Sugar Baby Duda Tampan

Sugar Baby Duda Tampan
Bab 23. Mencarimu


__ADS_3

Kelas telah berlalu, dan rasa bersalah itu semakin hinggap pada diri Nicko. Nicko bingung harus berbuat apa. Ia kini sadar, jika ucapannya terlalu jahat pada Giara. Nicko sebenarnya hanya salah berbicara.


Maksud Nicko sebenarnya baik, Nicko tak ingin Giara terus-menerus melayani pria tua. Nicko ingin Giara berhenti, hanya itu saja. Namun memang cara pengungkapannya salah. Nicko terlalu kejam, cara bicaranya membuat Giara tentu saja sakit hati.


Apalagi, Nicko membentak Giara sangat keras. Tentu saja hal itu terdengar oleh seluruh mahasiswa di kelas itu. Giara pasti sangat malu kali ini. Nicko sadar, jika ia memang keterlaluan.


Nicko mencoba menghubungi Giara, namun Giara tak mengangkat panggilannya. Nicko tak patah arah, ia mencoba menghubungi Giara lagi, tapi ternyata, Giara memblokir nomor ponsel Nicko, sehingga Nicko tak bisa lagi menghubungi Giara.


Nicko kelimpungan. Ia sungguh tak nyaman saat ini. Rasanya, jika belum meminta maaf pada Giara, hati Nicko sama sekali tak tenang. Nicko berpikir, ia mungkin harus segera mencari Giara setelah nanti sampai di rumahnya.


Setelah sampai rumahnya, Nicko segera makan dan bergegas pergi lagi. Kali ini, Nicko membawa mobilnya, karena malam hari cuaca begitu dingin. Nicko telah mendapatkan cara bagaimana menemui Giara saat ini.


Nicko teringat, jika Giara dan Belva adalah teman dekat. Jika Nicko sulit menghubungi Giara, maka akan lebih terasa mudah jika Nicko menghubungi Belva. Nicko memang tak memiliki nomor ponsel Belva, namun Nicko pasti bisa memintanya pada ketua kelas di kampus Giara.


Setelah Nicko mendapatkan nomor ponsel Belva, tanpa pikir panjang Nicko segera menghubungi Belva. Nicko yakin, jika Belva pasti mengetahui di mana keberadaan Giara.


"Halo, siapa ini?" tak lama panggilan tersambung, Belva pun mengangkatnya.


"Saya Nicko. Belva, apa kamu tahu di mana Giara?" tanya Nicko serius.


"P-Pak Nicko?" Belva sedikit tak percaya.


"Ya, saya harus bertemu Giara sekarang. Di mana dia? Apa dia sedang bersamamu?" tanya Nicko lagi.


"Tidak, aku sedang bekerja. Untuk apa Bapak menemui Giara? Dia pasti tak akan mau bertemu dengan Bapak. Sudahlah Pak, Pak Nicko sudah membuat Giara sakit hati." ujar Belva.


"Karena itulah saya ingin bertemu dengannya. Saya ingin meminta maaf pada Giara. Saya sadar, saya salah. Belva kumohon segera beri tahu di mana keberadaan Giara. Saya menyesal telah menyakiti hatinya," ucap Nicko seraya memohon.


"Bapak memang sudah keterlaluan. Ucapan Anda memang sangat kasar dan taj bisa ditoleransi, Pak." Belva juga turut kesal pada Nicko.


"Ya, saya menghubungimu karena saya sadar atas perlakuan saya yang tak sopan. Untuk itu, segera katakan di mana Giara. Akan saya selesaikan sekarang, saya begitu menyesali ucapan saya padanya." ujar Nicko.


"Giara ada di Heavy Bar, dan mungkin tak akan bisa menemui Pak Nicko. Dia sedang melayani clien-nya,"


"Baik, terima kasih atas informasinya. Saya tutup ya," Nicko tak ingin basa-basi lagi.


