Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 60. Uang Tak Berkah


__ADS_3

Kata-Kata yang dilontarkan Diana begitu menancap di hati Fera. Antara percaya dan tidak, Fera sendiri tak tahu harus bersikap bagaimana sekarang. Ia terdiam dalam lamunan sembari memerhatikan foto Giara yang tengah berpelukan bersama beberapa pria paruh baya.


Ungkapan demi ungkapan, masih terngiang-ngiang di kepala Fera. Kepalanya serasa berputar, kata-kata Diana begitu merasuki pikirannya. Inilah yang ia ungkapkan, yang membuat


"Maaf, bukan maksudku menghancurkan harapan Tante. Bukan pula maksudku untuk menghancurkan hubungan Nicko. Hanya saja, sebagai Ibu Queen, aku tak terima, jika Queen mempunyai Ibu sambung yang sifatnya benar-benar tak terpuji. Maaf, Tante, bukan maksudku ingin merebut Nicko. Ini murni karena aku tak ingin Queen mendapatkan sosok Ibu seperti kekasih Nicko saat ini. Maaf, Tante bisa melihat ini. Maaf sekali, jika foto ini tak berkenan bagi Tante. Tapi aku pribadi, hanya ingin kalian tahu, agar kalian tak menyesali semua itu nantinya. Kumohon, pikirkan lagi baik-baik, tentang menerima dia sebagai ibunya Queen," Diana menyerahkan beberapa bukti foto yang ia bawa.


Fera terdiam. Ia enggan membalas ucapan Diana sebelum benar-benar melihat bukti foto yang ia pegang. Dibukanya berkas foto itu perlahan-lahan, betapa kagetnya Fera saat melihat sosok gadis muda yang saat itu datang ke rumahnya, tengah berfoto mesra bersama dengan pria-pria paruh baya seusianya.


Mata Fera melotot tajam, ia benar-benar tak menyangka, jika hal ini akan ia lihat. Tapi, tak semudah itu Fera percaya. Bisa saja ini hanyalah editan, dan akal-akalan Diana untuk menghancurkan hubungan Nicko dan Giara.


"Apa maksudmu? Ini pasti editan! Kamu pasti sengaja kan menghancurkan hubungan Nicko! Jujur saja kamu!" Fera masih tak ingin memercayai Diana.


"Tante, foto bisa saja dianggap editan. Tapi, jika video dengan real time, apa masih bisa dikatakan editan? Aku memiliki videonya juga Tante. Apakah Tante ingin melihat?" Diana tersenyum simpul, berharap jika Fera akan tertarik melihat videonya.


Deg. Fera benar-benar kaget, haruskah ia melihat video itu? Hatinya tak karuan saat ini, perasaannya kacau bukan main.


"Kau tak tahu apa-apa tentang hubungan mereka, Diana! Siapa bilang mereka pacaran! Mereka hanyalah dosen dan mahasiswi yang tengah akrab karena sebuah pelajaran. Kau salah, jika memberikan bukti itu padaku!" Fera tak mau mengalah.


Harga diri Fera tak boleh jatuh begitu saja. Ia harus bisa meyakinkan dirinya, jika Fera tak goyah sedikitpun. Andai saja Nicko ada di sini sekarang, mungkin Nicko bisa membalas ucapan maut Diana.


Memang, Fera sebenarnya percaya pada ucapan Diana. Apalagi, Diana berani memberikan bukti video Giara yang tengah bersama para pria. Namun, harga diri Fera akan hancur begitu saja, jika ia dengan mudahnya percaya pada Diana.

__ADS_1


"Tante, mereka pacaran. Mereka sering kali bersama, mungkin Tante tak tahu saja. Aku mohon, pikirkan lagi jika Tante akan merestui Giara sebagai menantu Tante. Maaf, maaf sekali, bukan maksudku untuk menghancurkan Nicko. Justru sebelum terlambat, sebelum semuanya terlanjur ... aku tak ingin Queen mendapat Ibu sambung seperti dia. Tante bisa tanyakan pada beberapa orang yang bekerja di cafe beer, atau bar di daerah kita, mereka semua mengenal sosok Giara, Tante. Silakan, jika Tante tak percaya padaku. Tapi, kumohon Tante buktikan sendiri semua ucapanku. Maaf, jika aku juga harus mengirim beberapa video ini pada Tante. Maaf juga aku lancang mengetahui nomor ponsel Tante. Nomor Tante mudah aku dapatkan dari berbagai teman online-ku. Semoga Tante bisa berpikir lebih jernih lagi, demi kebahagiaan Queen, dan Nicko, Tante ..., maaf, aku telah mengganggu waktu berharga Tante. Aku pergi dulu, Tante. Terima kasih atas waktunya ..." Diana menundukkan pandangannya, lalu pergi meninggalkan Fera seorang diri.


