematahkan ucapan Nicko, tentu saja semakin Giara merasa bersalah.
Jika ditanya, bagaimana perasaan Giara saat ini? Sebenarnya, hati kecilnya tersentuh karena ucapan Nicko. Giara merasa jika Nicko tak bercanda. Tapi, tak mungkin Giara menerima ucapan Nicko.
Giara ragu, teramat ragu. Rasanya, hal ini membuatnya semakin dilema. Memegang janji itu adalah hal yang paling sulit dilakukan. Giara takut, jika ia mengatakan iya pada Nicko, nantinya ia tak bisa memegang janjinya dan malah menyakiti hati Nicko.
"Aku tak bisa memegang janji, aku selalu ingkar. Jangan memercayai orang seperti aku, Pak. Bapak salah orang."
“T-Tapi, a-aku, t-tak mungkin, aku ...,"
"Semua butuh proses. Kamu hanya tinggal memantapkan niatmu. Giara, kamulah salah satu wanita yang membuatku penasaran. Aku begitu ingin merubahmu, menjadikanmu sosok wanita yang baik dan anggun. Aku tahu, kamu melakukan pekerjaan nakal itu hanya kamu takut ibumu tak ada yang membiayai pengobatannya. Kamu takut, tak bisa membayar kuliah. Aku tahu itu, karena itulah, kamu mengambil cara instan agar bisa mendapatkan uang dengan cepat. Hentikan semua itu. Aku bisa membantumu, Giara. Aku bisa menolongmu dari semua itu. Tanpa harus malu dan canggung, karena selama ini pun, aku tak tahu uangku harus dipakai apa, selain membahagiakan Queen. Mungkin, jika kamu menerimaku, aku bisa memanfaatkan uangku untuk kamu, menghidupi kamu, salah satunya ...."
Dosen yang Giara sebut bon cabe ini rupanya memiliki hati yang tulus dan lembut. Ingin rasanya saat ini juga Giara memeluk dan merangkul Nicko. Namun sepertinya, ini adalah hal yang sulit. Rasa malu dan gengsi itu masih menutupi diri Giara, walau sebenarnya ..., hati kecilnya sangat ingin mengatakan ya, dan berterima kasih pada Nicko.
"Bagaimana? Aku hanya ingin jawaban darimu. Dari hati kecilmu yang tulus, Giara ..."
Giara menunduk, ia malu dan bingung harus mengatakan apa. Haruskah ia mencobanya?
__ADS_1
"Baiklah,"
Deg. Nicko refleks menatap Giara. Satu kata yang Giara lontarkan mampu membuat Nicko merasa sangat bahagia kali ini. Semua ini memang Nicko lakukan hanya untuk Queen. Walau sebenarnya, tak dapat Nicko pungkiri, Nicko juga tertarik dengan kecantikan Giara.
"A-apa? Kamu bilang apa barusan?"
Giara mengangguk perlahan, "Ya, aku akan mencobanya. Semoga saja bisa. Baiklah, kali ini aku bersungguh-sungguh dengan ucapanku. Aku akan menggentikan semua. Tapi, izinkan aku menemui Om Sugar Daddy-ku untuk yang terakhir kali. Aku akan berhenti dan berbicara secara baik-baik. Pak Nicko bisa temani aku, dan tunggu aku dari kejauhan. Mungkin, besok aku akan melakukannya. Dan sekarang, aku akan memberi tahu mereka satu persatu."
Nicko mengangguk mantap. Ini memang langkah yang harus Giara lakukan. Berharap jika semuanya akan berjalan lancar, dan Giara benar-benar melepas status wanita malamnya.
Giara refleks mengetik sesuatu di ponselnya, ternyata ia mengirim sebuah pesan pada Hans Wijaya. Om Hans adalah salah satu pria yang mengajaknya menikah, karena ia sudah tak tahan dengan istrinya.
Sebelum semuanya terlambat, Giara harus memberi tahu Hans perihal dirinya yang memantapkan diri memilih Nicko, dan meninggalkan semuanya.
Divania : Om, besok kita bertemu di Cafe Beer, ada yang harus aku bicarakan pada Om. Om mau, ya?
Begitulah pesan yang Giara kirimkan pada Hans Wijaya. Di rumah Hans Wijaya, ternyata ponsel itu tengah tergeletak di ranjang mewah rumah Hans Wijaya. Pesan Giara tersebut rupanya dilihat oleh istri Hans, karena Hans saat ini tengah dalam kondisi berada di kamar mandi.
"Ah, pesan dari wanita selingkuhannya Hans. Rupanya, dia bernama Diva. Besok ya? Di Cafe Beer? Aku akan diam-diam memergoki mereka, dan menghancurkan pertemuan itu. Dengan memergoki mereka, itu tandanya bukti kuat bahwa Hans selingkuh tak dapat terbantahkan. Dengan begini, aku bisa menggugat cerai si pria tua ini secepatnya, dan mengambil bagian kekayaan miliknya. Lalu, aku kembali mengejar anak dan suamiku yang sesungguhnya, yaitu ..., Nicko Alandani ...."
*Bersambung*
__ADS_1