Nicko langsung mematikan ponselnya. Belva mengumpati Nicko dengan kasar. Selalu saja Nicko membuat siapapun kesal dengan tingkahnya. Tanpa pikir panjang, Nicko segera tancap gas menuju Heavy Bar, tempat yang dikatakan oleh Belva.

__ADS_1


Selang beberapa saat kemudian, Nicko akhirnya sampai di bar yang dituju. Tempatnya begitu mewah dan berkelas. Nicko saja seumur hidupnya belum pernah datang ke bar ini.


Nicko pun memasuki area bar tersebut. Ngeri-Ngeri sedap, berada di tempat yang tak pernah ia datangi sebelumnya. Baru saja Nicko masuk area bar, sudah ada banyak wanita malam yang nakal mendekatinya.


Seperti biasa, mereka menawarkan jasa tubuh mereka pada Nicko. Ada yang bertubuh mungil seperti anak SMA, ada yang bertubuh semok seperti janda anak satu, dan ada pula yang memiliki badan ideal serta buah dada yang menggoda.


Sebagai pria normal, tentu saja Nicko pun tergoda melihat pemandangan seperti itu. Ia menelan ludahnya berkali-kali, namun Nicko mencoba sekuat hatinya menolak para wanita nakal tersebut.


Nicko harus fokus pada tujuannya. Ia harus menemukan Giara secepat mungkin. Nicko mencari-cari keberadaan Giara, namun tak juga Nicko menemukannya.


Pandangannya mengedar, namun sulit sekali mencari Giara, karena Bar ini juga banyak sekali pengunjungnya. Nicko terdiam sesaat, kenapa ia bodoh sekali? Padahal, salah seorang wanita nakal tadi pasti mengenal Giara.


Pasti akan lebih terasa mudah, jika gadis itu yang menemukan Giara. Akhirnya, Nicko pun melambaikan tangan pada gadis berbadan mungil yang masih seperti anak SMA itu.


Gadis itu pun bahagia karena ada pria yang memanggilnya. Dia segera menghampiri Nicko, dan tanpa basa-basi, segera duduk di sofa dengan Nicko. Nicko kaget, karena gadis ini terlihat begitu agresif.


Nicko tak nyaman, karena dia tak suka pada wanita yang begitu mudahnya menggelayut di tubuhnya. Namun Nicko juga sadar, jika ini adalah dunia gemerlap malam yang tentu saja penuh dengan kebebasan dan hal seperti ini sudah lumrah terjadi.


"Om, aku pasang tarif normal, ekstra, dan VIP. Om mau yang mana? Jika normal, sekitar 500-800. Itu tanpa se*s, hanya bl*w job saja, Om. Jika ekstra, di atas satu juta, dan VIP di atas tiga juta. Om masih bisa nego, asalkan bayar di muka," gadis kecil itu refleks berkata blak-blakkan pada Nicko.


"Aku mau paket ekstra saja. Tapi, bukan tubuhmu yang aku inginkan. Aku ingin kamu melakukan sesuatu, dan akan kubayar satu juta, jika berhasil membawanya ke sini," ujar Nicko.


"Apa? Om ingin apa? Aku harus apa, Om?" dia mulai antusias.


"Apa kamu mengenal Giara?"


Dia mengernyitkan dahinya, seakan tak mengenali nama yang Nicko sebutkan. Nicko pun berpikir, dia teringat jika Giara tentu saja tak menggunakan nama aslinya untuk berada di tempat ini.


"Ah, sorry, bukan Giara. Tapi Diva, ya benar, Diva namanya! Apa kamu mengenalnya?" Nicko pura-pura salah mengucapkan nama.


"Oh Kak Diva, ya tentu saja saya kenal, Om. By the way, Om mau tidur sama dia? Gak akan bisa, Om ... dia gak pernah open ranjang. Dia itu di sini senior, Om. Bahkan, dia yang ngatur kita-kita ini. Tarif Kak Diva luar biasa mahalnya, Om. Cuma nemenin happy-happy aja bisa sampe sepuluh atau lima belas juta." jelas gadis itu.