Sontak saja tubuh Fera lemas karena ucapan Diana. Apalagi, ketika ia membuka pesan yang dikirimkan oleh Diana. Tangannya gemetar, Fera tak sanggup membuka video tersebut.


Haruskah Fera benar-benar percaya pada Diana? Benarkah jika Giara bukanlah gadis baik-baik? Pikiran Fera berkecamuk bukan main. Hati dan perasaannya kacau. Ia tak bisa berpikir jernih karena Diana benar-benar merusak harinya.


Walau Fera memang masih tak yakin, apakah Nicko dan Giara memiliki hubungan? Apakah mereka benar-benar berpacaran? Rasanya, hanya Nicko yang mampu menjawab semua ini.


Fera jadi tak sabar, ia ingin segera bertemu Nicko, dan meminta penjelasan anaknya, perihal foto dan video yang diberikan oleh Diana. Jika benar Giara adalah seorang wanita malam, mana mungkin Fera akan menyetujuinya. Namun untuk saat ini, Fera tak akan dengan mudahnya terbawa arus. Ia harus bersikap bijak sebelum bukti terpampang nyata.


Sore ini, sepulang kampus Nicko akan datang ke rumah Giara. Nicko akan membantu Giara agar Giara tak diberhentikan dari kampus. Mulai dari mencari informasi tentang penyakit yang Ibu Giara alami. Giara sudah menyetujuinya, ia sanggup untuk dikorek informasinya oleh Nicko.


"Iya, Pak. Makasih banyak atas bantuannya. Aku malu, karena pernah mengecewakan Pak Nicko. Hingga akhirnya, Bapak harus berusaha keras seperti ini membantu agar aku tak dikeluarkan." Giara menunduk.


"Lakukan terima kasihmu dengan mematuhi perintahku. Jangan membohongiku lagi. Hanya itu saja!" ujar Nicko.


"Baik, Pak, aku tak akan lagi membantah ucapanmu. Aku hanya akan segera mengganti ponselku, karena akhir-akhir ini, ada yang sering menerorku lewat panggilan, kadang juga pesan masuk." ucap Giara jujur.


"Tuh, kan. Itu pasti akan sangat membahayakan kamu, Giara. Secepatnya kamu harus mengganti nomormu, bahkan ganti juga ponselmu!" bentak Nicko seakan ikut terbawa emosi.


"Ini ponsel masih baru, Pak. Tak usah ganti ponsel, ganti kartunya saja," balas Giara.

__ADS_1


"Ganti dengan ponselnya! Keberadaanmu tetap bisa dilacak jika kamu masih menggunakan ponsel lamamu! Ganti saja, tak peduli walau itu ponsel baru sekalipun. Biar nanti aku yang belikan kamu ponsel baru!"


“T-tapi, Pak," Giara amat keberatan.


"Tak usah pakai tapi, semua ini aku lakukan demia keamanan dan kenyamanan kamu juga. Turuti saja, jangan banyak membantah!"


"Membeli ponsel baru itu bukan uang sedikit, Pak. Saya gak mau repotin Pak Nicko."


"Sebulan gajiku saja tak akan habis jika hanya membeli sebuah ponsel. Apalagi, Papaku punya bisnis kuliner yang aku sendiri turut andil didalamnya. Jangan khawatir soal uang, aku tak keberatan sedikitpun. Kamu hanya perlu membalas kebaikanku dengan menurut padaku, dan jangan berbohong lagi!" tegas Nicko.


"Iya, iya, Pak Nicko. Aku sudah berjanji bukan? Jika aku tak akan berbohong lagi. Baiklah, belikan saja aku ponsel biasa seharga 1-2 juta, uang segitu aku masih bisa membayarnya dari sisa uang yang kumiliki saat ini," tambah Giara.


"Apa? Uang yang kau miliki? Cih, tak sudi aku! Uang yang kamu miliki itu seharusnya dibuang saja, Giara! Itu adalah uang haram, uang tak berkah. Uang dari hasil merayu laki-laki tak bermoral!" Sentak Nicko yang teramat kesal.


"Ya ampun, Pak Nicko, jahat banget sih mulutnya. Uang yang aku kumpulkan dengan susah payah malah dikata-katain begitu." Giara cemberut.


"Kamu lagi, biayain Ibu berobat dengan uang hasil merayu. Benar-Benar tak beradab, kamu! Lihat saja nanti, jika kamu sudah benar-benar jadi milikku, akan aku buang semua uangmu itu! Aku akan menggantinya perlahan-lahan!" pekik Nicko.


"Astaga, Pak Nicko!" Giara kaget dengan apa yang Nicko ucapkan.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2