"A-apa? Lima belas juta?" Nicko heran bukan main.


Kenapa pada saat itu Giara menyetujui diberi harga lima juta oleh Nicko? Nicko sedikit heran dengan hal itu. Ternyata, Giara telah terkenal di bar mewah ini. Dia bukan gadis polos yang baru masuk dunia malam. Giara tentu saja sangat berpengalaman.


"Biar itu menjadi urusanku, yang harus kamu lakukan saat ini, panggil Giara, eh Diva maksudku, panggil Diva ke sini, dan kamu akan kuberi uang satu juta. Bagaimana?" Nicko bernegosiasi.

__ADS_1


"Tapi, sepertinya saat ini sulit, Om." Dia terlihat kebingungan.


"Kenapa harus sulit? Dia ada di sini, kan?" tanya Nicko.


"Ya, dia ada di VIP Room, sedang ada pesta ulang tahun sugar daddy-nya kak Diva, Om. Tentu saja hal ini akan sangat sulit, dia tak akan semudah itu keluar dari ruangannya," ujar gadis itu.


"Tiga juta kuberi untukmu, dan segera bawa dia kehadapanku,"


"T-tiga juta, Om? Siap, laksanakan! Om tunggu di sini, biar aku mencoba masuk ke VIP room," dia begitu bersemangat mendengar nominal uang yang Nicko katakan.


Nicko mengangguk, membiarkan gadis itu mencari Giara. Jika itu adalah ruangan VIP, tentu saja akan sangat sulit untuk Nicko masuk kedalamnya. Beberapa saat menunggu, Giara pun keluar.


Sepertinya, Giara tak menyadari siapa yang mencarinya. Namun karena penasaran, Giara segera keluar bersama gadis yang diperintahkan oleh Nicko. Giara tak menyangka jika yang mencarinya adalah dosen paling menyebalkan seumur hidupnya.


"Om, ini Kak Diva," seru gadis itu.


Nicko berbalik, dan segera memberikan amplop coklat pada gadis itu, "Terima kasih, kamu bisa pergi,"


Giara melotot tak percaya, jika dihadapannya kali ini adalah Nicko, si dosen bermulut bon cabe level 30. Jika saja Giara tahu, yang mencarinya adalah si bon cabe ini, jelas Giara tak mungkin mau menemuinya.


"Pergi!" pekik Giara, ia sangat muak menatap Nicko.


"Maaf," Nicko menunduk.


"Anda membuang-buang waktu berharga Anda. Anda juga pasti orang yang suci, jangan pernah menginjakkan kaki di tempat haram seperti ini! Kuharap Anda segera pergi dan jangan pernah datang ke sini lagi. Pergi!" Giara sangat muak, sangat-sangat muak.


Nicko emosi, ia tak mungkin pergi begitu saja setelah menunggu Giara untuk waktu yang lama ini. Tanpa pikir panjang, Nicko memegang tangan Giara, dan menariknya dengan cepat.


Nicko harus membawa Giara keluar dari bar ini. Nicko ingin berbicara empat mata dengan gadis nakal yang menjadi mahasiswanya. Entah kenapa, Nicko begitu egois dengan pemikirannya saat ini.


"Aarrgghh, lepas! Lepaskan aku! Pak Nicko! Anda kurang ajar! Akan saya laporkan perilaku brutal Anda!"


“Giara, kita harus bicara. Tapi, tak mungkin di sini. Ikutlah ke mobilku sebentar, maafkan aku bersifat kasar padamu!"


"Kau! Kau adalah orang yang sangat-sangat aku benci di dunia ini!" Giara melotot tajam, ia tak suka cara Nicko yang memaksa seperti ini.


*Bersambung*

__ADS_1


__ADS_2